Hubungan Tidak Sehat Tidak Selalu Terlihat Buruk
Dalam buku Drama Free, Nedra
Glover Tawwab menjelaskan bahwa
hubungan yang tidak sehat tidak selalu
berasal dari keluarga yang jelas-jelas
bermasalah seperti orang tua yang
kecanduan narkoba atau saudara
yang agresif.
Kadang-kadang hubungan yang terlihat
penuh kasih sayang pun bisa menjadi
tidak sehat ketika seseorang mulai
mencoba menjalani hidup dengan
caranya sendiri.
Misalnya, seseorang berasal dari
keluarga yang sebenarnya peduli dan
perhatian. Orang tuanya selalu ingin
memastikan anaknya aman dan tidak
membuat kesalahan. Namun masalah
muncul ketika anak tersebut mulai
membuat keputusan yang berbeda
dari harapan keluarga.
Contohnya dalam kehidupan sehari-hari.
Seorang anak memutuskan kuliah
di kota lain karena ingin mencoba hidup
mandiri. Orang tuanya tidak setuju dan
mengatakan bahwa keputusan itu egois.
Mereka mungkin berkata:
“Kenapa harus jauh-jauh kuliah di sana?”
“Di sini juga ada kampus yang bagus.”
“Kamu tidak memikirkan perasaan
keluarga.”
Dalam situasi ini, orang tua mungkin
merasa mereka hanya ingin melindungi
anaknya. Namun bagi anak tersebut,
tekanan seperti ini bisa membuatnya
merasa bersalah hanya karena ingin
menentukan jalan hidupnya sendiri.
Contoh lain adalah ketika seseorang
memilih pasangan yang tidak disukai
keluarganya. Meskipun hubungan itu
sehat dan saling menghargai,
keluarga tetap terus mengkritik
pilihan tersebut.
Hal-hal seperti ini menunjukkan bahwa
bahkan hubungan yang tampaknya
penuh kasih sayang bisa berubah
menjadi sumber tekanan ketika
kebebasan seseorang tidak dihargai.
Hubungan Terlalu Melekat:
Codependency dan Enmeshment
Nedra Glover Tawwab juga membahas
dua dinamika hubungan yang sering
muncul dalam keluarga yang tidak
sehat, yaitu codependency dan
enmeshment.
Kedua istilah ini menggambarkan
hubungan yang terlalu melekat
sehingga seseorang sulit membedakan
antara kebutuhannya sendiri dan
kebutuhan orang lain.
Dalam hubungan seperti ini, seseorang
sering kali terlalu fokus pada orang lain
sampai ia mengabaikan dirinya sendiri.
Ia lebih memikirkan keinginan,
perasaan, dan harapan orang lain
dibandingkan kebutuhan pribadinya.
Contoh sehari-hari bisa terlihat dalam
hubungan antara anak dan orang tua.
Misalnya ada seseorang yang selalu
mengikuti keinginan orang tuanya,
bahkan ketika keinginan tersebut
bertentangan dengan apa yang
sebenarnya ia inginkan.
Ia memilih jurusan kuliah yang
diinginkan orang tuanya.
Ia memilih pekerjaan yang dianggap
“aman” oleh keluarganya.
Ia bahkan mungkin mengakhiri
hubungan dengan seseorang hanya
karena keluarganya tidak menyetujui.
Semua keputusan hidupnya didasarkan
pada keinginan orang lain.
Dalam hubungan seperti ini, seseorang
sering kehilangan kesempatan untuk
benar-benar mengenal dirinya sendiri.
Ketika Ketergantungan Menjadi
Lingkaran yang Sulit Dilepaskan
Dalam hubungan yang codependent,
anggota keluarga menjadi sangat
bergantung satu sama lain.
Hubungan tersebut menciptakan rasa
aman yang sulit ditinggalkan, bahkan
jika hubungan itu sebenarnya tidak
sehat.
Ketika seseorang mencoba berubah
atau mengambil jarak, anggota
keluarga lainnya mungkin merasa
terancam.
Mereka mungkin mencoba menarik
orang tersebut kembali ke pola lama.
Contohnya dalam kehidupan sehari-hari:
Seseorang mulai menetapkan batasan
dengan keluarganya. Ia mengatakan
bahwa ia tidak bisa selalu datang
setiap kali keluarganya meminta
bantuan karena ia juga memiliki
pekerjaan dan kehidupan sendiri.
Reaksi yang muncul bisa
bermacam-macam.
Ada keluarga yang merasa
tersinggung dan berkata:
“Kamu sekarang berubah.”
“Kamu sudah tidak peduli lagi dengan
keluarga.”
Ada juga yang mencoba membuat orang
tersebut merasa bersalah.
Mereka mungkin mengatakan bahwa
keluarga selalu ada untuknya
di masa lalu, sehingga sekarang ia
harus melakukan hal yang sama.
Situasi seperti ini sering membuat
seseorang merasa terjebak antara dua
pilihan: mengikuti keinginan keluarga
atau menjaga kehidupannya sendiri.
Reaksi Keluarga Ketika Seseorang
Menetapkan Batasan
Menetapkan batasan dalam keluarga
yang sudah lama memiliki pola tidak
sehat sering kali memunculkan
berbagai reaksi emosional.
Ketika seseorang mulai mengatakan
“tidak”, anggota keluarga lain mungkin
merasa kehilangan kendali atas
hubungan tersebut.
Beberapa reaksi yang sering muncul
antara lain:
Perasaan marah atau kecewa
Keluarga mungkin merasa bahwa orang
tersebut berubah dan tidak lagi
menghargai hubungan mereka.
Mempermalukan atau
menyalahkan
Seseorang bisa dituduh egois karena
mencoba menjaga waktunya sendiri.
Menolak perubahan
Ada keluarga yang terus mencoba
mempertahankan pola lama dengan cara
menekan atau memanipulasi secara
emosional.
Semua reaksi ini bisa membuat proses
menetapkan batasan terasa sangat sulit.
Perasaan Rumit Saat Mencoba
Menjaga Diri Sendiri
Dalam keluarga yang tidak sehat,
menetapkan batasan sering disertai
dengan banyak perasaan yang
bercampur.
Seseorang bisa merasa marah, sedih,
bersalah, dan takut pada saat yang sama.
Contohnya bisa terlihat pada situasi
berikut.
Bayangkan seseorang yang tumbuh
di rumah di mana orang tuanya sering
bertengkar. Sejak kecil ia terbiasa
menjadi penengah. Ia mencoba
menenangkan kedua orang tuanya
setiap kali terjadi konflik.
Ketika dewasa, ia ingin pindah
ke kota lain untuk bekerja. Namun ia
merasa takut meninggalkan rumah
karena khawatir orang tuanya akan
bertengkar lebih parah tanpa dirinya.
Ia berada dalam situasi yang sangat berat.
Di satu sisi ia mencintai keluarganya.
Di sisi lain ia juga ingin menjalani
kehidupannya sendiri.
Situasi seperti ini membuat seseorang
merasa bahwa ia harus mengorbankan
hidupnya demi menjaga kedamaian
keluarga.
Memberi Contoh dengan Cara
Mencintai Diri Sendiri
Menurut Nedra Glover Tawwab, salah
satu cara terbaik untuk membantu
orang lain tanpa mengorbankan diri
sendiri adalah menunjukkan
bagaimana mencintai dan
merawat diri sendiri.
Ketika seseorang menghargai
waktunya, perasaannya, dan
pilihannya sendiri, ia memberikan
contoh kepada orang lain tentang
bagaimana seharusnya seseorang
diperlakukan.
Self-love bukan berarti mengabaikan
orang lain.
Justru sebaliknya, self-love membantu
seseorang menjaga hubungan yang
lebih sehat karena ia tidak membiarkan
dirinya dimanfaatkan atau
diperlakukan dengan tidak hormat.
Contoh sederhana dalam kehidupan
sehari-hari:
Seseorang mungkin berkata kepada
keluarganya:
“Saya tetap peduli dengan kalian,
tapi saya juga membutuhkan waktu
untuk diri saya sendiri.”
Atau dalam situasi lain:
“Saya tidak bisa membantu hari ini
karena saya sudah memiliki rencana lain.”
Kalimat seperti ini mungkin terasa
sederhana, tetapi bagi seseorang yang
terbiasa selalu mengorbankan dirinya,
mengatakan hal tersebut bisa menjadi
langkah besar.
Mengenali Ketergantungan yang
Tidak Sehat
Masalahnya, mengenali hubungan
codependent tidak selalu mudah.
Jika seseorang telah hidup dalam
lingkungan seperti itu sejak kecil,
pola tersebut bisa terasa normal.
Ia mungkin tidak menyadari bahwa
hubungan yang ia jalani sebenarnya
membatasi kebebasannya.
Karena itu penting untuk mulai
memperhatikan area kehidupan
di mana seseorang merasa
kehilangan kemandirian.
Beberapa pertanyaan yang bisa
membantu antara lain:
Apakah saya sulit mengekspresikan
pendapat karena takut dikritik oleh
keluarga?
Apakah saya jarang memiliki waktu
untuk diri sendiri karena selalu
memenuhi permintaan orang lain?
Apakah keputusan hidup saya lebih
sering ditentukan oleh harapan
keluarga daripada keinginan pribadi?
Mengidentifikasi Area yang
Membutuhkan Batasan
Langkah berikutnya adalah mencoba
mengidentifikasi situasi di mana
batasan perlu dibuat.
Misalnya seseorang menyadari bahwa
setiap kali ia berbicara tentang
pendapatnya, saudara-saudaranya
langsung mengkritik atau mengejek.
Dalam situasi seperti ini, ia bisa mulai
membatasi percakapan tentang topik
tertentu.
Contoh lain adalah ketika seseorang
merasa tidak pernah memiliki waktu
luang karena orang tuanya selalu
meminta bantuan.
Ia mungkin mulai menetapkan jadwal
yang lebih jelas tentang kapan ia bisa
membantu dan kapan ia perlu fokus
pada kehidupannya sendiri.
Menuliskan contoh-contoh ini dapat
membantu seseorang melihat dengan
lebih jelas area mana yang perlu
diperbaiki.
Dengan menetapkan batasan secara
perlahan, seseorang mulai membuka
jalan menuju kehidupan yang lebih
sehat, lebih seimbang, dan lebih
bebas dari drama yang selama ini
menguras energi emosionalnya.
