buku

Kuasai Seni Basa-Basi dengan Membuka Pintu Percakapan dan Membuat Orang Lain Terus Berbicara

Anda mungkin berpikir bahwa
basa-basi atau small talk adalah hal
yang tidak penting dan hanya
membuang-buang waktu
. Jika
Anda berpikir seperti itu, Anda
keliru besar.

Basa-basi bisa membawa
perbedaan besar
, baik dalam
dunia bisnis maupun dalam
kehidupan pribadi Anda.
Kemampuan ini bisa membuat
seseorang langsung menyukai
Anda
, atau sebaliknya, membuat
mereka menjauh
 jika Anda tidak
tahu caranya.

Berikan Jawaban yang
Menarik, Bukan Jawaban
Buntu

Jika Anda merasa tidak pandai
berbasa-basi, cobalah untuk
memikirkan
pertanyaan-pertanyaan yang
paling sering diajukan
 saat
orang baru saling mengenal.
Pertanyaan apa yang selalu Anda
tanyakan, atau selalu ditanyakan
kepada Anda?

Kemungkinan besar, pertanyaan itu
adalah: “Kamu dari mana?” atau
“Apa pekerjaanmu?”

Justru karena pertanyaan-pertanyaan
ini selalu ditanyakan, orang-orang
sering kali memberikan jawaban
yang datar, pendek, dan sama
sekali tidak menarik
. Jawaban
seperti ini langsung mematikan
percakapan sebelum sempat
berkembang.

Lihatlah perbedaannya. Jika ada
yang bertanya, “Kamu dari mana?”

  • Jawaban buntu:
     “Washington DC.” (Percakapan
    berhenti. Orang itu kini harus
    mencari pertanyaan baru).

  • Jawaban menarik: “Aku dari
    Washington DC. Tahukah kamu,
    kota kami itu dirancang oleh
    arsitek yang sama dengan yang
    merancang kota Paris.”

Dengan jawaban kedua, Anda baru saja
membuka pintu percakapan baru.
Anda memberi umpan tentang
traveling, arsitektur, atau
perbandingan kota. Orang lain bisa
langsung menimpali, “Serius?
Aku tidak tahu itu. Jadi kamu suka
arsitektur klasik?”
 atau “Oh, aku
pernah ke Paris! Bagian mana
yang paling mirip?”

Intinya adalah: bersiaplah untuk
menjelaskan lebih lanjut
. Selalu
miliki satu atau dua kalimat lanjutan
yang bisa memancing topik baru.

Jadilah Pendengar yang Baik
dan Pantulkan Ucapannya

Fokuslah untuk menjadi pendengar
yang baik
 dan kuasai cara untuk
membuat pasangan bicara Anda
terus berbicara
. Ini adalah tip yang
sangat ampuh. Meskipun terdengar
tidak masuk akal, salah satu cara
terbaik untuk membuat orang lain
menganggap Anda sebagai lawan
bicara yang hebat
 adalah dengan
berbicara sangat sedikit dan
tetap menjaga fokus pada
lawan bicara Anda
.

Dengan cara ini, mereka akan terlalu
sibuk berbicara
 dan merasa
tersanjung oleh perhatian Anda
 sehingga mereka tidak akan
menyadari bahwa Anda sebenarnya
tidak banyak bicara.

Lalu, bagaimana cara agar mereka
terus berbicara? Salah satu tekniknya
adalah dengan memanfaatkan
jeda alami dalam percakapan
.
Saat mereka berhenti sejenak, jangan
langsung mengisi dengan cerita Anda.
Sebaliknya, ulangi atau
parafrasekan apa yang baru saja
mereka katakan
, dengan cara yang
membuat bola percakapan kembali
ke tangan mereka.

Contoh sederhana:

  • Teman bicara Anda berkata,
    “Jadi, akhir pekan kemarin aku
    akhirnya selesai merakit
    furnitur yang kubeli bulan lalu.”

  • Alih-alih menjawab, “Oh, aku
    juga baru beli meja,”
     Anda
    bisa merespons dengan
    memantulkan ucapannya,
    “Jadi, akhirnya selesai juga ya?
    Pasti butuh waktu lama untuk
    merakitnya?”
     atau “Wah,
    furnitur yang dibeli sebulan
    lalu? Pasti ukurannya besar
    atau rumit itu?”

Dengan memantulkan kembali
ucapannya, Anda telah memberinya
undangan untuk melanjutkan
tanpa harus memaksakan diri
.
Teknik ini bisa membuat seseorang
terus berbicara dan akhirnya
menceritakan kepada Anda
berbagai macam hal yang
menarik
.

Orbitkan Orang Lain yang
Memiliki Cerita Bagus

Cara sederhana lainnya untuk bersinar
dalam percakapan adalah dengan
mengorbitkan orang lain.
Caranya, cari tahu siapa di dalam
kelompok yang memiliki cerita yang
bagus atau pengalaman yang
menarik
, lalu berikan mereka
pengantar yang pantas agar
mereka bisa bercerita.

Ini adalah strategi yang menyenangkan
bagi semua orang. Kelompok akan
terhibur dengan cerita tersebut, dan
si pendongeng pasti akan senang
karena Anda memberinya
panggung untuk bersinar
. Anda
sendiri akan terlihat sebagai orang
yang rendah hati dan suportif.

Namun, ada dua peringatan penting.
Pertama, pastikan cerita itu pantas
dan aman
 untuk diceritakan
di forum itu. Kedua, pastikan cerita
itu bukanlah cerita yang
dibagikan kepada Anda secara
rahasia
. Jika Anda membocorkan
rahasia atau memaksa seseorang
menceritakan sesuatu yang pribadi,
strategi ini akan berbalik
menyerang Anda
 dengan cara
yang sangat canggung.

Jangan Membuka Aib Diri
Terlalu Cepat

Satu hal lagi yang perlu Anda hindari:
jangan mengatakan hal-hal
yang bisa membuat Anda
terlihat buruk secara prematur
.

Ketika orang-orang sedang dalam
proses untuk saling mengenal lebih
baik, sering kali muncul keinginan
untuk berbagi sesuatu yang
pribadi
 atau menunjukkan
kelemahan
. Ini adalah dorongan
yang manusiawi. Namun,
melakukan hal ini pada orang yang
belum terlalu terkesan dengan
Anda
 adalah sebuah kesalahan.

Jika Anda tiba-tiba menceritakan
sebuah rahasia atau keburukan
pribadi, mereka mungkin tidak akan
menganggap Anda jujur atau rendah
hati. Sebaliknya, mereka mungkin
akan justru bertanya-tanya,
“Wah, apa lagi ya yang dia
sembunyikan dari saya?”

Ini adalah fondasi yang rapuh untuk
sebuah hubungan baru. Simpan
pengungkapan pribadi untuk saat
kepercayaan sudah benar-benar
terbangun.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Oke, kita lanjut lagi! Kali ini kita
masuk ke bagian yang sering banget
disepelein: Basa-basi (Small Talk).
Banyak yang mikir, “Ah, basa-basi itu
gak penting. Buang-buang waktu.”
Tapi Leil Lowndes bilang, justru
di sinilah letak kuncinya. Basa-basi
yang baik bisa bikin orang langsung
suka sama lo. Basa-basi yang buruk?
Bikin mereka kabur sebelum lo
sempat bilang “Kita temenan yuk.”

Jadi, gimana caranya biar basa-basi
lo gak garing dan malah jadi pintu
pembuka obrolan seru?
Nih, jurus-jurusnya.

Jangan Jadi “Bapak Buntu”.
Jadilah “Pembuka Jalan.”

Ada pertanyaan-pertanyaan klasik
yang pasti ditanyain semua orang:
“Kerja di mana?” atau “Asli mana?”
 Justru karena semua orang nanya
ini, kebanyakan dari kita udah
punya jawaban template yang super
pendek dan gak ngundang kelanjutan.

Contoh Jawaban Buntu
(The Dead End):

Dia: “Kamu asli mana?”
Lo: “Bandung.”

Habis. Mati. Dia sekarang harus mikir
keras lagi nyari pertanyaan baru.
Obrolan jadi kayak lagi interogasi.

Contoh Jawaban Menarik
(The Opener):

Dia: “Kamu asli mana?”
Lo: “Gue asli Bandung. Eh, lo tau
gak sih, ternyata arsitek yang
ngerancang kota Bandung itu
sama lho sama yang ngerancang
kota Paris.”
*

Boom! Lo baru aja ngelempar umpan
gede. Dia bisa langsung ngambil topik
baru: traveling, arsitektur, atau
sejarah. Dia bisa jawab: “Serius? Gak
nyangka! Lo berarti tau banyak soal
arsitektur klasik dong?”
 Atau “Oh ya?
Gue pernah ke Paris, dan Bandung
mirip Paris di mana emangnya?”

Intinya: Selalu siapin satu atau dua
kalimat tambahan buat
memancing topik baru.
 Jangan
cuma jawab satu kata. Kasih dia
“daging” buat digigit.

Jadi Cermin Ajaib: Pantulkan
Ucapannya Biar Dia Terus Cerita

Ini salah satu trik paling ampuh
di buku ini, dan kedengarannya agak
nyeleneh: Cara terbaik agar lo
dianggap sebagai lawan bicara
yang hebat adalah dengan
SEDIKIT BERBICARA.
 Biarkan
dia yang mendominasi. Tugas lo cuma
fokus sama dia dan bikin dia terus
cerita.

Tapi gimana caranya biar dia gak
berhenti? Jangan cuma
manggut-manggut doang. Manfaatkan
jeda alami saat dia berhenti. Ulangi
atau parafrase-kan apa yang baru
aja dia bilang,
 dengan cara yang
bikin bola obrolan kembali ke dia.

Contoh:
Dia: “Jadi, akhir pekan kemarin gue
akhirnya selesai rakit furnitur yang
gue beli sebulan lalu.”

Jawaban biasa (yang salah):
“Oh, gue juga baru beli meja.
Harganya murah lho.”

(Lo langsung ambil alih bola,
dia jadi penonton.)

Jawaban “Memantulkan”:
“Wah, akhirnya selesai juga ya?
Pasti butuh waktu lama banget tuh
ngerakitnya?”
 atau
“Furnitur yang dibeli sebulan lalu?
Pasti ukurannya gede atau rumit
banget ya?”

Lihat? Lo gak ngomong apa-apa soal
diri lo, tapi lo menggali lebih dalam
dan ngasih dia undangan untuk lanjut
cerita. Dia bakal ngerasa, “Wah, orang
ini bener-bener tertarik sama cerita
gue,”
 dan dia bakal terus ngomong.
Lo pun dicap sebagai “ngobrolnya enak
banget”, padahal lo cuma dikit
ngomong.

Jadi “Orang Dalam”: Orbitkan
Bintang Lain

Ini strategi brilian buat lo yang lagi
di tengah grup. Cari tahu siapa
yang punya cerita seru, lalu
beri dia panggung.

Misal, lo tau si A baru aja balik dari
pendakian gunung yang dramatis.
Di tengah obrolan, lo bisa ngasih
dia “pengantar”:
“Eh, ngomong-ngomong soal hujan,
kalian harus denger nih pengalaman
si A pas naik gunung kemarin. Cerita
badainya gila banget. A, coba dong
ceritain!”

Apa yang terjadi? Si A seneng karena
dikasih panggung. Grup terhibur.
Dan lo? Lo terlihat sebagai orang
yang rendah hati, suportif, dan
murah hati.
 Lo gak perlu
susah-susah jadi pusat perhatian,
karena lo lah yang menciptakan
pusat perhatian itu.

Tapi ada dua peringatan penting:

  1. Pastikan ceritanya aman dan
    pantas.
     Jangan sampai lo maluin
    dia karena ceritanya ternyata aib.

  2. Jangan bocorkan rahasia.
    Kalau cerita itu disampaikan
    ke lo secara personal, jangan
    pernah lo umbar ke publik tanpa
    izin. Itu namanya bukan orbit,
    tapi sabotase.

Jangan Jadi “Buku Terbuka”
Terlalu Cepat

Godaan terbesar pas lagi ngobrol
enak adalah pengen buru-buru
“curhat” atau ngebuka sisi gelap lo.
Lo pikir, “Ini biar aku keliatan jujur
dan apa adanya.”
 Tahan dulu!

Lowndes ngingetin, melakukan ini
terlalu cepat ke orang yang belum
terlalu kenal lo adalah kesalahan
besar.

Kalau lo tiba-tiba cerita soal trauma
masa kecil atau kebiasaan buruk lo,
orang itu gak akan nganggep lo jujur.
Mereka malah mikir, “Wah, ini
orang nyembunyiin apa lagi ya?
Kok baru kenal udah curhat yang
aneh-aneh.”
 Ini fondasi yang rapuh
buat hubungan baru.

Simpan cerita-cerita dalam dan
pribadi untuk nanti, saat
kepercayaan udah beneran
terbangun.
 Di tahap awal, jadilah
pribadi yang ringan, menyenangkan,
dan low-risk.

Intinya, basa-basi itu adalah gerbang.
Jangan lo tutup dengan jawaban
datar, dan jangan lo hancurin dengan
curhat prematur. Buka lebar-lebar
dengan kalimat pancingan, pantulkan
cerita dia, dan jadilah tuan rumah
yang baik bagi siapa pun yang
ngobrol sama lo. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *