Buku When More Is Not Better Roger L. Martin, Realitas yang Tidak Sinkron dengan Janji Ekonomi

Roger L. Martin
Selama beberapa dekade, Amerika
membangun reputasi sebagai
ekonomi paling efisien dan
kompetitif di dunia. Teorinya
sederhana: efisiensi menghasilkan
produktivitas, produktivitas
menghasilkan kesejahteraan.
Namun, wawancara mendalam
dengan beragam kelompok
masyarakat menunjukkan sesuatu
yang berbeda. Bukan optimisme
yang terdengar, melainkan
kebingungan bahkan kekecewaan.
Banyak orang Amerika merasa mereka
sudah bekerja keras, mengikuti
formula klasik “belajar yang tinggi,
bekerja yang giat, hasil akan mengikuti”.
Namun, hasil itu tidak datang. Efisiensi
yang diagungkan ekonomi modern
ternyata tidak otomatis berbanding
lurus dengan kualitas hidup. Justru
sebaliknya, banyak keluarga kelas
pekerja merasa semakin tertinggal.
Contoh kasus sederhana:
Seorang lulusan perguruan tinggi
dengan penghasilan setara
Rp760 juta per tahun
(sekitar USD 50.000) tampak sukses
di atas kertas. Tetapi biaya hidup
naik jauh lebih cepat: sewa rumah
rata-rata kini setara Rp33 juta
per bulan, asuransi
kesehatan lebih dari Rp8–12 juta
per bulan, dan biaya kuliah anak bisa
mencapai Rp1,5 miliar untuk satu gelar.
Hasilnya? Meski penghasilan terlihat
besar, mereka tetap hidup “pas-pasan”
bahkan lebih tertekan dibanding
generasi sebelumnya yang hidup
dengan biaya jauh lebih rendah.
Frustrasi Kelas Pekerja
di Tengah Keberhasilan Statistik
Di atas kertas, ekonomi Amerika
terlihat hebat angka PDB tumbuh,
perusahaan besar mencetak profit,
dan teknologi semakin berkembang.
Tetapi “keberhasilan” ini tidak
terasa di dapur rumah tangga biasa.
Dalam wawancara tersebut, mereka
yang berada di kelas pekerja
menyampaikan hal yang sama:
“Kami melakukan semuanya sesuai
aturan, tapi kami tetap tidak
sampai ke mana-mana.”
Ini bukan sekadar keluhan ekonomi,
tetapi gambaran nyata tentang
bagaimana formula kesuksesan
Amerika yang dulu dianggap sebagai
teladan dunia mulai kehilangan
kekuatannya untuk memberikan
harapan pada sebagian besar
warganya.
Rodger L. Martin menyoroti bahwa
ketidaksesuaian inilah yang menjadi
sumber frustrasi terbesar: hard work
tidak lagi menjamin upward mobility.
Pendidikan pun tidak lagi otomatis
membuka pintu stabilitas. Hasilnya
adalah rasa bingung yang mendalam
mengapa sistem yang dulu bekerja,
kini terasa buntu bagi banyak orang?
Ilustrasi angka yang
menggambarkan frustrasi itu:
Tahun 1980-an, gaji setara
Rp400 juta per tahun cukup
untuk membeli rumah
Rp1 miliar dan tetap menabung.Hari ini, gaji setara
Rp760 juta per tahun tidak
cukup untuk membeli rumah
yang harganya kini rata-rata
Rp8–10 miliar di kota besar.Akibatnya, seorang pekerja
merasa seperti berjalan
di treadmill: langkahnya cepat,
tapi tetap tidak maju.
Rodger L. Martin menekankan: hard
work tidak lagi menjamin mobilitas
naik. Pendidikan pun tidak lagi
otomatis membuka pintu stabilitas.
Rasa bingung dan pesimisme itu
tumbuh bukan karena orang malas,
tetapi karena rumus lama ekonomi
sudah tidak relevan dengan realitas
baru.
Ketika Narasi Negatif
Mengancam Keberlanjutan
Sistem
Demokrasi Amerika dan
kapitalismenya pernah dianggap
keajaiban sosial: terbuka, kompetitif,
meritokratis. Tapi Martin
mengingatkan bahwa sistem apa pun
hanya akan bertahan selama ia bisa
memberikan manfaat nyata bagi
sebagian besar penduduknya.
Saat warga mulai merasa bahwa
mereka tidak mendapatkan peluang
yang sama, narasi negatif mudah
tumbuh:
“Sistem ini hanya menguntungkan
yang sudah berada di atas.”
“Saya berusaha tetapi tetap tidak
maju.”
“Untuk apa percaya pada aturan
kalau hasilnya tidak adil?”
Narasi seperti itu bukan sekadar
keluhan emosional; ia menjadi
ancaman terhadap keberlanjutan
sistem itu sendiri. Jika terlalu
banyak orang kehilangan
kepercayaan pada mekanisme
demokrasi dan ekonomi, maka
pondasi sosialnya melemah. Bahkan
sistem terbaik pun tidak akan
bertahan bila tidak bekerja bagi
mayoritas.
Contoh gambaran ketimpangan
yang memicu narasi negatif:
CEO perusahaan besar bisa
memperoleh kompensasi tahunan
setara Rp750 miliar, sementara
pekerja lini dasar di perusahaan
yang sama dibayar Rp550 juta
per tahun. Perbedaan 1:1.300 ini
membuat banyak orang merasa
sistem kompetitif bukan lagi
“arena yang adil”, tetapi “panggung
yang sudah ditentukan pemenangnya”.
catatan;
Angka 1:1.300 itu maksudnya adalah
rasio antara gaji CEO dan gaji
pekerja biasa.
