buku

Bab 5 The Principle of Reinforcement

Lanny Bassham membuka bab ini
dengan sebuah prinsip yang sangat
penting dan sering kali tidak
disadari oleh banyak orang.
Prinsipnya adalah:
pikiran Anda diperkuat oleh
apa yang Anda katakan dan
dengar, bukan oleh apa yang
Anda inginkan.

Anda mungkin sangat menginginkan
kesuksesan. Anda mungkin sangat
berharap bisa tampil baik.
Tapi keinginan dan harapan saja
tidak cukup untuk memprogram
pikiran Anda. Yang memprogram
pikiran Anda adalah kata-kata yang
Anda ucapkan dan kata-kata yang
Anda dengar, terutama yang keluar
dari mulut Anda sendiri.

Ini adalah kebenaran yang sederhana
tapi sangat kuat.
Bassham menjelaskan bahwa banyak
orang tanpa sadar sedang
memprogram diri mereka sendiri
untuk gagal, hanya melalui cara
mereka berbicara. Setiap kali Anda
mengatakan
“Saya selalu gugup di situasi seperti
ini,”
Anda sedang memperkuat keyakinan
itu di pikiran bawah sadar Anda.
Setiap kali Anda mengatakan
“Saya tidak pernah bisa melakukan
ini dengan benar,”
Anda sedang menanam program
negatif. Anda mungkin tidak
bermaksud demikian. Anda mungkin
hanya melontarkan komentar spontan.
Tapi pikiran bawah sadar Anda tidak
bisa membedakan antara komentar
spontan dan pernyataan serius.
Ia menerima semua kata-kata itu
sebagai kebenaran dan bekerja
untuk mewujudkannya.

Bassham juga menekankan bahwa
berbicara tentang kegagalan, bahkan
dengan niat untuk menganalisis dan
belajar, memiliki efek samping yang
berbahaya. Setiap kali Anda
menceritakan bagaimana Anda gagal,
Anda menghidupkan kembali
kegagalan itu di pikiran Anda.
Anda menciptakan gambar kegagalan
yang semakin kuat.
Anda memperkuat self-image sebagai
orang yang gagal. Ini bukan berarti
Anda harus pura-pura tidak pernah
gagal. Tapi Anda harus sangat
berhati-hati dengan seberapa sering
dan bagaimana Anda membicarakan
kegagalan Anda.

Directive Affirmation

Untuk melawan program negatif yang
tidak disengaja ini, Bassham
memperkenalkan sebuah teknik yang
ia sebut 
Directive Affirmation.
Ini berbeda dengan afirmasi positif
biasa yang sering diajarkan dalam
buku-buku pengembangan diri.
Bassham dengan tegas mengkritik
afirmasi kosong yang tidak
didukung oleh bukti.

Afirmasi kosong adalah ketika Anda
berdiri di depan cermin dan berkata,
“Saya adalah juara dunia,”
padahal Anda belum pernah
memenangkan apa pun. Pikiran bawah
sadar Anda tidak sebodoh itu. Ia tidak
akan percaya pada kebohongan, tidak
peduli seberapa sering Anda
mengulanginya. Jika Anda
mengatakan sesuatu yang bertentangan
dengan self-image Anda saat ini,
pikiran bawah sadar Anda akan
menolaknya. Anda mungkin merasa
termotivasi untuk sementara, tapi
tidak ada perubahan permanen yang
terjadi.

Directive Affirmation bekerja dengan
cara yang berbeda. Afirmasi ini
diucapkan 
setelah Anda
melakukan sesuatu dengan
benar
, bukan sebelumnya.
Setiap kali Anda menyelesaikan satu
pengulangan latihan dengan
sempurna, berhentilah sejenak.
Akui keberhasilan kecil itu. Katakan
pada diri sendiri,
“Itu benar. Itu yang saya inginkan.”
Kalimat ini adalah Directive
Affirmation. Kalimat ini sederhana,
jujur, dan didukung oleh bukti yang
baru saja terjadi. Pikiran bawah
sadar Anda tidak akan menolaknya
karena Anda benar-benar baru saja
melakukannya.

Setelah Anda mengucapkan Directive
Affirmation, luangkan beberapa detik
untuk membiarkan gambar
keberhasilan itu tertanam. Rasakan
perasaan puas. Lihat dalam pikiran
Anda gerakan yang sempurna itu.
Dengarkan suara keberhasilan.
Proses ini, jika dilakukan
berulang-ulang, akan menanamkan
program sukses yang kuat di pikiran
bawah sadar Anda.

Bassham menekankan bahwa
Directive Affirmation harus spesifik,
bukan umum. Jangan hanya berkata,
“Bagus.” Katakan dengan spesifik
apa yang bagus.
“Pelepasan pelatuk itu sangat halus.”
atau “Posisi kakiku tepat seperti
yang aku inginkan.”
Semakin spesifik afirmasi Anda,
semakin jelas gambar yang ditanam
di pikiran bawah sadar Anda.

Penguatan dari Orang Lain

Prinsip Reinforcement tidak hanya
berlaku untuk kata-kata yang Anda
ucapkan pada diri sendiri. Ia juga
berlaku untuk kata-kata yang Anda
dengar dari orang lain, terutama
dari orang-orang yang Anda hormati
dan percayai. Bassham menjelaskan
bahwa penguatan dari pelatih,
orang tua, pasangan, atau teman
dekat memiliki pengaruh yang sangat
besar terhadap self-image Anda.

Jika pelatih Anda selalu meneriaki
Anda tentang kesalahan Anda,
self-image Anda sebagai atlet yang
buruk akan diperkuat. Setiap teriakan,
setiap kritik, setiap komentar negatif
adalah program yang masuk
ke pikiran bawah sadar Anda.
Pelatih itu mungkin bermaksud baik.
Ia mungkin pikir bahwa
menunjukkan kesalahan adalah cara
terbaik untuk membantu Anda
memperbaiki diri. Tapi yang
sebenarnya ia lakukan adalah
memprogram Anda untuk membuat
lebih banyak kesalahan.

Sebaliknya, jika pelatih Anda
memperhatikan dan mengomentari
keberhasilan Anda, self-image Anda
sebagai atlet yang baik akan
diperkuat. Ketika pelatih berkata,
“Lihat, itu tembakan yang sempurna,”
ia sedang menanamkan program
sukses di pikiran Anda. Kata-kata itu
memiliki kekuatan yang jauh lebih
besar daripada yang disadari
kebanyakan orang.

Hal yang sama berlaku untuk
orang tua. Bassham memberikan
contoh tentang seorang anak yang
sedang belajar berjalan. Ketika anak
itu jatuh, orang tua tidak berteriak,
“Kenapa kamu jatuh?
Lihat, kamu tidak bisa berjalan!”
Orang tua justru tersenyum, bertepuk
tangan, dan mendorong anak itu
untuk bangkit dan mencoba lagi.
Mereka secara naluriah memperkuat
keberhasilan, bukan kegagalan. Tapi
entah mengapa, ketika anak itu
tumbuh dewasa dan mulai melakukan
hal-hal yang lebih kompleks seperti
olahraga atau pelajaran sekolah,
orang tua sering kali berubah.
Mereka mulai berfokus pada
kesalahan dan melupakan untuk
memperkuat keberhasilan.

Hukum Perhatian

Bassham menyimpulkan bab ini
dengan sebuah hukum yang sangat
sederhana tapi sangat kuat.
Apa yang diperhatikan akan
tumbuh.
 Jika Anda selalu
memperhatikan kesalahan Anda,
kesalahan itulah yang akan tumbuh
dan menjadi semakin sering terjadi.
Jika Anda selalu memperhatikan
keberhasilan Anda, keberhasilan
itulah yang akan tumbuh dan
menjadi semakin sering terjadi.

Ini adalah prinsip yang berlaku
di mana-mana, tidak hanya dalam
olahraga. Seorang manajer yang
selalu mengkritik karyawannya akan
memiliki tim yang penuh dengan
orang-orang yang membuat
kesalahan. Seorang guru yang selalu
menandai jawaban yang salah
dengan tinta merah akan memiliki
murid yang takut untuk mencoba.
Seorang pasangan yang selalu
mengeluh tentang kekurangan
pasangannya akan memiliki
hubungan yang semakin buruk.

Solusinya sederhana tapi
membutuhkan disiplin. Anda harus
melatih diri untuk mencari dan
memperhatikan apa yang benar,
bukan apa yang salah. Setiap kali
Anda melihat sesuatu yang dilakukan
dengan benar, berhentilah dan akui.
Ucapkan Directive Affirmation.
Biarkan keberhasilan itu tertanam.
Dengan melakukan ini secara
konsisten, Anda akan menciptakan
lingkungan di mana self-image
positif bisa tumbuh dan berkembang.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Oke, guys. Kita lanjut lagi ngebahas
buku 
With Winning in Mind.
Di Bab 5 ini, Lanny Bassham ngasih
tahu satu prinsip yang sering banget
nggak lo sadari, tapi efeknya luar
biasa besar ke performa lo.
Prinsipnya adalah: 
pikiran lo itu
diperkuat sama apa yang lo
omongin dan lo denger, bukan
sama apa yang lo pengenin.

Lo mungkin pengen banget sukses,
berharap bisa tampil bagus. Tapi,
harapan aja nggak cukup buat
ngeprogram otak lo.
Yang ngeprogram otak lo adalah
kata-kata yang lo ucapin dan
kata-kata yang lo denger, terutama
yang keluar dari mulut lo sendiri.
Lo sadar nggak sih, banyak orang
yang setiap hari tanpa sadar lagi
ngehancurin diri sendiri cuma lewat
cara mereka ngomong?
Setiap kali lo bilang,
“Gue tuh emang gampang panik,”
lo lagi nguatin keyakinan itu
di otak bawah sadar. Setiap kali lo
bilang,
“Gue nggak akan pernah bisa
ngelakuin ini dengan bener,”
lo lagi nanem program gagal.
Lo mungkin cuma ngomong spontan,
iseng. Tapi otak bawah sadar lo itu
polos banget, dia nggak bisa bedain
mana komentar iseng mana
pernyataan serius. Dia terima semua
sebagai kebenaran dan langsung
kerja buat mewujudkannya.

Bassham juga ngingetin, ngomongin
kegagalan, walaupun niatnya cuma
buat analisis, itu bahaya. Setiap lo
cerita gimana lo gagal, lo sebenarnya
lagi ngulang-ngulang gambar
kegagalan di kepala lo. Gambar itu
makin kuat, dan self-image lo sebagai
“orang yang gagal” makin nempel.
Bukan berarti lo harus pura-pura
nggak pernah gagal, ya. Tapi lo harus
hati-hati banget seberapa sering dan
gimana caranya lo ngomongin
kegagalan lo.

Directive Affirmation: Jurus
Nguatin Program Positif

Nah, buat ngelawan semua program
negatif nggak sengaja tadi, Bassham
ngenalin teknik yang dia sebut
Directive Affirmation. Ini beda
banget sama afirmasi positif ala
buku-buku motivasi yang suruh lo
ngomong “Gue hebat!” di depan
kaca. Bassham malah ngekritik keras
afirmasi kosong yang nggak ada
buktinya.

Afirmasi kosong itu kayak lo bilang,
“Gue adalah juara dunia,” sementara
lo belum pernah menang apa-apa.
Otak bawah sadar lo nggak sebego
itu, dia bakal nolak. Lo mungkin
semangat sesaat, tapi nggak ada
perubahan permanen. Directive
Affirmation kerjanya beda. Afirmasi
ini diucapin setelah lo ngelakuin
sesuatu dengan benar, bukan
sebelumnya. Jadi, setiap kali lo
selesai ngelakuin satu gerakan latihan
dengan sempurna, berhenti sejenak.
Akui keberhasilan kecil itu. Bilang
ke diri sendiri, “Nah, ini benar. Ini
yang gue mau.” Kalimat itu adalah
Directive Affirmation. Kalimatnya
sederhana, jujur, dan ada buktinya
yang baru aja lo lakuin. Otak bawah
sadar lo nggak bakal nolak.

Setelah lo ngomong gitu, luangkan
beberapa detik buat ngeresapin
gambar keberhasilan itu. Rasain
puasnya, liat di pikiran lo gerakan
yang sempurna tadi, denger
suaranya. Proses ini, kalau lo ulang
terus, bakal nanem program sukses
yang kuat banget di otak bawah
sadar lo. Dan ingat, kata Bassham,
afirmasi lo harus spesifik. Jangan
cuma bilang, “Bagus.”
Tapi bilang yang detail,
“Tadi narik pelatuknya halus banget,”
atau “Posisi kaki gue udah pas banget
kayak yang gue mau.”
Makin spesifik, makin jelas gambar
yang nempel.

Penguatan dari Orang Lain
Juga Ngaruh Banget

Prinsip ini nggak cuma berlaku
buat kata-kata lo sendiri.
Kata-kata dari orang lain, apalagi
yang lo hormati, juga punya efek
gede. Bassham ngejelasin, omongan
dari pelatih, orang tua, pasangan,
atau temen deket, pengaruhnya luar
biasa ke self-image lo. Kalau pelatih
lo kerjanya cuma teriak-teriak ngasih
tahu kesalahan lo, self-image lo
sebagai atlet jelek bakal diperkuat.
Setiap teriakan, kritik, komentar
negatif, itu program gagal yang masuk
ke otak bawah sadar lo. Mungkin
pelatihnya bermaksud baik, pikirnya
cara terbaik benerin lo adalah dengan
nunjukin salahnya. Tapi, yang
sebenernya dia lakuin adalah ngajarin
lo buat bikin lebih banyak kesalahan.

Sebaliknya, kalau pelatih lo malah
fokus ngomentarin keberhasilan lo,
self-image lo sebagai atlet bagus yang
diperkuat. Pas pelatih bilang,
“Nah, itu tembakan sempurna,”
dia lagi nanem program sukses
di otak lo. Kata-kata kayak gitu punya
kekuatan yang jauh lebih gede dari
yang disadari. Hal yang sama berlaku
buat orang tua. Bassham ngasih
contoh anak kecil yang lagi belajar
jalan. Pas dia jatuh, orang tuanya
nggak teriak,
“Kok jatuh sih! Kamu nggak bisa
jalan!”
Justru mereka senyum, tepuk
tangan, dan nyuruh anak itu bangun
lagi. Mereka secara alami nguatin
keberhasilan, bukan kegagalan.
Tapi anehnya, pas anaknya gede dan
mulai ngelakuin hal yang lebih rumit,
orang tua malah sering berubah.
Mereka malah fokus ke kesalahan
dan lupa buat nguatin keberhasilan.

Hukum Perhatian:
Yang Lo Liatin, Itu yang Gede

Di akhir bab ini, Bassham nyimpulin
dengan sebuah hukum yang simpel
tapi powerful banget. 
Apa yang
diperhatikan akan tumbuh.

Kalau lo terus-terusan merhatiin
kesalahan lo, ya kesalahan itu yang
bakal makin banyak. Kalau lo
terus-terusan merhatiin keberhasilan
lo, ya keberhasilan itu yang bakal
makin sering terjadi. Ini prinsip
di mana-mana. Seorang bos yang
doyannya ngritik, punya tim yang
isinya orang-orang penuh kesalahan.
Seorang guru yang suka nyontreng
jawaban salah pake tinta merah,
punya murid yang takut buat nyoba.
Pasangan yang isinya ngeluh mulu,
hubungannya bakal makin hancur.

Solusinya gampang, tapi butuh
disiplin. Lo harus ngelatih diri buat
selalu nyari dan merhatiin apa yang
bener, bukan apa yang salah.
Setiap kali lo ngeliat sesuatu yang
dilakuin dengan benar, berhenti
dan akui. Ucapin Directive Affirmation.
Biarin keberhasilan itu nempel. Kalau
lo lakuin ini terus-terusan, lo bakal
nyiptain tempat di mana self-image
positif bisa tumbuh dan berkembang.
Jadi, mulai sekarang, hati-hati sama
omongan lo, ya. Itu doa buat diri lo
sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *