buku

Proyek Manhattan dan Perlombaan Waktu

Sahabat, kita lanjutkan ke Bab 3 dan
Bab 4 dari buku 
Killing the Rising
Sun
. Dua bab ini membawa kita
ke dua jalur paralel yang sedang
bergerak menuju satu titik pertemuan
yang mengerikan. Di satu sisi,
di laboratorium rahasia di gurun
New Mexico, para ilmuwan berlomba
menciptakan senjata yang belum
pernah ada sebelumnya. Di sisi lain,
di ruang rapat Pentagon, para jenderal
menyusun rencana invasi yang akan
menjadi pertempuran paling berdarah
dalam sejarah manusia.
Dan di Gedung Putih, seorang
presiden yang baru saja naik jabatan
harus membuat keputusan yang akan
menghantuinya seumur hidup.

Bab 3: Proyek Manhattan dan
Perlombaan Waktu

Sementara Marinir Amerika
bertempur dari satu pulau ke pulau
lain di Pasifik, sebuah proyek rahasia
dengan tingkat keamanan tertinggi
sedang berlangsung di tanah
Amerika. Proyek ini bernama resmi
“Manhattan Engineering District”,
tetapi dunia akan mengenalnya
sebagai Proyek Manhattan.
Tujuannya hanya satu: menciptakan
bom atom sebelum Jerman atau
Jepang berhasil melakukannya.

O’Reilly dan Dugard membawa kita
ke Los Alamos, New Mexico, sebuah
tempat terpencil di dataran tinggi
gurun yang dipilih karena isolasinya.
Di sinilah para ilmuwan terbesar dari
Amerika Serikat, Inggris, dan
negara-negara Sekutu lainnya
berkumpul. Banyak dari mereka
adalah pengungsi Yahudi yang
melarikan diri dari Hitler.
Mereka tahu bahwa jika Nazi
mendapatkan bom atom terlebih
dahulu, dunia akan berakhir.

Dua tokoh sentral memimpin proyek
ini dari dua sisi yang berbeda.
Jenderal Leslie Groves adalah
pemimpin militer Proyek Manhattan.
Ia adalah pria bertubuh besar, keras
kepala, dan tidak kenal kompromi.
Sebelum memimpin proyek ini,
ia baru saja menyelesaikan
pembangunan Pentagon. Groves
bukanlah ilmuwan, tetapi ia adalah
organisator yang brilian. Ia yang
memilih lokasi Los Alamos. Ia yang
mengamankan anggaran raksasa
yang disembunyikan dalam
kode-kode rahasia di APBN.
Ia yang memastikan bahwa proyek ini
tetap berjalan meskipun ada ribuan
masalah teknis dan logistik.

Sementara itu, J. Robert Oppenheimer
adalah pemimpin ilmiah proyek ini.
Ia adalah fisikawan jenius dengan
kepribadian yang kompleks: kurus,
perokok berat, dengan mata yang
tampak menyala oleh intensitas
pikiran. Oppenheimer adalah orang
yang menyatukan para ilmuwan yang
sering bertengkar, meredakan
ketegangan, dan mendorong mereka
untuk terus maju. Ia menamai lokasi
uji coba bom pertama dengan nama
“Trinity”, sebuah nama yang diambil
dari puisi John Donne.

Uji coba Trinity terjadi pada tanggal
16 Juli 1945, pukul 5:29 pagi, di gurun
Jornada del Muerto. Nama tempat itu,
“Perjalanan Manusia Mati”, terasa
sangat tepat. Ketika bom meledak,
para ilmuwan menyaksikan sesuatu
yang belum pernah dilihat oleh mata
manusia sebelumnya. Sebuah bola api
raksasa membumbung ke langit, lebih
terang dari seribu matahari.
Gelombang panasnya terasa hingga
jarak puluhan kilometer. Jamur awan
membubung setinggi dua belas
kilometer. Pasir di bawahnya meleleh
menjadi kaca radioaktif berwarna
hijau yang kelak dinamakan “trinitite”.
Oppenheimer, yang menyaksikan
semua ini, teringat pada sebuah
kutipan dari kitab suci Hindu,
Bhagavad Gita: “Now I am become
Death, the destroyer of worlds.”
Sekarang aku telah menjadi
Kematian, penghancur dunia-dunia.

Di saat yang sama, di front Pasifik,
para pemimpin militer Amerika sedang
menyusun rencana untuk mengakhiri
perang. Jenderal Douglas MacArthur,
yang telah meninggalkan Filipina
dengan janji terkenal “I shall return”
dan menepatinya, kini bersiap untuk
langkah terbesar. Bersama Laksamana
Chester Nimitz, mereka merancang
Operasi Downfall, sebuah invasi
besar-besaran ke daratan utama
Jepang. Operasi ini terdiri dari dua
fase. Fase pertama, Operasi Olympic,
dijadwalkan pada November 1945,
menargetkan pulau Kyushu di selatan
Jepang. Fase kedua, Operasi Coronet,
direncanakan pada Maret 1946, akan
menjadi pendaratan langsung
di Teluk Tokyo.

Jumlah pasukan yang disiapkan
sangat besar. Lebih dari dua juta
tentara Amerika akan terlibat.
Ribuan kapal perang, kapal induk,
dan pesawat tempur akan
dikerahkan. Tetapi para perencana
tahu bahwa Jepang telah membaca
niat Sekutu. Intelijen menunjukkan
bahwa Jepang sedang memindahkan
pasukan dalam jumlah besar
ke Kyushu. Setiap pantai yang bisa
didarati diperkuat dengan bunker,
ranjau, dan parit perlindungan. Lebih
mengerikan lagi, Jepang telah melatih
jutaan warga sipil untuk menjadi
milisi bunuh diri. Wanita diajari
menggunakan tombak bambu.
Anak-anak diajari untuk mengikat
bahan peledak ke tubuh mereka dan
melemparkan diri ke bawah tank.
Pilot-pilot Kamikaze bersiap untuk
gelombang serangan yang jauh lebih
besar dari yang pernah terjadi
di Okinawa.

Para perencana memperkirakan bahwa
Operasi Downfall akan memakan
korban yang sangat mengerikan.
Antara lima ratus ribu hingga satu juta
tentara Amerika diperkirakan akan
tewas atau terluka. Di pihak Jepang,
perkiraannya bahkan lebih
mengerikan: antara lima hingga
sepuluh juta warga sipil dan tentara
bisa tewas. Seluruh generasi muda
Jepang akan musnah.

Bab 4: Keputusan Maut Presiden
Truman

Di sinilah letak jantung buku ini.
Harry Truman adalah pria yang sama
sekali tidak siap menjadi presiden.
Ia adalah senator dari Missouri yang
dipilih sebagai wakil presiden hanya
karena Partai Demokrat
membutuhkan sosok yang bisa
mendampingi Franklin D. Roosevelt
yang sudah tua dan sakit. Truman
tidak pernah dekat dengan Roosevelt.
Ia tidak pernah diberi tahu tentang
Proyek Manhattan. Ia bahkan hanya
bertemu Roosevelt dua kali selama
menjabat sebagai wakil presiden.

Pada 12 April 1945, Roosevelt
meninggal dunia karena pendarahan
otak. Tiba-tiba, Truman dipanggil
ke Gedung Putih dan diambil
sumpahnya sebagai Presiden Amerika
Serikat ke-33. Eleanor Roosevelt
sendiri yang memberi tahu Truman
bahwa suaminya telah tiada. Ketika
Truman bertanya apa yang bisa ia
lakukan untuknya, Eleanor menjawab,
“Apakah ada yang bisa kami lakukan
untukmu? Karena kaulah yang
sekarang berada dalam kesulitan.”

Beberapa hari setelah menjabat,
Menteri Perang Henry Stimson
memberi tahu Truman tentang
sebuah senjata baru yang sedang
dikembangkan. “Sebuah senjata
dengan kekuatan penghancur yang
hampir tidak bisa dibayangkan,
” kata Stimson. Truman tidak tahu
apa-apa sebelumnya. Kini, ia harus
memahami proyek raksasa ini,
mempertimbangkan
pilihan-pilihannya, dan membuat
keputusan yang akan menentukan
hidup dan mati jutaan orang.

Jepang menolak Deklarasi Potsdam,
sebuah ultimatum yang dikeluarkan
oleh Sekutu pada Juli 1945 yang
menuntut penyerahan tanpa syarat.
Perdana Menteri Jepang, Kantaro
Suzuki, menggunakan kata
“mokusatsu”, yang secara harfiah
berarti “membunuh dengan diam”
atau “mengabaikan”.
Sekutu menafsirkan ini sebagai
penolakan mentah-mentah. Bagi
Truman dan para penasihatnya,
pesannya jelas: Jepang tidak akan
menyerah.

Truman mendengarkan masukan dari
berbagai pihak. Henry Stimson, yang
sudah tua dan bijaksana, menyarankan
penggunaan bom atom.
Jenderal George Marshall, Kepala Staf
Angkatan Darat, juga mendukung.
Mereka melihat bom atom sebagai
alternatif yang mengerikan tetapi lebih
baik daripada Operasi Downfall.
Angka-angka korban dari Okinawa
masih segar dalam ingatan.
Jika sebuah pulau kecil memakan
korban puluhan ribu, berapa banyak
yang akan mati di daratan utama?

Truman juga mempertimbangkan
faktor Uni Soviet. Joseph Stalin telah
berjanji akan memasuki perang
melawan Jepang tiga bulan setelah
Jerman menyerah. Waktunya hampir
tiba. Truman tidak ingin Uni Soviet
mendapatkan terlalu banyak
pengaruh di Asia pasca perang.
Jika bom atom bisa mengakhiri
perang dengan cepat, sebelum Soviet
sempat merebut terlalu banyak
wilayah, itu akan menjadi
keuntungan strategis yang besar.

Di atas semua itu, ada satu
pertimbangan yang paling sederhana
dan paling manusiawi:
menyelamatkan nyawa tentara
Amerika. Truman adalah mantan
prajurit yang pernah bertempur
di Perang Dunia I. Ia ingat
wajah-wajah anak muda yang dikirim
ke medan perang dan tidak pernah
kembali. Setiap hari perang berlanjut,
lebih banyak anak muda Amerika
yang mati. Ia tidak akan membiarkan
itu terjadi lebih lama lagi jika ia bisa
menghentikannya.

Akhirnya, Truman menyetujui
penggunaan bom atom. Ia tidak
mengambil keputusan ini dengan
enteng. Ia bergulat dengannya,
ia berbicara dengan para penasihatnya
berulang kali, dan ia tahu bahwa ia
akan dikenang selamanya untuk
keputusan ini. Perintahnya sederhana
dan tidak bisa ditawar: bom akan
dijatuhkan setelah tanggal 3 Agustus
1945, pada target-target militer
di Jepang, segera setelah cuaca
memungkinkan.

Truman menulis dalam buku
hariannya malam itu: “Kami telah
menemukan bom paling mengerikan
dalam sejarah manusia. Bom ini
akan digunakan untuk melawan
Jepang. Kami akan menjatuhkannya
pada sasaran militer, bukan pada
wanita dan anak-anak. Tapi tentara
Jepang itu biadab.”

Di Los Alamos, Oppenheimer dan
para ilmuwan tahu bahwa ciptaan
mereka akan segera dilepaskan
ke dunia. Beberapa dari mereka
merayakan. Beberapa dari mereka
merasa ngeri. Tetapi roda sudah
berputar. Tidak ada yang bisa
menghentikannya sekarang.
Dua pesawat pengebom, Enola Gay
dan Bockscar, sedang bersiap untuk
lepas landas. Dan di Jepang, jutaan
orang masih hidup dalam
ketidaktahuan, tidak menyadari
bahwa kiamat akan segera tiba
dari langit.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Gaes, kita lanjut lagi ke Bab 3 dan 4 dari
Killing the Rising Sun. Di sini ceritanya
makin panas dan mencekam.
Kita bakal ngikutin dua jalur paralel
yang lagi ngebut menuju satu titik
pertemuan yang bikin merinding.
Di satu sisi, para ilmuwan di gurun
New Mexico lagi balapan bikin
senjata kiamat. Di sisi lain, para
jenderal di Pentagon lagi nyusun
rencana invasi paling berdarah dalam
sejarah. Dan di Gedung Putih, ada
presiden baru yang tiba-tiba harus
nentuin keputusan paling
mengerikan dalam hidupnya.

Bab 3: Proyek Manhattan dan
Balapan Lawan Waktu

Sementara Marinir AS lagi jungkir
balik perang dari pulau ke pulau,
sebuah proyek super rahasia lagi
berjalan di tanah Amerika. Namanya
Proyek Manhattan. Tujuannya cuma
satu: bikin bom atom sebelum
Jerman atau Jepang duluan.

Tempatnya di Los Alamos,
New Mexico, lokasi terpencil
di gurun yang dipilih karena
terisolasi. Di sini para ilmuwan paling
jenius dari AS, Inggris, dan Sekutu
ngumpul. Banyak yang sebenernya
pengungsi Yahudi yang kabur dari
Hitler. Mereka sadar banget, kalau
Nazi duluan yang punya bom ini,
kiamat buat dunia.

Ada dua bos besar yang pimpin proyek
ini dari dua sisi. 
Jenderal Leslie
Groves
 adalah bos militernya.
Dia bukan ilmuwan, tapi jago banget
urusan organisasi. Badannya gede,
keras kepala, dan baru aja kelar
ngebangun Pentagon sebelum ini.
Dia yang milih Los Alamos, dia
yang ngurus duit rahasia yang
disembunyiin di kode-kode APBN,
dia yang mastiin proyek ini tetep
jalan. Di sisi lain, 
J. Robert
Oppenheimer
 adalah bos ilmiahnya.
Fisikawan jenius yang kurus, perokok
berat, dan matanya selalu nyala penuh
intensitas. Dia yang nyatuin para
ilmuwan yang sering berantem,
nenangin ketegangan, dan terus
ngedorong mereka. Dia juga yang
ngasih nama lokasi uji coba bom
pertama dengan sebutan “Trinity”,
dari puisi John Donne.

Uji coba Trinity terjadi 16 Juli 1945,
jam 5:29 pagi, di gurun Jornada
del Muerto. Nama tempatnya aja
udah serem: “Perjalanan Manusia
Mati”. Pas bomnya meledak, itu
pertama kalinya manusia nyaksiin
kekuatan kayak gitu. Bola api raksasa,
lebih terang dari seribu matahari,
gelombang panasnya kerasa puluhan
kilometer, awan jamur membubung
12 kilometer. Pasir di bawahnya
langsung meleleh jadi kaca radioaktif
hijau. Oppenheimer yang nyaksiin
langsung inget kutipan dari kitab
Hindu, Bhagavad Gita: “Now I am
become Death, the destroyer of worlds.”
Sekarang aku telah menjadi Kematian,
penghancur dunia-dunia.

Di saat yang sama, di front Pasifik,
para jenderal AS lagi nyusun rencana
buat nginvasi Jepang langsung.
Jenderal MacArthur dan Laksamana
Nimitz ngerancang 
Operasi
Downfall
. Ini dibagi dua: Operasi
Olympic
 (November 1945) buat
ngambil Kyushu di selatan, dan
Operasi Coronet (Maret 1946)
buat pendaratan langsung di Teluk
Tokyo. Pasukan yang disiapin
gila-gilaan, lebih dari 2 juta tentara
AS, ribuan kapal perang, kapal induk,
dan pesawat.

Tapi para perencana tahu, Jepang
udah siap. Intelijen ngeliat mereka
mindahin pasukan gede-gedean
ke Kyushu. Pantai diperkuat bunker,
ranjau, dan parit. Lebih parah lagi,
Jepang udah ngelatih jutaan warga
sipil jadi milisi bunuh diri. Wanita
diajarin tombak bambu, anak-anak
dijejelin bom biar loncat ke bawah
tank. Pilot Kamikaze siap dengan
gelombang serangan yang jauh lebih
gede dari Okinawa. Para perencana
ngitung, Operasi Downfall bakal
makan korban 500 ribu sampe 1 juta
tentara AS. Di pihak Jepang?
Antara 5 sampe 10 juta warga sipil
dan tentara bisa mati. Satu generasi
muda Jepang bisa musnah.

Bab 4: Keputusan Maut
Presiden Truman

Ini jantung dari buku ini.
Harry Truman adalah pria yang sama
sekali nggak siap jadi presiden.
Dia tadinya cuma senator dari
Missouri, dipilih jadi wakil presiden
cuma buat dampingin Franklin
D. Roosevelt yang udah sakit-sakitan.
Dia bahkan nggak deket sama
Roosevelt, nggak pernah dikasih tau
soal Proyek Manhattan, dan cuma
ketemu Roosevelt dua kali.

12 April 1945, Roosevelt meninggal.
Tiba-tiba Truman dipanggil
ke Gedung Putih dan diambil
sumpahnya. Eleanor Roosevelt
sendiri yang ngasih tau. Pas Truman
nanya apa yang bisa dia lakuin,
Eleanor malah balik nanya,
“Apakah ada yang bisa kami lakukan
untukmu? Karena kaulah yang
sekarang berada dalam kesulitan.”

Beberapa hari setelah menjabat,
Menteri Perang Henry Stimson
ngasih tahu Truman soal senjata
baru yang lagi dikembangin.
“Sebuah senjata dengan kekuatan
penghancur yang hampir tidak bisa
dibayangkan,” kata Stimson.
Truman kaget. Dia harus
cepet-cepet paham proyek ini,
nimbang pilihan, dan bikin
keputusan yang bakal nentuin
mati hidupnya jutaan orang.

Jepang sendiri udah nolak
Deklarasi Potsdam, ultimatum
Sekutu yang minta mereka nyerah
tanpa syarat. Perdana Menteri Suzuki
pake kata 
“mokusatsu” ,
yang artinya “membunuh dengan
diam” atau “ngabaikan”. Sekutu
nafsirin ini sebagai penolakan total.
Buat Truman, pesannya jelas:
Jepang nggak bakal nyerah.

Truman dengerin masukan dari banyak
pihak. Stimson dan Jenderal Marshall
nyaranin pake bom atom. Mereka
ngeliat ini sebagai pilihan yang
mengerikan, tapi masih lebih baik
daripada Operasi Downfall yang bakal
jadi kuburan massal. Truman juga
mikirin faktor Uni Soviet. Stalin udah
janji bakal ikut perang lawan Jepang
tiga bulan setelah Jerman nyerah,
waktunya udah deket. Truman nggak
mau Soviet terlalu banyak ngaruh
di Asia. Kalau bom atom bisa
ngakhirin perang cepet, sebelum
Soviet caplok banyak wilayah, itu
keuntungan strategis.

Di atas semua itu, ada satu alesan
paling manusiawi: nyelamatin nyawa
tentara Amerika. Truman mantan
prajurit PD I, dia inget muka anak
muda yang mati sia-sia. Setiap hari
perang lanjut, makin banyak yang
mati.

Akhirnya, Truman setuju.
Keputusannya nggak enteng, dia
bergulat sama pikirannya. Dia tahu
dia bakal dikenang selamanya
karena ini. Perintahnya simpel: bom
dijatuhkan setelah 3 Agustus 1945,
di target militer Jepang, tunggu cuaca.

Truman nulis di buku hariannya:
“Kami telah menemukan bom paling
mengerikan dalam sejarah manusia.
Bom ini akan digunakan melawan
Jepang… tentara Jepang itu biadab.”

Di Los Alamos, Oppenheimer dan
ilmuwannya sadar ciptaan mereka
bakal segera dilepas. Ada yang
ngerayain, ada yang ngeri. Tapi roda
udah muter. Dua pesawat pengebom,
Enola Gay dan Bockscar, lagi
disiapin. Dan di Jepang, jutaan orang
masih idup tenang, nggak sadar kalau
malapetaka bakal segera jatuh dari
langit. 🔥💣

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *