KAIDAH PENYUSUNAN JUMLAH ISMIYYAH
KAIDAH PENYUSUNAN JUMLAH ISMIYYAH
KAIDAH JUMLAH ISMIYYAH
1. Mubtada dan Khabar harus rafa’
2. Mubtada dan Khabar harus sama dari sisi jenis dan jumlah
3. Mubtada harus ma’rifah
Ada 3 Kaidah dalam menyusun jumlah ismiyyah:
1. Mubtada dan Khabar harus rafa’
Baik mubtada maupun khabar sama-sama harus dalam keadaan rafa’.
Berikut kaidah rafa’ yang perlu diperhatikan:

2. Mubtada harus isim ma’rifah
Isim Ma’rifah adalah kata khusus. Silakan baca kembali tentang
pembahasan isim ma’rifah. Mubtada’ wajib dalam keadaan
ma’rifah. Sedangkan khabar hukum asalnya adalah nakirah,
kecuali untuk isim-isim yang dari asalnya ma’rifah (Isim ‘Alam,
Isim Isyarah, dan Dhamir). Contoh jumlah ismiyyah yang benar:
هذَا كِتَابٌ
(Ini adalah buku)
Kalimat di atas, mubtadanya adalah kata ” هذَا “. Kata ini
adalah isim isyarah. Isim isyarah merupakan ma’rifat. Kemudian
kata ” كِتَابٌ ” adalah khabarnya. la adalah nakirah karena tidak
dilekati alif lam (al). Sehingga memenuhi syarat jumlah ismiyyah.
Bolehkah bila kata ” كِتَابٌ ” datang dalam keadaan ma’rifah?
Contohnya kalimat berikut:
هذَا الكِتَابُ
(Buku ini ….)
Jawabannya tidak boleh, Karena bila kata “buku” datang
dalam keadaan ma’rifah, maka makna kalimatnya bukan
“Ini adalah buku” melainkan “Buku ini..”. Kalimat “buku ini..”
malah bukan kalimat yang sempurna dikarenakan masih
membutuhkan penjelasan lebih lanjut; kenapa buku ini?
Misalkan dijelaskan seperti kalimat berikut:
هُذَا الكِتَابُ جَدِيدٌ
(Buku ini baru)
barulah kalimat tersebut menjadi kalimat yang sempurna.
Apakah setiap kalimat yang mubtada nya isim isyarah
seperti contoh di atas, khabarnya wajib nakirah?
Jawabannya tidak. Karena telah dijelaskan sebelumnya
bahwa khusus untuk isim yang dari asalnya ma’rifah,
maka tidak mengapa menjadi khabar meskipun dalam
keadaan ma’rifah. Karena itu sesuatu yang tidak bisa
dipaksakan menjadi nakirah. Contohnya:
هُذَا زَيْدٌ
(Ini adalah Zaid)
Maka kalimat di atas telah memenuhi syarat jumlah
ismiyyah karena mubtadanya ma’rifah dan khabarnya
sekalipun ma’rifah tapi tetap diperbolehkan
berdasarkan kaidah.
3. Khabar harus sama dengan mubtada dari
sisi jenis dan jumlah
Bila mubtadanya mufrad dan mudzakkar, maka khabarnya
wajib mufrad dan mudzakkar. Begitupun bila mubtadanya
muannats dan tastsniyah, maka khabarnya harus muannats
dan mutsanna. Perhatikan contoh-contoh berikut:

Perhatikanlah bahwa semua contoh kalimat di atas,
khabar dan mubtadanya dalam keadaan yang sama
baik dari sisi jenis maupun jumlah.
RUMUS CЕРАТ: MADU MANIS DARI MALANG
1. MADU: MArfu’ keDUanya
2. MANIS: Mubtada dan khabar itu harus saMA JENIS
3. DARI: MubtaDA harus ma’RIfah
4. MALANG: SaMA biLANGan jumlahnya
