buku

Evaluasi Harga Secara Berkala

Sahabat, kita tiba di dua bab terakhir
dari buku 
How to Price Crafts and
Things You Make to Sell
. James
Dillehay menutup panduannya dengan
dua fondasi terpenting: kebiasaan
mengevaluasi harga secara rutin dan
mentalitas menghargai diri sendiri
sebagai pengusaha.

Bab 10: Evaluasi Harga Secara
Berkala

James Dillehay mengingatkan bahwa
menetapkan harga bukanlah pekerjaan
sekali jadi. Kamu tidak bisa
menetapkan harga hari ini,
lalu melupakannya selama
bertahun-tahun. Dunia berubah.
Biaya bahan baku naik. Tren pasar
bergeser. Kompetitor baru muncul.
Jika kamu tidak mengevaluasi harga
secara berkala, kamu bisa tiba-tiba
mendapati bahwa kamu telah menjual
dengan harga yang sama selama tiga
tahun, sementara semua biayamu
sudah naik dua kali lipat.

Dillehay meminta tiga hal untuk
dilakukan secara rutin. Hal pertama
adalah mencatat keuntungan
per produk. Kamu harus tahu persis
berapa laba bersih yang kamu
dapatkan dari setiap produk yang
terjual. Bukan hanya total pendapatan
secara keseluruhan, melainkan
per jenis produk. Dengan mencatat
ini, kamu bisa melihat produk mana
yang menjadi bintang dan produk
mana yang menjadi beban. Hal kedua
adalah mengidentifikasi produk mana
yang paling menguntungkan.
Setelah kamu memiliki data,
analisislah. Produk mana yang
memberikan margin laba tertinggi?
Produk mana yang paling banyak
terjual?
Apakah ada produk yang laris
tetapi marginnya tipis?
Apakah ada produk dengan margin
tinggi tetapi jarang terjual?
Informasi ini akan membantumu
memutuskan produk mana yang
harus dipromosikan lebih banyak,
produk mana yang harus
dipertimbangkan untuk dinaikkan
harganya, dan produk mana yang
mungkin harus dihentikan.
Hal ketiga adalah meninjau ulang harga
setidaknya setahun sekali.
Dillehay menyarankan untuk
menjadwalkan waktu khusus
setiap tahun untuk duduk, membuka
catatan keuangan, dan memeriksa
apakah harga-hargamu masih sesuai
dengan biaya terkini, apakah masih
kompetitif di pasar, dan apakah masih
memberikan laba yang cukup untuk
menghidupi dirimu dan
mengembangkan bisnismu.

Tanpa evaluasi rutin, kamu berjalan
dalam kegelapan, sama seperti ketika
kamu menetapkan harga tanpa
menghitung biaya. Evaluasi adalah
senter yang menerangi jalanmu
dan memastikan kamu tidak tersesat.

Contoh Penerapan Evaluasi
Harga Berkala: Rendra dan
Keramiknya

Data Awal (Enam Bulan
Sebelumnya):

Rendra membuat tiga jenis produk
keramik: piring dinner, mangkuk
sereal, dan cangkir kopi. Berikut data
produksinya saat ia menetapkan
harga enam bulan lalu.

Piring dinner: biaya bahan langsung
Rp45.000, biaya tenaga kerja
Rp90.000, biaya overhead
Rp35.000, total biaya produksi
Rp170.000. Harga jual Rp380.000.
Laba bersih per unit Rp210.000.
Rata-rata terjual 15 unit per bulan.

Mangkuk sereal: biaya bahan
langsung Rp25.000, biaya tenaga
kerja Rp48.000, biaya overhead
Rp25.000, total biaya produksi
Rp98.000. Harga jual Rp180.000.
Laba bersih per unit Rp82.000.
Rata-rata terjual 20 unit per bulan.

Cangkir kopi: biaya bahan langsung
Rp20.000, biaya tenaga kerja
Rp30.000, biaya overhead
Rp20.000, total biaya produksi
Rp70.000. Harga jual Rp120.000.
Laba bersih per unit Rp50.000.
Rata-rata terjual 30 unit per bulan.

Total laba bersih per bulan saat itu:
(15 × Rp210.000) + (20 × Rp82.000)
+ (30 × Rp50.000)
= Rp3.150.000 + Rp1.640.000
+ Rp1.500.000 = Rp6.290.000.

Evaluasi Enam Bulan Kemudian:

Rendra duduk dan menghitung ulang
biayanya. Ia menemukan beberapa
perubahan.

Untuk piring dinner, harga tanah liat
naik dua puluh persen, membuat
biaya bahan langsung naik menjadi
Rp54.000. Biaya overhead juga naik
menjadi Rp40.000 karena listrik
untuk kiln bertambah. Total biaya
produksi baru menjadi Rp184.000.
Harga jual masih tetap Rp380.000.
Laba bersih baru menjadi Rp196.000,
turun Rp14.000 per unit. Penjualan
tetap 15 unit per bulan.

Untuk mangkuk sereal, biaya bahan
langsung naik menjadi Rp30.000.
Biaya overhead naik menjadi
Rp28.000. Total biaya produksi baru
menjadi Rp106.000. Harga jual masih
Rp180.000. Laba bersih baru menjadi
Rp74.000, turun Rp8.000 per unit.
Penjualan naik menjadi 25 unit
per bulan karena mangkuknya
semakin populer.

Untuk cangkir kopi, biaya bahan
langsung naik menjadi Rp24.000.
Biaya overhead naik menjadi
Rp22.000. Total biaya produksi baru
menjadi Rp76.000. Harga jual masih
Rp120.000. Laba bersih baru menjadi
Rp44.000, turun Rp6.000 per unit.
Penjualan turun menjadi 20 unit
per bulan karena ada kompetitor
baru yang menjual cangkir lebih murah.

Analisis Rendra:

Rendra menghitung total laba
bersihnya saat ini:
(15 × Rp196.000) + (25 × Rp74.000)
+ (20 × Rp44.000)
= Rp2.940.000 + Rp1.850.000
+ Rp880.000
= Rp5.670.000. Total laba bersihnya
turun Rp620.000 per bulan atau
sekitar sepuluh persen dari
sebelumnya Rp6.290.000.

Rendra menganalisis situasinya.
Piring dinner adalah produk paling
menguntungkan dengan margin laba
Rp196.000 per unit, jauh di atas
yang lain. Mangkuk sereal
penjualannya naik, menunjukkan
permintaan yang meningkat.
Cangkir kopi penjualannya turun
dan marginnya paling kecil.

Keputusan Rendra Berdasarkan
Evaluasi:

Untuk piring dinner,
Rendra memutuskan untuk
menaikkan harga dari Rp380.000
menjadi Rp420.000 untuk menutupi
kenaikan biaya. Laba baru:
Rp420.000 – Rp184.000
= Rp236.000. Rendra juga
memutuskan untuk fokus
mempromosikan piring dinner
karena marginnya paling tinggi.

Untuk mangkuk sereal, karena
permintaan naik, Rendra menaikkan
harga dari Rp180.000 menjadi
Rp195.000. Laba baru:
Rp195.000 – Rp106.000 = Rp89.000.

Untuk cangkir kopi, Rendra
memutuskan untuk menaikkan
sedikit harga menjadi Rp130.000.
Laba baru: Rp130.000 – Rp76.000
= Rp54.000. Ia juga menciptakan
desain baru yang lebih unik untuk
membedakan dari kompetitor.

Proyeksi Setelah Evaluasi
dan Penyesuaian:

Rendra memproyeksikan dengan
harga dan strategi baru.

Piring dinner: 15 unit × Rp236.000
= Rp3.540.000. Mangkuk sereal:
25 unit × Rp89.000 = Rp2.225.000.
Cangkir kopi: 20 unit × Rp54.000
= Rp1.080.000. Total proyeksi laba
bersih:
Rp3.540.000 + Rp2.225.000
+ Rp1.080.000 = Rp6.845.000.

Dengan evaluasi rutin dan
penyesuaian harga, Rendra tidak
hanya memulihkan penurunan laba,
tetapi juga meningkatkannya
melampaui laba awalnya yang
Rp6.290.000 menjadi Rp6.845.000,
naik sekitar sembilan persen.

Bab 11: Mentalitas: Hargai Diri
Anda sebagai Pengusaha

Di bab terakhir ini, James Dillehay
meletakkan seluruh perhitungan
dan strategi yang telah dibahas, lalu
berbicara langsung ke hati para
pengrajin. Ia menyentuh akar dari
semua masalah penetapan harga:
rasa bersalah.

Dillehay mengamati bahwa banyak
pengrajin merasa bersalah ketika
menetapkan harga tinggi untuk karya
mereka. Mereka menganggap bahwa
apa yang mereka buat “cuma hobi”,
sesuatu yang mereka nikmati, dan
karena itu mereka merasa tidak
berhak meminta bayaran yang besar.
Pola pikir ini sangat berbahaya.
Ia membuat pengrajin meremehkan
waktu mereka sendiri, mengabaikan
keterampilan yang telah mereka
bangun selama bertahun-tahun, dan
pada akhirnya, menetapkan harga
yang tidak bisa menghidupi mereka.

Dillehay menegaskan bahwa
menetapkan harga yang adil dan
menguntungkan bukanlah
keserakahan. Ia adalah kebutuhan.
Harga yang tepat memungkinkan
kamu untuk terus berkarya, membeli
bahan baku berkualitas, merawat
peralatanmu, dan yang paling
penting, menghidupi dirimu sendiri
dan keluargamu. Jika kamu
terus-menerus menjual dengan
harga yang terlalu rendah, kamu
tidak akan bisa bertahan. Bisnismu
akan mati, dan karyamu akan hilang
dari dunia. Apakah itu yang kamu
inginkan?

Dillehay meminta para pengrajin
untuk mengubah cara mereka
memandang diri sendiri.
Kamu bukan sekadar
“orang yang suka bikin kerajinan”.
Kamu adalah pengusaha.
Kamu adalah pemilik bisnis kreatif.
Kamu menciptakan produk yang
memiliki nilai, yang menyentuh hati
pelanggan, yang membuat hidup
mereka lebih indah. Kamu berhak
untuk dibayar dengan layak untuk itu.
Harga yang tepat adalah fondasi
bisnis kreatif yang sehat. Ia adalah
bahan bakar yang memungkinkanmu
untuk terus mencipta, terus
berinovasi, dan terus berbagi
keindahan dengan dunia.

Contoh Perbandingan Dua
Pola Pikir:

Pengrajin A (Mentalitas Hobi):

Dina membuat tas rajut.
Biaya produksinya sudah kita ketahui
dari contoh sebelumnya: total biaya
produksi Rp120.000 per tas. Dina
berpikir, “Ah, aku kan cuma merajut
sambil nonton TV. Nggak pantas
kalau harganya mahal-mahal.”
Ia menjual tasnya seharga Rp150.000.
Laba bersihnya Rp30.000 per tas.
Ia menjual sepuluh tas per bulan.
Total laba bersihnya Rp300.000
per bulan.

Dina tidak bisa membeli bahan baku
berikutnya tanpa memakai uang
tabungan. Setahun kemudian,
ia berhenti membuat tas.
“Nggak ada untungnya,” katanya.
Karyanya hilang dari dunia.

Pengrajin B
(Mentalitas Pengusaha):

Sari, yang sudah kita kenal dari
contoh dompet kulit, menghitung
biayanya dengan jujur.
Ia menghargai waktunya sebesar
Rp60.000 per jam. Ia menjual
dompetnya seharga Rp479.000
dengan laba bersih Rp153.250
per dompet. Ia menjual delapan
dompet per bulan. Total laba bersihnya
Rp1.226.000 per bulan. Sari bisa
membeli bahan baku berikutnya,
menabung untuk mesin jahit baru,
dan masih bisa menghidupi dirinya.
Setahun kemudian, ia masih berkarya,
bahkan sudah meluncurkan lini
premium.

Perbedaan antara Dina dan Sari
bukanlah pada keterampilan.
Keduanya sama-sama terampil.
Perbedaannya ada pada mentalitas.
Dina merasa bersalah menetapkan
harga yang layak. Sari memahami
bahwa harga yang adil adalah
fondasi dari bisnis yang sehat.

Sahabat, selesailah perjalanan kita
menyusuri seluruh isi buku
How to
Price Crafts and Things You
Make to Sell
. Dari memahami
mengapa harga itu krusial,
menghitung biaya produksi
secara menyeluruh, menerapkan
formula dasar, memahami perbedaan
saluran penjualan, menetapkan harga
berbasis nilai, melakukan riset pasar,
menerapkan psikologi harga, strategi
menaikkan harga tanpa kehilangan
pelanggan, diskon yang tidak merusak
merek, evaluasi berkala, hingga
mentalitas menghargai diri sendiri
sebagai pengusaha. James Dillehay
telah memberikan peta yang lengkap.
Kini, peta itu ada di tanganmu.
Hargai karyamu. Hargai dirimu.
Dan jangan pernah takut untuk
menetapkan harga yang pantas.

Sahabat, setelah memahami
pentingnya evaluasi harga secara
berkala dan mentalitas menghargai
diri sendiri, mari kita lihat bagaimana
keduanya diterjemahkan ke dalam
angka dan perhitungan yang konkret.
Saya akan menggunakan dua contoh:
Rendra si pembuat keramik untuk
Bab 10, dan perbandingan dua
pengrajin dengan pola pikir berbeda
untuk Bab 11.

Contoh 1: Rendra dan Evaluasi
Harga Berkala Produk
Keramiknya

Data Awal (Enam Bulan
Sebelumnya):

Rendra membuat tiga jenis produk
keramik: piring dinner, mangkuk
sereal, dan cangkir kopi. Berikut data
produksinya saat ia pertama kali
menetapkan harga.

Piring Dinner:

  • Biaya bahan langsung:
    Rp45.000 (tanah liat, glasir,
    pewarna alami)

  • Biaya tenaga kerja:
    Rp90.000 (1,5 jam
    × Rp60.000 per jam)

  • Biaya overhead: Rp35.000
    (sewa studio, listrik kiln,
    kemasan)

  • Total biaya produksi:
    Rp170.000

  • Harga jual:
    Rp380.000

  • Laba bersih per unit:
    Rp380.000 – Rp170.000
    = Rp210.000

  • Rata-rata terjual:
    15 unit per bulan

  • Total laba dari piring dinner:
    15 × Rp210.000
    = Rp3.150.000

Mangkuk Sereal:

  • Biaya bahan langsung:
    Rp25.000

  • Biaya tenaga kerja:
    Rp48.000 (48 menit
    × Rp60.000 per jam)

  • Biaya overhead:
    Rp25.000

  • Total biaya produksi:
    Rp98.000

  • Harga jual:
    Rp180.000

  • Laba bersih per unit:
    Rp180.000 – Rp98.000
    = Rp82.000

  • Rata-rata terjual:
    20 unit per bulan

  • Total laba dari mangkuk sereal:
    20 × Rp82.000 = Rp1.640.000

Cangkir Kopi:

  • Biaya bahan langsung: Rp20.000

  • Biaya tenaga kerja: Rp30.000
    (30 menit × Rp60.000 per jam)

  • Biaya overhead: Rp20.000

  • Total biaya produksi: Rp70.000

  • Harga jual: Rp120.000

  • Laba bersih per unit:
    Rp120.000 – Rp70.000
    = Rp50.000

  • Rata-rata terjual:
    30 unit per bulan

  • Total laba dari cangkir kopi:
    30 × Rp50.000 = Rp1.500.000

Total Laba Bersih per Bulan
(Enam Bulan Lalu):

Rp3.150.000 + Rp1.640.000
+ Rp1.500.000 = Rp6.290.000

Evaluasi Enam Bulan Kemudian:

Rendra duduk dan menghitung ulang
semua biayanya. Ia menemukan
beberapa perubahan signifikan.

Perubahan Biaya:

Harga tanah liat naik dua puluh
persen. Biaya listrik untuk kiln
bertambah karena tarif naik.

Piring Dinner (Biaya Baru):

  • Biaya bahan langsung baru:
    Rp45.000 × 1,2 = Rp54.000

  • Biaya tenaga kerja tetap:
    Rp90.000

  • Biaya overhead baru:
    Rp40.000 (naik dari Rp35.000)

  • Total biaya produksi baru:
    Rp54.000 + Rp90.000
    + Rp40.000 = Rp184.000

  • Harga jual masih:
    Rp380.000

  • Laba bersih per unit:
    Rp380.000 – Rp184.000
    = Rp196.000

  • Penjualan tetap:
    15 unit per bulan

  • Total laba dari piring dinner:
    15 × Rp196.000
    = Rp2.940.000

Mangkuk Sereal (Biaya Baru):

  • Biaya bahan langsung baru:
    Rp25.000 × 1,2 = Rp30.000

  • Biaya tenaga kerja tetap:
    Rp48.000

  • Biaya overhead baru:
    Rp28.000 (naik dari Rp25.000)

  • Total biaya produksi baru:
    Rp30.000 + Rp48.000
    + Rp28.000 = Rp106.000

  • Harga jual masih: Rp180.000

  • Laba bersih per unit:
    Rp180.000 – Rp106.000
    = Rp74.000

  • Penjualan naik:
    25 unit per bulan
    (karena mangkuknya
    semakin populer)

  • Total laba dari mangkuk sereal:
    25 × Rp74.000 = Rp1.850.000

Cangkir Kopi (Biaya Baru):

  • Biaya bahan langsung baru:
    Rp20.000 × 1,2 = Rp24.000

  • Biaya tenaga kerja tetap:
    Rp30.000

  • Biaya overhead baru:
    Rp22.000 (naik dari Rp20.000)

  • Total biaya produksi baru:
    Rp24.000 + Rp30.000
    + Rp22.000 = Rp76.000

  • Harga jual masih: Rp120.000

  • Laba bersih per unit:
    Rp120.000 – Rp76.000
    = Rp44.000

  • Penjualan turun:
    20 unit per bulan
    (ada kompetitor baru yang
    menjual cangkir lebih murah)

  • Total laba dari cangkir kopi:
    20 × Rp44.000 = Rp880.000

Total Laba Bersih per Bulan
(Sebelum Penyesuaian):

Rp2.940.000 + Rp1.850.000
+ Rp880.000 = Rp5.670.000

Penurunan Laba:

Rp6.290.000 – Rp5.670.000
= Rp620.000 (turun sekitar 9,9%)

Analisis Rendra:

Rendra mengidentifikasi beberapa
hal penting dari evaluasi ini.

Piring dinner adalah produk paling
menguntungkan dengan margin
laba Rp196.000 per unit, jauh
di atas produk lainnya. Mangkuk
sereal penjualannya naik dari
20 menjadi 25 unit, menunjukkan
permintaan yang meningkat.
Cangkir kopi penjualannya turun
dari 30 menjadi 20 unit dan
marginnya paling kecil.
Tanpa perubahan harga, laba
Rendra terus tergerus oleh
kenaikan biaya.

Keputusan Rendra Berdasarkan
Evaluasi:

Piring Dinner:

Rendra menaikkan harga dari
Rp380.000 menjadi Rp420.000
(kenaikan 10,5%).
Laba baru: Rp420.000 – Rp184.000
= Rp236.000.
Total laba dari piring dinner:
15 × Rp236.000 = Rp3.540.000.

Mangkuk Sereal:

Karena permintaan naik, Rendra
menaikkan harga dari Rp180.000
menjadi Rp195.000
(kenaikan 8,3%).
Laba baru: Rp195.000 – Rp106.000
= Rp89.000.
Total laba dari mangkuk sereal:
25 × Rp89.000 = Rp2.225.000.

Cangkir Kopi:

Rendra menaikkan sedikit harga
menjadi Rp130.000
(kenaikan 8,3%). Ia juga
menciptakan desain baru yang
lebih unik untuk membedakan
dari kompetitor.
Laba baru: Rp130.000 – Rp76.000
= Rp54.000.
Total laba dari cangkir kopi:
20 × Rp54.000 = Rp1.080.000.

Total Proyeksi Laba Bersih
Setelah Penyesuaian:

Rp3.540.000 + Rp2.225.000
+ Rp1.080.000 = Rp6.845.000

Perbandingan Sebelum dan
Sesudah Evaluasi:

KeteranganEnam Bulan LaluSebelum PenyesuaianSetelah Penyesuaian
Piring dinner (harga)Rp380.000Rp380.000Rp420.000
Piring dinner (laba/unit)Rp210.000Rp196.000Rp236.000
Mangkuk sereal (harga)Rp180.000Rp180.000Rp195.000
Mangkuk sereal (laba/unit)Rp82.000Rp74.000Rp89.000
Cangkir kopi (harga)Rp120.000Rp120.000Rp130.000
Cangkir kopi (laba/unit)Rp50.000Rp44.000Rp54.000
Total laba bersih/bulanRp6.290.000Rp5.670.000Rp6.845.000

Dengan evaluasi rutin dan penyesuaian
harga, Rendra tidak hanya memulihkan
penurunan laba, tetapi juga
meningkatkannya melampaui laba
awalnya. Dari Rp6.290.000 menjadi
Rp6.845.000, naik sekitar 8,8%.

Contoh 2: Perbandingan Dua Pola
Pikir, Dina si Mentalitas Hobi vs
Sari si Mentalitas Pengusaha

Data Dasar yang Sama:

Dina dan Sari sama-sama membuat
produk kerajinan tangan. Mereka
memiliki keterampilan yang setara
dan menggunakan bahan baku yang
sama. Yang membedakan mereka
hanyalah cara mereka memandang
diri sendiri dan menetapkan harga.

Pengrajin A: Dina dengan
Mentalitas Hobi

Dina membuat tas rajut dari benang
katun premium. Ia merajut sambil
menonton televisi di malam hari
setelah bekerja kantoran.
Ia menganggap kerajinannya sebagai
hobi yang menyenangkan, bukan
sebagai bisnis sungguhan.

Biaya Produksi Dina per Tas:

  • Biaya bahan langsung: Rp75.000
    (benang katun premium, kulit
    sintetis untuk tali, ritsleting,
    puring)

  • Biaya tenaga kerja: Dina tidak
    menghitungnya karena merasa
    “cuma nonton TV sambil
    merajut”

  • Biaya overhead: Rp25.000
    (kemasan sederhana, biaya
    marketplace)

  • Total biaya produksi: Rp100.000

Pola Pikir Dina saat Menetapkan
Harga:

Dina berpikir, “Ah, ini cuma hobi.
Aku kan ngerjainnya sambil santai.
Nggak pantas kalau harganya mahal.
Kasihan pembelinya. Lagipula, kalau
kemahalan, siapa yang mau beli?”

Harga Jual Dina:

Dina menetapkan harga Rp150.000
karena merasa itu sudah cukup mahal
untuk sebuah tas rajut. Laba bersih
per tas: Rp150.000 – Rp100.000
= Rp50.000.

Penjualan Dina:

Dina menjual 10 tas per bulan.
Total laba bersih per bulan:
10 × Rp50.000 = Rp500.000.

Masalah yang Muncul:

Dina tidak menghitung waktu kerjanya.
Padahal, setiap tas membutuhkan
waktu 8 jam untuk merajut dan
merakit. Jika Dina menghargai
waktunya sebesar Rp30.000 per jam
saja, biaya tenaga kerjanya adalah
Rp240.000 per tas. Dengan harga jual
Rp150.000, Dina sebenarnya rugi
Rp90.000 per tas jika
memperhitungkan waktunya.

Setelah enam bulan, Dina mulai
kelelahan. Ia menghabiskan
80 jam per bulan untuk merajut,
tetapi hanya mendapatkan
Rp500.000. Jika dihitung, upah
per jamnya hanya Rp6.250, jauh
di bawah upah minimum. Dina
tidak bisa membeli bahan baku
berikutnya tanpa memakai uang
tabungan dari gaji kantornya.
Setahun kemudian, ia berhenti
membuat tas. “Nggak ada untungnya.
Capek, waktu habis, uang nggak
cukup,” katanya. Karyanya hilang
dari dunia.

Pengrajin B: Sari dengan
Mentalitas Pengusaha

Sari juga membuat tas rajut dari
benang katun premium. Ia memiliki
keterampilan yang sama dengan Dina.
Bedanya, Sari memandang dirinya
sebagai pengusaha, bukan sekadar
penyalur hobi.

Biaya Produksi Sari per Tas:

  • Biaya bahan langsung:
    Rp75.000 (sama dengan Dina)

  • Biaya tenaga kerja:
    Sari menetapkan upah untuk
    dirinya sendiri sebesar
    Rp40.000 per jam.
    Waktu pembuatan satu tas:
    8 jam. Biaya tenaga kerja:
    8 × Rp40.000 = Rp320.000

  • Biaya overhead: Rp45.000
    (kemasan premium dengan
    kotak dan pita, biaya
    marketplace, biaya pemotretan
    produk, alokasi biaya iklan)

  • Total biaya produksi:
    Rp75.000 + Rp320.000
    + Rp45.000 = Rp440.000

Pola Pikir Sari saat Menetapkan
Harga:

Sari berpikir, “Aku menghabiskan
delapan jam untuk setiap tas.
Ini bukan sekadar rajutan. Ini adalah
keterampilan yang aku bangun
selama bertahun-tahun.
Setiap tusukan adalah hasil dari
latihan dan dedikasi. Pelanggan tidak
hanya membeli tas; mereka membeli
waktu, keterampilan, dan ceritaku.”

Harga Jual Sari:

Sari menerapkan markup 1,5 kali dari
total biaya produksi. Harga jual:
Rp440.000 × 1,5 = Rp660.000. Sari
membulatkan ke atas menjadi
Rp675.000.

Laba bersih per tas:
Rp675.000 – Rp440.000
= Rp235.000.

Penjualan Sari:

Sari hanya menjual 6 tas per bulan,
lebih sedikit dari Dina. Total laba
bersih per bulan: 6 × Rp235.000
= Rp1.410.000.

Perbandingan Dina dan Sari:

KeteranganDina (Mentalitas Hobi)Sari (Mentalitas Pengusaha)
Biaya bahan langsungRp75.000Rp75.000
Biaya tenaga kerjaRp0 (tidak dihitung)Rp320.000
Biaya overheadRp25.000Rp45.000
Total biaya produksiRp100.000Rp440.000
Harga jualRp150.000Rp675.000
Laba bersih per unitRp50.000Rp235.000
Unit terjual per bulan106
Total laba bersih per bulanRp500.000Rp1.410.000
Upah per jam aktualRp6.250Rp40.000
Jumlah jam kerja per bulan80 jam48 jam

Sari menjual lebih sedikit tas, tetapi
mendapatkan laba hampir
tiga kali lipat dari Dina. Sari bekerja
48 jam per bulan, sementara Dina
bekerja 80 jam. Upah per jam Sari
adalah Rp40.000, sesuai dengan
yang ia tetapkan. Upah per jam Dina
hanya Rp6.250, jauh di bawah
kelayakan.

Nasib Jangka Panjang:

Setahun kemudian, Sari masih
berkarya. Labanya cukup untuk
membeli bahan baku, menabung untuk
mesin jahit baru, dan menghidupi
dirinya. Ia bahkan sudah meluncurkan
lini premium dengan harga
Rp850.000 per tas. Pelanggannya setia
karena mereka menghargai kualitas
dan cerita di balik setiap tas.

Dina sudah berhenti. Karyanya hilang
dari dunia. Bukan karena kualitasnya
rendah, tetapi karena ia tidak
menghargai dirinya sendiri.

Sahabat, dua contoh ini menunjukkan
bahwa evaluasi rutin dan mentalitas
yang tepat bukanlah sekadar saran
filosofis. Keduanya adalah penentu
apakah bisnis kreatifmu akan bertahan
atau akan mati. Rendra membuktikan
bahwa dengan mengevaluasi biaya
dan menyesuaikan harga secara
berkala, ia bisa memulihkan dan
bahkan meningkatkan labanya.
Perbandingan Dina dan Sari
membuktikan bahwa mentalitas
menghargai diri sendiri adalah fondasi
dari bisnis yang sehat. Jangan menjadi
Dina. Jadilah Sari. Hargai karyamu,
hargai waktumu, dan jangan pernah
takut untuk menetapkan harga yang
pantas.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Oke, gaes. Ini dia dua bab pamungkas
dari buku 
How to Price Crafts and
Things You Make to Sell
.
James Dillehay bakal nutup
panduannya dengan dua fondasi
paling penting: kebiasaan ngecek
ulang harga lo secara rutin, dan yang
paling dalem, mentalitas lo dalam
ngargain diri sendiri sebagai
pengusaha. Siap? Yuk, kita tuntaskan.

Bab 10: Rajin Ngecek Harga,
Jangan Sampe Ketiduran!

James Dillehay ngingetin, nentuin
harga itu bukan kerjaan sekali jadi,
terus lo tinggal tidur. Lo nggak bisa
pasang harga hari ini, terus lupain
bertahun-tahun. Dunia tuh terus
berubah, gaes. Harga bahan baku
naik, tren pasar geser, kompetitor
baru bermunculan. Kalau lo nggak
rajin ngevaluasi harga, bisa-bisa lo
tiba-tiba sadar udah tiga tahun
jualan dengan harga yang sama,
sementara semua biaya lo udah naik
dua kali lipat. Kan, bisa nangis
bombay.

Makanya, Dillehay minta lo ngelakuin
tiga hal ini secara rutin.
Pertama, catet untung
per produk.
 Lo harus tahu persis
berapa laba bersih yang lo dapet dari
setiap produk yang kejual, bukan
cuma total pendapatan secara
keseluruhan. Dengan ini, lo bisa
ngeliat produk mana yang jadi
bintang, mana yang cuma jadi beban.
Kedua, cari tahu produk mana
yang paling cuan.
 Begitu lo punya
data, langsung analisis.
Produk mana yang ngasih margin laba
paling gede? Mana yang paling laku?
Ada nggak yang laris manis tapi
marginnya tipis banget?
Atau produk dengan margin gede tapi
jarang dilirik?
Info ini bakal ngebantu lo mutusin
produk mana yang harus lo dorong
lebih kenceng, mana yang harus lo
naikin harganya, dan mana yang
mungkin udah waktunya lo pensiunin.
Ketiga, tinjau ulang harga minimal
setahun sekali.
 Dillehay nyaranin lo
buat jadwalin waktu khusus tiap tahun,
duduk manis, buka catatan keuangan
lo, dan periksa apakah harga lo masih
sesuai sama biaya terkini, masih
kompetitif di pasar, dan masih ngasih
laba yang cukup buat ngidupin diri lo
dan ngembangin bisnis.

Tanpa evaluasi rutin, lo berjalan
dalam gelap, sama kayak pas lo
pasang harga tanpa ngitung biaya.
Evaluasi adalah senter yang
ngebantu lo ngeliat jalan dan
mastiin lo nggak nyasar.

Contoh Nyata:
Rendra si Pembuat Keramik

Kita liat Rendra. Dia bikin tiga
produk: piring dinner, mangkuk
sereal, dan cangkir kopi.
Enam bulan lalu, data
produksinya gini:

  • Piring dinner:
    Biaya bahan Rp45rb, tenaga
    kerja Rp90rb, overhead Rp35rb.
    Total biaya Rp170rb.
    Dijual Rp380rb, laba bersih
    Rp210rb per unit.
    Laku 15 unit per bulan.

  • Mangkuk sereal:
    Biaya bahan Rp25rb, tenaga
    kerja Rp48rb, overhead Rp25rb.
    Total biaya Rp98rb.
    Dijual Rp180rb, laba bersih
    Rp82rb per unit.
    Laku 20 unit per bulan.

  • Cangkir kopi: Biaya bahan
    Rp20rb, tenaga kerja Rp30rb,
    overhead Rp20rb. Total biaya
    Rp70rb. Dijual Rp120rb,
    laba bersih Rp50rb per unit.
    Laku 30 unit per bulan.

Total laba bersihnya saat itu lumayan,
Rp6.290.000 per bulan.

Nah, enam bulan kemudian, Rendra
duduk dan ngitung ulang. Dia nemuin
perubahan. Harga tanah liat buat
piring naik 20%, biaya bahan
langsungnya jadi Rp54rb.
Listrik kiln naik, overhead jadi
Rp40rb. Total biaya produksi piring
sekarang Rp184rb. Laba bersihnya
turun jadi Rp196rb. Mangkuk sereal,
biaya bahan naik, overhead naik,
total biaya jadi Rp106rb, laba bersih
turun ke Rp74rb. Cangkir kopi juga
gitu, biaya naik, total biaya Rp76rb,
laba bersih cuma Rp44rb. Parahnya,
penjualan cangkir kopi malah turun
jadi 20 unit karena ada kompetitor
baru.

Setelah diitung ulang, total laba bersih
Rendra sekarang cuma Rp5.670.000,
turun Rp620rb! Dia langsung
menganalisis: piring dinner itu produk
paling cuan dengan margin gede,
mangkuk sereal penjualannya malah
naik, dan cangkir kopi mulai
bermasalah.

Akhirnya, Rendra ambil keputusan.
Piring dinner dinaikin harganya dari
Rp380rb ke Rp420rb (laba baru
Rp236rb) dan dia fokus promosiin ini.
Mangkuk sereal karena permintaan
naik, dinaikin jadi Rp195rb (laba baru
Rp89rb). 
Cangkir kopi dinaikin
dikit ke Rp130rb (laba baru Rp54rb)
dan dia bikin desain baru yang unik
biar beda dari kompetitor.

Hasil proyeksi setelah penyesuaian?
Total laba bersihnya jadi
Rp6.845.000! Nggak cuma balik
ke posisi awal, malah naik sekitar 9%!
Keren banget kan evaluasi rutin?

Bab 11: Mentalitas: Lo Itu
Pengusaha, Bukan Cuma
Tukang!

Di bab pamungkas ini, Dillehay naro
semua hitung-hitungan dan ngomong
langsung ke hati lo. Dia nyentuh akar
dari semua masalah harga:
rasa bersalah.

Dillehay ngamatin, banyak banget
pengrajin yang ngerasa bersalah pas
masang harga tinggi. Mereka nganggep
apa yang mereka bikin “cuma hobi”,
sesuatu yang mereka nikmatin, jadi
ngerasa nggak berhak minta bayaran
gede. Pola pikir ini bahaya banget.
Bikin lo ngeremehin waktu sendiri,
ngabaikan skill yang udah lo bangun
bertahun-tahun, dan ujungnya masang
harga yang nggak bisa ngidupin lo.

Dillehay nekenin, masang harga
yang adil dan untung itu bukan
keserakahan. Itu kebutuhan.
 Harga yang tepat bikin lo bisa terus
berkarya, beli bahan bagus, rawat
alat, dan yang paling penting,
ngidupin diri lo dan keluarga. Kalau
lo terus-terusan jual murah, lo nggak
bakal bisa bertahan. Bisnis lo bakal
mati, dan karya lo bakal ilang dari
dunia. Lo mau itu?

Dillehay minta lo buat ngubah cara
pandang. Lo bukan sekadar
“orang yang suka bikin kerajinan”.
Lo adalah pengusaha.
Lo pemilik bisnis kreatif.
 Lo nyiptain produk yang punya
nilai, yang nyentuh hati, yang bikin
hidup orang lebih indah. Lo berhak
dibayar layak buat itu.

Contoh Perbandingan Dua
Mentalitas:

  • Pengrajin A
    (Mentalitas Hobi):

    Dina bikin tas rajut dengan total
    biaya Rp120rb. Dia mikir,
    “Ah, gue kan cuma ngerajut
    sambil nonton TV, nggak pantes
    jual mahal.” Dia jual cuma
    Rp150rb, laba bersih cuma
    Rp30rb per tas. Sebulan laku 10,
    total laba cuma Rp300rb. Dina
    nggak bisa beli bahan lagi tanpa
    ngambil tabungan. Setahun
    kemudian, dia nyerah.
    “Nggak ada untungnya,”
    katanya. Karyanya ilang.

  • Pengrajin B
    (Mentalitas Pengusaha):

    Sari si pembuat dompet.
    Dia hargain waktunya Rp60rb
    per jam, itung biaya dengan jujur,
    dan jual dompetnya Rp479rb
    dengan laba Rp153rb. Sebulan
    laku 8, total laba Rp1,2 juta.
    Dia bisa beli bahan, nabung buat
    mesin baru, dan idup layak.
    Setahun kemudian, dia masih
    berkarya, bahkan udah punya
    lini premium.

Bedanya bukan di skill, gaes.
Dua-duanya jago. Bedanya cuma
di mentalitas. Dina ngerasa
bersalah, Sari paham harga adil
itu fondasi bisnis sehat.

Jadi, gaes, selesai sudah petualangan
kita. Dari ngerti kenapa harga itu
krusial, ngitung biaya total, formula
dasar, beda saluran jualan, harga
berbasis nilai, riset pasar, psikologi
harga, strategi naikin harga, diskon
yang nggak ngerusak, evaluasi rutin,
sampe mentalitas pengusaha.
Peta udah lengkap di tangan lo.
Hargai karya lo, hargai diri lo, dan
jangan pernah takut pasang harga
yang pantas! 🔥

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *