buku

Hiroshima dan Nagasaki Diluluhlantakkan

Sahabat, kita lanjutkan ke Bab 5, 6,
dan 7 dari buku 
Killing the Rising
Sun
. Tiga bab terakhir ini membawa
kita ke puncak tragedi, ketegangan
di ruang rapat Tokyo, dan akhirnya,
penutupan perang paling mematikan
dalam sejarah manusia.

Bab 5: Hiroshima dan Nagasaki
Diluluhlantakkan

Tanggal 6 Agustus 1945, dini hari.
Di pulau Tinian di Pasifik, sebuah
pesawat pengebom B-29 yang diberi
nama Enola Gay, diambil dari nama
ibu sang pilot, Kolonel Paul Tibbets,
bersiap untuk lepas landas. Di dalam
perutnya, tersimpan sebuah bom
yang dijuluki “Little Boy”. Bom ini
tidak seperti bom biasa.
Ia menggunakan uranium-235 yang
diperkaya, dan cara kerjanya adalah
dengan menembakkan satu potongan
uranium ke potongan lainnya untuk
menciptakan reaksi berantai yang
tidak terkendali. Para ilmuwan yakin
bom ini akan meledak. Mereka tidak
yakin seberapa besar kekuatannya.

Enola Gay lepas landas dalam
kegelapan, diikuti oleh dua pesawat
pengawas yang membawa instrumen
pengukuran dan kamera. Target
utama mereka adalah Hiroshima,
sebuah kota industri di selatan Jepang
yang belum pernah dibom
besar-besaran sebelumnya. Kota ini
dipilih dengan sengaja karena masih
utuh, sehingga efek bom atom bisa
diukur dengan akurat.

Pukul 08.15 pagi waktu Jepang, pintu
bom di perut Enola Gay terbuka.
Little Boy jatuh. Pesawat langsung
berbelok tajam dan menukik untuk
menjauh secepat mungkin.
Empat puluh tiga detik kemudian,
pada ketinggian sekitar enam ratus
meter di atas kota, bom itu meledak.

Apa yang terjadi selanjutnya
melampaui segala deskripsi yang bisa
diberikan oleh kata-kata. Sebuah bola
api raksasa dengan suhu jutaan
derajat Celsius muncul dalam sekejap.
Cahayanya begitu terang sehingga
orang-orang yang melihatnya langsung
buta permanen. Gelombang kejut
merambat dengan kecepatan lebih dari
seribu kilometer per jam, meratakan
bangunan dalam radius dua kilometer.
Siapa pun yang berada di dekat titik
pusat ledakan langsung menguap,
berubah menjadi bayangan hitam
yang tercetak di trotoar dan dinding.

O’Reilly dan Dugard tidak menghindari
kengerian ini. Mereka menggambarkan
bagaimana kulit manusia terkelupas
dari tubuhnya, bagaimana rambut
terbakar dalam sekejap, bagaimana
orang-orang yang selamat dari
ledakan awal berjalan dalam keadaan
linglung, tangan terentang ke depan,
kulit menggantung seperti kain
compang-camping. Sungai-sungai
di kota itu dipenuhi oleh mayat-mayat
yang mengapung. Mereka yang
melompat ke air untuk meredakan
luka bakar justru tenggelam atau
mati karena syok.

Lebih dari tujuh puluh ribu orang
tewas seketika. Jumlah itu terus
bertambah dalam hari-hari dan
minggu-minggu berikutnya, ketika
radiasi mulai melakukan
pekerjaannya yang lambat dan
menyakitkan. Mereka yang selamat
dari ledakan mulai mengalami
gejala-gejala yang aneh: mual,
pusing, rambut rontok, gusi berdarah,
dan bintik-bintik ungu di sekujur
tubuh. Mereka sekarat karena
sesuatu yang tidak terlihat, sesuatu
yang tidak bisa mereka pahami. Ini
adalah kematian akibat radiasi,
sesuatu yang belum pernah disaksikan
oleh manusia dalam skala seperti ini
sebelumnya.

Tetapi kengerian ini belum berakhir.
Tiga hari kemudian, pada tanggal
9 Agustus 1945, pesawat pengebom
lain bernama Bockscar lepas landas.
Target utamanya adalah kota
Kokura, tetapi kota itu tertutup awan
tebal. Pilot, Mayor Charles Sweeney,
berputar-putar mencari celah, tetapi
tidak berhasil. Bahan bakar semakin
menipis. Ia memutuskan untuk beralih
ke target sekunder: Nagasaki.

Di Nagasaki, awan juga tebal, tetapi
ada satu celah kecil yang cukup untuk
melihat target. Bom “Fat Man”, yang
menggunakan plutonium sebagai
bahan bakunya, dijatuhkan pada pukul
11.02 pagi. Ledakannya bahkan lebih
besar dari Hiroshima, tetapi karena
geografi Nagasaki yang dikelilingi
perbukitan, kerusakannya sedikit lebih
terbatas. Meskipun demikian, sekitar
empat puluh ribu orang tewas seketika,
dan puluhan ribu lainnya meninggal
dalam minggu-minggu berikutnya.

O’Reilly dan Dugard selalu mengaitkan
kengerian ini dengan konteks yang
lebih luas. Mereka mencatat bahwa
sebelum bom atom dijatuhkan,
kota-kota Jepang sudah dihancurkan
oleh bom konvensional. Serangan bom
api di Tokyo pada Maret 1945
menewaskan sekitar seratus ribu orang
dalam satu malam, lebih banyak dari
korban langsung Hiroshima.
Lebih dari enam puluh kota Jepang
telah dibakar habis. Dan meskipun
semua ini, pemerintah militer Jepang
tidak menunjukkan tanda-tanda akan
menyerah. Mereka masih memiliki
jutaan tentara di daratan Asia. Mereka
masih melatih warga sipil untuk
bertempur dengan tombak bambu.
Mereka masih percaya bahwa satu
pertempuran besar terakhir,
Ketsu-Go, akan membuat Sekutu
mundur.

Bab 6: Kudeta yang Gagal dan
Intervensi Kaisar

Setelah Nagasaki, Dewan Perang
Tertinggi Jepang berkumpul dalam
sesi darurat. Enam anggota dewan
ini terbagi rata: tiga orang ingin
menerima Deklarasi Potsdam dengan
syarat bahwa Kaisar tetap
dipertahankan, tiga orang lainnya
menolak mentah-mentah dan
bersikeras melanjutkan perang.
Kebuntuan ini mencerminkan
perpecahan yang lebih dalam di dalam
pemerintahan Jepang antara faksi sipil
yang mulai goyah dan faksi militer
yang fanatik.

Di antara mereka yang menolak
menyerah adalah Jenderal Korechika
Anami, Menteri Perang. Anami adalah
prajurit sejati, seorang pria yang telah
mengabdikan seluruh hidupnya untuk
tentara. Baginya, menyerah adalah aib
yang tidak bisa diterima. Ia lebih
memilih untuk melanjutkan Ketsu-Go,
rencana pertahanan total yang akan
mengerahkan setiap pria, wanita, dan
anak-anak di Jepang untuk bertempur
sampai mati melawan invasi Sekutu.

Sementara para pemimpin berdebat,
sekelompok perwira muda yang
fanatik mulai menyusun rencana
rahasia. Mereka tidak akan
membiarkan Jepang menyerah.
Pada malam 14 Agustus 1945, ketika
Kaisar Hirohito telah merekam
pidato penyerahannya dan rekaman
itu disimpan dalam lemari besi
di Istana Kekaisaran, para perwira
ini melancarkan kudeta. Mereka
memobilisasi unit-unit tentara yang
setia, mencoba merebut Istana
Kekaisaran, dan berusaha
menghancurkan rekaman pidato
sebelum bisa disiarkan.

Malam itu, Tokyo berada di ambang
kekacauan total. Para pemberontak
membunuh komandan Divisi
Pengawal Kekaisaran yang menolak
bergabung dengan mereka. Mereka
memalsukan perintah atas namanya
dan mengerahkan pasukan untuk
mengepung istana. Mereka mencari
rekaman itu di setiap ruangan, tetapi
mereka tidak bisa menemukannya.
Seorang pejabat istana telah
menyembunyikannya di antara
tumpukan dokumen di ruang bawah
tanah yang tidak mencolok.
Sementara itu, para jenderal yang
setia mulai mengerahkan pasukan
untuk menghancurkan kudeta.
Menjelang fajar, kudeta itu gagal.
Para pemimpinnya, menyadari
bahwa mereka telah kalah, melakukan
bunuh diri dengan menembak diri
mereka sendiri.

Kaisar Hirohito, yang selama ini
berperan sebagai figur seremonial
yang tidak campur tangan dalam
keputusan politik, akhirnya mengambil
tindakan langsung. Ia menolak tradisi
non-intervensi yang telah berlangsung
selama berabad-abad.
Dalam pertemuan dengan Dewan
Perang Tertinggi, ia berbicara dengan
suara yang tenang namun tegas.
Ia mengatakan bahwa melanjutkan
perang hanya akan membawa
kehancuran total bagi rakyat Jepang.
Ia tidak tahan melihat rakyatnya
menderita lebih lama lagi.
Ia memerintahkan agar Deklarasi
Potsdam diterima. “Waktunya telah
tiba,” katanya, “untuk menanggung
yang tidak tertanggungkan.”

Pada tanggal 15 Agustus 1945,
siang hari, rakyat Jepang berkumpul
di sekitar radio. Ini adalah pertama
kalinya dalam sejarah Jepang suara
Kaisar disiarkan ke seluruh negeri.
Suara itu tipis, formal, dan berbicara
dalam bahasa Jepang klasik yang
sulit dipahami oleh rakyat biasa.
Tetapi pesannya jelas: perang telah
berakhir. Jepang telah kalah. Banyak
yang menangis. Banyak yang berlutut
dan membenturkan kepala ke tanah.
Beberapa perwira militer melakukan
bunuh diri di kantor mereka sendiri,
tidak sanggup menanggung aib
kekalahan.

Bab 7: Pendudukan, Pengadilan
Kejahatan Perang, dan Warisan

Penyerahan resmi Jepang dilakukan
pada tanggal 2 September 1945,
di atas kapal USS Missouri yang
berlabuh di Teluk Tokyo. Ini adalah
upacara yang sarat dengan
simbolisme. Missouri adalah kapal
perang yang telah bertempur
di seluruh Pasifik, dan namanya
diambil dari negara bagian asal
Presiden Truman. Di geladak kapal itu,
para jenderal dan laksamana Sekutu
berdiri menyaksikan.
Jenderal Douglas MacArthur, yang
ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi
Sekutu untuk pendudukan Jepang,
memimpin upacara tersebut.
Di hadapannya, delegasi Jepang
yang dipimpin oleh Menteri Luar
Negeri Mamoru Shigemitsu, yang
berjalan terpincang-pincang dengan
kaki palsu, menandatangani
dokumen penyerahan tanpa syarat.

MacArthur, dalam pidato singkatnya,
berbicara dengan nada yang tidak
penuh kemenangan, melainkan
penuh harapan. “Sudah menjadi
harapan saya yang tulus,” katanya,
“bahwa dari darah dan pembantaian
ini, akan lahir dunia yang lebih baik,
yang didirikan di atas iman dan
pengertian.” MacArthur memahami
bahwa menghancurkan Jepang
secara total bukanlah tujuannya.
Tujuannya adalah membangun
kembali Jepang sebagai negara
yang damai dan demokratis.

Untuk mencapai tujuan ini,
MacArthur membuat keputusan yang
sangat kontroversial namun
pragmatis: ia membiarkan Kaisar
Hirohito tetap di takhtanya. Bukan
karena Hirohito tidak bersalah, tetapi
karena MacArthur memahami bahwa
mencopot dan mengadili Kaisar akan
memicu pemberontakan
besar-besaran. Rakyat Jepang masih
memandang Kaisar sebagai dewa.
Jika MacArthur mengeksekusi atau
memenjarakan Hirohito, pendudukan
Jepang akan berubah menjadi perang
gerilya yang berkepanjangan. Sebagai
gantinya, MacArthur menggunakan
Hirohito sebagai alat untuk
menstabilkan Jepang. Kaisar diminta
untuk secara terbuka menyangkal
keilahiannya sendiri, yang ia lakukan
pada tahun 1946 dalam sebuah
pernyataan yang mengejutkan
rakyat Jepang.

Sementara itu, roda keadilan mulai
berputar bagi para penjahat perang.
Pengadilan Militer Internasional
untuk Timur Jauh dibentuk, dan
para pemimpin Jepang yang
bertanggung jawab atas kekejaman
diadili. Salah satu yang paling
menonjol adalah Jenderal Tomoyuki
Yamashita, yang dikenal sebagai
“Harimau Malaya”
karena penaklukannya atas Singapura.
Yamashita adalah komandan pasukan
Jepang di Filipina, dan di bawah
komandonya, terjadi Pembantaian
Manila pada Februari 1945. Sekitar
seratus ribu warga sipil Filipina tewas
dibantai oleh tentara Jepang dalam
pertempuran terakhir untuk kota itu.

Pengadilan Yamashita menjadi
preseden hukum yang penting.
Ia dihukum mati bukan karena
ia secara langsung memerintahkan
pembantaian, tetapi karena ia gagal
mencegah anak buahnya melakukan
kekejaman. Doktrin “tanggung jawab
komando” ini kelak akan digunakan
dalam pengadilan kejahatan perang
di seluruh dunia. Yamashita digantung
pada Februari 1946. Jenderal
Masaharu Homma, yang bertanggung
jawab atas Pawai Kematian Bataan
di mana ribuan tawanan Amerika
tewas, juga dieksekusi.
Perdana Menteri Hideki Tojo, wajah
dari militerisme Jepang, mencoba
bunuh diri dengan menembak
dirinya sendiri ketika tentara
Amerika datang menangkapnya.
Ia gagal. Pelurunya meleset dari
jantungnya. Ia dirawat, diadili, dan
akhirnya digantung pada
Desember 1948.

O’Reilly dan Dugard menutup buku ini
dengan sebuah refleksi yang tidak
menghakimi, tetapi juga tidak
menghindar dari kenyataan.
Bom atom adalah tragedi kemanusiaan
yang dahsyat. Ratusan ribu warga sipil
tak bersalah tewas dalam penderitaan
yang tidak bisa digambarkan. Radiasi
terus membunuh selama puluhan
tahun setelah perang berakhir,
menyebabkan kanker, cacat lahir, dan
penyakit kronis. Ini adalah kenyataan
yang tidak bisa dihapus.

Tetapi O’Reilly dan Dugard juga
menegaskan kembali pandangan
mereka, dan pandangan banyak
sejarawan, bahwa keputusan Truman
untuk menggunakan bom atom,
meskipun mengerikan, mengakhiri
perang paling mematikan dalam
sejarah manusia. Operasi Downfall,
invasi darat ke Jepang, diperkirakan
akan memakan korban jutaan nyawa
di kedua belah pihak. Pilot Kamikaze,
milisi sipil, dan tentara reguler
Jepang siap bertempur sampai mati.
Setiap hari perang berlanjut, ribuan
orang tewas di seluruh Asia. Bom
atom menghentikan semua itu dalam
sekejap.

Kaisar Hirohito sendiri, dalam pidato
penyerahannya, mengakui hal ini.
“Musuh telah mulai menggunakan
bom baru yang paling kejam,”
katanya, “yang kekuatan
penghancurnya sungguh tak
terhitung, memakan banyak nyawa
tak bersalah. Jika kita terus
berperang, itu tidak hanya akan
mengakibatkan kehancuran total
bangsa Jepang, tetapi juga
kepunahan peradaban manusia.”

Buku ini ditutup dengan gambaran
kontras. Di satu sisi, ada kubah
Genbaku Dome di Hiroshima, sebuah
bangunan yang sengaja dibiarkan
berdiri sebagai monumen perdamaian,
sebagai pengingat akan kengerian
perang nuklir. Di sisi lain, ada Jepang
modern yang bangkit dari abu,
menjadi salah satu negara paling
makmur dan demokratis di dunia,
sekutu dekat Amerika Serikat.
MacArthur, dalam kebijaksanaannya,
tidak hanya menghancurkan musuh;
ia membantu membangun kembali
teman.

O’Reilly dan Dugard tidak
menawarkan jawaban yang mudah.
Mereka tidak mengatakan bahwa
bom atom itu baik. Mereka hanya
mengatakan bahwa dalam
konteksnya, di antara pilihan-pilihan
yang tersedia, itu adalah yang paling
tidak buruk. Dan itu, pada akhirnya,
adalah sifat dari perang: tidak ada
pilihan yang baik, hanya pilihan
yang kurang mengerikan.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Oke, gaes. Ini dia puncak dari
semuanya. Bab 5, 6, dan 7 dari 
Killing
the Rising Sun
 bakal ngebawa lo
langsung ke pusat tragedi, ketegangan
di ruang rapat tertinggi Jepang, dan
akhirnya, gimana perang paling
mematikan ini ditutup. Siapin mental,
karena bagian ini berat.

Bab 5: Hiroshima dan Nagasaki,
Detik-Detik Kiamat

Tanggal 6 Agustus 1945, dini hari.
Di pulau Tinian, Pasifik, sebuah
pesawat B-29 bernama 
Enola Gay
(diambil dari nama ibu pilotnya,
Kolonel Paul Tibbets) siap lepas
landas. Di perutnya, ada bom yang
dijuluki 
“Little Boy” . Bom ini
bukan bom biasa. Dia pake
uranium-235 yang diperkaya, dan
cara kerjanya unik: nembakin satu
potongan uranium ke potongan lain
buat bikin reaksi berantai yang
nggak bisa dikendaliin. Para ilmuwan
yakin bom ini bakal meledak, tapi
mereka nggak yakin seberapa
dahsyatnya.

Enola Gay terbang dalam gelap,
dikawal dua pesawat pengawas.
Target utama mereka: 
Hiroshima,
kota industri di selatan Jepang yang
sengaja dipilih karena masih utuh,
jadi efek bomnya bisa diukur akurat.
Jam 8:15 pagi waktu Jepang, pintu
bom kebuka. Little Boy jatuh. Pesawat
langsung belok tajam dan kabur
secepat mungkin. 43 detik kemudian,
di ketinggian sekitar 600 meter, bom
itu meledak.

Apa yang terjadi selanjutnya?
Nggak bisa dilukisin dengan kata-kata.
Bola api raksasa bersuhu jutaan
derajat muncul. Cahayanya begitu
terang, bikin orang yang ngeliat
langsung buta permanen. Gelombang
kejut ngerambat dengan kecepatan
lebih dari 1.000 km/jam, ngeratain
bangunan dalam radius 2 kilometer.
Siapa pun di dekat pusat ledakan
langsung 
menguap, berubah jadi
bayangan hitam yang nyetak
di trotoar dan dinding.

Penulis nggak nutupin kengerian ini.
Mereka ngegambarin kulit manusia
yang kelupas, rambut yang kebakar
seketika, korban selamat yang
berjalan linglung dengan tangan
terentang, kulit menggantung kayak
kain robek. Sungai penuh mayat.
Yang lompat ke air buat ngeredam
luka bakar malah tenggelam atau
mati syok. Lebih dari 70.000 orang
tewas seketika. Angkanya terus
nambah dalam hitungan hari dan
minggu, pas radiasi mulai kerja.
Korban mulai ngalamin gejala aneh:
mual, pusing, rambut rontok, gusi
berdarah, bintik ungu di badan.
Mereka mati karena sesuatu yang
nggak keliatan, sesuatu yang nggak
mereka pahami: 
keracunan
radiasi
.

Tapi kengerian belum kelar.
Tanggal 9 Agustus 1945, tiga hari
kemudian, pesawat 
Bockscar
lepas landas. Target utamanya
Kokura, tapi kota itu ketutup awan
tebal. Pilot, Mayor Charles
Sweeney, berputar-putar nyari
celah, nggak nemu, bensin makin
tipis. Dia mutusin beralih ke target
sekunder: 
Nagasaki. Di sana juga
berawan, tapi ada satu celah kecil.
Bom 
“Fat Man” berbahan
plutonium dijatuhkan jam 11:02.
Ledakannya lebih besar dari
Hiroshima, tapi karena Nagasaki
dikelilingi bukit, kerusakannya
lebih terbatas. Tetep aja, sekitar
40.000 orang tewas seketika,
puluhan ribu lagi nyusul.

Penulis selalu ngaitin kengerian ini
dengan konteks yang lebih luas.
Mereka nyatet, sebelum bom atom,
kota-kota Jepang udah dihancurin
bom konvensional. Tokyo dibom
api Maret 1945, 100.000 orang
tewas dalam semalem. Lebih dari
60 kota dibakar. Dan meskipun
begitu, militer Jepang 
nggak
nunjukin tanda-tanda mau
nyerah
. Mereka masih punya
jutaan tentara, masih ngelatih warga
sipil buat perang pakai tombak
bambu, masih percaya satu
pertempuran pamungkas, Ketsu-Go,
bakal bikin Sekutu mundur.

Bab 6: Kudeta Gagal dan Sang
“Dewa” Akhirnya Buka Suara

Setelah Nagasaki, Dewan Perang
Tertinggi Jepang ngadain rapat
darurat. Enam anggota dewan ini
terbelah: tiga orang mau nerima
Deklarasi Potsdam dengan syarat
Kaisar tetep dipertahanin,
tiga lainnya nolak mentah-mentah
dan ngotot lanjutin perang.
Di antara yang nolak nyerah ada
Jenderal Korechika Anami,
Menteri Perang. Buat dia, nyerah itu
aib yang nggak bisa diterima.
Dia lebih milih jalanin Ketsu-Go,
rencana pertahanan total yang bakal
ngerahin semua warga Jepang.

Sementara para petinggi debat,
sekelompok perwira muda fanatik
mulai nyusun rencana kudeta.
Mereka nggak bakal biarin Jepang
nyerah. Malem 14 Agustus 1945,
pas Kaisar Hirohito udah ngerekam
pidato penyerahan, dan rekamannya
disimpen di lemari besi Istana,
para perwira ini bergerak. Mereka
nggerakin unit tentara yang setia,
nyoba ngerebut Istana Kekaisaran,
dan pengen ngancurin rekaman
pidato itu.

Malam itu, Tokyo di ujung tanduk.
Para pemberontak ngebunuh
komandan Divisi Pengawal
Kekaisaran yang nolak gabung.
Mereka malsuin perintah atas
namanya dan ngepung istana. Mereka
ngobrak-abrik ruangan nyari rekaman
itu, tapi nggak nemu. Seorang pejabat
istana ternyata udah nyelipin rekaman
itu di antara tumpukan dokumen
di ruang bawah tanah. Menjelang fajar,
kudeta gagal total. Para pemimpinnya
sadar udah kalah, dan mereka bunuh
diri.

Dalam kekacauan ini, Kaisar Hirohito,
yang biasanya cuma jadi figur
seremonial, akhirnya ngambil
langkah langsung. Dia nolak tradisi
non-intervensi yang udah
berabad-abad. Di depan Dewan
Perang, dia ngomong dengan suara
tenang tapi tegas. Dia bilang,
melanjutkan perang cuma bakal
ngancurin total rakyat Jepang.
Dia nggak tega ngeliat rakyatnya
menderita lebih lama. Dia merintahin
terima Deklarasi Potsdam. “Waktunya
telah tiba,” katanya, “untuk
menanggung yang tidak
tertanggungkan.”

15 Agustus 1945, siang hari. Untuk
pertama kalinya dalam sejarah, suara
Kaisar disiarin ke seluruh negeri
lewat radio. Rakyat Jepang ngumpul
di sekitar radio, dengerin suara tipis
dan formal itu. Pesannya jelas:
perang kelar, Jepang kalah. Banyak
yang nangis, banyak yang berlutut,
beberapa perwira militer malah
bunuh diri di kantor karena nggak
sanggup nanggung malu.

Bab 7: Pendudukan, Pengadilan,
dan Warisan Kelam

Penyerahan resmi dilakukan
2 September 1945 di atas kapal
USS Missouri di Teluk Tokyo.
Jenderal 
Douglas MacArthur,
yang ditunjuk sebagai Panglima
Tertinggi Sekutu buat pendudukan
Jepang, mimpin upacara itu.
Di hadapannya, delegasi Jepang yang
dipimpin Menteri Luar Negeri
Mamoru Shigemitsu (yang jalannya
terpincang-pincang pake kaki palsu)
nandatanganin dokumen penyerahan
tanpa syarat.

MacArthur ngomong dengan nada
penuh harapan, bukan kemenangan.
Dia sadar, ngancurin Jepang total
bukan tujuannya, tapi ngebangun
kembali Jepang sebagai negara damai.
Buat itu, dia bikin keputusan
kontroversial: 
Kaisar Hirohito
tetep di takhta.
 Bukan karena dia
nggak bersalah, tapi karena
MacArthur paham, kalau Kaisar
dicopot atau diadili, rakyat Jepang
bisa memberontak besar-besaran.
Mereka masih nganggep Kaisar
dewa. Mencopotnya sama aja
ngundang perang gerilya
berkepanjangan. Jadi, Hirohito
“dipakai” sebagai alat stabilisasi, dan
malah diminta menyangkal
keilahiannya sendiri secara terbuka.

Sementara itu, roda pengadilan
mulai berputar. Pengadilan Militer
Internasional untuk Timur Jauh
dibentuk. 
Jenderal Tomoyuki
Yamashita
, si “Harimau Malaya”,
diadili atas Pembantaian Manila
(100.000 warga sipil Filipina tewas).
Dia dihukum mati bukan karena dia
merintahin langsung, tapi karena dia
gagal mencegah anak buahnya
melakukan kekejaman. Doktrin
“tanggung jawab komando” ini kelak
jadi preseden penting. Yamashita
digantung Februari 1946. 
Jenderal
Masaharu Homma
, yang tanggung
jawab atas Pawai Kematian Bataan,
juga dieksekusi. 
Perdana Menteri
Hideki Tojo
, wajah militerisme
Jepang, nyoba bunuh diri pas tentara
Amerika mau nangkep, tapi gagal.
Pelurunya meleset dari jantung. Dia
dirawat, diadili, dan akhirnya
digantung Desember 1948.

O’Reilly dan Dugard nutup buku ini
dengan refleksi yang nggak ngadili,
tapi nggak juga ngindarin kenyataan.
Bom atom adalah tragedi kemanusiaan
yang gila. Ratusan ribu warga sipil
mati dengan cara paling nggak
manusiawi. Radiasi terus ngebunuh
puluhan tahun setelahnya. Tapi,
penulis juga nekenin pandangan
mereka (dan banyak sejarawan):
keputusan Truman pake bom atom,
walau ngeri, 
mengakhiri perang
paling mematikan dalam
sejarah.
 Operasi Downfall
diperkirakan bakal makan jutaan
korban. Setiap hari perang lanjut,
ribuan mati. Bom atom ngehentiin
semua itu seketika. Kaisar Hirohito
sendiri, dalam pidato penyerahannya,
ngakuin: “Musuh telah mulai
menggunakan bom baru yang paling
kejam, yang kekuatan penghancurnya
sungguh tak terhitung… Jika kita
terus berperang, itu tidak hanya
akan mengakibatkan kehancuran
total bangsa Jepang, tetapi juga
kepunahan peradaban manusia.”

Buku ini ditutup dengan kontras.
Di satu sisi, ada Kubah Genbaku Dome
di Hiroshima, monumen perdamaian
yang sengaja dibiarin berdiri.
Di sisi lain, ada Jepang modern yang
bangkit dari abu, jadi negara paling
makmur dan demokratis, sekutu
dekat AS. MacArthur dengan bijak
nggak cuma ngancurin musuh, tapi
ngebantu ngebangun teman. Pada
akhirnya, buku ini nggak nawarin
jawaban gampang. Bom atom itu
nggak “baik”, tapi dalam konteksnya,
di antara pilihan yang ada, itu yang
paling tidak buruk. Dan itulah wajah
perang: nggak ada pilihan yang
bagus, cuma yang kurang
mengerikan. 💣🕊️

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *