Kaidah yang berkaitan dengan haal:
Kaidah yang berkaitan dengan haal:
1. Haal harus manshub
2. Haal harus nakirah
Karena, bila haal ma’rifah, nanti bisa berubah menjadi na’at.
Contoh haal yang benar:
جَاءَ أَحْمَدُ مُنْفَرِدًا
(Ahmad datang sendirian)
Bila haal dalam kalimat di atas diubah menjadi ma’rifat maka
otomatis menjadi shifat (na’at) bagi Ahmad sehingga
kalimatnya menjadi:
جَاءَ أَحْمَدُ المُنْفَرِدُ
(Ahmad yang sendirian telah datang)
3. Shahibul haal harus ma’rifah
Ini juga sama alasannya dengan poin yang kedua. Kalau
shahibul haal nakirah, maka bisa berubah menjadi na’at
khususnya ketika dalam keadaan manshub.
Contoh haal yang benar:
رَأَيْتُ الرَّجُلَ مَسْرُورًا
(saya melihat laki-laki itu dalam keadaan bahagia)
Bila shahibul haal dalam kalimat di atas diubah menjadi
nakirah, maka ia otomatis berubah menjadi na’at:
رَأَيْتُ رَجُلًا مَسْرُورًا
(Saya melihat laki-laki yang bahagia)
4. Haal dan Shahibul haal harus sama dari sisi jenis dan bilangan
Haal dan shahibul haal harus sama dari sisi jenis dan bilangan.
Bila shahibul haal muannats, maka haal juga harus muannats.
Bila shahibul haal mufrad, maka haal juga harus mufrad.
Hal yang sama berlaku untuk mutsanna dan jamak.
Contohnya:
جَاءَ الطَّالِبُ رَاكِبًا | جَائَتِ الطَّالِبَةُ رَاكِبَةً
جَاءَ الطَّالِبَانِ رَاكِبَيْنِ | جَائَتِ الطَّالِبَتَانِ رَاكِبَتَيْنِ
جَاءَ الطَّلَابُ رَاكِبِينَ | جَائَتِ الطَّالِبَاتُ رَاكِبَاتٍ
Berikut contoh-contoh penggunaan haal dalam kalimat:
اسْتَيْقَظَ الطَّفْلُ مِنَ النَّوْمِ بَاكِيًا
(Anak itu bangun tidur dalam keadaan menangis)
خَرَجَ النَّاسُ خَائِفِيْنَ
(Manusia keluar dalam keadaan takut)
دَخَلَ زَيْدٌ الفَصْلَ مُتَبَسِّمًا
(Zaid masuk kelas dengan tersenyum)
جَاءَ زَيْدٌ ضَاحِكًا
(Zaid datang dengan tertawa)
بَكَى حَامِدٌ حَزِينًا
(Hamid menangis karena sedih)
نُهِيَ الْمُسْلِمُ عَنِ الشَّرْبِ قَائِمًا
(Muslim dilarang minum sambil berdiri)
رَكِبْتُ الفَرَسَ مُسْرَجًا
(Saya naik kuda berpelana)
اِسْتَيْقَظَتْ البَناتُ بَاكِيَاتٍ
(Anak-anak perampuan bangun tidur dalam keadaan menangis)
