buku

Buku With Winning in Mind Lanny Bassham, Bab 1 The Mental Management System

With Winning in MindLanny Bassham
With Winning in Mind
Lanny Bassham

Lanny Bassham membuka bukunya
dengan sebuah kisah pribadi yang
sangat menyakitkan. Ini adalah kisah
tentang kegagalan terbesarnya, dan
justru dari kegagalan inilah seluruh
sistem yang ia ciptakan bermula.

Pada tahun 1972, Olimpiade diadakan
di Munich, Jerman. Bassham adalah
seorang atlet tembak, dan saat itu ia
adalah yang terbaik di dunia. Bukan
hanya sekadar bagus. Ia adalah yang
terbaik. Ia telah memenangkan
kejuaraan dunia. Ia telah
memecahkan rekor. Secara teknik,
tidak ada yang bisa menandinginya.
Semua orang, termasuk dirinya
sendiri, yakin bahwa ia akan
membawa pulang medali emas.

Tapi sesuatu terjadi di Munich.
Sesuatu yang tidak pernah ia duga.
Saat ia berdiri di garis tembak,
dengan jutaan pasang mata menonton
dari seluruh dunia, tangannya mulai
gemetar. Jantungnya berdegup
kencang. Pikirannya berkecamuk.
Ia mulai memikirkan hal-hal yang
tidak pernah ia pikirkan saat berlatih.
“Bagaimana kalau aku gagal?”
“Apa yang akan dipikirkan
orang-orang?” “Ini adalah Olimpiade,
aku tidak boleh membuat kesalahan.”

Semua pikiran ini menyerbu
kepalanya sekaligus, dan hasilnya
adalah bencana. Bassham tidak
menembak seperti dirinya yang
sebenarnya. Ia menembak seperti
orang asing. Ia gagal di momen
paling penting dalam hidupnya.
Ia hanya mendapatkan medali perak.

Bassham pulang dari Munich dengan
hati yang hancur. Ia telah
menghabiskan bertahun-tahun
berlatih. Ia telah mengorbankan
begitu banyak hal. Ia telah menjadi
yang terbaik secara teknik.
Tapi semua itu tidak berarti apa-apa
karena di saat yang paling krusial,
pikirannya sendiri yang
mengkhianatinya.

Di sinilah perjalanan sesungguhnya
dimulai. Bassham tidak menyerah
pada kekecewaan. Ia memutuskan
untuk mencari tahu apa yang salah.
Ia mulai mempelajari para juara
sejati. Ia mewawancarai mereka.
Ia mengamati mereka. Ia ingin tahu
apa yang membedakan seseorang
yang bisa tampil maksimal di bawah
tekanan dengan seseorang yang
gagal, padahal secara teknik mereka
sama-sama hebat.

Dari penelitiannya selama
bertahun-tahun, Bassham menemukan
sebuah pola. Ia menyadari bahwa
performa manusia terdiri dari tiga
komponen utama. Tiga komponen ini
bekerja bersama-sama seperti tiga kaki
sebuah tripod. Jika salah satu kakinya
lemah, seluruh struktur akan runtuh.

Tiga Komponen Utama Performa

Komponen pertama adalah
keterampilan fisik.

Ini adalah apa yang Anda lakukan.
Ini adalah tindakan fisik yang terlihat
dari luar. Dalam olahraga menembak,
ini adalah tindakan mengangkat
senapan, membidik, dan menarik
pelatuk. Dalam sepak bola, ini adalah
tindakan menendang bola. Dalam
presentasi bisnis, ini adalah tindakan
berdiri di depan ruangan dan
berbicara. Keterampilan fisik adalah
fondasi dasarnya.

Bassham menjelaskan bahwa
kebanyakan orang hanya berfokus
pada komponen ini. Mereka berlatih
fisik terus-menerus.
Mereka mengulangi gerakan yang
sama ribuan kali. Mereka berpikir
bahwa jika mereka cukup berlatih
secara fisik, mereka akan sukses.
Tapi Bassham sendiri adalah bukti
hidup bahwa ini tidak cukup.
Ia memiliki keterampilan fisik yang
sempurna, tapi ia tetap gagal
di Olimpiade.

Komponen kedua adalah
keterampilan teknis.

Ini adalah seberapa baik Anda
melakukannya. Ini mencakup
pengetahuan tentang teknik yang
benar, strategi, taktik, dan
pemahaman mendalam tentang
olahraga atau bidang Anda. Dalam
menembak, ini adalah pengetahuan
tentang bagaimana mengatur napas,
bagaimana memposisikan tubuh,
bagaimana membaca angin. Dalam
bisnis, ini adalah pengetahuan
tentang pasar, tentang negosiasi,
tentang manajemen keuangan.

Keterampilan teknis adalah tentang
melakukan sesuatu dengan cara
yang paling efisien dan efektif.
Bassham juga memiliki komponen
ini dalam jumlah yang sangat
banyak. Ia adalah ahli teknik
menembak. Ia tahu teorinya di luar
kepala. Tapi lagi-lagi, ini tidak
menyelamatkannya di Munich.

Komponen ketiga adalah
keterampilan mental.

Ini adalah seberapa konsisten Anda
melakukannya di bawah tekanan.
Inilah komponen yang hilang dari
diri Bassham, dan inilah komponen
yang paling sering diabaikan oleh
para atlet dan siapa pun yang ingin
tampil di level tertinggi.

Keterampilan mental adalah
kemampuan untuk mengeluarkan
semua kemampuan fisik dan teknis
yang sudah Anda kuasai, tepat pada
saat Anda paling membutuhkannya,
ketika segalanya dipertaruhkan,
ketika jantung Anda berdegup
kencang dan ribuan orang menonton.
Ini bukanlah bakat alami. Ini adalah
keterampilan yang bisa dipelajari
dan dilatih, sama seperti
keterampilan fisik dan teknis.

Apa Itu Mental Management?

Dari sinilah Bassham merumuskan
Mental Management System.
Ia mendefinisikannya dengan
sangat jelas. Mental Management
adalah ilmu mengendalikan pikiran
agar keterampilan yang sudah
dikuasai bisa keluar secara konsisten.

Perhatikan kata-kata kuncinya
di sini. 
Ilmu. Ini bukanlah sekadar
kumpulan tips atau trik psikologi
populer. Ini adalah sistem yang
didasarkan pada prinsip-prinsip
yang bisa dipelajari, diuji, dan
diterapkan oleh siapa pun.
Mengendalikan pikiran.
 Fokusnya adalah pada apa yang
terjadi di dalam kepala Anda.
Keterampilan yang sudah
dikuasai.
 Mental Management
tidak mengajarkan Anda teknik baru.
Ia mengajarkan Anda bagaimana
cara mengeluarkan teknik yang
sudah Anda kuasai dengan baik
di latihan. 
Secara konsisten.
Tujuannya bukan hanya untuk
tampil baik sekali atau dua kali.
Tujuannya adalah untuk tampil
baik setiap kali Anda
membutuhkannya.

Bassham sangat menekankan apa
yang 
bukan termasuk dalam Mental
Management. Ini bukan teknik
relaksasi. Relaksasi mungkin
membantu Anda merasa tenang,
tapi itu tidak menjamin Anda akan
tampil maksimal. Anda bisa sangat
rileks dan tetap membuat kesalahan
bodoh. Ini juga bukan motivasi
sesaat. Motivasi itu seperti api yang
menyala terang lalu padam. Anda
membutuhkan sesuatu yang jauh
lebih dalam dan lebih permanen
daripada sekadar dorongan
semangat sementara.

Mental Management adalah tentang
melatih pikiran Anda untuk
melakukan apa yang sudah Anda latih
secara fisik. Ini tentang menjembatani
kesenjangan antara apa yang bisa
Anda lakukan di latihan dan apa yang
benar-benar Anda lakukan
di pertandingan atau
di momen-momen penting dalam
hidup Anda.

Bassham menutup bab pertama ini
dengan sebuah janji. Jika Anda bisa
memahami dan menerapkan
prinsip-prinsip dalam sistem ini,
Anda tidak akan lagi menjadi korban
dari pikiran Anda sendiri.
Anda tidak akan lagi gagal
di momen-momen penting karena
gugup atau tekanan. Anda akan bisa
mengeluarkan kemampuan terbaik
Anda secara konsisten, kapan pun
Anda membutuhkannya. Inilah
yang ia sebut sebagai Mental
Management.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Guys, kali ini kita ngomongin buku
yang isinya daging semua, nggak
pake basa-basi. Judulnya
With Winning in Mind karya Lanny
Bassham. Lo tau kan, banyak buku
yang ngomongin soal mental, tapi
ini beda. Ini adalah kisah nyata dan
sistem yang lahir dari kegagalan
paling menyakitkan seorang juara
dunia. Yuk, kita bongkar.

The Mental Management System:
Ketika Si Terbaik Dihantui
Pikirannya Sendiri

Bayangin, lo adalah yang terbaik
di dunia. Bukan cuma jago, lo adalah
nomor satu. Lo udah juara dunia, lo
udah mecahin rekor. Secara teknik,
nggak ada yang bisa nandingin lo.
Semua orang, termasuk diri
lo sendiri, yakin seratus persen lo
bakal bawa pulang medali emas
Olimpiade Munich 1972. Itulah posisi
Lanny Bassham saat itu, seorang atlet
tembak.

Tapi sesuatu terjadi di Munich.
Sesuatu yang nggak pernah lo duga.
Pas lo berdiri di garis tembak,
dengan jutaan mata ngawasin dari
seluruh dunia, tiba-tiba tangan
lo gemetaran. Jantung lo kayak mau
copot. Dan yang paling parah, otak
lo mulai diserbu pikiran-pikiran yang
nggak pernah lo pikirin pas latihan.
“Gimana kalau gue gagal?”
“Apa kata orang nanti?”
“Ini Olimpiade, gue nggak boleh
bikin kesalahan!”

Semua pikiran itu nyerbu kepalanya
sekaligus, dan hasilnya adalah
bencana. Bassham nggak nembak
kayak dirinya yang sebenarnya.
Dia nembak kayak orang asing.
Dia gagal di momen paling penting
dalam hidupnya, dan cuma dapet
medali perak.

Bassham pulang dengan hati hancur.
Dia udah ngabisin bertahun-tahun
latihan, udah ngorbanin banyak hal,
udah jadi yang terbaik secara teknik.
Tapi semua itu nggak berarti
apa-apa karena di saat paling
krusial, pikirannya sendiri yang
ngekhianatin dia. Dia sadar, jadi jago
itu nggak cukup cuma ngandelin fisik
dan teknik. Ada komponen lain yang
hilang.

Nah, di sinilah perjalanan beneran
si Bassham dimulai. Dia bukannya
tenggelam sama kekecewaan.
Dia penasaran, “Apa yang salah?”
Dia mulai ngulik para juara sejati,
ngamatin, wawancara. Dan dari situ,
dia nemuin sebuah pola. Dia sadar,
performa manusia itu kayak tripod,
ada tiga kakinya. Kalau salah
satunya lemah, ya ambruk semua.

Pertama, Keterampilan Fisik.
Ini yang keliatan, apa yang lo lakuin.
Nembak, nendang bola, atau
presentasi di depan klien. Ini fondasi
dasarnya. Kebanyakan orang cuma
fokus di sini, ngulang-ngulang
gerakan fisik terus. Tapi Bassham
adalah bukti hidup ini nggak cukup.

Kedua, Keterampilan Teknis.
Ini soal seberapa jago lo ngelakuinnya,
ngerti strategi, taktik, sampe
ke akar-akarnya. Dalam bisnis,
lo ngerti pasar, negosiasi, dan
keuangan. Bassham juga jago banget
di sini, dia ahli teknik menembak.
Tapi lagi-lagi, ini nggak nyelamatin
dia di Munich.

Ketiga, dan ini yang paling
sering diabaikan:
Keterampilan Mental.

Ini adalah seberapa konsisten lo
ngelakuinnya di bawah tekanan. Inilah
komponen yang hilang dari diri
Bassham. Ini kemampuan buat
ngeluarin semua jurus fisik dan teknis
yang udah lo kuasai, tepat pas
lo paling butuh, pas semuanya
dipertaruhkan, pas jantung lo udah
kayak mau copot dan banyak orang
ngawasin. Dan kabar baiknya, ini
bukan bakat alami. Ini skill yang
bisa lo pelajari dan lo latih.

Dari sinilah Bassham ngeramu
Mental Management System.
Dia ngedefinisiin dengan jelas:
Mental Management adalah
ilmu mengendalikan pikiran
agar keterampilan yang udah
lo kuasai bisa keluar secara
konsisten.

Perhatiin kata kuncinya: Ilmu,
jadi ini bukan cuma tips-tips receh.
Mengendalikan pikiran,
fokusnya di dalem kepala lo.
Keterampilan yang udah
dikuasai
, dia nggak ngajarin
lo teknik baru, tapi gimana caranya
ngeluarin yang udah lo kuasai
di latihan. Dan 
secara konsisten,
tujuannya biar lo bagus terus,
bukan cuma sekali dua kali.

Dia juga wanti-wanti, ini bukan
teknik relaksasi. Lo bisa aja rileks tapi
tetep bikin kesalahan bodoh. Ini juga
bukan motivasi sesaat yang cuma
bikin semangat terus kempes lagi.
Mental Management adalah tentang
ngelatih otak lo buat ngelakuin apa
yang udah lo latih secara fisik.
Ini tentang ngejembatanin jurang
antara apa yang bisa lo lakuin pas
lagi santai di latihan, dan apa yang
beneran lo lakuin pas lagi di medan
perang, di momen-momen penting
hidup lo.

Di akhir bab ini, Bassham ngasih lo
sebuah janji. Kalau lo bisa paham
dan nerapin sistem di buku ini,
lo nggak bakal lagi jadi korban
pikiran lo sendiri. Lo nggak bakal
gagal lagi di momen-momen penting
cuma gara-gara gugup atau tekanan.
Lo bakal bisa ngeluarin kemampuan
terbaik lo secara konsisten,
kapan pun lo butuhin. Keren, kan?
Itulah yang dia sebut sebagai 
Mental
Management
.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *