buku

Apakah Kita Hidup di Era Balzac dan Austen Lagi?

Warisan yang Bangkit Lagi

Thomas Piketty, dalam bukunya Capital
in the 21st Century
, memperingatkan
bahwa dunia modern sedang bergerak
kembali ke pola lama: warisan
kembali menentukan masa
depan seseorang
.

Jika pada abad ke-20 nasib ekonomi
seseorang lebih dipengaruhi pendidikan,
kerja keras, dan kesempatan (karena
pertumbuhan ekonomi cepat dan
redistribusi negara lewat pajak
progresif), maka di abad ke-21 kita
kembali ke zaman di mana “siapa
orang tuamu” lebih penting
daripada “apa yang kamu
lakukan.”

Untuk menggambarkan ini, Piketty
memakai metafora era Balzac dan
Austen
dua sastrawan besar Eropa
abad ke-19 yang novelnya memotret
dunia tempat warisan, pernikahan,
dan status keluarga menjadi penentu
utama kehidupan ekonomi.

Era Balzac: Dunia yang Penuh
Intrik Warisan

Honoré de Balzac (1799–1850) adalah
novelis Prancis yang menulis karya besar
berjudul La Comédie Humaine. Balzac
menggambarkan masyarakat Prancis
pasca-Revolusi, di mana kaum
bangsawan lama masih memegang tanah,
sementara kaum borjuis baru mencoba
naik kelas lewat uang.

  • Tema utama Balzac: nasib
    ekonomi tokoh ditentukan bukan
    oleh kerja keras, melainkan
    warisan, hubungan keluarga,
    atau pernikahan dengan
    orang kaya.

  • Banyak tokohnya yang ambisius
    sadar bahwa bekerja keras saja
    tidak akan cukup. Strategi paling
    “rasional” justru adalah menikahi
    pewaris kaya atau merebut bagian
    dari warisan keluarga.

👉 Dalam novel Le Père Goriot (1835),
misalnya, tokoh Rastignac digambarkan
sadar bahwa untuk sukses di Paris, ia
harus masuk lingkaran sosial kaya raya.
Uang bukan hasil kerja, melainkan
akses ke keluarga dan warisan.

Bagi Piketty, dunia Balzac adalah
simbol “kapitalisme patrimonial”
:
masa depan ditentukan oleh kekayaan
turun-temurun.

Era Austen: Perkawinan
sebagai Jalan Menuju
Kekayaan

Jane Austen (1775–1817), novelis
Inggris, menulis karya seperti Pride
and Prejudice
, Sense and Sensibility,
dan Emma.
Karya-karya Austen menggambarkan
Inggris awal abad ke-19, masa
di mana hak kepemilikan tanah dan
kekayaan diwariskan turun-temurun
melalui sistem primogeniture (anak
laki-laki sulung mewarisi seluruh
tanah).

  • Tema utama Austen: terutama
    bagi perempuan, masa depan
    finansial sangat tergantung
    pada perkawinan dengan
    pria kaya.

  • Pendidikan dan kerja keras hampir
    tidak relevan. Seorang gadis bisa
    pintar, berbudi luhur, dan cantik,
    tetapi jika ia tidak menikah dengan
    pewaris tanah atau pria kaya, ia
    akan hidup dalam keterbatasan.

👉 Dalam Pride and Prejudice, Elizabeth
Bennet dan keluarganya menghadapi
masalah besar: karena harta keluarga
hanya bisa diwariskan ke sepupu laki-laki,
nasib anak perempuan ditentukan oleh
siapa yang mereka nikahi.

Bagi Piketty, dunia Austen adalah
metafora
: status sosial diwariskan,
kekayaan terkonsentrasi, dan
perkawinan menjadi mekanisme
utama distribusi kekayaan.

Mengapa Warisan Bangkit Lagi
di Abad ke-21?

Menurut Piketty, kita kini melihat
kebangkitan pola warisan mirip
abad ke-19. Alasannya:

  1. Return on Capital
    > Pertumbuhan
    Ekonomi (r > g)

    • Modal (aset, properti, saham)
      tumbuh lebih cepat daripada
      pertumbuhan ekonomi.

    • Artinya, orang yang sudah
      kaya akan semakin kaya
      hanya dengan menunggu,
      sementara pekerja hanya
      bisa mengandalkan gaji
      yang stagnan.

  2. Pertumbuhan Ekonomi
    Melambat

    • Abad ke-20
      (khususnya 1945–1970) adalah
      masa “30 tahun emas” dengan
      pertumbuhan tinggi.

    • Di era modern, pertumbuhan
      jauh lebih rendah (1–2% per
      tahun), sehingga upah dari
      kerja tidak bisa mengejar
      laju pertumbuhan modal.

  3. Pajak Warisan Melemah

    • Pajak progresif tinggi
      pasca-Perang Dunia II
      berhasil menekan dominasi
      warisan.

    • Namun sejak 1980-an, pajak
      warisan dan pajak kekayaan
      diturunkan, sehingga
      kekayaan lebih mudah
      diwariskan tanpa
      berkurang banyak.

    • Contoh:
      Bayangan Sehari-hari:
      Dulu (1945–1970-an)

      Bayangkan ada keluarga
      super kaya yang punya
      hotel besar di kota.

      • Tahun 1950-an, sang
        ayah meninggal dan
        meninggalkan hotel
        itu untuk anaknya.

      • Tapi pemerintah punya
        pajak warisan tinggi
        (bisa 70–80%)
        .

      • Artinya, si anak harus
        membayar pajak dalam
        jumlah sangat besar
        ke negara untuk bisa
        mewarisi hotel itu.

      • Kadang, dia harus
        menjual sebagian
        saham hotel atau
        aset lain agar bisa
        bayar pajak.

      👉 Hasilnya:

      • Negara dapat dana
        besar
        untuk membangun
        sekolah, rumah sakit,
        jalan raya.

      • Warisan tidak
        sepenuhnya utuh

        berpindah dari ayah
        ke anak. Sebagian
        kembali ke masyarakat
        lewat pajak.

      • Jurang kaya-miskin
        mengecil
        karena si kaya
        tidak bisa mempertahankan
        seluruh hartanya hanya
        dengan mewarisi.

      Bayangan Sehari-hari:
      Sekarang (1980–sekarang)

      Sekarang bayangkan situasi
      yang sama:

      • Tahun 2020, sang ayah
        meninggal dan
        meninggalkan hotel
        senilai ratusan miliar
        rupiah.

      • Pajak warisan sudah
        turun drastis (misalnya
        hanya 10% atau bahkan
        ada celah hukum untuk
        menghindarinya).

      • Si anak bisa mewarisi
        hotel itu hampir utuh,
        tanpa harus menjual
        bagian besar untuk
        bayar pajak.

      👉 Hasilnya:

      • Keluarga kaya tetap
        kaya lintas generasi.
        Hotel tetap milik
        keluarga, nilai aset naik
        dari tahun ke tahun.

      • Negara kehilangan
        sumber dana besar
        ,
        sehingga harus mencari
        pajak dari kelas
        menengah (misalnya PPN,
        pajak penghasilan pegawai).

      • Jurang kaya-miskin
        melebar
        karena keluarga
        kaya bisa mempertahankan
        dan menumbuhkan aset,
        sementara keluarga biasa
        tidak punya warisan berarti.

      Contoh supaya lebih mudah
      dipahami:

      • Dulu: Warisan itu seperti
        kue besar. Sebelum diberikan
        ke anak, negara memotong
        sebagian besar kuenya untuk
        dibagi ke masyarakat.

      • Sekarang: Negara hanya
        memotong sedikit atau bahkan
        membiarkan kue itu utuh.
        Anak pewaris bisa makan kue
        penuh, sementara tetangga
        yang tidak punya warisan tetap
        hanya makan roti tipis hasil
        kerja kerasnya sendiri.

  4. Harga Aset Meledak

    • Properti di kota besar, saham
      perusahaan teknologi, karya
      seni semua nilainya melonjak.

    • Mereka yang sudah punya aset
      sejak awal menjadi pemenang
      besar.

  5. Stabilisasi Kekayaan
    di Era Damai

Setelah 1970-an, perang besar sudah
tidak ada lagi. Aset tidak lagi hancur,
kekayaan keluarga bisa bertahan dan
berkembang.

Apakah Kita Hidup di Era Balzac
dan Austen Lagi?

Jika melihat data Piketty:

  • Di Prancis abad ke-19, 20–25%
    pendapatan nasional berasal
    dari warisan.

  • Tahun 1970, angka itu turun
    jadi sekitar 5%.

  • Tahun 2010, naik lagi ke 15%
    dan terus meningkat.

Artinya, kita makin dekat dengan
dunia di mana warisan kembali
menjadi faktor utama.

Bagi seorang anak kelas menengah,
pendidikan tinggi dan kerja keras
tidak lagi menjamin naik kelas.
Sebaliknya, seorang anak yang lahir
dari keluarga kaya sudah unggul
sejak awal akses pendidikan terbaik,
jaringan sosial, modal usaha, hingga
warisan nyata di masa depan.

👉 Inilah yang dimaksud Piketty:
dunia kita makin mirip dunia
Balzac dan Austen
, di mana
masa depan ekonomi lebih
ditentukan oleh warisan, bukan
meritokrasi.

Kesimpulan: Kapitalisme
Patrimonial Abad ke-21

  • Dunia modern memang lebih
    demokratis, lebih terbuka, dan
    lebih terdidik daripada abad
    ke-19.

  • Namun, dalam hal distribusi
    kekayaan, kita mengalami
    “déjà vu”: warisan
    kembali dominan.

  • Novel-novel Balzac dan Austen
    yang dulu terasa seperti sejarah,
    kini bisa dibaca sebagai cermin
    masa kini: warisan, keluarga,
    dan perkawinan masih (atau
    kembali) memainkan peran
    besar dalam menentukan
    siapa yang kaya dan siapa
    yang miskin.

Thomas Piketty menyebut ini sebagai
ancaman besar bagi meritokrasi dan
demokrasi modern. Jika tren ini
dibiarkan, kita berisiko kembali hidup
dalam “kapitalisme patrimonial”
ekonomi yang berwarna biru
darah, diwariskan turun-temurun,
bukan dibangun dengan usaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *