Cara Pemerintah Menciptakan Uang
Bagi banyak orang, uang terasa
seperti sesuatu yang “nyata” kertas
yang dicetak di pabrik uang atau
logam yang dikeluarkan dari mesin.
Tapi di era modern, sebagian besar
uang yang kita gunakan
tidak pernah dicetak
sama sekali.
Ia diciptakan secara digital, lewat
sistem komputer perbankan dan
catatan elektronik.
Stephanie Kelton dalam The Deficit
Myth menjelaskan bahwa inilah
salah satu kesalahpahaman terbesar
masyarakat: banyak orang masih
membayangkan pemerintah
“mengumpulkan uang dari pajak”
sebelum bisa membelanjakannya.
Padahal kenyataannya justru terbalik
pemerintah menciptakan uang
terlebih dahulu baru kemudian
menggunakannya.
Pemerintah dan Bank Sentral:
Mesin Pencipta Uang Modern
Ketika pemerintah berdaulat seperti
Amerika Serikat, Inggris, atau
Jepang membelanjakan uang,
prosesnya tidak dimulai dari
tumpukan uang kertas di brankas
negara.
Pemerintah tidak menulis cek besar
dan mengirimkannya ke masyarakat.
Sebaliknya, uang itu diciptakan
secara virtual oleh bank sentral.
Stephanie Kelton
menggambarkannya seperti ini:
Ketika Departemen
Keuangan AS memutuskan untuk
membayar gaji pegawai negeri,
bantuan sosial, atau proyek
infrastruktur, mereka akan memberi
instruksi kepada Federal Reserve
(bank sentral AS).
Federal Reserve lalu mengetik
angka baru ke dalam sistem
perbankan sebuah proses yang
dikenal sebagai kredit digital.
Bank sentral mengkredit akun bank
komersial yang bekerja sama
dengan pemerintah.
Lalu, bank komersial tersebut akan
menambahkan jumlah yang sama
ke rekening penerima (misalnya,
pegawai negeri, kontraktor, atau
penerima bantuan).
Semua ini terjadi secara elektronik,
hanya dengan perubahan angka
dalam sistem komputer perbankan.
Uang “lahir” begitu saja bukan dari
mesin cetak, tetapi dari pengetikan
angka oleh lembaga resmi
negara.
Uang yang Diciptakan dari
Angka di Layar
Mungkin terdengar ajaib, tapi
begitulah cara kerja sistem
moneter modern.
Stephanie Kelton menekankan
bahwa setiap kali pemerintah
berdaulat membelanjakan
uang, ia menciptakan uang
baru.
Setiap kali memungut pajak, ia
“menghapus” sebagian dari uang
yang telah diciptakannya
sebelumnya.
Artinya, aliran uang dalam ekonomi
seperti napas:
Pengeluaran pemerintah
= menghembuskan uang
ke masyarakat.Pajak = menghirup kembali
sebagian uang dari
masyarakat.
Pemerintah tidak perlu “menunggu
pajak terkumpul” untuk berbelanja,
karena sumber uangnya berasal dari
sistem keuangan yang mereka
kendalikan sendiri.
Proses Kredit Digital:
Contoh Sederhana
Agar lebih mudah dipahami,
bayangkan proses berikut:
Pemerintah AS ingin
membayar kontraktor
untuk membangun jembatan
senilai $1 juta.Departemen Keuangan memberi
tahu Federal Reserve untuk
membayar kontraktor tersebut.Federal Reserve kemudian
menambah angka
$1.000.000 di rekening bank
tempat kontraktor menyimpan
uangnya.Bank kontraktor mengupdate
saldo rekening nasabahnya
kontraktor melihat ada
tambahan $1 juta di layar
ponselnya.
Tidak ada truk uang datang. Tidak
ada uang kertas yang berpindah
tangan.
Yang terjadi hanyalah perubahan
angka dalam sistem komputer
yang saling terhubung antara bank
sentral, bank komersial, dan
penerima dana.
Bukan Quantitative Easing (QE)
Kelton juga menegaskan bahwa cara
ini berbeda dari Quantitative
Easing (QE) istilah yang sering
muncul dalam berita ekonomi tetapi
sering disalahartikan sebagai
“pencetakan uang.”
Dalam QE, bank sentral membeli
surat berharga atau obligasi
jangka panjang dari pasar
keuangan.
Tujuannya adalah menambah
likuiditas di sistem perbankan agar
bank lebih mudah memberi
pinjaman dan bunga jangka
panjang turun.
Jadi, QE adalah kebijakan
moneter, bukan pengeluaran
fiskal.
Uang yang diciptakan lewat QE
tidak langsung masuk ke ekonomi
riil tidak langsung membayar gaji,
membangun jalan, atau membeli
makanan.
Sebaliknya, uang hasil pengeluaran
pemerintah (melalui proses kredit
digital tadi) langsung beredar
di masyarakat dan mendorong
aktivitas ekonomi nyata.
Menghapus Mitos “Pemerintah
Mencetak Uang Sembarangan”
Stephanie Kelton tidak mengatakan
bahwa pemerintah bisa menciptakan
uang sesuka hati.
Ia menegaskan bahwa menciptakan
uang bukan masalah teknis, tapi
masalah tanggung jawab ekonomi.
Pemerintah bisa menciptakan uang
tanpa batas, tetapi tidak bisa
menciptakan sumber daya
nyata tanpa batas.
Uang hanya berguna selama masih
ada barang dan jasa yang bisa dibeli.
Jika uang diciptakan terlalu banyak
sementara barang dan tenaga kerja
terbatas, inflasi akan muncul.
Karena itu, batas pengeluaran
pemerintah bukanlah saldo kas atau
pajak yang terkumpul, melainkan
kapasitas ekonomi negara.
Menyadari Siapa yang
Benar-benar Menciptakan
Uang
Melalui The Deficit Myth, Kelton
mengajak kita melihat ulang
bagaimana uang modern bekerja.
Ketika Anda menerima gaji dari
pemerintah, bantuan sosial, atau
pembayaran proyek negara,
sebenarnya Anda menerima uang
baru yang baru saja “lahir”
dari sistem keuangan nasional.
Pemerintah berdaulat tidak seperti
rumah tangga yang menunggu
pemasukan sebelum bisa
membelanjakan.
Ia adalah sumber utama uang
itu sendiri.
Dengan memahami ini, kita mulai
melihat bahwa defisit bukan berarti
pemerintah “kehabisan uang,”
melainkan cara negara
menyalurkan uang ke dalam
perekonomian.
Kesimpulan: Uang Adalah Alat,
Bukan Tujuan
Stephanie Kelton ingin pembaca
menyadari bahwa uang hanyalah
alat buatan manusia untuk
mengatur sumber daya nyata
tenaga kerja, bahan baku, teknologi,
dan waktu.
Ketika pemerintah memahami cara
uang benar-benar bekerja, mereka
tidak akan lagi takut berinvestasi
pada pendidikan, kesehatan, dan
infrastruktur hanya karena
“takut defisit.”
Uang bukan hal langka yang langka
adalah visi dan keberanian untuk
menggunakannya secara bijak.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Bayangkan Anda bekerja
di perusahaan besar yang menggaji
semua karyawannya lewat transfer
bank.
Setiap akhir bulan, Anda tidak
melihat direktur datang membawa
koper penuh uang tunai.
Yang terjadi hanya satu hal sederhana:
Anda membuka aplikasi mobile
banking, dan saldo Anda
bertambah.
Tidak ada uang fisik berpindah.
Tidak ada uang “dicetak” di pabrik.
Tapi tiba-tiba Anda punya uang
yang bisa digunakan untuk membeli
makanan, membayar listrik, atau
belanja online.
Semua itu terjadi karena seseorang
mengetik angka di sistem
perbankan.
Begitu Juga Pemerintah
Nah, cara pemerintah menciptakan
uang di zaman modern mirip sekali
dengan proses gaji digital itu,
hanya skalanya jauh lebih besar.
Ketika pemerintah membayar gaji
pegawai negeri, bantuan sosial, atau
membiayai pembangunan jalan,
mereka tidak membuka brankas
dan menghitung lembaran uang.
Yang mereka lakukan adalah
menginstruksikan bank sentral
untuk menambahkan sejumlah angka
ke rekening bank yang dituju.
Contohnya:
Pemerintah ingin membayar
kontraktor proyek Rp1 miliar.Bank sentral menambah
angka Rp1.000.000.000
di rekening bank kontraktor.Bank kontraktor lalu
menambahkan jumlah yang
sama ke saldo rekening
si kontraktor.
Selesai.
Kontraktor itu kini punya uang baru
di rekeningnya, padahal tidak ada
uang tunai yang benar-benar dicetak
atau dikirim lewat truk.
Uang Virtual Sudah Jadi Hal
Biasa
Kalau dipikir-pikir, kita pun setiap
hari hidup dengan uang “ciptaan
digital” ini.
Saat Anda menerima gaji
lewat transfer.Saat Anda bayar kopi
pakai e-wallet.Saat Anda kirim uang lewat
aplikasi ke teman.
Semuanya hanyalah angka di layar
yang berpindah dari satu akun
ke akun lain.
Begitu pula yang dilakukan pemerintah
hanya saja yang mereka kelola bukan
jutaan, melainkan triliunan rupiah.
Jadi ketika pemerintah “menciptakan
uang,” sebenarnya mereka
menambah angka dalam sistem
digital nasional, sama seperti bank
menambah angka di rekening kita.
Bukan Quantitative Easing (QE)
Banyak orang mengira ini sama
dengan Quantitative Easing (QE)
kebijakan di mana bank sentral
membeli surat utang dari pasar
untuk menambah pasokan uang.
Padahal itu berbeda.
Kalau diibaratkan:
Pengeluaran pemerintah
itu seperti gaji langsung
yang masuk ke rekening Anda
uangnya bisa langsung dipakai
untuk belanja, bayar listrik,
atau menabung.QE itu seperti bank membeli
aset keuangan dari investor
besar uangnya tidak langsung
beredar ke masyarakat, tapi
tetap berada di sistem keuangan.
Jadi, ketika pemerintah menciptakan
uang lewat pengeluaran, dampaknya
terasa langsung di ekonomi nyata.
Batasnya Bukan Uang,
Tapi Barang dan Tenaga
Stephanie Kelton mengingatkan
bahwa pemerintah memang bisa
“mengetik uang,”
tapi tidak bisa mengetik
sumber daya nyata.
Kalau uang diciptakan terlalu banyak
sementara barang dan tenaga kerja
terbatas, harga-harga akan naik
itulah inflasi.
Tapi kalau masih banyak
pengangguran, pabrik belum penuh
bekerja, dan kebutuhan dasar
rakyat belum terpenuhi, artinya
ekonomi masih punya ruang
untuk menambah uang beredar.
Dengan kata lain, batas pengeluaran
negara bukan jumlah uang di kas,
tapi kapasitas ekonomi yang bisa
menerima uang itu tanpa membuat
harga-harga melonjak.
Kesimpulan: Uang Itu Alat
Digital, Bukan Tumpukan
Kertas
Kalau dulu kita membayangkan uang
sebagai tumpukan kertas di gudang
bank, kini uang lebih mirip data
di server.
Dan seperti Anda menerima gaji
lewat transfer, pemerintah juga
“membayar” ekonomi lewat sistem
digital yang mereka kendalikan
sendiri.
Stephanie Kelton ingin kita sadar:
pemerintah berdaulat tidak bisa
kehabisan uang,
yang perlu dijaga adalah
kepercayaan dan keseimbangan
antara uang dan barang nyata.
