Buku How to Talk To Anyone Leil Lowndes, Orang Perlu Tahu Bahwa Anda Menyukai Mereka

Leil Lowndes
Sebelum Anda bisa memulai
percakapan dengan siapa pun, Anda
harus memahami satu hal penting:
apa yang membuat mereka
ingin berbicara dengan Anda.
Leil Lowndes mengatakan bahwa jika
orang tahu Anda menyukai mereka,
maka mereka akan dengan senang
hati berbicara dengan Anda.
Ini berlaku dalam berbagai suasana,
baik sosial maupun profesional.
Mengapa demikian? Karena setiap
orang, di mana pun, memiliki
kebutuhan dasar yang sama:
ingin merasa disukai, dihargai,
dan merasa nyaman dengan
diri mereka sendiri.
Semua interaksi sosial pada dasarnya
digerakkan oleh kebutuhan untuk
disukai. Ini adalah kebutuhan
manusia yang universal dan sangat
kuat.
Ketidakpastian Membuat Orang
Canggung
Ketika seseorang tidak tahu apakah
Anda menyukai mereka atau tidak,
mereka akan merasa canggung
dan tidak nyaman. Mereka
menjadi sadar diri. Akibatnya,
mereka akan kesulitan untuk
berbicara secara alami dengan
Anda. Ada tembok tak terlihat
yang menghalangi komunikasi.
Sebaliknya, ketika Anda dengan jelas
menunjukkan bahwa Anda menyukai
mereka, suasana langsung berubah.
Mereka akan merasa nyaman
berada di dekat Anda dan
menikmati kebersamaan dengan
Anda. Mereka akan menyukai Anda
kembali, bukan karena Anda hebat
atau sempurna, tetapi karena Anda
membuat mereka merasa
nyaman dengan diri mereka
sendiri.
Mengapa Banyak Orang
Kesulitan Menunjukkan
Rasa Suka?
Meskipun terdengar sangat sederhana,
banyak orang merasa sulit untuk
menunjukkan bahwa mereka
menyukai orang lain. Penyebabnya
adalah ketidaknyamanan mereka
sendiri yang menghalangi.
Lihatlah situasi ini. Anda bertemu
seseorang yang baru. Anda juga ingin
orang itu menyukai Anda. Keinginan
ini justru bisa menimbulkan rasa
tidak nyaman, gugup, dan takut
ditolak.
Menurut Leil Lowndes, ketakutan ini
memiliki efek yang ironis dan
merugikan diri sendiri. Semakin
Anda merasa tidak nyaman, semakin
besar kemungkinan Anda secara
tidak sadar mengirimkan sinyal
“saya tidak suka kamu” , baik
melalui kata-kata maupun bahasa
tubuh. Isyarat-isyarat ini justru
membuat orang-orang yang
sebenarnya ingin Anda ajak
bicara menjadi menjauh. Inilah
yang disebut sebagai ramalan yang
terwujud dengan sendirinya.
Anda takut ditolak, Anda mengirim
sinyal penolakan, dan akhirnya
Anda benar-benar ditolak.
Solusi Sederhana: Fokus pada
Perasaan Mereka, Bukan
Perasaan Anda
Leil Lowndes menawarkan sebuah
solusi yang sangat sederhana untuk
mengatasi kecemasan ini dan
menunjukkan bahwa Anda terbuka
untuk percakapan.
Berhentilah terlalu fokus pada
bagaimana perasaan Anda
sendiri. Alihkan fokus Anda
pada bagaimana Anda ingin
membuat mereka merasa.
Ini berarti Anda harus sadar akan
sinyal-sinyal verbal dan
non-verbal yang Anda kirimkan.
Apakah postur tubuh Anda terbuka
atau tertutup? Apakah ekspresi
wajah Anda ramah atau tegang?
Apakah nada suara Anda hangat atau
dingin? Dengan mengalihkan fokus
dari kecemasan diri sendiri menuju
kenyamanan orang lain, Anda secara
alami akan mulai memancarkan
sinyal-sinyal keterbukaan dan
penerimaan.
Cara Berbicara Seperti Selebriti
Pada tahun 1930-an, Carnegie
Foundation for the Advancement
of Teaching dan Carnegie Institute
of Technology melakukan sebuah
penelitian yang mengungkap fakta
mengejutkan. Sekitar delapan puluh
lima persen kesuksesan
seseorang ternyata ditentukan oleh
seberapa baik mereka bisa
berkomunikasi. Bukan sekadar
dari kepintaran atau keterampilan
teknis semata.
Leil Lowndes kemudian membagikan
beberapa teknik komunikasi yang
bisa membuat Anda berbicara dengan
lebih menarik dan percaya diri,
layaknya seorang selebriti.
Jangan Bertanya
“Apa Pekerjaanmu?”
Salah satu tips pertama adalah tentang
cara bertanya yang lebih baik saat
Anda berada di tengah kelompok
orang yang sudah saling mengenal.
Jangan pernah menjadi orang yang
dengan berani dan polos langsung
bertanya, “Jadi, apa pekerjaanmu?”
Pertanyaan langsung seperti ini secara
halus memperjelas bahwa Anda
adalah orang luar dan bukan bagian
dari kelompok itu.
Sebaliknya, cobalah pendekatan yang
lebih halus. Tanyakan sesuatu seperti,
“Bagaimana kamu menghabiskan
sebagian besar waktumu?”
Pertanyaan kedua ini memiliki efek
yang berbeda. Ini menunjukkan bahwa
Anda sudah menganggap orang itu
lebih dari sekadar pekerjaannya.
Anda memberi kesan bahwa Anda
mungkin sudah tahu sedikit tentang
mereka dan sekarang ingin tahu lebih
dalam lagi. Ini adalah cara yang lebih
sopan dan bersahabat untuk membuka
percakapan.
Siapkan “Resume Ringkas”
untuk Setiap Situasi
Bagaimana Anda sendiri harus
menjawab ketika seseorang bertanya
tentang pekerjaan Anda? Lowndes
menyarankan untuk menggunakan
apa yang ia sebut “Nutshell
Resume” atau Resume Ringkas.
Ambil pelajaran dari para manajer
puncak yang sedang mencari
pekerjaan. Mereka selalu
menyesuaikan resume mereka
untuk setiap pekerjaan yang
mereka lamar. Mereka tidak
menggunakan satu resume yang
sama untuk semua kesempatan.
Terapkan prinsip ini dalam
percakapan. Beri tahu setiap orang
sesuatu yang berbeda tentang
kehidupan kerja Anda. Sebelum
Anda menjawab pertanyaan
“Apa pekerjaanmu?” , cobalah untuk
mencari tahu apa yang mungkin
menarik untuk didengar oleh
orang tersebut. Pikirkan bagaimana
pengalaman kerja Anda bisa
bermanfaat atau relevan baginya.
Ketika Anda bertemu seseorang yang
Anda sukai atau yang mungkin bisa
menjadi teman, buatlah kehidupan
Anda terdengar menyenangkan.
Ceritakan kisah Anda dengan cara
yang unik kepada siapa pun yang
bertanya, ke mana pun Anda pergi.
Perkaya Kosakata Anda dengan
Thesaurus Pribadi
Leil Lowndes juga memperkenalkan
konsep “Personal Thesaurus” atau
Tesaurus Pribadi. Ini adalah alat
sederhana yang akan membantu Anda
terdengar lebih cerdas dari yang
sebenarnya.
Caranya mudah. Lihatlah beberapa
kata yang sering Anda gunakan dalam
percakapan sehari-hari. Cari kata-kata
itu di dalam sebuah tesaurus.
Cobalah gunakan beberapa kata baru
untuk melihat apakah kata-kata itu
cocok menggantikan kata-kata lama
Anda. Jika terdengar bagus, mulailah
menggunakannya secara rutin.
Mengapa ini penting? Karena hanya
lima puluh kata yang membedakan
antara kosakata kreatif seorang yang
sangat sukses dan kosakata orang biasa.
Gantilah beberapa kata yang paling
sering Anda gunakan selama dua
bulan, dan Anda akan naik
ke tingkat teratas dalam hal
kemampuan berbahasa.
Pikirkan kata-kata seperti “bagus”,
“cantik”, “baik”, dan “pintar” yang
sering digunakan secara berlebihan
dan terasa datar. Ambil tesaurus
Anda, dan mulailah menggantinya
dengan kata-kata yang lebih hidup
dan kaya.
versi yang sederhana:
Oke, kita ganti buku lagi! Kali ini kita
ngomongin buku yang judulnya
langsung to the point: How to Talk
to Anyone karya Leil Lowndes.
Ini bukan buku teori berat. Ini kayak
toolkit berisi jurus-jurus praktis buat
lo yang pengen lancar ngobrol sama
siapa aja, dari tukang parkir sampe
CEO. Kita mulai dari fondasi paling
dasarnya dulu.
Orang Harus Tahu Lo Suka
Mereka
Sebelum lo mikirin “Mau ngomong
apa ya?”, ada satu hal yang jauh lebih
penting: Apakah orang itu tahu
kalau lo menyukainya?
Leil Lowndes bilang, begitu orang
tahu lo suka sama mereka, mereka
bakal dengan senang hati ngobrol
sama lo. Ini berlaku di pesta,
di kantor, di kafe, di mana aja.
Kenapa? Karena semua manusia
di muka bumi ini punya kebutuhan
dasar yang sama: pengen disukai,
pengen dihargai, dan pengen
ngerasa nyaman sama diri
sendiri. Semua interaksi sosial
kita tuh digerakin sama kebutuhan
ini. Ini universal.
Kejelasan Itu Penting.
Ketidakpastian Bikin Canggung.
Coba bayangin. Lo ketemu orang
baru. Lo gak tau dia suka sama lo
apa enggak. Dia diem, mukanya
datar. Lo jadi grogi sendiri. Lo mikir,
“Dia bete ya? Gue salah ngomong
ya?” Akhirnya lo juga jadi kaku.
Nah, itu yang terjadi kalau sinyalnya
gak jelas. Ketidakpastian itu
bikin tembok tak terlihat.
Orang jadi gak bisa ngobrol natural
sama lo.
Sebaliknya, kalau lo dari awal udah
ngirim sinyal jelas kalau lo suka
dan welcome, tembok itu
langsung runtuh. Mereka ngerasa
nyaman. Mereka enjoy di dekat lo.
Dan mereka bakal balik suka sama
lo, bukan karena lo paling keren,
tapi karena lo bikin mereka
ngerasa nyaman jadi diri
sendiri.
Kenapa Kita Susah Nunjukin
“Suka”?
Nah, ini dia masalahnya. Secara teori
gampang: tunjukin aja lo suka. Tapi
praktiknya susah. Kenapa? Karena
kegugupan kita sendiri yang
ngeblok.
Pas lo ketemu orang baru, lo juga
pengen dia suka sama lo. Keinginan
ini malah bikin lo gugup. Takut
salah ngomong. Takut ditolak.
Tanpa sadar, kegugupan itu bocor
ke bahasa tubuh dan nada suara lo.
Lo jadi keliatan jutek, tertutup, atau
gak tertarik. Padahal aslinya lo
cuma deg-degan.
Ini yang disebut ramalan yang
terwujud sendiri (self-fulfilling
prophecy). Lo takut ditolak
→ lo ngirim sinyal penolakan
→ lo beneran ditolak.
Padahal awalnya cuma salah sinyal.
Solusinya gampang tapi dalem:
Berhenti fokus sama perasaan
lo sendiri. Fokus sama
perasaan mereka.
