Keterbatasan Pengeluaran Pemerintah: Bukan Soal Uang, Tapi Soal Kapasitas Nyata
Salah satu hal paling mengejutkan
dari pemikiran Stephanie Kelton
dalam The Deficit Myth adalah
pernyataannya bahwa pemerintah
tidak bisa kehabisan uang.
Tapi setelah menjelaskan itu, Kelton
juga menegaskan satu hal penting:
“Bukan berarti pemerintah bisa
membelanjakan tanpa batas.”
Dalam Modern Monetary Theory
(MMT), batas pengeluaran
pemerintah bukan soal uang
di kas, melainkan soal apa yang
bisa dibeli uang itu di dunia
nyata.
Masalahnya bukan kekurangan
angka di komputer bank sentral,
tapi kekurangan barang, tenaga
kerja, dan kapasitas produksi
nyata yang tersedia di masyarakat.
1. Inflasi: Batas Nyata dari
Kemampuan Ekonomi
Kelton menjelaskan bahwa inflasi
adalah sinyal pertama bahwa
ekonomi sudah mendekati batasnya.
Kalau pemerintah terus menambah
pengeluaran, sementara jumlah
barang dan jasa di pasar tetap sama,
harga akan naik karena terlalu
banyak uang mengejar terlalu
sedikit barang.
Tapi, ia juga menegaskan:
“Defisit besar tidak otomatis
menimbulkan inflasi.”
Defisit hanya menjadi masalah
kalau uang baru masuk
ke sektor yang sudah penuh
sesak misalnya ketika semua
tenaga kerja sudah terserap
dan kapasitas produksi
sudah maksimal.
Dalam kondisi seperti itu, tambahan
permintaan tidak bisa diimbangi
oleh peningkatan produksi,
dan harga-harga pun melonjak.
Sebaliknya, kalau masih ada
pengangguran, mesin-mesin
yang belum dipakai, dan
lahan yang belum
dimanfaatkan,
pemerintah justru bisa menambah
pengeluaran tanpa menimbulkan
inflasi karena uang itu akan
menggerakkan sumber daya yang
sebelumnya menganggur.
2. Sumber Daya Riil: Batasan
yang Sesungguhnya
Menurut Kelton, satu-satunya batas
nyata dari pengeluaran pemerintah
adalah sumber daya riil
(real resources)
tenaga kerja, bahan baku, lahan,
teknologi, dan kapasitas industri
yang benar-benar tersedia.
Uang hanyalah alat untuk
menggerakkan sumber
daya itu.
Kalau sumber dayanya ada, tapi
tidak digunakan, artinya ekonomi
sedang beroperasi di bawah
kapasitas.
Dalam situasi seperti ini, defisit
pemerintah bisa membantu
mendorong aktivitas ekonomi agar
potensi itu tidak terbuang sia-sia.
Sebaliknya, kalau semua sumber
daya sudah digunakan pabrik penuh,
semua orang bekerja, dan pasokan
barang terbatas maka tambahan
pengeluaran pemerintah tidak bisa
lagi menambah produksi, hanya
akan menaikkan harga.
Inilah momen di mana inflasi
muncul sebagai batas alami.
3. Membedakan Antara “Tidak
Mampu Membayar” dan “Tidak
Bijak Membayar”
Banyak orang menganggap defisit
besar berarti pemerintah tidak
mampu membayar tagihan
di masa depan.
Kelton membantah anggapan ini.
Negara berdaulat moneter seperti
AS, Inggris, atau Jepang selalu
mampu membayar karena bisa
menciptakan uangnya sendiri.
Namun, kemampuan membayar
bukan berarti semua pengeluaran
bijak.
Masalah sebenarnya adalah
bagaimana uang itu
digunakan.
Jika uang dicetak untuk membangun
infrastruktur, menciptakan lapangan
kerja, dan memperluas kapasitas
produksi,
itu akan memperkuat ekonomi.
Tapi jika uang digunakan untuk
sektor yang tidak produktif, tanpa
menambah output nyata,
maka uang baru itu hanya akan
menekan harga naik tanpa manfaat
jangka panjang.
Dengan kata lain, pemerintah
tidak bisa bangkrut, tapi bisa
menyebabkan inflasi jika
tidak hati-hati.
4. Analogi: Mesin Ekonomi
dan Bahan Bakar Uang
Bayangkan ekonomi seperti mesin
besar dan uang seperti bahan
bakarnya.
Kalau tangki mesin masih kosong
dan mesin belum berputar penuh,
menambah bahan bakar justru
membuat mesin bekerja lebih baik.
Tapi kalau tangkinya sudah penuh
dan Anda terus menuang bensin,
bahan bakar itu akan meluber
sama seperti inflasi yang muncul
ketika kapasitas ekonomi sudah
jenuh.
Jadi tugas pemerintah bukan hanya
menambah bahan bakar,
tapi mengetahui kapan mesin
butuh lebih banyak energi dan
kapan harus menahan laju.
5. Kesimpulan: Uang Tidak
Terbatas, Tapi Dunia Nyata
Ada Batasnya
Stephanie Kelton ingin menggeser
cara kita memahami kebijakan
fiskal.
Pemerintah tidak perlu takut
“kehabisan uang,” karena uang
bisa diciptakan kapan saja.
Yang harus ditakuti adalah
kehabisan sumber daya nyata
pekerja, bahan baku, kapasitas
industri, dan kepercayaan publik.
Defisit bukan tanda bahaya,
tetapi alat untuk mengatur
seberapa jauh ekonomi bisa
bergerak menuju potensi
penuhnya.
Selama masih ada pengangguran
dan kapasitas menganggur,
pengeluaran pemerintah bukanlah
masalah itu justru solusi.
Namun, begitu semua sumber daya
sudah digunakan, batas itu tidak
bisa dilanggar tanpa konsekuensi.
Inflasi menjadi pengingat bahwa
uang hanyalah alat,
dan kesejahteraan sejati bergantung
pada bagaimana kita
menggunakan sumber daya
dunia nyata dengan bijak.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Banyak orang berpikir pemerintah
berhenti membelanjakan uang
karena uangnya habis.
Padahal, seperti dijelaskan oleh
Stephanie Kelton, untuk negara
yang punya mata uang sendiri,
masalahnya bukan di uang
tapi di ketersediaan barang
dan tenaga kerja.
Pemerintah memang tidak bisa
kehabisan uang,
tapi bukan berarti bisa seenaknya
mencetak dan membelanjakan
uang tanpa batas.
Batas nyatanya ada di apa yang
bisa dibeli dengan uang itu.
1. Ketika Uang Terlalu Banyak,
Barang Terlalu Sedikit
Bayangkan sebuah pasar kecil
di kampung.
Setiap pagi, ada 10 pisang yang
dijual dan 10 orang pembeli.
Semua membawa uang yang cukup,
dan harga pisang stabil
di Rp10.000 per buah.
Tapi suatu hari, pemerintah ingin
membantu orang miskin, lalu
memberikan uang tambahan
kepada semua warga.
Sekarang masih ada 10 pisang, tapi
pembelinya jadi 20 orang dengan
uang di tangan masing-masing.
Apa yang terjadi?
Harga pisang bisa naik jadi Rp20.000
atau lebih, karena semua orang
berebut barang yang sama.
Inilah inflasi bukan karena uang
“buruk,” tapi karena barang dan
kapasitas produksinya terbatas.
2. Kalau Masih Banyak Barang
dan Pekerja, Tambahan Uang
Justru Membantu
Tapi sekarang bayangkan sebaliknya.
Di pasar itu, ada banyak pedagang
yang belum laku jualannya,
dan banyak warga yang belum punya
uang untuk membeli apa pun.
Kalau pemerintah menambah
pengeluaran misalnya membangun
jalan, mempekerjakan warga, atau
memberi bantuan usaha kecil
uang baru itu akan
menggerakkan ekonomi yang
sedang sepi.
Pekerja yang sebelumnya
menganggur jadi punya penghasilan,
pedagang yang sempat rugi bisa
jualan lagi,
dan roda ekonomi kembali berputar.
Dalam situasi seperti ini, uang
tambahan tidak menyebabkan
inflasi,
karena barang dan tenaga kerja
yang belum dipakai masih banyak.
3. Batas Nyata: Kapasitas
Produksi
Stephanie Kelton menyebut hal ini
sebagai batas sumber daya riil
artinya, batas pengeluaran
pemerintah ditentukan oleh berapa
banyak yang bisa diproduksi
masyarakat.
Kalau masih banyak orang
menganggur,
mesin pabrik belum digunakan
sepenuhnya,
dan lahan pertanian belum
dikelola,
itu berarti kapasitas ekonomi
masih longgar.
Pemerintah bisa menambah
pengeluaran untuk mengisi
kekosongan itu.
Namun, kalau semua orang sudah
bekerja, pabrik beroperasi penuh,
dan bahan baku terbatas,
maka tambahan uang dari
pemerintah tidak akan menambah
produksi
malah hanya menaikkan harga
barang.
Ibaratnya, semua kursi sudah
terisi, tapi pemerintah terus
mengundang tamu baru.
Akhirnya orang berebut tempat
duduk, dan “harga kursi” pun naik.
4. Analogi Mesin dan Bahan
Bakar
Bayangkan ekonomi seperti mobil
besar dan uang seperti bahan
bakarnya.
Kalau tangkinya masih kosong, mobil
tidak bisa jalan di sinilah
pengeluaran pemerintah dibutuhkan
agar mesin hidup.
Tapi kalau tangkinya sudah penuh,
lalu bahan bakar terus ditambah,
maka bensin akan meluap dan
menimbulkan masalah itulah inflasi.
Jadi tugas pemerintah adalah
mengetahui kapan harus
menambah bensin, dan
kapan harus mengerem.
Masalahnya bukan “tidak punya uang,”
tapi mengetahui kapan dan
seberapa banyak uang perlu
dimasukkan ke dalam ekonomi.
5. Kesimpulan Sederhana
Jadi, pemerintah tidak punya
batas uang, tapi punya batas
nyata dalam dunia fisik.
Selama masih banyak orang
menganggur, pabrik kosong,
dan barang bisa diproduksi,
pengeluaran pemerintah justru
membantu ekonomi tumbuh.
Namun, kalau semua sumber daya
sudah bekerja penuh dan
pemerintah terus mencetak uang,
maka hasilnya bukan kesejahteraan
melainkan kenaikan harga
di mana-mana.
Dengan kata lain:
Pemerintah tidak bisa bangkrut
karena kekurangan uang,
tapi bisa salah langkah kalau
membelanjakan uang tanpa
melihat kenyataan di lapangan.
