Ketika Efisiensi Justru Merusak Sistem
Dalam When More Is Not Better,
Rodger L. Martin membongkar satu
ilusi besar dalam sistem ekonomi
Amerika: bahwa efisiensi selalu baik.
Nyatanya, dalam sistem sosial seperti
ekonomi, upaya mengejar efisiensi
justru sering melahirkan perilaku
buruk, distorsi keputusan, dan
kerusakan yang jauh lebih besar
daripada manfaatnya.
Dan penyebab utamanya adalah
efficiency proxies ukuran-ukuran
sederhana yang dipakai untuk
mewakili sesuatu yang jauh lebih
kompleks.
Mengapa Proxies Menggoda, dan
Mengapa Mereka Berbahaya
Efisiensi sulit diukur secara langsung.
Maka lahirlah proxy angka, target,
atau indikator yang dianggap bisa
menjadi wakil dari efisiensi itu.
Di atas kertas proxy terlihat logis,
tetapi dalam dunia nyata mereka
mengubah perilaku manusia.
Masalah muncul ketika proxy
berubah menjadi tujuan itu
sendiri. Para pengambil keputusan
akhirnya fokus mengejar angka,
bukan lagi mengejar kualitas,
kesehatan sistem, atau manfaat
jangka panjang bagi masyarakat.
Sistem demokrasi kapitalis Amerika
adalah contoh paling besar. Proxy
yang awalnya dimaksudkan untuk
memudahkan evaluasi akhirnya
berkembang menjadi kekuatan
destruktif, karena pelaku sistem
hanya mengejar angka itu tanpa
memedulikan dampaknya pada
keseluruhan ekosistem ekonomi.
Wells Fargo: Ketika Target
Akun Menjadi Bencana
Salah satu gambaran paling jelas
tentang bahaya proxy adalah
skandal Wells Fargo.
Bank ini menggunakan jumlah
akun per nasabah sebagai ukuran
kinerja. Semakin banyak akun yang
bisa dibuka seorang pegawai,
semakin dianggap efisien dan
sukseslah mereka.
Namun akhirnya proxy ini berubah
menjadi tekanan. Untuk bertahan
hidup dalam sistem target yang tidak
realistis, ribuan pegawai membuka
akun atas nama nasabah tanpa
persetujuan, hanya untuk
memenuhi angka.
Efisiensi yang dikejar melalui proxy
itu justru menghasilkan:
hilangnya kepercayaan publik,
skandal nasional,
dan kerusakan reputasi yang
jauh lebih merugikan daripada
“efisiensi” yang dikejar.
Dunia Pendidikan: Ketika Skor
Tes Menjadi Segalanya
Standar pendidikan seharusnya
mengukur kualitas pengajaran,
pertumbuhan murid, dan
kemampuan berpikir. Namun sistem
sering memakai nilai ujian standar
sebagai proxy tunggal.
Begitu nilai menjadi tujuan utama:
guru mulai mengajar demi
ujian bukan demi pemahaman,kurikulum menyempit,
dan muncul praktik curang
dalam penilaian hanya demi
menjaga angka tetap tinggi.
Efisiensi yang dilihat dari skor
akhirnya justru merusak kualitas
pendidikan itu sendiri.
Industri Otomotif: Target
Penjualan dan Survei
Pelanggan yang Dimanipulasi
Dalam industri otomotif, proxy
seperti target penjualan bulanan
atau skor kepuasan pelanggan
seolah dapat mengukur kinerja.
Namun ketika angka berubah
menjadi tujuan absolut,
konsekuensinya tidak terhindarkan.
Para tenaga penjualan akhirnya:
menghabiskan waktu
bernegosiasi target dengan
manajer, bukan melayani
pelanggan,memanipulasi survei
pelanggan agar terlihat positif,dan mengalokasikan energi
untuk “bermain dengan angka”
demi memenuhi indikator.
Efisiensi hilang; sistem justru
semakin boros, melelahkan,
dan tidak jujur.
Permainan Harga Saham:
Ketika CEO Mengejar Kenaikan
Jangka Pendek
Pasar saham seharusnya memberi
sinyal atas kesehatan perusahaan.
Namun saat harga saham jangka
pendek menjadi proxy utama
untuk menilai CEO, muncul distorsi
besar.
Para eksekutif kemudian:
mengatur ekspektasi pasar,
menyelaraskan laporan dan
target agar terlihat memenuhi
standar,dan mengejar volatilitas harga
yang menguntungkan
kompensasi pribadi mereka.
Perusahaan akhirnya mengabaikan
investasi jangka panjang demi “angka
cantik” di laporan kuartal. Proxy yang
dianggap membantu justru
melemahkan fondasi organisasi.
Ketidakmampuan Memprediksi
Adaptasi Perilaku dalam Sistem
Sosial
Rodger L. Martin menekankan bahwa
sistem sosial seperti ekonomi bukan
mesin. Kita tidak bisa mengatur satu
tuas dan berharap hasilnya linier.
Ketika proxy dijadikan pusat
perhatian, perilaku manusia akan
beradaptasi dan adaptasinya jarang
bisa diprediksi.
Kerap terjadi:
perilaku individu terlihat
rasional,tetapi efek keseluruhan pada
sistem justru merusak,menghasilkan
ketidakseimbangan dan
ketidakstabilan yang jauh
lebih mahal harganya.
Inilah inti kelemahan reliance pada
efficiency proxies: angka dapat
dikejar, tetapi nilai sejati justru
hancur.
Ketika Angka Menggantikan
Akal Sehat
Efisiensi memang penting, tetapi
pengejaran efisiensi yang sempit
melalui indikator yang tidak
merepresentasikan realitas
membuat sistem rapuh dan tidak
manusiawi.
Proxy mempermudah pengukuran…
sekaligus mempermudah kerusakan.
Buku When More Is Not Better
mengingatkan kita bahwa ekonomi
yang sehat tidak hanya soal mengejar
angka, tetapi menjaga keseimbangan,
perilaku manusia, dan keberlanjutan
sistem itu sendiri.
Ketika Mengejar Angka Membuat
Kita Lupa Tujuan Sebenarnya
Bayangkan kamu ingin hidup lebih
sehat. Karena bingung harus mulai
dari mana, kamu hanya pakai satu
indikator sederhana: berat badan.
Awalnya terasa gampang angka turun
berarti sehat, angka naik berarti tidak.
Tapi karena terlalu fokus pada angka,
kamu mulai melakukan hal-hal yang
justru merusak tubuh: diet ekstrem,
tidak makan, atau olahraga berlebihan.
Berat badan memang turun, tapi
tubuhmu rusak.
Itulah yang terjadi ketika sebuah
sistem memakai efficiency proxy
angka sederhana yang dipakai menilai
sesuatu yang sebenarnya jauh lebih
kompleks.
Mengapa Proxy Menggoda:
Seperti Pakai Timbangan untuk
Ukur Semua Masalah
Proxy itu seperti timbangan. Mudah
dilihat, gampang dipakai, dan
membuat kita merasa sudah
mengukur sesuatu dengan benar.
Masalahnya? Tidak semua hal bisa
diwakili satu angka.
Begitu angka dijadikan target,
manusia akan melakukan apa pun
untuk membuat angka itu terlihat
bagus… bahkan kalau caranya
merusak tujuan besar yang
seharusnya dicapai.
Wells Fargo: Seperti Toko yang
Memaksa Kasir Jual Produk
Tambahan
Bayangkan sebuah minimarket
menilai kasirnya dari seberapa
banyak mereka berhasil menjual
barang tambahan
misalnya permen atau baterai.
Targetnya makin lama makin tinggi.
Akhirnya:
kasir jadi memaksa pelanggan,
ada yang curang memasukkan
barang yang tidak diminta,pelanggan marah dan tidak
percaya lagi.
Apa yang terjadi pada Wells Fargo
sama persis: target jumlah akun yang
awalnya hanya proxy malah berubah
jadi sumber kerusakan sistem.
Dunia Pendidikan: Seperti Orang
Tua yang Hanya Lihat Nilai,
Bukan Kemampuan
Bayangkan orang tua yang menilai
anaknya hanya dari nilai ulangan.
Begitu nilai jadi segalanya:
anak belajar menghafal, bukan
memahami,guru hanya mengajar topik
yang keluar di ujian,bahkan bisa muncul budaya
“asal nilainya bagus”.
Angka memang naik, tapi kualitas
belajar turun.
Inilah bahaya ketika skor tes
dijadikan proxy utama keberhasilan
pendidikan.
Industri Otomotif: Seperti
Penjual yang Lebih Sibuk
Mengejar Bintang 5 daripada
Melayani Pelanggan
Kamu mungkin pernah lihat tenaga
penjualan yang terus meminta,
“Please ya, kasih bintang lima
di survei nanti.”
Itu terjadi karena perusahaan
menilai kinerja dari skor survei.
Akibatnya:
tenaga penjualan fokus pada
angka, bukan pelayanan,mereka memanipulasi survei,
waktu habis untuk mengejar
target internal, bukan pelanggan.
Sistem yang katanya efisien malah
membuat semua pihak kelelahan
dan tidak jujur.
Permainan Harga Saham:
Seperti Bos Toko Hanya Peduli
Pendapatan Hari Ini
Bayangkan bos toko yang hanya
peduli pendapatan harian.
Setiap hari dia minta angka cantik.
Agar terlihat bagus:
toko diskon besar-besaran,
stok murah dibeli,
perawatan alat ditunda.
Angka harian memang naik,
tapi toko makin rapuh.
CEOs yang mengejar harga saham
jangka pendek bekerja dengan pola
yang sama mengejar tampilan angka,
bukan kesehatan bisnis jangka
panjang.
Intinya: Sistem Sosial Bukan
Mesin
Sistem sosial seperti ekonomi itu
seperti rumah tangga besar. Semua
orang punya keinginan, adaptasi,
dan akal untuk “bermain” dengan
aturan.
Saat satu angka dibuat jadi pusat
perhatian, manusia otomatis
mencari cara cepat untuk
menaikkannya… meskipun merusak
sistem secara keseluruhan.
Sering kali:
perilakunya terlihat masuk
akal bagi individu,tapi efeknya menghancurkan
ekosistem.
Jangan Biarkan Angka
Menggantikan Akal Sehat
Efisiensi itu penting tapi mengejar
efisiensi melalui angka yang salah
justru seperti diet ekstrem untuk
mengejar angka timbangan: terlihat
sukses di permukaan, tapi rusak
di dalam (padahal di dalam tubuh
sudah terjadi kekurangan nutrisi,
metabolisme melambat, massa otot
hilang, tubuh dehidrasi, sampai
muncul masalah pencernaan).
Proxy memudahkan evaluasi, tapi
juga memudahkan kehancuran.
Pelajaran besarnya:
Ekonomi yang sehat bukan hanya
mengejar angka, tetapi menjaga
keseimbangan, perilaku manusia,
dan keberlangsungan sistem.
Berikut contoh-contoh kasus
Contoh Kasus 1 — Wells Fargo:
Target Akun yang Mendorong
Kecurangan
Bayangkan sebuah bank di Indonesia,
Bank Nusantara (kasus fiktif).
Pimpinan menetapkan proxy efisiensi:
“Pegawai yang efisien = pegawai
yang membuka minimal 50 akun
baru per bulan.”
Masalahnya:
Rata-rata pelanggan yang datang
ke cabang hanya cukup untuk
20 akun baru per bulan.Artinya target 50 akun layaknya
meminta pegawai “melakukan
keajaiban”.
Apa yang akhirnya terjadi?
Tekanan Angka → Perilaku
Menyimpang
Seorang pegawai bernama Dina
punya target 50 akun, tapi hanya
mampu membuka 22 akun dari
nasabah asli.
Ia takut bonus hilang dan performa
turun. Akhirnya ia:
membuat 12 akun tambahan
dengan memanfaatkan data
pelanggan lama,mendaftarkan 8 akun atas
nama keluarganya sendiri,dan sisanya dibuatkan secara
acak agar angkanya mencapai
target.
Tabelnya seperti ini:
| Jenis Akun | Jumlah | Catatan |
|---|---|---|
| Akun asli | 22 | Nasabah benar-benar membuka |
| Akun tanpa persetujuan | 12 | Menggunakan data pelanggan lama |
| Akun atas keluarga | 8 | Dibuka hanya untuk memenuhi target |
| Akun fiktif/tekanan sistem | 8 | Untuk menutup kekurangan |
| Total | 50 | Target terpenuhi, tapi penuh pelanggaran |
Kerugian Bank
Ketika audit menemukan manipulasi:
Bank harus menutup 28 akun
→ biaya administrasi
Rp75.000 per akun
→ kerugian 28 × Rp75.000
= Rp2.100.000Reputasi turun → kehilangan
± 300 nasabah dalam 3 bulan
Jika rata-rata saldo per nasabah
Rp5.000.000, bank kehilangan
dana kelolaan:
300 × Rp5.000.000
= Rp1,5 miliarPotensi denda dari regulator:
Rp10 miliar (ilustrasi)
Semua kerugian itu muncul karena
proxy “jumlah akun” berubah
menjadi tujuan utama.