Artinya:
Jika seorang pekerja lini dasar digaji 1,
CEO digaji 1.300 kali lebih besar.
Persimpangan Penting bagi
Masa Depan
Catatan-catatan dalam When More Is
Not Better menunjukkan bahwa
efisiensi ekstrem yang selama ini
dianggap sebagai standar keberhasilan
justru menciptakan tekanan yang
merusak keseimbangan ekonomi.
Ketika segala hal dipaksa efisien,
manusia di dalam sistem justru
kehilangan ruang untuk berkembang,
bernafas, dan merasa dihargai.
Masyarakat Amerika kini berada pada
persimpangan: apakah mereka ingin
mempertahankan model efisiensi yang
menghasilkan kekecewaan luas,
ataukah mulai memikirkan ulang sistem
agar lebih manusiawi, lebih adil, dan
lebih inklusif?
Buku ini bukan sekadar kritik, tetapi
peringatan. Jika sistem modern tidak
memberikan hasil yang masuk akal
bagi orang-orang yang
menggerakkannya, maka legitimasi
sistem itu sendiri bisa memudar.
Ibarat Rumah yang Dari Luar
Mewah, tapi Di Dalam Banyak
Bocor
Selama bertahun-tahun, ekonomi
Amerika digambarkan seperti rumah
super rapi dan modern: mesin canggih,
desain minimalis, semua serba cepat
dan efisien. Teorinya, kalau semua alat
bekerja seefisien mungkin, penghuni
rumah pasti hidup nyaman.
Tapi ketika Martin mewawancarai
orang-orang biasa pelayan toko,
buruh, pegawai kantor, hingga sarjana
yang terdengar bukan cerita nyaman,
melainkan keluhan bahwa atapnya
bocor, airnya mati, dan listriknya
sering turun. Dari luar rumah tampak
megah, tapi penghuni di dalam justru
kesulitan.
Kerja Keras yang Rasanya
Seperti Berlari di Treadmill
Banyak orang Amerika tumbuh
dengan nasihat klasik: belajar yang
rajin, kerja yang keras, nanti hidupmu
membaik. Ibaratnya, kalau terus
mengayuh sepeda, kamu akan sampai
ke tujuan.
Tapi yang mereka rasakan sekarang
seperti berlari di treadmill: capeknya
dapat, keringat keluar, tapi posisi
tidak maju ke mana-mana. Mereka
berkata,
“Sudah lakukan semua sesuai aturan,
tapi hidup tetap berat.”
Efisiensi yang dijanjikan ekonomi
modern ternyata tidak otomatis
membuat hidup lebih sejahtera.
Justru banyak keluarga kelas pekerja
merasa makin jauh tertinggal.
Statistiknya seperti Nilai Rapor
Bagus, Tapi Anak di Rumah
Keteteran
Di laporan nasional, ekonomi Amerika
terlihat cemerlang: angka PDB naik,
perusahaan makin untung, teknologi
berkembang.
Tapi bagi orang biasa, ini seperti
punya rapor dengan nilai 90 semua,
sementara kondisi anak di rumah
tetap kurang tidur, stres, dan sering
sakit. Angka bagus tidak
mencerminkan kenyataan sehari-hari.
Kelas pekerja bertanya,
“Kalau negara makin kaya, kok kami
tidak ikut merasakannya?”
Ini bukan sekadar curhat, tetapi sinyal
bahwa rumus ekonomi yang dulu
berhasil tidak lagi relevan bagi banyak
orang.
Ketika Warga Mulai Merasa
Permainannya Curang
Demokrasi dan kapitalisme Amerika
dulunya seperti permainan yang
aturannya jelas dan adil:
siapa berusaha, dia maju.
Namun ketika banyak orang merasa
“usaha besar, hasil kecil”, permainan
itu mulai tampak curang. Dari sinilah
muncul narasi negatif:
“Yang menang cuma yang
sudah kaya.”“Kami ikut aturan,
tapi tetap kalah.”“Apa gunanya percaya sistem
kalau kami tidak pernah
sampai giliran?”
Ini bukan sekadar kekesalan. Kalau
semakin banyak orang merasa sistem
tidak bekerja untuk mereka,
kepercayaan publik bisa runtuh.
Permainan apa pun tidak akan
bertahan kalau pemainnya tidak
percaya lagi pada wasit dan aturannya.
Persimpangan: Terus Memaksa
Mesin atau Merawat Manusia?
Martin menggambarkan ekonomi
modern sebagai pabrik yang mesinnya
dipaksa bekerja se-efisien mungkin.
Tapi ketika semuanya dipaksa optimal
tanpa henti, para operator manusia
justru kelelahan, kehilangan
kreativitas, dan merasa tidak dihargai.
Kini Amerika berada di persimpangan:
Mau tetap mendorong mesin
bekerja lebih cepat?Atau mulai memikirkan sistem
yang lebih masuk akal bagi
manusia di dalamnya?
Pesan buku ini bukan hanya kritik,
tetapi peringatan:
Jika sistem tidak lagi memberi
hasil yang wajar untuk
orang-orang yang
menjalankannya, maka sistem
itu lambat laun kehilangan
legitimasi.
Ibarat rumah mewah: kalau penghuni
di dalam terus kehujanan dan
kedinginan, seberapa pun megah
tampilan luarnya, rumah itu perlahan
kehilangan fungsinya.
