Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Kekayaan dan Pendapatan?
Banyak orang percaya bahwa seiring waktu,
ekonomi akan “mengoreksi diri” dan
ketimpangan akan berkurang dengan
sendirinya. Teori inilah yang pernah
dipopulerkan oleh ekonom Simon Kuznets
melalui Kurva Kuznets hipotesis bahwa
ketimpangan mengikuti pola U terbalik:
naik di awal pembangunan, lalu turun
secara otomatis ketika ekonomi maju.
Namun, Thomas Piketty menunjukkan
bahwa sejarah tidak sesederhana itu.
Dengan menggali 200+ tahun data
pajak, warisan, dan pendapatan
di Prancis, Inggris, Amerika Serikat,
Swedia, dan negara lain, Piketty
menemukan kenyataan yang lebih
kompleks: ketimpangan turun bukan
karena “hukum alam”, melainkan
karena guncangan besar (perang,
krisis, inflasi) dan pilihan politik
(pajak progresif, negara
kesejahteraan).
Rekonstruksi Data Sejak Abad ke-18
Piketty bersama timnya membangun basis
data ekonomi terbesar sepanjang sejarah,
melacak:
Catatan pajak warisan di Prancis sejak
Revolusi 1789,Arsip pendapatan Inggris dari Revolusi
Industri,Data Amerika Serikat sejak awal abad
ke-20,Data transparan pajak di Skandinavia.
Dari sinilah terlihat pola evolusi distribusi
kekayaan: tanah aristokrat, modal industri,
saham, hingga properti modern.
Pola Historis Ketimpangan Menurut
Piketty
Abad ke-19 – Ketimpangan Sangat
TinggiDi era Belle Époque (1870–1914),
10% orang terkaya Eropa
menguasai ±90% kekayaan
nasional.Kekayaan terutama berbasis tanah
dan warisan, sehingga mobilitas
sosial sangat rendah.Kondisi inilah yang digambarkan
Victor Hugo dalam Les Misérables:
jurang kaya-miskin sangat dalam.
1914–1970 – Penurunan Drastis
Dua Perang Dunia menghancurkan
modal aristokrat dan mengacaukan
sistem lama.Inflasi, nasionalisasi, dan krisis
ekonomi membuat aset elit
kehilangan nilai.Kebijakan pajak progresif dan
pembangunan welfare state
memperkecil jurang pendapatan.Hasilnya: era pasca perang
1950–1970 adalah periode relatif
paling egaliter di negara-negara maju.
1980–Sekarang – Ketimpangan Naik Lagi
Reformasi neoliberal (Reagan,
Thatcher) → pajak modal
diturunkan, regulasi dipangkas.Globalisasi memperkuat posisi
pemilik modal, sementara upah
kelas pekerja stagnan.Di AS, 1% teratas kini
menguasai lebih dari
20% pendapatan nasional,
hampir menyamai angka
sebelum Depresi Besar 1929.
Bedanya Kuznets vs Piketty
| Aspek | Kuznets Curve (Hipotesis) | Temuan Piketty (Data Historis) |
|---|---|---|
| Pola ketimpangan | U-terbalik (naik → turun otomatis) | Turun karena perang + kebijakan, lalu naik lagi |
| Mekanisme | Pertumbuhan ekonomi akan memperbaiki ketimpangan dengan sendirinya | Tidak ada hukum alam; hasil ditentukan politik & sejarah |
| Optimisme | “Jangan khawatir, seiring waktu ketimpangan akan membaik” | “Hati-hati, ketimpangan bisa kembali parah jika dibiarkan” |
| Periode utama | Data terbatas abad ke-20 awal | Database 200+ tahun lintas negara |
📌 Dengan kata lain: Piketty membantah
optimisme otomatis ala Kuznets.
Ia menunjukkan bahwa penurunan
ketimpangan abad ke-20 adalah
pengecualian, bukan aturan.
Gambaran Detail: Kurva Kuznets vs
Temuan Piketty
1. Kurva Kuznets (1950-an)
Hipotesis U-Terbalik

Hipotesis U-Terbalik
Simon Kuznets mengamati data awal
industrialisasi (AS & beberapa negara
lain) lalu mengajukan hipotesis:
Fase 1: Awal Pembangunan
→ Ketimpangan NaikKetika ekonomi agraris berubah
menjadi industri, hanya segelintir
orang (pemilik modal,
entrepreneur awal) yang
menikmati keuntungan.Petani & buruh masih tertinggal
→ jurang pendapatan melebar.
Fase 2: Ekonomi Matang
→ Ketimpangan TurunSeiring waktu, lebih banyak orang
mendapat akses ke pendidikan,
urbanisasi, teknologi, dan
pekerjaan modern.Pemerintah mulai bisa menyediakan
kebijakan sosial karena pajak
meningkat.Hasilnya: distribusi pendapatan
membaik secara alami.
📌 Bentuknya → Kurva U terbalik
(Inverted U):
Ketimpangan naik dulu, lalu turun
dengan sendirinya.
👉 Inti pandangan Kuznets: optimisme
otomatis. Ia percaya pertumbuhan
ekonomi pada akhirnya memperbaiki
ketimpangan tanpa perlu intervensi radikal.
Kuznets Curve (U-terbalik) bisa
dijelaskan dalam 3 tahap kronologis
atau 2 fase utama tergantung
cara memandangnya:
Cara 1: 3 Tahap Kronologis
(lebih detail)
Awal ekonomi miskin
→ ketimpangan rendah
(semua orang sama-sama
belum punya banyak).Ekonomi mulai tumbuh
→ ketimpangan naik
(yang punya akses modal &
pendidikan di awal akan
jauh melesat).Ekonomi matang
→ ketimpangan turun
(akses makin merata lewat
sekolah, kesehatan, pajak,
kebijakan sosial).
Cara 2: 2 Fase Utama (inti dari Kuznets)
Fase Naik = tahap 1 → tahap 2
(dari rendah ke tinggi).Fase Turun = tahap 2 → tahap 3
(dari tinggi ke rendah).
Jadi, waktu saya bilang “ada 2 fase”,
maksudnya itu adalah inti dinamika:
ketimpangan naik dulu lalu turun.
Tapi kalau dijabarkan secara sehari-hari,
memang kelihatan 3 tahap
(awal rendah → naik → turun).
⚖️ Bedanya dengan Piketty: Piketty
menunjukkan setelah tahap ke-3 itu,
ada lagi kenaikan baru sejak 1980-an,
jadi grafiknya bukan lagi U terbalik,
tapi seperti huruf N terbalik.
cerita supaya lebih mudah dipahami:
2 Fase Utama (inti dari Kuznets)
Fase 1: Awal Pembangunan
Ketimpangan Naik
Tahun 1970-an, Indonesia masih banyak desa.
Sebagian besar orang bekerja sebagai petani,
hasilnya pas-pasan.
Kemudian muncul keluarga yang punya
modal besar: mereka bisa bikin pabrik
minyak kelapa sawit atau pabrik
tekstil.
Hasilnya, pemilik pabrik jadi sangat kaya,
sementara kebanyakan petani kecil tetap
hidup seadanya.
Sebagian orang desa dapat kerja di pabrik,
tapi gajinya masih jauh dibanding
keuntungan pemilik modal.
Akibatnya, jurang kaya-miskin melebar.
Kita bisa melihat perbedaan antara
keluarga pemilik mobil mewah di kota
dengan keluarga petani desa yang masih
jalan kaki ke sawah.
Fase 2: Ekonomi Matang
Ketimpangan Turun
Masuk 1990-an ke 2000-an, banyak perubahan.
Anak-anak desa sudah mulai bisa sekolah
sampai SMA bahkan kuliah di kota.
Banyak yang dapat pekerjaan di bank,
kantor pemerintahan, atau jadi guru,
bukan hanya petani.
Pemerintah juga mulai membangun
jalan tol, listrik desa, puskesmas,
sekolah negeri.
Pajak dari perusahaan besar dipakai
untuk program pembangunan
→ manfaatnya dirasakan
masyarakat lebih luas.
Kini, meskipun masih ada orang kaya raya,
lebih banyak orang kelas menengah tumbuh.
Dulu keluarga petani hanya bisa beli sepeda,
sekarang banyak yang bisa beli motor
bahkan mobil sederhana.
Jurang kaya-miskin menyempit
dibanding awal pembangunan.
3 Tahap Kronologis (lebih detail)
1. Saat Ekonomi Masih Miskin
→ Ketimpangan Rendah
Bayangkan sebuah desa tahun 1950-an.
Hampir semua orang hidup dari sawah
kecil, hasilnya pas-pasan.
Tidak ada yang benar-benar kaya atau
benar-benar miskin, karena semua
sama-sama hidup sederhana.
Contoh:
Semua rumah masih dari kayu.
Semua orang makan singkong
atau nasi seadanya.Tidak ada yang punya mobil,
paling banter sepeda ontel.
👉 Jadi, walaupun hidupnya sulit, jurang
kaya-miskin belum terlalu terasa,
karena hampir semua orang mirip
kondisinya.
2. Saat Ekonomi Mulai Tumbuh
→ Ketimpangan Naik
Masuk 1970–1980-an, pembangunan
mulai jalan.
Ada orang desa yang punya tanah luas
bisa jual lahannya untuk proyek
→ mereka langsung jadi kaya.
Ada yang bisa buka usaha, punya toko
kelontong besar, atau pabrik kecil.
Sementara itu, banyak warga lain tetap
kerja kasar di sawah atau jadi buruh
dengan gaji kecil.
Contoh:
Satu keluarga sudah punya mobil
Kijang, rumah tembok, dan
anaknya kuliah di kota.Tetangganya masih naik sepeda,
rumahnya bambu, dan anaknya
hanya bisa sekolah sampai SD.
👉 Jurang kaya-miskin makin lebar,
karena ada yang bisa memanfaatkan
peluang, ada juga yang tertinggal.
3. Saat Ekonomi Makin Maju
→ Ketimpangan Turun
Beberapa dekade kemudian, ekonomi
makin matang.
Pemerintah sudah membangun
sekolah negeri, puskesmas,
listrik desa, jalan tol.
Anak-anak dari keluarga biasa bisa
kuliah lewat beasiswa atau pinjaman.
Kini lebih banyak orang bisa masuk
kelas menengah: punya motor,
rumah permanen, bahkan tabungan.
Pajak dari orang kaya dipakai untuk
program sosial, misalnya subsidi
kesehatan (BPJS), sekolah gratis,
dan bantuan pangan.
Contoh:
Anak petani bisa jadi guru, polisi,
atau karyawan bank.Dulu hanya segelintir yang punya
televisi, sekarang hampir semua
rumah ada TV, motor, bahkan
smartphone.
Akibatnya, ketimpangan menyempit:
tetap ada orang super kaya, tapi lebih
banyak masyarakat yang ikut naik kelas.
2. Temuan Piketty
(200+ Tahun Data Pajak)

(200+ Tahun Data Pajak)
Piketty mengumpulkan data dari abad
ke-18 hingga abad ke-21 (Prancis, Inggris,
AS, Swedia, dll.), hasilnya tidak
mendukung optimisme Kuznets.
Abad ke-19 (±1800–1914)
→ Ketimpangan Sangat TinggiEra aristokrat Eropa: 10% terkaya
menguasai ±90% kekayaan.Kekayaan berbasis tanah & warisan,
mobilitas sosial sangat rendah.Di era Belle Époque (1870–1914),
sekitar 10% orang terkaya Eropa
menguasai ±90% kekayaan
nasional. Kekayaan didominasi
oleh tanah dan warisan, sehingga
mobilitas sosial nyaris tidak ada.
Kondisi ini tergambar dalam
karya Victor Hugo Les Misérables
jurang antara kaya dan miskin
sangat dalam.
1914–1970 → Ketimpangan
Turun TajamTapi bukan karena pertumbuhan
ekonomi alami.Penurunan terjadi akibat
guncangan besar:Perang Dunia I & II
menghancurkan modal.Inflasi & krisis melemahkan
aset elit.Pajak progresif & welfare
state diciptakan.
Ketimpangan mereda
→ periode relatif egaliter.Ketimpangan menyusut tajam, tetapi
bukan karena pertumbuhan ekonomi
alami, melainkan guncangan besar:
Perang Dunia I & II menghancurkan
modal aristokrat, inflasi dan krisis
melemahkan aset elit, sementara
nasionalisasi serta kebijakan pajak
progresif dan welfare state memperkecil
jurang pendapatan. Akibatnya, periode
pasca perang 1950–1970 menjadi era
paling egaliter dalam sejarah modern
negara-negara maju.
1980–sekarang
→ Ketimpangan Naik LagiNeoliberalisme: pajak modal
dipotong, regulasi dipangkas,
globalisasi.Return on capital (r) > growth (g)
→ pemilik modal makin kaya
dibanding pekerja.AS bahkan mendekati level
ketimpangan sebelum 1929.Sejak era neoliberal (Reagan,
Thatcher), pajak modal diturunkan,
regulasi dipangkas, dan globalisasi
memperkuat posisi pemilik modal.
Upah pekerja stagnan, sementara
return on capital (r) lebih tinggi
dari pertumbuhan ekonomi (g),
membuat pemilik modal semakin
kaya. Di AS, 1% teratas kini
menguasai lebih dari 20%
pendapatan nasional mendekati
level ketimpangan sebelum
Depresi Besar 1929.
cerita supaya lebih mudah dipahami:
1. Abad ke-19 (±1800–1914):
Ketimpangan Sangat Tinggi
Bayangkan sebuah desa. Ada satu keluarga
bangsawan yang punya hampir semua
sawah, kebun, dan rumah di sana. Warga
biasa hanya bekerja di tanah mereka sebagai
buruh tani. Kalau ingin naik hidup, hampir
mustahil, karena semua tanah diwariskan
turun-temurun kepada anak bangsawan.
➡️ Seperti main monopoli, sejak awal ada
satu pemain yang sudah punya setengah
papan. Pemain lain hanya bisa numpang
lewat dan bayar sewa.
2. 1914–1970: Ketimpangan Turun
Tajam
Lalu datang dua “bencana besar” perang
dan krisis yang ibarat banjir besar
menyapu desa itu. Banyak tanah
bangsawan hancur, nilainya turun, dan
pemerintah mulai membagi sebagian
untuk pembangunan bersama. Pajak
tinggi untuk orang kaya dipakai
membangun sekolah, rumah sakit,
dan bantuan sosial.
➡️ Seperti permainan monopoli tadi:
papan tiba-tiba direset ulang. Properti
mahal hilang nilainya, bank membuat
aturan baru, dan uang lebih banyak
tersebar ke semua pemain. Hasilnya,
permainan jadi lebih seimbang.
3. 1980–Sekarang: Ketimpangan
Naik Lagi
Namun, setelah beberapa dekade, aturan
kembali berubah. Pajak untuk orang kaya
diturunkan, perdagangan jadi bebas, dan
teknologi membuat pemilik modal lebih
cepat untung. Para pekerja masih bekerja
keras, tapi gajinya tidak naik banyak.
Pemilik modal justru makin cepat kaya.
➡️ Dalam permainan monopoli modern
ini, sebagian pemain bisa pakai “kartu
khusus” yang membuat uang mereka
berlipat tanpa harus kerja keras di papan.
Akibatnya, jurang kaya-miskin mulai
melebar lagi, mirip kondisi sebelum
reset besar tadi.
Jadi menurut Piketty
→ tidak ada kurva U-terbalik
otomatis.
Ketimpangan bisa naik lagi setelah
turun, tergantung politik &
kebijakan, bukan “hukum alam
pertumbuhan ekonomi”.
cerita lagi supaya lebih mudah dipahami:
1. Abad ke-19 – Ketimpangan
Sangat Tinggi
Bayangkan sebuah kota kecil di Eropa
pada tahun 1880-an.
Ada bangsawan atau tuan tanah
yang punya 50 hektar tanah,
istana, dan kereta kuda.Sementara itu, mayoritas warga
hanya jadi buruh tani atau pekerja
kasar yang gajinya cukup untuk
makan harian.
Contoh sehari-hari:
Tuan tanah bisa hidup dari sewa
tanah tanpa kerja keras.Petani kecil harus kerja dari pagi
sampai malam, tapi tetap tidak
bisa menabung.
👉 Jurang kaya-miskin sangat
lebar, hampir tidak ada
kesempatan mobilitas sosial.
2. 1914–1970 – Penurunan Drastis
Lalu datang Perang Dunia I & II.
Banyak istana hancur, tanah disita,
nilai aset para bangsawan jatuh
karena inflasi dan krisis.Pemerintah butuh dana, jadi mereka
bikin pajak progresif: orang kaya
bayar pajak tinggi, sementara rakyat
kecil dapat manfaat dari pendidikan
gratis, kesehatan, dan jaminan
sosial.
Contoh sehari-hari:
Anak buruh pabrik bisa sekolah gratis,
lalu jadi guru atau pegawai negeri.Keluarga kaya masih tetap lebih
sejahtera, tapi tidak lagi 100x lipat
lebih kaya dari tetangganya.
👉 Hasilnya: periode 1950–1970
disebut masa “Golden Age of
Capitalism” atau Les Trente
Glorieuses (30 tahun kejayaan,
istilah di Prancis), di mana kelas
menengah tumbuh besar.
3. 1980–Sekarang
Ketimpangan Naik Lagi
Mulai 1980-an, kebijakan ekonomi berubah.
Pemerintah di AS & Inggris (Reagan
& Thatcher) memotong pajak
orang kaya, deregulasi, dan
membuka pasar global.Orang yang punya modal bisa
investasi ke seluruh dunia,
dapat keuntungan besar.Sementara buruh pabrik sering
terkena PHK karena pabrik
pindah ke negara dengan
upah murah.
Contoh sehari-hari:
Seorang miliarder bisa hidup hanya
dari bunga bank, dividen saham,
atau properti.Pekerja biasa gajinya stagnan,
harga rumah makin mahal,
dan susah menabung.Anak orang kaya bisa kuliah
di kampus elit, sementara
anak orang miskin terjerat
utang kuliah.
Jurang kaya-miskin melebar lagi,
bahkan di AS ketimpangannya mirip
sebelum Depresi Besar 1929.
Ringkas versi cerita sehari-hari ala Piketty:
Abad 19: Kaya hidup dari warisan &
tanah, miskin kerja keras tetap miskin.1914–1970: Perang & pajak
progresif meratakan kesempatan,
kelas menengah tumbuh.1980–sekarang: Orang kaya
kembali melesat karena modal &
globalisasi, sementara pekerja
biasa tertinggal.
inti yang Piketty temukan untuk periode
1980–sekarang.
Kalau diringkas:
Pemotongan Pajak Orang Kaya
Tahun 1950–1970, tarif pajak
tertinggi di AS bisa sampai
70–90% untuk orang super kaya.Setelah 1980 (era Reagan &
Thatcher), pajak ini dipotong
drastis, kadang tinggal 30–40%.Akibatnya, kekayaan orang
kaya tumbuh lebih cepat.
Globalisasi & Tax Haven
Uang bisa dengan mudah
dipindahkan ke luar negeri.Orang kaya bisa simpan aset
di Swiss, Cayman Islands,
Singapura, dsb.Artinya mereka tidak kena
pajak di negara asal.
Hak Istimewa Elite
Pejabat atau pengusaha
besar sering dapat
perlakuan khusus:Bisa nego pajak lebih
rendah.Dapat celah hukum
(loophole) untuk
mengurangi beban.Kadang malah “dilindungi”
agar tidak tersentuh aturan.
Jadi: bukan berarti mereka tidak ada
pajak sama sekali, tapi porsinya jauh
lebih kecil dibanding dulu.
Kalau dulu orang kaya bisa kena pajak
sampai 80%, sekarang sering hanya
20–30%, bahkan bisa lebih rendah
lagi kalau pakai trik legal/ilegal.
👉 Nah, inilah kenapa menurut Piketty
ketimpangan naik lagi: karena
keuntungan dari modal (r) tumbuh
lebih cepat daripada pertumbuhan
ekonomi (g), ditambah orang kaya
makin mudah melindungi kekayaannya
dari pajak.
Contoh supaya mudah dipahami:
Orang kaya bayar pajak, tapi
dengan cara yang lebih “efisien”Secara resmi, banyak negara
punya pajak progresif: makin
kaya, makin tinggi tarif pajaknya.Tapi orang kaya sering punya
akses ke akuntan, konsultan,
dan celah hukum (tax loopholes).Contoh: mereka taruh uang
di offshore (seperti Panama
Papers, Pandora Papers), atau
mengubah status aset supaya
pajaknya lebih kecil.
Pejabat atau elite tertentu bisa
dapat “hak istimewa”Di beberapa negara, pejabat
tinggi atau kroni politik kadang
bisa menghindari pajak lewat
koneksi, regulasi yang longgar,
atau bahkan korupsi.Jadi bukan berarti pajak resmi
tidak ada, tapi pelaksanaannya
sering tidak adil.
Akibatnya: beban pajak sering
lebih berat di kelas menengahBuruh, pegawai, UMKM biasanya
gajinya dipotong langsung, sulit
menghindari pajak.Sementara orang kaya bisa
“main strategi” lewat investasi,
properti, atau perusahaan
cangkang.
📌 Contoh sehari-hari:
Seorang pegawai biasa di Jakarta
gajinya Rp7 juta, otomatis
dipotong PPh.Sementara seorang konglomerat
punya 10 properti dan perusahaan,
tapi bisa atur laporan supaya bayar
pajak jauh lebih kecil secara
persentase.
👉 Jadi, benar kalau dibilang sekarang
ada kecenderungan orang kaya lebih
ringan bebannya dibanding kelas
menengah bukan karena pajak resmi
tidak ada, tapi karena mereka punya
akses dan hak istimewa untuk
“mengatur” beban itu.
contoh lagi supaya lebih paham
kasus koruptor yang menyembunyikan
uang hasil korupsi di luar negeri
(misalnya lewat rekening rahasia di tax
haven seperti Panama, Swiss, atau
Singapura) itu nyambung dengan
fenomena yang dibahas Piketty.
📌 Bedanya:
Piketty lebih fokus
ke ketimpangan legal
→ orang kaya sah secara hukum
(pengusaha, investor) bisa tetap
makin kaya karena pajak diturunkan,
aturan dilonggarkan, dan modal bisa
bergerak bebas ke seluruh dunia.Kasus koruptor → ini contoh ilegal,
tapi efeknya mirip: uang besar “lari”
ke luar negeri, negara kehilangan pajak,
dan ketimpangan makin parah.
Jadi benar, praktik korupsi + offshore hiding
itu bagian dari fenomena ketimpangan
modern (1980–sekarang), walaupun
Piketty biasanya bicara soal mekanisme legal
(pajak rendah, tax avoidance), bukan
kriminal murni.
3. Ringkasan Perbandingan
| Aspek | Kuznets Curve (Hipotesis) | Piketty (Data Historis) |
|---|---|---|
| Bentuk Pola | U-terbalik (naik → turun otomatis) | Bukan U, tapi siklus: naik → turun (karena perang & pajak) → naik lagi |
| Penyebab Turun | Pertumbuhan ekonomi alami, urbanisasi, pendidikan | Guncangan sejarah (perang, inflasi) + kebijakan politik (pajak progresif, welfare state) |
| Periode Data | Data terbatas (AS, awal industrialisasi abad 20) | 200+ tahun, lintas negara (Eropa, AS, Skandinavia) |
| Pesan Utama | Optimisme otomatis: “ketimpangan akan membaik seiring waktu” | Pesimisme realistis: “ketimpangan bisa memburuk kembali tanpa intervensi” |
| Relevansi Hari Ini | Tidak menjelaskan kenaikan ketimpangan sejak 1980 | Menjelaskan lonjakan ketimpangan era modern (neoliberalisme, globalisasi) |
Eropa vs Amerika
Eropa Barat: sebagian berhasil
menahan ketimpangan lewat
jaminan sosial, kesehatan
universal, dan pajak progresif.Amerika Serikat: ketimpangan
melonjak lebih cepat karena pajak
rendah untuk kaya, biaya
pendidikan/ kesehatan tinggi, dan
warisan makin menentukan.
Refleksi untuk Kita Hari Ini
Data sejarah mengajarkan:
Ketimpangan bukan takdir,
tapi pilihan politik.Jika pajak warisan dihapus,
pendidikan mahal, dan modal
lebih diistimewakan daripada
tenaga kerja, sejarah abad
ke-19 bisa terulang.“Kemajuan” tidak otomatis berarti
lebih adil ketidakadilan bisa
berulang dalam siklus.
Seperti kata Piketty: “Sejarah distribusi
kekayaan adalah sejarah politik.”
Kesimpulan
Bab Data Sejarah dalam buku Piketty
menunjukkan bahwa ketimpangan:
Sangat tinggi di abad ke-19,
Turun drastis karena perang
& kebijakan abad ke-20,Naik lagi sejak 1980-an.
Dan yang terpenting: penurunan
ketimpangan bukan hukum
alam (bukan Kurva Kuznets),
melainkan hasil guncangan
besar + pilihan politik.
