buku

Pertemuan dengan Sang Raja Tua

Melkisedek dan Konsep Legenda
Pribadi

Setelah peramal mengonfirmasi bahwa
mimpinya nyata, Santiago masih
diliputi keraguan. Ia duduk di bangku
taman kota Tarifa, memandangi buku
yang baru dibacanya, merenungkan
kata-kata peramal tadi. Di sinilah
pertemuan yang akan mengubah
seluruh arah hidupnya terjadi.

Seorang lelaki tua muncul entah dari
mana dan duduk di sampingnya.
Penampilannya tidak istimewa.
Bajunya lusuh. Rambutnya
acak-acakan. Sekilas ia tampak seperti
pengemis biasa yang mencari tempat
berteduh. Tapi ada sesuatu dalam
sorot matanya yang berbeda, sesuatu
yang tajam dan dalam, yang membuat
Santiago tidak bisa mengabaikannya
begitu saja.

Pria tua itu memulai percakapan
ringan. Ia bertanya tentang buku yang
sedang dibaca Santiago.
Namun dalam waktu singkat,
Santiago menyadari bahwa orang
asing ini bukanlah orang biasa. Pria
itu mengetahui hal-hal yang tidak
mungkin diketahui oleh sembarang
orang. Ia tahu tentang mimpi
Santiago. Ia tahu tentang peramal
yang baru saja dikunjungi Santiago.
Ia bahkan tahu detail-detail pribadi
tentang kehidupan Santiago yang
tidak pernah diceritakan kepada
siapa pun.

Pria itu memperkenalkan dirinya
sebagai Melkisedek, Raja Salem.

Santiago tentu saja skeptis. Bagaimana
mungkin seorang raja duduk di taman
umum yang kumuh, mengenakan baju
compang-camping, dan berbicara
dengan seorang gembala miskin?
Tapi keraguan Santiago segera sirna
ketika Melkisedek mulai berbicara
tentang hal-hal yang hanya bisa
diketahui oleh seseorang yang
benar-benar bijaksana, atau
benar-benar gila.

Melkisedek memperkenalkan sebuah
konsep yang akan menjadi inti dari
seluruh perjalanan Santiago:
Legenda Pribadi, atau Personal
Legend
.

Ia menjelaskan bahwa setiap manusia,
saat dilahirkan ke dunia, memiliki
satu tugas utama. Satu panggilan
sejati. Satu takdir yang harus
diwujudkan. Ini adalah hal yang
selalu ingin kamu lakukan sejak kecil,
sebelum dunia memberi tahumu
bahwa itu tidak mungkin, tidak
praktis, atau terlalu berisiko.

“Legenda Pribadi adalah apa yang
selalu ingin kamu capai,”
kata Melkisedek.
“Setiap orang, ketika masih muda,
tahu apa Legenda Pribadinya.
Pada masa itu, mereka tidak takut
untuk bermimpi dan mengharapkan
segala sesuatu yang ingin mereka
lakukan. Tapi, seiring berjalannya
waktu, sebuah kekuatan misterius
mulai meyakinkan mereka bahwa
mewujudkan Legenda Pribadi itu
mustahil.”

Melkisedek juga berbicara tentang
bahasa dunia, yaitu bahasa
universal yang digunakan alam
semesta untuk berkomunikasi
dengan manusia. Bahasa ini tidak
menggunakan kata-kata.
Ia menggunakan pertanda, firasat,
dan kebetulan yang tampaknya acak.
Santiago, sebagai seorang gembala
yang terbiasa memperhatikan alam,
membaca musim, dan mengenali
jalan, sebenarnya sudah memiliki
kemampuan untuk membaca bahasa
ini. Ia hanya belum menyadarinya.

Santiago masih ragu. Perjalanan
ke Piramida Mesir bukanlah
perjalanan yang pendek. Ia harus
meninggalkan domba-dombanya,
satu-satunya sumber penghidupannya.
Ia harus meninggalkan Spanyol, tanah
kelahirannya. Ia harus melangkah
ke dunia yang sama sekali tidak dikenal.

Melkisedek tidak memaksanya.
Ia hanya memberikan perspektif.
Ia meminta Santiago untuk melihat
sekelilingnya. Di taman itu, ada
orang-orang yang berjalan
mondar-mandir. Melkisedek berkata
bahwa kebanyakan dari mereka
dulunya juga memiliki mimpi. Tapi
mereka menyerah. Mereka
mendengarkan suara yang
mengatakan “ini tidak mungkin”
atau “kamu tidak cukup baik”. Dan
sekarang, mereka hanyalah bayangan
dari diri mereka yang sebenarnya.
Mereka menjalani hidup, tapi tidak
benar-benar hidup.

Kemudian, Melkisedek memberikan
Santiago dua buah batu.
Satu berwarna putih, satu berwarna
hitam. Batu-batu ini disebut Urim
dan Tumim
. Melkisedek
menjelaskan bahwa batu-batu ini
bisa digunakan untuk menjawab
pertanyaan saat Santiago merasa
terlalu bingung untuk membaca
pertanda sendiri. Batu putih berarti
“ya”. Batu hitam berarti “tidak”.

“Tanyakan selalu pertanyaan yang
objektif,” pesan Melkisedek.
“Tapi cobalah untuk membuat
keputusanmu sendiri dulu. Jangan
terlalu bergantung pada batu-batu
ini. Batu-batu ini hanya untuk
saat-saat ketika kamu benar-benar
tidak bisa membaca pertanda.”

Pertemuan dengan Melkisedek ini
adalah dorongan terakhir yang
dibutuhkan Santiago. Ia menjual
kawanan dombanya. Uang hasil
penjualan itu ia simpan dengan
hati-hati di dalam sebuah kantong
yang ia selipkan di balik bajunya.
Lalu, dengan hati berdebar,
ia membeli tiket kapal menuju Afrika.
Tujuannya: Mesir. Piramida. Harta
karun yang dijanjikan mimpinya.

Awal Perjalanan dan
Pengkhianatan

Santiago tiba di Tangier, Maroko
dengan mata berbinar dan semangat
membara. Ini adalah kali pertamanya
berada di luar Spanyol. Segalanya
berbeda. Bau rempah-rempah dan
asap mengisi udara. Bahasa Arab
terdengar di mana-mana, sebuah
simfoni bunyi yang sama sekali tidak
ia mengerti. Warna-warni kain
di pasar. Keramaian orang yang lalu
lalang. Santiago merasa seperti telah
mendarat di planet lain.

Tapi kegembiraan ini tidak bertahan
lama. Santiago duduk di sebuah kafe
kecil, mencoba merenungkan langkah
selanjutnya. Ia tidak bisa berbahasa
Arab. Ia tidak tahu ke mana harus
pergi. Ia tidak tahu bagaimana
mencapai Piramida dari sini. Rasanya
seperti berdiri di tengah labirin tanpa
peta.

Di sinilah seorang pemuda setempat
mendekatinya. Pemuda itu bisa
berbahasa Spanyol, dan Santiago
merasa sangat lega. Akhirnya, ada
seseorang yang bisa ia ajak bicara.
Pemuda itu ramah. Ia bertanya
tentang perjalanan Santiago.
Ia mendengarkan dengan penuh
perhatian saat Santiago menceritakan
tujuannya ke Piramida.
Ia menawarkan bantuan.

Pemuda itu berkata bahwa ia bisa
menjadi pemandu Santiago. Ia tahu
ke mana harus pergi. Ia tahu
bagaimana cara membeli unta dan
mencapai Piramida dengan selamat.
Santiago, yang masih naif dan terbiasa
dengan kejujuran kehidupan gembala,
mempercayainya sepenuhnya.

Santiago menyerahkan seluruh
uangnya kepada pemuda itu. Semua
uang hasil penjualan domba-dombanya.
Uang itu akan digunakan untuk
membeli keperluan perjalanan.
Mereka berjalan berdua melewati
pasar yang padat. Pasar di Tangier
adalah labirin yang membingungkan.
Lorong-lorong sempit. Toko-toko
kecil yang saling berdempetan.
Orang-orang yang berdesak-desakan
dari segala arah.

Di tengah kekacauan ini, pemuda itu
menyuruh Santiago menunggu
sebentar di salah satu sudut pasar.
Ia akan pergi membeli sesuatu.
Sebentar saja. Santiago mengangguk
dan menunggu.

Ia menunggu. Dan menunggu.
Dan menunggu.

Detik berubah menjadi menit.
Menit berubah menjadi jam.
Matahari mulai bergeser.
Bayangan mulai memanjang.
Pemuda itu tidak kembali. Santiago
mulai panik. Ia mencari ke seluruh
penjuru pasar. Ia bertanya kepada
setiap orang yang bisa ia temui,
menggunakan bahasa Spanyol yang
tidak dipahami siapa pun. Tidak ada
yang mengenal pemuda itu. Tidak
ada yang bisa membantunya.

Lambat laun, kenyataan pahit itu
mulai meresap ke dalam dirinya.
Ia telah ditipu. Semua uangnya,
seluruh hasil penjualan kawanan
domba yang telah ia rawat selama
bertahun-tahun, telah lenyap dibawa
kabur oleh seorang penipu yang
bahkan tidak ia kenal namanya.

Santiago terduduk lemas di anak
tangga pasar. Ini adalah titik terendah
pertamanya dalam perjalanan
Legenda Pribadinya. Ia berada
di negara asing tanpa satu sen pun
di sakunya. Ia tidak bisa berbahasa
setempat. Ia tidak punya teman.
Ia tidak punya rencana cadangan.
Domba-dombanya sudah dijual.
Pulang ke Spanyol bukanlah pilihan
yang mudah, bahkan sekadar
membeli tiket kapal pun ia tidak
mampu.

Rasanya ingin menyerah saja.
Rasanya ingin marah pada dunia.
Marah pada Melkisedek yang telah
mendorongnya melakukan
kebodohan ini. Marah pada peramal
yang telah mengonfirmasi mimpinya.
Marah pada dirinya sendiri yang
begitu naif dan bodoh. Tapi di tengah
keputusasaan itu, Santiago teringat
pada kata-kata Melkisedek tentang
Legenda Pribadi. Apakah ini ujian?
Apakah alam semesta sedang
mengujinya untuk melihat seberapa
serius ia mengejar mimpinya? Atau
apakah ini pertanda bahwa ia harus
menyerah dan pulang?

Di tengah krisis inilah, sesuatu yang
penting terjadi. Santiago menyadari
bahwa meskipun ia telah kehilangan
segalanya, ia tidak kehilangan dirinya
sendiri. Ia masih hidup. Ia masih
bisa berpikir. Ia masih bisa bertindak.
Dan yang lebih penting, ia menyadari
sesuatu yang tidak akan pernah ia
sadari jika ia tidak ditipu. Sebelumnya,
ia melihat dirinya sebagai korban.
Sebagai anak malang yang telah
dirampok. Tapi sekarang, ia melihat
dirinya sebagai seorang petualang.
Seorang pencari harta karun. Sama
seperti para petualang dalam
buku-buku yang pernah ia baca.

Santiago berjalan tanpa tujuan
di pasar, melewati toko-toko yang
berjejer. Hingga akhirnya, ia berhenti
di depan sebuah toko kristal. Toko
ini menjual gelas, cangkir, vas, dan
berbagai perabotan kristal lainnya.
Etalasenya berdebu. Kaca-kacanya
kotor. Toko ini jelas sudah lama
tidak dirawat dengan baik.

Seorang pedagang kristal tua duduk
di dalam. Ia melihat Santiago berdiri
di depan tokonya dan tidak
mengatakan apa-apa. Santiago, yang
perutnya keroncongan dan tidak
punya pilihan lain, menawarkan
sesuatu yang sederhana namun
berani. Ia berkata bahwa ia akan
membersihkan etalase toko itu
dengan imbalan makanan.
Hanya makanan. Bukan uang.

Pedagang tua itu, yang tidak
terbiasa dengan inisiatif seperti ini,
terdiam sesaat. Ia menatap pemuda
asing di depannya. Lalu ia
mengangguk.

Santiago segera mengambil kain dan
mulai membersihkan kaca-kaca
etalase yang kotor. Ia bekerja dengan
tekun dan teliti. Ia tidak asal-asalan
meskipun tahu bahwa ia hanya akan
dibayar dengan sepiring makanan.
Dalam waktu singkat, etalase yang
tadinya kusam dan berdebu berubah
menjadi jernih dan berkilau.
Pantulan cahaya matahari membuat
kristal-kristal di dalamnya berkilau
indah.

Pedagang kristal itu terkesan.
Ia melihat sesuatu dalam diri
Santiago. Bukan hanya kemampuan
membersihkan kaca, tapi etos kerja
dan semangat yang tidak hancur
meskipun baru saja ditimpa
kemalangan besar. Ia melihat seorang
pemuda yang, bukannya meratapi
nasibnya, malah bangkit dan
melakukan sesuatu.

Pedagang tua itu kemudian
menawarkan Santiago untuk bekerja
di tokonya. Ia akan dibayar sebagai
karyawan. Ia bisa menabung uang
untuk melanjutkan perjalanannya
ke Piramida. Santiago menerima
tawaran itu tanpa ragu. Ia tahu
bahwa perjalanannya ke Piramida
harus ditunda untuk sementara.
Tapi ia juga tahu bahwa ia belum
menyerah. Ini hanyalah jeda. Hanya
sebuah bab dalam ceritanya. Ia akan
bekerja, menabung, dan kemudian
melanjutkan perjalanannya.

Malam itu, saat ia merebahkan diri
di sudut toko kristal, Santiago
meraba dua batu di sakunya. Urim
dan Tumim. Ia tersenyum. Ia bahkan
tidak perlu menggunakannya hari ini.
Ia sudah membuat keputusan sendiri.
Dan ia tahu, dengan keyakinan yang
baru ditemukan, bahwa
perjalanannya baru saja dimulai.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Oke, kita lanjut lagi! Sekarang
Santiago udah nemuin konfirmasi
dari peramal, tapi dia masih diliputi
keraguan. Di sinilah momen penting
itu terjadi, pertemuan yang bikin
seluruh arah hidupnya berubah.

Si Kakek Misterius di Taman:
Raja Tanpa Mahkota

Setelah dari rumah peramal, Santiago
duduk di bangku taman kota Tarifa.
Pikirannya berkecamuk. Di tangannya
ada buku yang baru dibaca, tapi
matanya kosong. Dia merenungkan
kata-kata peramal tadi. Saat itulah,
seorang lelaki tua muncul entah dari
mana dan duduk di sampingnya.

Penampilannya? Jauh dari
meyakinkan. Bajunya lusuh,
rambutnya acak-acakan. Sekilas lo
pasti ngiranya dia cuma pengemis
tua yang lagi nyari tempat teduh.
Tapi ada sesuatu dalam sorot matanya
yang beda. Tatapannya tajam dan
dalem, bikin Santiago nggak bisa
mengabaikannya begitu saja.

Si kakek mulai ngobrol ringan. Dia
tanya soal buku yang dibaca Santiago.
Tapi dalam waktu singkat, Santiago
langsung ngeh kalau orang ini bukan
orang biasa. Si kakek tahu soal
mimpinya. Dia tahu soal peramal
yang baru aja dikunjungi Santiago.
Dia bahkan tahu detail pribadi yang
nggak pernah Santiago ceritain
ke siapa pun. Gila kan?

Akhirnya, dia memperkenalkan diri
sebagai Melkisedek, Raja Salem.

Santiago jelas skeptis. Masa iya
seorang raja duduk di taman kumuh,
pake baju rombeng, ngobrol sama
gembala miskin? Tapi keraguan ini
langsung sirna begitu si kakek mulai
ngomongin hal-hal yang cuma bisa
diketahui oleh orang yang
benar-benar bijak, atau benar-benar
gila.

Legenda Pribadi: Misi Hidup
yang Sering Lo Abaikan

Di sinilah Melkisedek mulai nge-drop
bom filosofi pamungkas dalam buku
ini: Legenda Pribadi (Personal
Legend).

Dia jelasin bahwa setiap manusia
yang lahir ke dunia ini punya satu
tugas utama. Satu panggilan sejati.
Satu takdir yang harus diwujudkan.
Ini adalah hal yang selalu lo pengen
lakuin sejak kecil, sebelum dunia
mulai ngomong ke lo,
“Ah, itu nggak mungkin,”
“Itu nggak praktis,” atau
“Itu terlalu berisiko.”

“Legenda Pribadi adalah apa yang
selalu ingin kamu capai,”
kata Melkisedek.
“Setiap orang, ketika masih muda,
tahu apa Legenda Pribadinya.
Pada masa itu, mereka tidak takut
untuk bermimpi. Tapi, seiring
berjalannya waktu, sebuah kekuatan
misterius mulai meyakinkan mereka
bahwa mewujudkan Legenda
Pribadi itu mustahil.”

Lo pasti relate. Waktu kecil lo pengen
jadi astronot, pelukis, atau musisi.
Tapi makin gede, lo “disadarkan”
bahwa itu nggak realistis. Lo disuruh
cari kerja yang stabil, yang aman.
Dan perlahan, lo lupa sama mimpi
lo sendiri.

Melkisedek juga ngenalin konsep
“bahasa dunia” (language of the
world).
 Ini adalah bahasa universal
yang dipake alam semesta buat
ngomong sama manusia. Nggak
pake kata-kata, tapi lewat pertanda,
firasat, dan kebetulan yang
tampaknya acak.
 Santiago sebagai
gembala yang terbiasa baca alam,
sebenernya udah punya skill ini.
Dia cuma belum sadar aja.

Keputusan Berat: Jual Domba
atau Pendam Mimpi?

Santiago masih ragu. Perjalanan
ke Piramida Mesir itu bukan
perjalanan dekat. Dia harus ninggalin
domba-dombanya, satu-satunya
sumber penghidupannya. Dia harus
ninggalin Spanyol, tanah
kelahirannya. Dia harus melangkah
ke dunia yang sama sekali asing.

Melkisedek nggak maksa. Dia cuma
ngajak Santiago lihat sekeliling.
Di taman itu, ada banyak orang lalu
lalang. Si kakek bilang, kebanyakan
dari mereka dulunya juga punya
mimpi. Tapi mereka nyerah. Mereka
dengerin suara yang bilang,
“Ini nggak mungkin,” atau
“Lo nggak cukup baik.” Dan sekarang,
mereka hanyalah bayangan dari diri
mereka yang sebenarnya. Mereka
menjalani hidup, tapi nggak
benar-benar hidup. Ngeri, kan?

Lalu, Melkisedek ngasih Santiago dua
batu. Satu putih, satu hitam.
Namanya Urim dan Tumim.
 Fungsinya simpel: buat jawab
pertanyaan pas Santiago lagi buntu
dan nggak bisa baca pertanda.
Batu putih artinya “ya”, batu hitam
artinya “tidak”. Tapi si kakek pesen,
“Cobalah buat keputusan sendiri
dulu. Jangan terlalu bergantung
sama batu ini. Pakai aja pas lo
bener-bener nggak bisa baca tanda.”

Dengan bekal batu di saku dan
kata-kata Melkisedek yang terngiang,
Santiago mengambil keputusan besar.
Dia jual semua dombanya.
Uangnya dia simpen baik-baik. Lalu,
dengan jantung dag-dig-dug, dia beli
tiket kapal ke Afrika. Tujuannya:
Mesir. Piramida. Harta karun yang
dijanjikan mimpinya.

Babak Baru: Dari Spanyol
ke Afrika yang Brutal

Santiago tiba di Tangier, Maroko.
Ini pertama kalinya dia keluar dari
Spanyol. Semuanya beda.
Bau rempah dan asap memenuhi
udara. Bahasa Arab berdengung
di mana-mana. Warna-warni kain
di pasar, keramaian orang…
Santiago merasa seperti mendarat
di planet lain. Matanya berbinar,
semangatnya membara.

Tapi euforia ini nggak bertahan lama.
Dia duduk di kafe kecil, nyoba nyusun
rencana. Masalahnya, dia nggak
bisa bahasa Arab.
 Dia nggak tahu
ke mana harus pergi. Rasanya kayak
nyasar di labirin tanpa peta.
Di sinilah seorang pemuda lokal
mendekati dia. Si pemuda ini bisa
bahasa Spanyol. Santiago langsung
merasa lega. Akhirnya, ada temen
ngobrol.

Pemuda itu ramah. Dia dengerin
cerita Santiago dengan penuh
perhatian. Dia nawarin bantuan buat
jadi pemandu. Dia tahu ke mana
harus pergi, gimana cara beli unta,
dan mencapai Piramida. Santiago
yang masih naif dan terbiasa dengan
kejujuran hidup gembala, percaya
sepenuhnya.
 Dia serahin seluruh
uangnya ke pemuda itu. Semua hasil
jualan dombanya.

Mereka berdua jalan melewati pasar
yang padat. Pasar Tangier itu labirin.
Sempit, bising, toko berdempetan,
orang desak-desakan. Di tengah
kekacauan ini, si pemuda nyuruh
Santiago nunggu sebentar di sudut
pasar. Dia mau pergi beli sesuatu.
Sebentar aja. Santiago nurut.
Dia nunggu.

Dan nunggu. Dan nunggu.

Menit jadi jam. Matahari bergeser.
Bayangan memanjang. Pemuda
itu nggak balik.

Santiago panik. Dia nyariin ke seluruh
penjuru pasar. Dia nanya ke semua
orang dengan bahasa Spanyol yang
nggak dipahami siapa pun. Nggak ada
yang kenal pemuda itu. Nggak ada
yang bisa bantu. Realita pahit
akhirnya meresap. Dia udah ditipu.
Seluruh uangnya lenyap dibawa kabur
penipu yang bahkan dia nggak tahu
namanya.

Titik Nol: Bangkrut di Negeri
Asing

Santiago duduk lemas di anak tangga
pasar. Ini adalah titik terendah
pertamanya dalam perjalanan
Legenda Pribadi. Dia nyangkut
di negara asing tanpa satu sen pun.
Nggak bisa bahasa setempat. Nggak
punya temen. Nggak punya rencana.

Rasanya dia pengen nyerah, marah
sama dunia, marah sama Melkisedek
yang udah ngedorong dia ngelakuin
kebodohan ini. Dia juga marah sama
dirinya sendiri yang naif.

Tapi di tengah keputusasaan,
Santiago ingat kata-kata Melkisedek.
Ini ujian? Alam semesta lagi ngetes
seberapa serius dia? Atau ini pertanda
dia harus nyerah? Di sinilah sebuah
kesadaran penting muncul. Dia sadar,
meskipun kehilangan segalanya,
dia nggak kehilangan dirinya
sendiri.
 Dia masih hidup. Dia masih
bisa bertindak. Dan yang lebih penting,
dia sadar sesuatu yang nggak
akan pernah dia sadari kalau dia
nggak ditipu.
 Sebelumnya, dia lihat
dirinya sebagai korban, anak malang
yang dirampok. Sekarang, dia lihat
dirinya sebagai petualang. Pencari
harta karun. Kayak di buku-buku
yang pernah dia baca.

Santiago berjalan tanpa tujuan
di pasar. Sampai akhirnya, dia
berhenti di depan sebuah toko
kristal.
 Etalasenya kusam, kacanya
berdebu. Toko ini jelas udah lama
nggak dirawat.

Seorang pedagang tua duduk di dalam.
Dia ngeliat Santiago berdiri di depan
tokonya. Santiago, dengan perut
keroncongan dan nggak punya pilihan,
nawarin sesuatu yang berani.
Dia bilang bakal bersihin etalase
toko itu, cuma buat dibayar
makanan.
 Bukan uang. Makanan.

Pedagang tua itu bengong denger
tawaran ini. Tapi akhirnya dia
ngangguk.

Santiago langsung ambil kain dan
mulai kerja. Dia bersihin kaca-kaca
etalase dengan telaten. Nggak
asal-asalan, meskipun cuma dibayar
sepiring makanan. Dalam waktu
singkat, etalase yang tadinya kusam
jadi kinclong. Cahaya matahari bikin
kristal-kristal di dalamnya berkilau
indah.

Pedagang tua itu terkesan. Dia ngeliat
sesuatu dalam diri Santiago. Bukan
cuma kemampuan bersihin kaca, tapi
etos kerja dan semangat yang nggak
hancur meski baru aja kena musibah
besar. Alih-alih meratapi nasib,
anak ini malah bangkit dan
ngelakuin sesuatu.

Sang pedagang lalu nawarin Santiago
buat kerja di tokonya. Dia bakal
dibayar. Dia bisa nabung buat lanjutin
perjalanannya ke Piramida. Santiago
langsung nerima. Dia tahu perjalanan
ke Piramida harus ditunda, tapi dia
juga tahu, dia belum nyerah.
 Ini cuma jeda.

Malam itu, sambil merebahkan diri
di sudut toko, Santiago meraba dua
batu di sakunya. Urim dan Tumim.
Dia tersenyum. Dia bahkan
nggak perlu make batu itu
hari ini.
 Dia udah bikin keputusan
sendiri.

Nah, itu dia. Dari titik terendah
dirampok di negeri asing, Santiago
belajar bahwa selama lo masih bisa
bertindak, lo belum kalah. Dan dari
toko kristal yang kusam inilah,
babak baru hidupnya dimulai. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *