buku

Bab 4 The Three Phases of Performance

Lanny Bassham membuka bab ini
dengan sebuah pengamatan yang
sangat tajam. Ia menyadari bahwa
banyak atlet, termasuk dirinya dulu,
melakukan kesalahan yang sama
berulang-ulang. Mereka gagal bukan
karena mereka tidak mampu. Mereka
gagal karena mereka menggunakan
pola pikir yang salah di waktu yang
salah.

Setiap penampilan, menurut
Bassham, bisa dibagi ke dalam
tiga fase yang berbeda. Ketiga fase ini
memiliki tujuan yang berbeda, dan
membutuhkan pola pikir yang
berbeda pula. Masalah terbesar yang
ia lihat adalah ketika orang
mencampuradukkan fase-fase ini.
Mereka membawa pola pikir dari
satu fase ke fase lain yang tidak cocok.
Ini seperti mencoba menggunakan
palu untuk memasang sekrup.
Alatnya tidak salah, tapi Anda
menggunakannya di tempat yang salah.

Fase 1: Training (Latihan Teknik)

Fase pertama adalah Training.
Ini adalah fase di mana Anda belajar
sesuatu yang baru atau memperbaiki
kesalahan teknik. Di fase ini, Anda
adalah seorang pelajar. Tujuan Anda
adalah untuk memahami dan
menguasai teknik dengan benar.

Di fase Training, menganalisis
kesalahan bukan hanya diperbolehkan,
tapi justru diperlukan. Anda perlu
melihat apa yang salah. Anda perlu
memahami mengapa itu salah. Anda
perlu mencari cara untuk
memperbaikinya. Anda perlu
bereksperimen dengan berbagai
pendekatan sampai Anda
menemukan yang paling efektif.

Bassham menjelaskan bahwa di fase
ini, pikiran sadar Anda sangat aktif.
Anda berpikir tentang setiap detail
gerakan.
“Apakah posisi kakiku sudah benar?”
“Apakah peganganku terlalu erat?”
“Apakah sudut tembakanku sudah
tepat?” Semua pertanyaan ini adalah
bagian normal dari proses belajar.

Pelatih sangat berperan di fase ini.
Pelatih mengamati, memberikan
umpan balik, menunjukkan
kesalahan, dan menyarankan
perbaikan. Anda menerima kritik
dan menggunakannya untuk
menjadi lebih baik.

Tapi Bassham memberi peringatan
penting. Fase Training sangat
penting, tapi ia memiliki tempat dan
waktunya sendiri. Fase ini
seharusnya dilakukan jauh sebelum
pertandingan, di lingkungan yang
tenang dan terkendali, di mana
tidak ada tekanan untuk tampil
sempurna.

Fase 2: Practice
(Latihan Pengulangan)

Fase kedua adalah Practice. Ini
berbeda dengan Training. Jika
Training adalah tentang belajar
dan memperbaiki, Practice adalah
tentang mengulangi gerakan yang
sudah benar dan menanamkannya
ke dalam pikiran bawah sadar.

Di fase Practice, Anda tidak lagi
mencari kesalahan. Anda tidak lagi
menganalisis setiap detail gerakan.
Anda sudah tahu teknik yang benar.
Sekarang tugas Anda adalah
mengulanginya, lagi dan lagi dan
lagi, sampai gerakan itu menjadi
otomatis.

Tujuan utama dari fase Practice
adalah 
menanamkan gambaran
sukses
 ke dalam pikiran bawah
sadar Anda. Setiap kali Anda
melakukan gerakan dengan benar,
Anda menciptakan rekaman sukses
di kepala Anda. Rekaman ini akan
menjadi program yang akan
dijalankan oleh tubuh Anda saat
bertanding.

Bassham menekankan bahwa di fase
Practice, Anda harus sangat disiplin.
Anda hanya boleh mengulangi
gerakan yang benar. Jika Anda mulai
lelah dan gerakan Anda mulai salah,
berhentilah. Jangan terus berlatih
dengan teknik yang buruk. Setiap
pengulangan yang salah akan
menanamkan gambaran gagal
di pikiran bawah sadar Anda. Lebih
baik berhenti dan beristirahat
daripada melatih kesalahan.

Di fase Practice, Anda juga mulai
membangun kepercayaan diri.
Setiap pengulangan yang berhasil
adalah bukti bagi pikiran bawah
sadar Anda bahwa Anda mampu.
Semakin banyak bukti yang Anda
kumpulkan, semakin kuat
keyakinan Anda.

Fase 3: Performance
(Pertandingan)

Fase ketiga adalah Performance.
Ini adalah momen yang Anda tunggu.
Ini adalah pertandingan, presentasi,
atau situasi apa pun di mana Anda
harus tampil maksimal.

Di fase Performance, aturannya
sangat berbeda. 
Pikiran harus
tenang dan percaya, tanpa
menganalisis.
 Anda tidak boleh
lagi memikirkan teknik. Anda tidak
boleh lagi mengevaluasi apakah
gerakan Anda benar atau salah.
Anda tidak boleh lagi mencoba
memperbaiki sesuatu di tengah
jalan. Semua itu adalah pekerjaan
untuk fase Training dan Practice.
Di fase Performance, pekerjaan
Anda hanyalah satu: percayalah
pada program Anda dan biarkan
tubuh Anda yang bekerja.

Bassham menjelaskan bahwa
menganalisis di fase Performance
adalah resep untuk bencana.
Ia menyebutnya sebagai
“paralysis by analysis” atau
kelumpuhan karena terlalu banyak
menganalisis. Ketika Anda mulai
berpikir tentang teknik di tengah
pertandingan, Anda memperlambat
diri sendiri. Anda menciptakan
keraguan. Anda mengganggu aliran
alami dari gerakan yang sudah terlatih.

Inilah kesalahan fatal yang dilakukan
oleh Bassham di Olimpiade 1972.
Ia membawa mental Training ke dalam
fase Performance. Di tengah
pertandingan, ia mulai menganalisis.
Ia mulai berpikir tentang tekniknya.
Ia mulai bertanya-tanya apakah ia
melakukan semuanya dengan benar.
Pikiran-pikiran ini menciptakan
keraguan, dan keraguan
menghancurkan performanya.

Masalah ini tidak hanya terjadi pada
atlet. Seorang pembicara publik yang
mulai menganalisis cara bicaranya
sendiri di atas panggung akan
kehilangan aliran alaminya. Seorang
musisi yang mulai berpikir tentang
posisi jarinya di tengah konser akan
membuat kesalahan. Seorang
pebisnis yang menganalisis setiap
kata selama negosiasi akan
kehilangan ketajamannya.

Memisahkan Fase dengan Tegas

Bassham menutup bab ini dengan
nasihat yang sangat praktis. Anda
harus memisahkan ketiga fase ini
dengan tegas. Jangan pernah
mencampurkannya.

Saat Anda berada di fase Training,
fokuslah sepenuhnya pada
pembelajaran dan perbaikan. Jangan
khawatir tentang hasil. Jangan peduli
berapa kali Anda gagal. Di sinilah
tempatnya untuk gagal dan belajar
dari kegagalan.

Saat Anda berada di fase Practice,
fokuslah sepenuhnya pada
pengulangan yang benar. Jangan
menganalisis. Jangan memperbaiki.
Jika Anda membuat kesalahan,
jangan berhenti untuk
memikirkannya. Abaikan dan
lanjutkan. Tugas Anda di sini adalah
menanamkan program yang benar.

Saat Anda berada di fase Performance,
fokuslah sepenuhnya pada
kepercayaan. Latihan sudah selesai.
Pembelajaran sudah selesai.
Sekarang waktunya untuk tampil.
Tenangkan pikiran Anda. Percayalah
pada latihan Anda. Biarkan tubuh
Anda yang mengambil alih.

Jika Anda bisa memisahkan ketiga
fase ini dengan tegas, Anda akan
terkejut melihat betapa lebih
konsistennya performa Anda.
Anda tidak lagi akan membawa beban
analisis ke dalam arena pertandingan.
Anda akan bebas untuk tampil sebaik
yang Anda bisa, tanpa gangguan dari
pikiran Anda sendiri.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Oke, guys. Kita lanjut lagi ngobrolin
buku 
With Winning in Mind.
Di Bab 4 ini, Bassham bakal
ngebedah satu kebiasaan buruk yang
sering banget bikin kita gagal total
di momen penting. Dia sadar, banyak
atlet (termasuk dirinya dulu) gagal
bukan karena nggak mampu, tapi
karena mereka salah pasang
“mode otak” di waktu yang salah.

Dia bilang, setiap penampilan itu bisa
lo bagi jadi tiga fase yang beda.
Masing-masing punya tujuan dan
butuh pola pikir yang beda. Masalah
terbesarnya adalah ketika orang
ngaco, bawa pola pikir dari satu fase
ke fase lain yang nggak cocok.
Ini kayak lo maksa pake palu buat
masang sekrup. Alatnya nggak salah,
tapi lo makenya di tempat yang salah.

Fase 1: Training (Latihan Teknik)

Fase pertama adalah Training.
Ini adalah fase di mana lo lagi belajar
sesuatu yang baru, atau lagi
ngutak-atik buat benerin kesalahan
teknik. Di sini, lo adalah seorang
murid. Tujuan lo cuma satu: paham
dan kuasai teknik dengan benar.
Di fase ini, menganalisis kesalahan
itu bukan cuma boleh, tapi WAJIB.
Lo harus ngeliat apa yang salah,
ngerti kenapa bisa salah, dan nyari
cara buat benerinnya. Lo perlu
nyoba-nyoba macem-macem
pendekatan sampe ketemu yang
paling mantap.

Bassham ngejelasin, di fase ini, otak
sadar lo lagi aktif banget. Lo mikirin
tiap detail gerakan.
“Posisi kaki gue udah bener?”
“Pegangan gue kegencetan nggak?”
“Sudutnya udah pas?”
Semua pertanyaan kayak gitu normal
banget. Pelatih juga penting di sini,
ngasih feedback, nunjukin kesalahan.
Lo nerima kritik dan pake itu buat
jadi lebih baik.

Tapi, Bassham ngasih peringatan
penting. Fase Training ini krusial,
tapi ada tempat dan waktunya
sendiri. Ini harusnya lo lakuin
jauh-jauh hari sebelum
pertandingan, di tempat yang
tenang, nggak ada tekanan buat
tampil sempurna.

Fase 2: Practice
(Latihan Pengulangan)

Nah, fase kedua ini Practice. Ini beda
banget sama Training. Kalau Training
itu belajar dan benerin, Practice
adalah tentang ngulang-ngulang
gerakan yang udah bener dan
nanemnya ke otak bawah sadar.
Di sini, lo udah nggak lagi nyari
kesalahan, nggak lagi menganalisis
tiap detail. Lo udah tahu teknik yang
bener, tugas lo sekarang cuma
ngulangin terus, lagi dan lagi, sampe
gerakan itu jadi otomatis.

Tujuan utama fase Practice adalah
nanemin gambaran sukses ke otak
bawah sadar lo. Setiap kali lo
ngelakuin gerakan dengan benar,
lo lagi bikin “rekaman sukses”
di kepala lo. Rekaman ini yang
nanti bakal dijalanin tubuh lo pas
bertanding. Di sini, lo harus super
disiplin. Lo cuma boleh ngulangin
gerakan yang bener.
Kalau lo mulai capek dan gerakan
lo mulai ngaco, BERHENTI.
Jangan terusin. Setiap pengulangan
yang salah malah bakal nanem
gambaran gagal di otak bawah
sadar lo. Lebih baik istirahat
daripada ngelatih kesalahan.

Di fase ini, lo juga mulai ngebangun
pede. Tiap pengulangan yang
berhasil adalah bukti buat otak
bawah sadar lo kalau lo mampu.
Makin banyak bukti, makin kuat
keyakinan lo.

Fase 3: Performance
(Pertandingan)

Ini dia puncaknya, fase Performance.
Momen yang lo tunggu-tunggu.
Pertandingan, presentasi, atau
situasi apa pun di mana lo harus
tampil maksimal. Di fase ini, aturan
mainnya berubah total. Pikiran lo
harus tenang dan percaya, tanpa
ada analisis sama sekali. Lo nggak
boleh lagi mikirin teknik, nggak
boleh ngecek gerakan lo bener atau
salah, dan jangan pernah coba-coba
benerin sesuatu di tengah jalan.
Itu semua kerjaan fase Training dan
Practice. Di fase Performance,
pekerjaan lo cuma satu: percaya
sama program lo, dan biarin tubuh
lo yang ngambil alih.

Bassham ngejelasin, menganalisis
di fase Performance itu resep buat
bencana. Dia nyebutnya 
paralysis
by analysis
 atau kelumpuhan karena
kebanyakan mikir. Pas lo mulai
mikirin teknik di tengah
pertandingan, lo malah ngelambatin
diri sendiri, nyiptain keraguan, dan
ngganggu gerakan alami yang udah
terlatih. Ini persis kesalahan fatal
yang Bassham lakuin di Olimpiade
1972. Dia bawa mental Training
ke fase Performance. Di tengah
pertandingan, dia malah mulai mikir,
“Ini teknik gue udah bener belum ya?”
Pikiran itu langsung nyiptain ragu,
dan keraguan langsung ngancurin
performanya.

Masalah ini nggak cuma terjadi
ke atlet. Seorang public speaker yang
tiba-tiba mikirin cara ngomongnya
di atas panggung, bakal kehilangan
aliran alaminya. Musisi yang mulai
mikirin posisi jarinya di tengah
konser, bakal banyak salah. Pebisnis
yang overthinking tiap kata pas
negosiasi, bakal kehilangan
ketajaman. Intinya, kacau semua.

Jadi, Bassham nutup bab ini dengan
nasihat yang super praktis: 
lo harus
misahin ketiga fase ini dengan
tegas. Jangan dicampur aduk.

Saat lo di fase Training, fokus total
buat belajar dan benerin. Jangan
khawatir soal hasil. Gagal?
Itu tempatnya di sini. Saat lo
di fase Practice, fokus total buat
pengulangan yang benar. Jangan
dianalisis, jangan dibenerin. Kalau
lo bikin salah, abaikan, lanjut.
Tugas lo cuma nanem program
yang benar. Saat lo di fase
Performance, fokus total buat
percaya. Latihan udah kelar, belajar
udah selesai. Sekarang waktunya
tampil. Tenangin pikiran, percaya
sama latihan lo, biarin tubuh lo yang
ambil alih.

Kalau lo bisa misahin ketiganya
dengan tegas, lo bakal kaget sendiri
ngeliat betapa lebih konsistennya
performa lo. Lo nggak bakal lagi
bawa beban mikir ke arena
pertandingan. Lo bakal bebas buat
tampil sebaik mungkin, tanpa
gangguan dari pikiran lo sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *