buku

Buku George Lucas Brian Jay Jones, Modesto

George LucasBrian Jay Jones
George Lucas
Brian Jay Jones

Sahabat, kali ini kita akan menyelami
kisah hidup salah satu tokoh paling
berpengaruh dalam sejarah perfilman.
Buku 
George Lucas: A Life karya
Brian Jay Jones bukan sekadar
biografi. Ia adalah potret seorang
pemimpi keras kepala yang mengubah
cara dunia bercerita, menciptakan
mitologi modern, dan membangun
kerajaan dari visi yang hampir semua
orang anggap mustahil. Mari kita
mulai dari Prolog dan Bagian Satu.

PROLOG: The Star Wars

Tanggal 25 Mei 1977. Di Chinese
Theatre, Hollywood, sebuah antrean
mengular di trotoar. Orang-orang
rela menunggu berjam-jam untuk
masuk ke pemutaran sebuah film fiksi
ilmiah yang tidak ada yang yakin akan
berhasil. Film itu berjudul 
Star Wars.

George Lucas tidak berada di sana.
Ia tidak berdiri di karpet merah, tidak
menyaksikan sorak-sorai penonton,
tidak membaca ulasan pertama
di koran pagi. Ia sedang berada
di Hawaii, berlibur bersama Steven
Spielberg. Lucas memutuskan untuk
pergi karena ia yakin filmnya akan
gagal. Ia sudah begitu lelah, begitu
terkuras, begitu dihantam oleh
proses produksi yang nyaris
membunuhnya, sehingga ia tidak
sanggup menghadapi kenyataan
bahwa film yang ia perjuangkan
bertahun-tahun mungkin akan
ditertawakan dan dilupakan
dalam seminggu.

Di Hawaii, ia dan Spielberg sedang
duduk di pantai, membahas proyek
masa depan. Di situlah benih
Raiders of the Lost Ark pertama kali
ditanam. Lucas, yang saat itu belum
tahu bahwa hidupnya baru saja
berubah selamanya, lebih tertarik
membicarakan ide-ide baru daripada
mencemaskan nasib filmnya.

Sementara itu, di Los Angeles, sesuatu
yang belum pernah terjadi sebelumnya
sedang berlangsung. Penonton yang
keluar dari Chinese Theatre tidak
berjalan pulang dengan biasa. Mereka
berteriak, mereka bersorak, mereka
langsung mengantre lagi untuk
menontonnya sekali lagi. Berita tentang
film aneh dengan robot, pedang cahaya,
dan seorang pahlawan muda dari planet
gurun menyebar seperti api.
Dalam hitungan hari, 
Star Wars bukan
lagi sekadar film. Ia adalah fenomena
global yang akan mengubah industri
hiburan selamanya.

Ketika telepon di kamar hotelnya mulai
berdering tanpa henti, Lucas akhirnya
menyadari apa yang telah terjadi.
Kelegaan dan ketidaksiapan bercampur
menjadi satu. Ia telah menciptakan
sesuatu yang jauh lebih besar dari
dirinya sendiri, dan ia sama sekali
tidak siap menghadapi konsekuensinya.
Prolog ini adalah potret seorang pria
yang berdiri di ambang antara kerja
keras yang melelahkan dan ketenaran
yang mencengangkan, antara mimpi
yang akhirnya terwujud dan beban
yang baru saja dimulai.

BAGIAN SATU: The Making
of a Filmmaker

Bab 1 – Modesto

George Lucas lahir dan dibesarkan
di Modesto, sebuah kota kecil
di California yang dikelilingi oleh
ladang persik dan jalanan lurus yang
sepi. Ayahnya, George Lucas Sr.,
adalah pemilik toko alat tulis. Ia pria
konservatif, keras kepala, dan percaya
bahwa hidup yang baik adalah hidup
yang dijalani dengan kerja nyata,
bukan dengan mengejar mimpi.
Tokonya adalah dunianya, dan ia
berharap putranya kelak akan
mewarisi dan menjalankan bisnis
keluarga itu.

George kecil tidak seperti yang
diharapkan ayahnya. Ia bertubuh
mungil, pendiam, dan cenderung
menyendiri. Ia tidak tertarik pada
bisnis alat tulis. Ia mencintai komik,
acara televisi, dan yang paling utama,
mobil balap. Di jalanan lurus Modesto
yang sepi, ia menemukan kebebasan.
Ia mulai mengikuti balapan liar,
memacu mobilnya di malam hari
bersama teman-temannya.
Kecepatan memberinya sesuatu yang
tidak bisa diberikan oleh dunia lain:
rasa hidup yang sesungguhnya.

Obsesi ini nyaris merenggut nyawanya.
Tepat sebelum kelulusan SMA, Lucas
mengalami kecelakaan dahsyat.
Mobilnya terguling, dan ia terlempar
keluar. Ia terbaring di rumah sakit
dengan luka parah, berjuang antara
hidup dan mati. Masa pemulihan
berlangsung panjang dan menyakitkan.
Di ranjang rumah sakit, dengan tubuh
yang hancur dan waktu yang tiba-tiba
melimpah, Lucas merenung. Balapan
liar tidak akan memberinya masa
depan. Ia harus menemukan jalan lain.
Kecelakaan itu menutup satu pintu
dengan keras, tetapi membuka pintu
lain yang tidak pernah ia bayangkan
sebelumnya.

Bab 2 – USC

Setelah pulih, Lucas mendaftar
di University of Southern California,
salah satu dari sedikit universitas
di Amerika yang memiliki sekolah
film. Di sinilah hidupnya menemukan
arah yang sebenarnya. Ia terpapar
pada film dokumenter, animasi, dan
sinema avant-garde, genre-genre yang
jauh dari arus utama Hollywood.
Dunia gambar bergerak membuka
matanya pada
kemungkinan-kemungkinan yang
tidak terbatas.

Bakat visualnya langsung menonjol.
Film pendeknya, 
Electronic Labyrinth:
THX 1138 4EB
, memenangkan festival
nasional dan menempatkan namanya
di radar para pemburu bakat. Di USC,
ia juga bertemu dengan seorang editor
berbakat bernama Marcia Griffin.
Marcia adalah kebalikannya: hangat,
terbuka, dan tegas. Mereka jatuh cinta,
dan Marcia kelak akan menjadi istrinya,
sekaligus orang yang menyelamatkan
film-filmnya di ruang editing ketika
segalanya tampak berantakan. Di USC,
reputasi Lucas mulai terbentuk:
ia adalah perfeksionis pendiam yang
tidak banyak bicara, tetapi ketika ia
menunjukkan hasil kerjanya, semua
orang terdiam.

Bab 3 – The Film School
Generation

Setelah USC, Lucas mendapat
kesempatan magang di Warner
Bros. Di sinilah ia bertemu dengan
pria yang akan menjadi mentornya,
mitranya, dan kadang-kadang,
bebannya: Francis Ford Coppola.
Coppola adalah kebalikan dari Lucas.
Ia besar, karismatik, ambisius, dan
suka bicara. Lucas adalah pendiam,
skeptis terhadap otoritas, dan lebih
suka bekerja di balik layar. Namun
keduanya memiliki kesamaan yang
mendasar: kebencian terhadap sistem
studio Hollywood yang kaku dan
mimpi untuk membuat film di luar
kendali para eksekutif.

Bersama-sama, mereka mendirikan
American Zoetrope, sebuah
perusahaan produksi yang bermarkas
di San Francisco, jauh dari pusat
kekuasaan Hollywood. Mimpi mereka
adalah menciptakan tempat di mana
para pembuat film bisa berkarya
dengan kebebasan penuh, tanpa
campur tangan studio. Zoetrope
menjadi tempat perlindungan bagi
para pemberontak kreatif, dan Lucas
adalah salah satu arsitek utamanya.
Persahabatan dengan Coppola
memberinya keberanian untuk
percaya bahwa ia bisa membuat film
dengan caranya sendiri, meskipun
seluruh industri mengatakan
sebaliknya.

Bab 4 – THX 1138

Film fitur pertama Lucas, THX 1138,
lahir dari pengembangan film
pendeknya di USC. Film ini adalah
distopia steril tentang masyarakat
masa depan di mana emosi dilarang
dan manusia hanyalah nomor.
Proses produksinya penuh penderitaan.
Anggaran terbatas, studio Warner Bros.
memaksakan sensor dan perubahan,
dan ketika filmnya akhirnya dirilis,
penonton tidak datang. 
THX 1138
gagal secara komersial. Lucas hancur.

Namun, dari kegagalan ini, ia belajar
sesuatu yang sangat berharga. Ia belajar
bahwa sistem studio tidak akan pernah
memberinya kebebasan yang ia inginkan.
Ia juga belajar bahwa estetika visualnya,
dunia yang bersih, dingin, dan penuh
keterasingan, memiliki kekuatan yang
unik. 
THX 1138 adalah fondasi dari
segala sesuatu yang akan ia bangun
kemudian: dunia-dunia yang sepenuhnya
orisinal, yang tidak terikat oleh aturan
realisme Hollywood. Kegagalan ini juga
memberinya pelajaran pahit tentang
campur tangan eksekutif, pelajaran
yang tidak akan pernah ia lupakan.

Bab 5 – American Graffiti

Setelah kegagalan THX 1138, Coppola
memberi Lucas saran yang
menyelamatkan kariernya: buatlah
sesuatu yang hangat dan lucu, sesuatu
yang personal. Lucas kembali
ke Modesto, ke masa remajanya,
ke malam-malam balapan liar dan
perpisahan sebelum dewasa.
Ia menulis naskah semi-autobiografis
tentang sekelompok remaja pada
malam terakhir musim panas tahun
1962, sebelum mereka berangkat
kuliah dan meninggalkan dunia
kanak-kanak selamanya.

Universal meremehkan film ini.
Mereka tidak melihat potensi dalam
cerita tentang mobil, musik rock and
roll, dan anak-anak muda yang hanya
berkeliaran sepanjang malam. Tetapi
ketika pemutaran uji coba dilakukan,
reaksi penonton sangat fenomenal.
Orang-orang tertawa, menangis, dan
bersorak. 
American Graffiti menjadi
blockbuster tak terduga. Lucas meraih
kekayaan dan nominasi Oscar.
Ia akhirnya diakui. Tetapi di balik
kesuksesan ini, ia semakin muak
dengan studio yang terus-menerus
mencoba merusak visinya. 
American
Graffiti
 memberinya uang, tetapi
lebih penting lagi, ia memberinya
tekad: lain kali, ia akan memegang
kendali penuh.

Bab 6 – The Star Wars Treatment

Dengan reputasi barunya, Lucas mulai
mengerjakan proyek yang sudah lama
menghantuinya. Ia ingin membuat
petualangan antariksa yang
menggabungkan mitologi kuno,
serial 
Flash Gordon masa kecilnya,
dan film-film samurai Akira Kurosawa.
Ia mulai menulis. Naskahnya
berkali-kali ditolak studio. Terlalu
aneh. Terlalu rumit. Siapa yang mau
menonton kisah tentang ksatria ruang
angkasa dengan pedang cahaya?

Lucas menuangkan gagasannya dalam
sebuah treatment berjudul 
The Star
Wars
. Di dalamnya, ia mulai
membangun dunia yang luas:
Republik Galaksi, Kekaisaran yang
jahat, ordo ksatria yang disebut Jedi,
dan sebuah kekuatan misterius yang
mengalir di seluruh alam semesta
yang ia sebut “The Force”. Ia juga
menciptakan karakter-karakter yang
belum sepenuhnya terbentuk:
seorang pangeran muda, seorang
jenderal tua, seorang putri yang
dikejar-kejar. Tetapi ia kesulitan
menuangkan dialog dan struktur.
Naskahnya masih mentah. Visinya
masih kabur. Namun, intinya sudah
ada: sebuah mitologi modern untuk
generasi yang kehilangan mitos.

Bab 7 – Fox

Di tengah penolakan demi penolakan,
seorang pria di 20th Century Fox
melihat sesuatu yang tidak dilihat
orang lain. Alan Ladd Jr., kepala
produksi Fox, tidak sepenuhnya
memahami visi Lucas, tetapi ia
memercayai pembuat film di balik
American Graffiti.
Ia mempertaruhkan kariernya sendiri
untuk menyetujui pembiayaan 
Star
Wars
.

Pra-produksi di Inggris dipenuhi
masalah. Desain makhluk asing tidak
berfungsi. Efek khusus yang
dibutuhkan hampir mustahil dicapai
dengan teknologi saat itu. Studio
tidak paham apa yang Lucas coba
lakukan. Untuk menyelamatkan
proyeknya, Lucas merekrut Ralph
McQuarrie, seorang ilustrator yang
mampu menerjemahkan visinya
ke dalam gambar. Lukisan-lukisan
McQuarrie tentang dua robot
di padang pasir, tentang seorang
ksatria berbaju hitam, tentang
pertempuran di luar angkasa, menjadi
kunci untuk meyakinkan kru dan
studio. Sementara itu, Lucas terus
merevisi naskahnya, bahkan hingga
hari syuting dimulai.

Bab 8 – The Star Wars
Phenomenon

Syuting di Tunisia dan Elstree Studios
berubah menjadi mimpi buruk.
Cuaca ekstrem di padang pasir
merusak peralatan. Robot-robot tidak
berfungsi. Para aktor, termasuk Alec
Guinness yang legendaris, skeptis
terhadap dialog dan cerita yang
tampak kekanak-kanakan. Lucas
bekerja tanpa henti, tidur hampir
tidak ada, dan pulang ke Amerika
dengan kelelahan fisik yang parah
serta tekanan darah tinggi.

Proses editing adalah kekacauan.
Potongan pertama film ini lambat dan
tidak menggugah. Di sinilah Marcia
Lucas memainkan perannya yang
paling penting. Ia, bersama tim editing,
mengencangkan ritme, memotong
adegan-adegan yang tidak perlu, dan
memberi struktur emosional yang
membuat film ini bernapas.
Tanpa sentuhannya, 
Star Wars
mungkin tidak akan pernah menjadi
fenomena.

Film ini dirilis hanya di sedikit layar.
Fox tidak yakin. Lucas tidak yakin.
Tetapi penonton langsung tahu.
Star Wars meledak. Antrean mengular
di mana-mana. Berita menyebar.
Lucas, yang memiliki hak atas
merchandise dan sekuel karena ia
dengan cerdik menegosiasikannya
sebagai ganti kenaikan gaji, tiba-tiba
menjadi jutawan mandiri. Ia tidak lagi
harus tunduk pada studio. Ia bebas.
Dan dunia tidak akan pernah sama lagi.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Gaes, kita lanjut lagi ngobrolin
perjalanan hidup si maestro di balik
Star Wars. Brian Jay Jones di buku
George Lucas: A Life ini nggak cuma
cerita soal kesuksesan, tapi juga
gimana George kecil yang keras kepala
dan suka balapan liar bisa ngebangun
kerajaan dari mimpi yang sempet
dianggep mustahil. Yuk, kita lanjutin
petualangannya!

Bab 1: Modesto, Si Anak Toko
yang Justru Jatuh Cinta Sama
Kecepatan

George Lucas lahir dan gede
di Modesto, kota kecil di California
yang isinya ladang persik. Bapaknya,
George Lucas Sr., punya toko alat tulis.
Tipenya pria konservatif, keras kepala,
dan percaya hidup yang baik itu ya
kerja nyata, bukan ngejar mimpi.
Dia berharap George kecil bakal
nerusin toko keluarga.

Tapi, sejak kecil George udah nunjukin
gelagat beda. Badannya mungil,
pendiem, dan lebih suka menyendiri.
Dia nggak tertarik sama bisnis alat tulis.
Dia malah tergila-gila sama komik,
acara TV, dan yang paling utama:
mobil balap. Di jalanan lurus
Modesto yang sepi, dia nemuin
kebebasan. Dia ikut balapan liar,
ngebut malem-malem, dan ngerasa
hidup cuma pas lagi ngegas. Kecepatan
ngasih dia sesuatu yang nggak bisa
dikasih dunia lain.

Obsesi ini nyaris bikin dia mati. Tepat
sebelum lulus SMA, Lucas ngalamin
kecelakaan gila. Mobilnya keguling,
dia kelempar keluar. Dia masuk rumah
sakit dengan luka parah. Di ranjang,
dengan badan hancur dan waktu yang
tiba-tiba banyak, dia merenung.
Balapan liar nggak bakal ngasih masa
depan. Kecelakaan itu nutup satu pintu
dengan keras, tapi ngebuka pintu lain
yang nggak pernah dia bayangin.

Bab 2: USC, Si Pendiem yang
Bikin Semua Orang Terdiam

Setelah pulih, Lucas daftar
di University of Southern California
(USC), salah satu kampus langka yang
punya sekolah film. Di sinilah
hidupnya nemu arah beneran.
Dia terpapar film dokumenter,
animasi, sinema avant-garde, jauh
dari arus utama Hollywood. Dunia
gambar bergerak bikin matanya
kebuka.

Bakat visualnya langsung nyolok.
Film pendeknya, 
Electronic
Labyrinth: THX 1138 4EB
, menang
festival nasional dan bikin namanya
dilirik. Di USC juga dia ketemu
Marcia Griffin, editor berbakat
yang hangat dan tegas, kebalikan
dari dia. Mereka jatuh cinta, dan
Marcia kelak jadi istrinya, sekaligus
orang yang nyelamatin film-filmnya
di ruang editing pas semua
berantakan. Di sini reputasi Lucas
mulai kebentuk: dia perfeksionis
pendiem yang nggak banyak
ngomong, tapi begitu nunjukin hasil
kerjanya, semua orang diem terpana.

Bab 3: Generasi Sekolah Film,
Bersekutu dengan Si Mulut
Besar

Setelah USC, Lucas dapet kesempatan
magang di Warner Bros. Di sinilah
dia ketemu pria yang bakal jadi
mentornya: 
Francis Ford Coppola.
 Coppola ini kebalikan total dari
Lucas. Gede, karismatik, ambisius,
dan mulutnya gede. Lucas mah
pendiem, skeptis sama otoritas, dan
lebih suka kerja di balik layar. Tapi
dua-duanya punya kesamaan
mendasar: benci sama sistem studio
Hollywood yang kaku dan pengen
bikin film di luar kendali para
eksekutif.

Mereka berdua lantas mendirikan
American Zoetrope, rumah
produksi di San Francisco, jauh dari
pusat kekuasaan Hollywood. Mimpi
mereka adalah bikin tempat di mana
pembuat film bisa berkarya bebas,
tanpa dicampurin studio. Zoetrope
jadi markas para pemberontak
kreatif, dan Lucas adalah salah satu
arsitek utamanya. Persahabatan sama
Coppola ngasih dia keberanian buat
percaya diri bikin film dengan
caranya sendiri, walau seluruh
industri ngomong enggak.

Bab 4: THX 1138, Kegagalan
Pertama yang Paling Berharga

Film fitur pertama Lucas, THX 1138,
adalah pengembangan dari film
pendeknya di USC. Ceritanya distopia
steril, masa depan di mana emosi
dilarang. Proses produksinya?
Penuh penderitaan. Anggaran minim,
Warner Bros. maksa sensor dan ubah
ini-itu, dan pas rilis?
Penonton nggak dateng. Film ini gagal
total secara komersial. Lucas hancur.

Tapi dari kegagalan ini, dia belajar
banyak. Dia sadar sistem studio
nggak bakal ngasih dia kebebasan.
Dia juga sadar estetika visualnya,
dunia yang bersih, dingin, penuh
keterasingan, punya kekuatan unik.
THX 1138 adalah fondasi dari semua
yang bakal dia bangun: dunia yang
sepenuhnya orisinal. Kegagalan ini
juga ngasih dia pelajaran pahit soal
campur tangan eksekutif, yang
nggak bakal dia lupain.

Bab 5: American Graffiti, Balik
ke Masa Lalu, Meledak di Masa
Kini

Setelah THX 1138 jeblok, Coppola
ngasih saran yang nyelamatin
karirnya: “Bikin aja yang hangat dan
lucu, sesuatu yang personal.”
Lucas pun balik ke Modesto, ke masa
remajanya, ke malem-malem balapan
dan perpisahan sebelum dewasa.
Dia nulis naskah semi-autobiografis
tentang anak-anak muda di malem
terakhir musim panas 1962.

Universal ngremehin. Mereka nggak
ngeliat potensi di cerita soal mobil,
musik rock and roll, dan anak muda
yang cuma keluyuran semaleman.
Tapi pas uji coba, penonton histeris!
American Graffiti jadi blockbuster
tak terduga. Lucas akhirnya diakuin,
dapet duit, dan nominasi Oscar. Tapi
di balik itu, dia makin muak sama
studio yang terus nyoba ngerusak
visinya. 
American Graffiti ngasih dia
duit, tapi lebih penting, ngasih dia
tekad: lain kali, dia yang bakal
megang kendali penuh!

Bab 6: The Star Wars Treatment,
Meramu Mitologi dari Barang
Rongsokan

Dengan reputasi barunya, Lucas mulai
ngerjain proyek yang udah lama
menghantui pikirannya. Dia pengen
bikin petualangan antariksa yang
nyampurin mitologi kuno, serial 
Flash
Gordon
 masa kecilnya, dan film
samurai Akira Kurosawa. Dia mulai
nulis. Naskahnya ditolak berkali-kali.
“Terlalu aneh, terlalu rumit. Siapa
yang mau nonton ksatria ruang
angkasa dengan pedang cahaya?”

Lucas tuangin gagasannya dalam
treatment berjudul 
The Star Wars.
Di dalemnya, dia mulai ngebangun
dunia luas: Republik Galaksi,
Kekaisaran jahat, ordo Jedi, dan
“The Force”. Dia juga bikin karakter
yang masih mentah. Visinya masih
buram, tapi intinya udah ada:
sebuah mitologi modern.

Bab 7: Fox, Satu-Satunya yang
Percaya

Di tengah penolakan, ada satu orang
di 20th Century Fox yang ngeliat
sesuatu: 
Alan Ladd Jr. Dia nggak
sepenuhnya paham visi Lucas, tapi
dia percaya sama otak di balik
American Graffiti. Dia pertaruhin
karirnya buat nyetujuin 
Star Wars.

Pra-produksi di Inggris kacau balau.
Desain alien amburadul, efek khusus
nyaris mustahil. Lucas lalu rekrut
Ralph McQuarrie, ilustrator jenius
yang bisa nerjemahin visinya
ke gambar. Lukisan McQuarrie jadi
kunci buat meyakinkan kru dan studio.
Sementara itu, Lucas masih terus
ngoprek naskah, bahkan sampe
syuting dimulai.

Bab 8: Fenomena Star Wars,
Dari Mimpi Buruk ke Ledakan
Global

Syuting di Tunisia dan studio Inggris
berubah jadi neraka. Cuaca ekstrem,
robot mogok, aktor legendaris Alec
Guinness skeptis. Lucas kerja non-stop,
nyaris nggak tidur, pulang ke Amerika
dengan kelelahan akut.

Proses editing? Kacau!
Potongan pertama lambat dan nggak
nendang. Di sinilah 
Marcia Lucas dan
tim editing jadi pahlawan. Mereka
kencengin ritme, potong adegan nggak
perlu, dan ngasih struktur emosional
yang bikin film ini bernapas. Tanpa
sentuhan Marcia, 
Star Wars mungkin
cuma jadi mimpi buruk.

Film ini dirilis di dikit layar. Fox nggak
yakin, Lucas juga. Tapi penonton
langsung tahu! 
Star Wars meledak,
antrean di mana-mana. Lucas, yang
dengan cerdik udah ngambil hak
merchandise dan sekuel (sebagai ganti
kenaikan gaji), tiba-tiba jadi jutawan
mandiri. Dia nggak perlu lagi tunduk
sama studio. Dia bebas. Dan dunia pun
nggak pernah sama lagi. 🔥🚀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *