Attack of the Clones
Sahabat, kita tiba di bagian akhir dari
buku George Lucas: A Life. Bagian
Tiga ini adalah penutup dari
perjalanan seorang pria yang telah
mengubah dunia, tetapi harus
menghadapi kenyataan bahwa dunia
yang ia ciptakan tidak lagi
sepenuhnya miliknya. Dari puncak
inovasi digital hingga keputusan
melepas kerajaannya, inilah bab-bab
terakhir dari kisah George Lucas.
BAGIAN TIGA:
The Empire Strikes Back
Bab 16 – Attack of the Clones
Setelah The Phantom Menace, Lucas
tidak mundur. Ia justru semakin
berani. Untuk film kedua dari trilogi
prekuel, Attack of the Clones,
ia membuat keputusan yang akan
mengubah industri sinema
selamanya: ia akan merekam seluruh
film menggunakan kamera digital
Sony, tanpa satu pun gulungan
seluloid.
Pada awal tahun 2000-an, hampir
semua film dibuat dengan kamera
film tradisional. Kamera digital
masih dianggap sebagai alat yang
inferior, cocok untuk proyek amatir,
bukan untuk blockbuster epik. Tetapi
Lucas melihat masa depan. Ia sudah
lelah dengan keterbatasan film fisik,
dengan proses kimia yang lambat,
dengan ketidakmampuan untuk
langsung melihat apa yang baru saja
direkam. Kamera digital memberinya
kendali instan, dan kendali adalah
sesuatu yang selalu ia dambakan.
Syuting berlangsung dengan latar
belakang layar hijau yang sangat
dominan. Para aktor berdiri
di depan ruang kosong, berakting
dengan makhluk dan dunia yang
belum ada, yang nantinya akan
diisi oleh para seniman digital
di ILM. Proses ini tidak mudah. Para
aktor kebingungan, dan kritik terhadap
dialog serta akting kembali
bermunculan. Namun, di balik layar,
Lucas sedang merevolusi cara film
dibuat. Hari ini, hampir setiap film
yang kita tonton direkam secara digital.
Langkah berani Lucas di Attack of the
Clones adalah titik awal dari revolusi
itu. Ia kini lebih menikmati perannya
sebagai eksperimentalis teknologi
daripada sebagai pencerita, meskipun
kritik terhadap naskahnya tetap
melukainya.
Bab 17 – Revenge of the Sith
Film ketiga dari trilogi prekuel,
Revenge of the Sith, adalah
penyelesaian dari tragedi yang sudah
lama direncanakan. Inilah kisah
kejatuhan Anakin Skywalker,
bagaimana seorang Jedi yang penuh
harapan berubah menjadi Darth
Vader, ikon kejahatan paling terkenal
sepanjang masa.
Produksi film ini lebih lancar
dibandingkan dua prekuel sebelumnya.
Tim sudah terbiasa dengan teknologi
digital. Para aktor sudah memahami
visi Lucas. Adegan-adegan kunci,
termasuk duel terakhir antara Anakin
dan Obi-Wan Kenobi di planet vulkanik
Mustafar, dieksekusi dengan intensitas
yang mendalam. Lucas merasa bahwa
ia akhirnya menceritakan kisah yang
selama ini ingin ia sampaikan: sebuah
tragedi tentang cinta yang berubah
menjadi obsesi, tentang ketakutan
yang melahirkan kejahatan, dan
tentang seorang pria yang kehilangan
segalanya karena ia tidak bisa
melepaskan.
Ketika film ini dirilis, reaksinya lebih
hangat daripada The Phantom
Menace, tetapi Lucas sudah lelah.
Setelah pemutaran terakhir, ia secara
terbuka menyatakan bahwa ini adalah
film blockbuster terakhir yang akan ia
sutradarai. Ia pensiun dari kursi
sutradara, bukan karena ia kehabisan
ide, tetapi karena ia tidak tahan lagi
menghadapi tekanan dari penggemar
yang tidak pernah puas dan kritik
yang terus-menerus. Pria yang
menciptakan dunia paling dicintai
di galaksi merasa bahwa penontonnya
telah berbalik melawannya.
Bab 18 – The Clone Wars &
Kehidupan Baru
Setelah pensiun dari penyutradaraan
film live-action, Lucas mengalihkan
energinya ke media yang berbeda:
televisi animasi. Ia menjadi produser
eksekutif dan pendongeng utama
untuk serial Star Wars: The Clone
Wars. Di sini, ia menemukan
kebebasan yang sudah lama hilang.
