Kaidah yang berlaku untuk laa nafiyah:
Kaidah yang berlaku untuk laa nafiyah:
1. Isim laa wajib nakirah
Artinya, isim laa tidak boleh ma’rifat.
Contohnya:
لا الرَّجُلَ فِي الدَّارِ
Kalimat di atas salah karena isim laa dalam keadaan ma’rifat.
Isim laa tidak boleh ma’rifat karena laa nafiyah berfungsi
meniadakan secara keseluruhan. Artinya, benar-benar tidak
ada seorang pun laki-laki yang ada di rumah. Kalau yang ingin
ditiadakan lelaki tertentu )ma’rifat), maka bisa menggunakan
” لَيْسَ ” Contohnya:
لَيْسَ الرَّجُلُ فِي الدَّارِ
Lelaki itu tidak ada di rumah
2. Isim Laa dihukumi mabniy bila mufrad dan dihukumi
manshub bila ghairu mufrad
Maksud mufrad di sini bukan lawan dari mutsanna dan jamak
melainkan yang bukan mudhaf-mudhaf ilaih dan syibhul mudhaf
Contoh kalimat yang mufrad:
لَا رَجُلَ فِي البَيْتِ
لَا رَجُلَيْنِ فِي البَيْتِ
لَا مُسْلِمِينَ فِي البَلَدِ
Untuk isim laa yang mufrad, tidak boleh bertanwin karena
dihukumi mabniy.
Contoh kalimat yang ghairu mufrad:
لَا غُلَامَ رَجُلٍ حَاضِرٌ
(Tidak ada pembantu seorang pun yang hadir)
لَا سَيَّارَةَ أَجْرَةٍ هُنَا
(Tidak ada mobil sewaan di sini)
لَا ظَالِمًا لِلنَّاسِ مُفْلِحٌ
(Tidak ada orang dzhalim kepada manusia yang beruntung)
لَا طَالِعًا جَبَّلًا هُنَا
(Tidak ada pendaki gunung di sini)
3. Bila diulang dua kali dalam 1 kalimat, maka
ketentuannya sebagai berikut:
a. Bila setelah لَا langsung bertemu dengan isim, maka boleh
beramal seperti إِنَّ (menashabkan isim dan merafa’kan khabar)
atau boleh mengabaikannya. Contohnya:
لاَ طَالِبَ فِي الفَصْلِ وَلَا مُدَرِّسَ Atau لَا طَالِبٌ فِي الفَصْلِ وَلَا مُدَرِسٌ
Pada kalimat pertama di atas, لاَ beramal seperti إِنَّ sehingga
kata طَالِبَ sebagai isim لاَ yang manshub. Adapaun pada kalimat
kedua, لاَ dianggap tidak beramal sehingga kata طَالِبٌ sebagai
mubtada biasa.
b. Bila dipisahkan dari isimnya, maka ia wajib diabaikan.
Contohnya:
لا فِي الفَصْلِ طَالِبٌ وَلَا مُدَرِّسُ
Perhatikan pada kalimat tersebut antara لَا dengan isimnya
dipisahkan dengan frase فِي الفَصْلِ . Ketika keadaannya seperti
ini, kata طَالِبٌ sebagai mubtada biasa dan tidak boleh dinashabkan
menjadi طَالِبَ karena wajib diabaikan.