Contoh Kasus 2 —
Sekolah Mengejar Nilai Ujian,
Bukan Pemahaman
Sebuah sekolah ingin terlihat unggul.
Mereka menetapkan proxy efisiensi:
“Sekolah bagus = rata-rata nilai
ujian nasional minimal 85.”
Agar angka itu tercapai:
Guru fokus mengajar soal
yang pasti keluar, bukan konsep.Jam belajar dipadatkan menjadi
3 jam drill soal per hari.Pelajaran non-UN seperti seni,
olahraga, literasi kritis dihapus.
Dampak Nyata ke Siswa
Satu kelas berisi 30 siswa.
Setelah 3 bulan sistem drill:
24 siswa nilai UN naik dari
70 → 86.Tetapi ketika dites pemahaman
materi dasar (tanpa drill), skor
turun dari 72 → 61.
Angka UN terlihat efisien, tetapi
kualitas belajar merosot.
Jika orang tua diminta les tambahan
karena anak “kurang paham konsep”,
biaya bulanannya:
Rp500.000 × 30 siswa × 3 bulan
= Rp45 juta
Semua ini terjadi karena sekolah
mengejar proxy angka UN,
bukan pendidikan yang utuh.
Contoh Kasus 3 — Industri
Otomotif: Skor Survei
Pelanggan yang Dimanipulasi
Sebuah dealer mobil menggunakan
proxy:
“Tenaga penjualan terbaik
= yang punya skor kepuasan
pelanggan minimal 95/100.”
Masalahnya:
Nasabah sering memberikan
nilai 70–80 secara normal.Mendapat “95 ke atas” hampir
mustahil tanpa intervensi.
Apa yang terjadi?
Para sales mulai:
meminta pelanggan memberi
skor 100,menawarkan “voucher bensin
Rp50.000” agar mau mengisi
survei positif,bahkan mengisi survei sendiri
saat pelanggan lengah.
Hitungan Biaya
Seorang sales memberikan:
voucher Rp50.000
× 40 pelanggan/bulan
= Rp2.000.000
Dealer punya 20 sales:
Rp2.000.000 × 20
= Rp40.000.000 per bulan
hanya untuk memanipulasi
angka.
Secara internal, skor terlihat bagus
(rata-rata 97).
Tapi keluhan pelanggan meningkat
30% karena masalah mobil tidak
diselesaikan.
Proxy membuat angka cantik tetapi
merusak layanan.
Contoh Kasus 4 — CEO
Mengejar Harga Saham
Jangka Pendek
Sebuah perusahaan publik
menetapkan indikator utama:
“CEO hebat = harga saham
naik tiap kuartal.”
Untuk menjaga harga naik, CEO
memilih strategi:
Mengurangi R&D dari Rp200
miliar menjadi Rp70 miliar.
(Penghematan jangka pendek:
Rp130 miliar)Mengurangi karyawan senior
dan menghemat gaji Rp40 miliar.Mengumumkan “kinerja efisien”
→ saham naik 12%.
TAPI…
Dampak 2 Tahun Kemudian
Karena R&D ditekan:
perusahaan gagal menciptakan
produk baru,kehilangan pangsa pasar 8%,
omzet turun dari Rp5 triliun
menjadi Rp4 triliun.
Penurunan 20% omzet berarti
kehilangan:
Rp1 triliun per tahun.
Semua ini karena proxy “harga
saham kuartal” mengalahkan
investasi jangka panjang.
Contoh Kasus 5 — Sistem Sosial
yang Tidak Bisa Diprediksi:
Puskesmas Mengejar Angka
Sebuah puskesmas memakai proxy
efisiensi:
“Puskesmas bagus = waktu
pelayanan maksimal 7 menit
per pasien.”
Alasan: agar antrean tidak panjang.
Tetapi ini memicu adaptasi
perilaku yang tak terduga:
Dokter hanya menanyakan
3–4 pertanyaan cepat,Pemeriksaan fisik dipercepat,
Banyak pasien yang
seharusnya dirujuk malah
tidak dirujuk.
Biaya Jangka Panjang
Dalam 1 bulan:
40 pasien yang seharusnya
dirujuk terlambat
mendapatkan diagnosis.10 dari mereka akhirnya
harus opname.
Jika biaya opname rata-rata
Rp6.000.000:
10 × Rp6.000.000 = Rp60 juta
Angka “7 menit per pasien”
terlihat efisien,
tapi biaya sosial dan kesehatan
meningkat drastis.