Tanpa tekanan box office, tanpa kritik
pedas dari penggemar dewasa, ia bisa
kembali bercerita dengan cara yang
lebih ringan, lebih eksploratif, dan
lebih menyenangkan.
Di kehidupan pribadinya, perubahan
besar sedang terjadi. Lucas, yang
selama bertahun-tahun menarik diri
dan skeptis terhadap hubungan
jangka panjang setelah perceraiannya
dengan Marcia, bertemu dengan
seorang perempuan yang mengubah
segalanya. Namanya Mellody Hobson,
seorang eksekutif keuangan yang
cerdas, hangat, dan percaya diri.
Ia bukan bagian dari dunia Hollywood.
Ia datang dari dunia investasi dan
bisnis, dan ia membawa stabilitas
yang belum pernah dirasakan Lucas
sebelumnya.
Mereka menikah pada tahun 2013,
di Skywalker Ranch, tempat yang dulu
ia bangun sebagai pelarian dari dunia,
tetapi kini menjadi saksi dari
kebahagiaan yang baru. Pernikahan
ini membuka Lucas secara sosial.
Ia mulai menghadiri acara-acara
publik, memberikan wawancara, dan
tampak lebih damai daripada
sebelumnya. Mellody memberinya
sesuatu yang tidak bisa diberikan
oleh semua kekayaan dan ketenaran:
ketenangan.
Bab 19 – Proyek Passion
Di tengah semua ini, Lucas masih
menyimpan mimpi yang belum
terwujud. Ia ingin membuat film
yang tidak ada hubungannya dengan
Star Wars, sebuah proyek yang
sudah ia impikan selama
bertahun-tahun. Film itu berjudul
Red Tails, kisah nyata tentang para
pilot Tuskegee, sekelompok
penerbang Afrika-Amerika yang
bertempur dengan gagah berani
dalam Perang Dunia II meskipun
menghadapi diskriminasi dari
negara mereka sendiri.
Lucas membiayai sendiri seluruh
produksinya. Ia menulis ceritanya,
ia memproduserinya, dan ia menolak
untuk berkompromi. Tetapi ketika
filmnya selesai, ia menghadapi
kenyataan pahit: tidak ada studio
besar yang mau mendistribusikannya.
Para eksekutif berkata bahwa film
perang dengan pemeran kulit hitam
tidak akan laku di pasaran
internasional. Lucas berjuang
mati-matian untuk menemukan
distributor, tetapi hasilnya
mengecewakan. Red Tails gagal
secara komersial.
Kegagalan ini adalah pukulan terakhir.
Lucas menyadari sesuatu yang selama
ini ia curigai: Hollywood tidak
menginginkannya untuk ide-ide
barunya. Mereka hanya
menginginkannya untuk Star Wars.
Pria yang telah merevolusi sinema
dua kali, yang menciptakan dua
waralaba paling sukses dalam
sejarah, tidak bisa membuat film
kecil tentang pahlawan perang tanpa
ditolak. Ini adalah pesan yang jelas,
dan Lucas mendengarnya.
Bab 20 – The Sale
Pada tahun 2012, dunia dikejutkan
oleh sebuah pengumuman yang
hampir tidak bisa dipercaya. George
Lucas telah menjual Lucasfilm,
termasuk hak atas Star Wars dan
Indiana Jones, kepada The Walt
Disney Company. Harganya lebih dari
empat miliar dolar. Tetapi bagi Lucas,
keputusan ini bukan tentang uang.
Brian Jay Jones mengupas alasan
di balik keputusan monumental ini
dengan sangat mendalam. Lucas sudah
berusia hampir tujuh puluh tahun.
Ia telah menghabiskan lebih dari
separuh hidupnya membangun
kerajaan ini, dan ia tahu bahwa ia
tidak bisa hidup selamanya. Ia ingin
memastikan bahwa karyawannya,
orang-orang yang telah bekerja
untuknya selama puluhan tahun,
tetap memiliki pekerjaan dan masa
depan yang aman. Ia ingin
memastikan bahwa Star Wars bisa
terus hidup, terus bercerita, terus
menginspirasi generasi baru,
bahkan setelah ia tiada.
Dan ada alasan lain yang lebih pribadi.
Ia akan segera menikah dengan
Mellody, dan ia berencana untuk
memiliki anak lagi. Ia ingin menjadi
ayah yang hadir, bukan pria yang
terus-menerus menghilang ke dalam
ruang editing. Ia telah memberikan
seluruh hidupnya untuk sinema. Kini,
ia ingin memberikan sisa hidupnya
untuk keluarganya.
Lucas secara pribadi menyerahkan
kendali kepada Kathleen Kennedy,
seorang produser veteran yang telah
bekerja dengannya selama
bertahun-tahun. Ia mempercayainya
untuk menjaga warisannya. Ketika
pengumuman itu disampaikan
ke publik, dunia bergetar. Star Wars
akan berlanjut, tetapi tanpa George
Lucas di pucuk pimpinan.
Ia menyerahkan “bayinya” dan
berjalan pergi.
“Lucas handed over his ‘baby’ to
Kathleen Kennedy and began a
true retirement.”
Kalimat ini adalah pernyataan faktual
yang menggambarkan dua tindakan
nyata yang dilakukan oleh George
Lucas.
Tindakan pertama: Menyerahkan
“bayinya”.
Kata “bayinya” di sini adalah istilah
yang sering digunakan oleh Lucas
sendiri untuk merujuk pada Star Wars.
Dalam berbagai wawancara selama
puluhan tahun, Lucas berkali-kali
menyebut Star Wars sebagai “my baby”
atau “bayiku”. Bukan Brian Jay Jones
yang menciptakan metafora ini,
melainkan Lucas sendiri yang selalu
menganggap Star Wars sebagai ciptaan
pribadinya yang ia besarkan dan
lindungi seperti seorang ayah
membesarkan anaknya.
“Menyerahkan” merujuk pada
peristiwa nyata pada tanggal
30 Oktober 2012. Pada hari itu,
George Lucas menandatangani
perjanjian untuk menjual seluruh
Lucasfilm Ltd. kepada The Walt
Disney Company. Transaksi ini
mencakup semua hak atas Star Wars,
Indiana Jones, Industrial Light &
Magic, Skywalker Sound, dan semua
divisi lainnya. Lucas secara resmi
menunjuk Kathleen Kennedy, seorang
produser yang telah bekerja dengannya
selama bertahun-tahun, untuk
menggantikannya sebagai presiden
Lucasfilm. Mulai saat itu, Kennedy-lah
yang memegang kendali penuh atas
arah kreatif Star Wars, bukan Lucas.
Tindakan kedua: Berjalan pergi.
“Berjalan pergi” berarti Lucas
memulai masa pensiun sejati. Setelah
penjualan, ia tidak lagi terlibat dalam
pengambilan keputusan sehari-hari
untuk film-film baru Star Wars.
Ia tidak datang ke lokasi syuting.
Ia tidak membaca naskah. Ia tidak
memberikan catatan atau revisi.
Meskipun ia sempat memberikan
treatment cerita awal untuk film-film
sekuel, Disney memutuskan untuk
tidak menggunakannya dan memilih
alur cerita mereka sendiri. Lucas
menggambarkan dirinya seperti
“orang tua yang bercerai” yang tidak
memiliki hak asuh atas anaknya.
Ia dengan sengaja menarik diri
sepenuhnya, memilih untuk fokus pada
kehidupan pribadinya, yayasannya,
dan proyek-proyek kecil yang tidak ada
hubungannya dengan Star Wars.
Jadi, kalimat Jones tersebut adalah
deskripsi harfiah dari dua peristiwa
besar dalam hidup Lucas: penjualan
Lucasfilm kepada Disney dan
pengunduran dirinya secara total
dari keterlibatan kreatif dalam
waralaba yang ia ciptakan.
EPILOG: The Force
Brian Jay Jones menutup buku ini
dengan sebuah refleksi yang tajam
dan menyentuh. George Lucas adalah
manusia yang penuh kontradiksi.
Ia merevolusi sinema melalui efek
visual dan suara. Ia menciptakan
mitologi modern yang paling dicintai
di seluruh dunia. Namanya akan
dikenang bersama dengan
nama-nama seperti Walt Disney dan
Stanley Kubrick. Namun, ia selalu
merasa seperti orang luar
di industrinya sendiri.
Ia membenci Hollywood, dan
Hollywood tidak pernah sepenuhnya
memahaminya. Ia mencintai
kebebasan, tetapi kebebasan itu datang
dengan harga isolasi yang mendalam.
Ia menciptakan kisah tentang
persahabatan dan cinta, tetapi ia
sendiri berjuang untuk
mempertahankan
hubungan-hubungan itu dalam
hidupnya. Ia adalah seorang miliarder
yang tinggal di ranch megah, tetapi ia
juga adalah pria dari Modesto yang
tidak pernah benar-benar
meninggalkan masa kecilnya.
Jones menyimpulkan bahwa kekuatan
terbesar Lucas bukanlah Force fiktif
yang ia ciptakan. Kekuatan terbesarnya
adalah tekad gigih seorang pemimpi
yang menolak untuk menyerah.
Ia memaksa dunia mengejar visinya,
bukan sebaliknya. Ketika semua
orang mengatakan tidak, ia tetap
berjalan. Ketika studio mencoba
menghentikannya, ia membangun
kerajaannya sendiri. Ketika teknologi
belum ada, ia menciptakannya.
Di akhir hidupnya, Lucas telah
menemukan kedamaian.
Ia menghabiskan hari-harinya bersama
Mellody dan putri mereka, jauh dari
sorotan, jauh dari kritik, jauh dari
galaksi yang ia ciptakan. Tetapi
di setiap layar bioskop yang
menampilkan pertempuran luar
angkasa, di setiap anak yang
mengangkat pedang mainan dan
berpura-pura menjadi Jedi, di setiap
cerita yang terinspirasi oleh
mitologinya, Force itu tetap hidup.
Bukan Force yang berasal dari
galaksi yang jauh, melainkan Force
dari seorang pria yang percaya
bahwa mimpinya layak diperjuangkan.
Dan itu, pada akhirnya, adalah
warisan terbesarnya.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Gaes, kita udah sampai di bagian
pamungkas! Brian Jay Jones di Bagian
Tiga ini bakal nutup perjalanan George
Lucas, si pemimpi keras kepala yang
udah ngubah dunia, tapi harus
ngadepin kenyataan pahit kalau dunia
yang dia ciptain nggak lagi sepenuhnya
miliknya. Dari puncak inovasi digital
sampe momen dia ngelepas
kerajaannya, ini dia kisah
pamungkasnya.
Bab 16: Attack of the Clones,
Si Pemberontak Digital
Setelah The Phantom Menace, Lucas
bukannya kapok, malah makin berani.
Buat Attack of the Clones, dia bikin
keputusan gila yang bakal ngubah
industri film selamanya: ngerekam
seluruh film pake kamera digital
Sony, tanpa seluloid sama sekali!
Waktu itu, awal 2000-an, semua film
masih pake kamera tradisional.
Kamera digital dianggep inferior,
cuma cocok buat proyek amatiran.
Tapi Lucas udah muak sama
keterbatasan film fisik, proses kimia
yang lambat, dan nggak bisa langsung
ngeliat hasil rekaman. Kamera digital
ngasih dia kendali instan, dan kendali
adalah candu buat dia. Syutingnya
sendiri didominasi layar hijau gede.
Para aktor harus akting di depan
ruang kosong, berimajinasi sama
dunia yang belum ada. Prosesnya
susah, aktor pada bingung, dan kritik
ke dialog serta akting pun tetep ngalir.
Tapi di balik layar, Lucas lagi ngebuat
revolusi. Hari ini, hampir semua film
direkam digital, dan langkah berani
Lucas di film ini adalah titik mulainya.
Dia makin menikmati peran sebagai
eksperimentalis teknologi ketimbang
pencerita.
Bab 17: Revenge of the Sith,
Puncak Tragedi dan Pensiun
Revenge of the Sith adalah klimaks
tragedi yang udah lama dia rencanain:
kisah kejatuhan Anakin Skywalker jadi
Darth Vader. Produksinya lebih lancar
dari sebelumnya, karena tim udah jago
dan aktor udah paham visinya. Duel
terakhir Anakin lawan Obi-Wan
di planet Mustafar dieksekusi dengan
intensitas dalem. Lucas ngerasa dia
akhirnya nyeritain kisah yang pengen
dia sampein: tragedi cinta yang jadi
obsesi, ketakutan yang ngelahirin
kejahatan, dan pria yang kehilangan
segalanya.
Filmnya dirilis dan reaksinya lebih
anget. Tapi Lucas udah capek.
Dia secara terbuka ngumumin kalau
ini film blockbuster terakhir yang dia
sutradarai. Dia pensiun,
bukan karena kehabisan ide, tapi
karena nggak tahan lagi ngadepin
tekanan fans yang nggak pernah
puas dan kritik yang
terus-terusan. Pria yang bikin dunia
paling dicintai di galaksi ini ngerasa
penontonnya balik ngejauhin dia.
Bab 18: The Clone Wars &
Kehidupan Baru
Pasca pensiun dari film live-action,
Lucas alihin energinya ke serial
animasi Star Wars: The Clone Wars.
Di sini dia nemuin lagi kebebasan.
Nggak ada tekanan box office, nggak
ada kritik pedes, dia bisa cerita
dengan lebih ringan dan eksploratif.
Di kehidupan pribadinya, perubahan
besar juga terjadi. Dia ketemu
Mellody Hobson, eksekutif
keuangan cerdas dan hangat yang
bukan dari dunia Hollywood. Mellody
bawa stabilitas yang belum pernah dia
rasain. Mereka menikah tahun 2013
di Skywalker Ranch, tempat yang dulu
jadi pelariannya, kini jadi saksi
kebahagiaan barunya. Lucas jadi lebih
terbuka, lebih damai.
Bab 19: Proyek Passion, Pukulan
Terakhir dari Hollywood
Lucas masih nyimpen satu mimpi:
bikin film di luar Star Wars berjudul
Red Tails, kisah nyata para pilot
Tuskegee, penerbang Afrika-Amerika
di PD II. Dia biayain sendiri, nulis
ceritanya, nolak kompromi. Tapi pas
filmnya kelar, nggak ada studio besar
yang mau distribusiin. Alasan mereka?
“Film perang dengan pemain kulit
hitam nggak bakal laku secara
internasional.”
Red Tails pun gagal secara komersial.
Ini pukulan pamungkas buat Lucas.
Dia sadar, Hollywood cuma pengen
dia buat Star Wars. Pria yang udah
ngerevolusi sinema dan nyiptain dua
waralaba tersukses ini, bahkan nggak
bisa bikin film kecil soal pahlawan
perang. Lucas dengerin pesan itu
dengan jelas.
Bab 20: The Sale, Melepas Sang
Legenda
Tahun 2012, dunia gempar. George
Lucas jual Lucasfilm, termasuk hak
Star Wars dan Indiana Jones,
ke Disney seharga lebih dari 4 miliar
dolar. Tapi keputusan ini bukan soal
duit. Lucas udah hampir 70 tahun.
Dia udah ngabisin lebih dari setengah
hidupnya ngebangun kerajaan ini, dan
dia tahu dia nggak bisa idup
selamanya. Dia pengen karyawannya
tetep punya masa depan, pengen Star
Wars tetep idup.
Ada alesan lebih pribadi juga: dia mau
nikah dan berencana punya anak lagi.
Dia pengen jadi ayah yang hadir,
bukan yang terus-terusan ngilang
ke ruang editing. Dia serahin kendali
ke Kathleen Kennedy, produser
veteran yang dia percaya. Pas
pengumuman itu keluar, dunia
bergetar. Star Wars bakal lanjut,
tapi tanpa George Lucas di pucuk
pimpinan. Dia serahin “bayinya”
dan pergi.
Epilog: The Force, Warisan
Sang Pemimpi
Brian Jay Jones nutup buku ini
dengan refleksi yang ngena. George
Lucas adalah manusia penuh
kontradiksi. Dia ngerevolusi sinema,
nyiptain mitologi modern, dan
namanya sejajar dengan Walt Disney.
Tapi dia selalu ngerasa jadi orang luar
di industrinya sendiri. Dia benci
Hollywood, dan Hollywood nggak
pernah sepenuhnya paham.
Dia cinta kebebasan, tapi bayarnya
adalah isolasi mendalam. Dia bikin
kisah persahabatan dan cinta, tapi
struggle buat ngejalaninnya sendiri.
Jones nyimpulin, kekuatan terbesar
Lucas bukanlah “Force” fiktif.
Kekuatan terbesarnya adalah
tekad pantang nyerah. Dia maksa
dunia ngejar visinya. Pas semua bilang
nggak, dia tetep jalan. Pas studio coba
ngehentiin, dia bangun kerajaan
sendiri. Pas teknologi belum ada,
dia ciptain sendiri. Di akhir hidupnya,
Lucas nemuin kedamaian bareng
Mellody dan putrinya, jauh dari
sorotan dan kritik. Tapi di tiap layar
bioskop, di tiap anak yang main
pedang-pedangan, Force itu tetep
idup. Bukan Force dari galaksi
di tempat yang sangat jauh, tapi
Force dari seorang pria yang
percaya mimpinya layak
diperjuangin. Dan itu, gaes,
adalah warisan terbesarnya. 🚀✨