Alihkan perhatian lo dari
“Gue grogi nih. Dia suka gak ya
sama gue?” ke “Gimana caranya
gue bikin dia nyaman?”
Begitu fokus lo pindah, bahasa tubuh
lo otomatis berubah. Postur lo jadi
lebih terbuka, muka lo lebih ramah,
suara lo lebih hangat. Tanpa effort
gede.
Ngomong Ala Selebriti
(Yang Bisa Lo Contek)
Tahun 1930-an, riset dari Carnegie
Foundation ngungkap fakta
mengejutkan: 85% kesuksesan
seseorang ditentukan sama
skill komunikasi. Bukan
semata-mata kepintaran atau
skill teknis.
Leil Lowndes ngasih beberapa jurus
simpel biar lo bisa ngomong lebih
menarik dan percaya diri. Ini dia
dua jurus pembuka.
1. Jangan Tanya
“Kerja di Mana?”
Ini jebakan klasik. Lo lagi di acara,
ketemu orang baru, dan lo langsung
nanya: “Kerja di mana?” atau
“Apa pekerjaanmu?”
Masalahnya, di acara yang
orang-orangnya udah saling kenal,
pertanyaan ini langsung ngecap lo
sebagai orang luar. Kesan yang
muncul: lo cuma basa-basi dan
nyari aman.
Ganti dengan:
“Gimana lo biasanya ngabisin
waktu?”
Bedanya apa? Pertanyaan ini lebih
dalem. Ini nunjukin lo menganggap
dia lebih dari sekadar
pekerjaannya. Lo ngasih ruang
buat dia cerita soal hobi, passion,
atau hal-hal yang beneran dia
peduliin. Suasananya langsung
lebih hangat.
2. Siapkan “Resume Ringkas”
yang Fleksibel
Pas giliran lo yang ditanya,
“Lo kerja di mana?”, jangan jawab
dengan template yang itu-itu aja.
Lowndes nyebutnya “Nutshell
Resume” (Resume Ringkas).
Pelajari dari para eksekutif papan
atas. Mereka gak pernah pake
resume yang sama buat semua
lamaran. Mereka sesuaikan.
Prakteknya: Sebelum lo jawab,
cari tahu dulu kira-kira orang ini
tertarik sama apa. Kalau dia anak
marketing, tonjolkan sisi kreatif
lo. Kalau dia engineer, tonjolkan
sisi problem-solving lo. Buatlah
jawaban lo relevan dan menarik
buat dia, bukan cuma buat lo.
Dan kalau lo ketemu orang yang
pengen lo jadiin temen, buat hidup
lo kedengeran menyenangkan.
Ceritakan dengan cara yang unik,
jangan kayak laporan BPS.
Satu lagi tips receh yang dampaknya
gede: upgrade kata-kata lo.
Lowndes nyebutnya
“Personal Thesaurus.”
Caranya gampang:
Catat kata-kata yang sering
lo pake: “bagus”, “baik”,
“pintar”, “cantik”.Buka tesaurus (bisa Google).
Cari sinonimnya.Coba pake kata-kata baru itu
di obrolan. Kalau cocok,
pake terus.
Kenapa ini penting? Karena hanya
50 kata yang membedakan
kosakata orang sukses dari
orang biasa. Ganti beberapa kata
favorit lo selama dua bulan, dan
lo bakal naik level dalam hal ekspresi
verbal. Misalnya, jangan cuma
bilang “Bagus banget idenya.”
Coba: “Idemu brilian. Perspektifnya
segar.” Kedengerannya langsung
beda kan?
Gitu dulu dasar-dasarnya dari Leil
Lowndes. Intinya: bikin orang
nyaman duluan, baru mikirin mau
ngomong apa. Fokus ke mereka,
bukan ke diri sendiri. Dan jangan
lupa upgrade kosakata lo biar gak
stuck di kata “bagus” melulu.
