Menyadari Ketidakfungsian: Langkah Pertama Menuju Penyembuhan
Salah satu pesan penting dalam buku
Drama Free karya Nedra Glover
Tawwab adalah bahwa penyembuhan
dari hubungan yang tidak sehat selalu
dimulai dari satu hal: kesadaran.
Sulit untuk melihat kegelapan jika
seseorang telah hidup di dalamnya
selama bertahun-tahun. Ketika sesuatu
sudah menjadi bagian dari kehidupan
sehari-hari sejak lama, kita cenderung
menganggapnya sebagai hal yang normal.
Baru ketika seseorang melihat contoh
yang berbeda sesuatu yang lebih sehat
dan lebih positif ia mulai menyadari
bahwa selama ini ada sesuatu yang
tidak berjalan dengan baik.
Bayangkan seorang anak yang tumbuh
di keluarga di mana salah satu orang
tuanya hampir selalu tidak ada.
Orang tua tersebut jarang pulang,
jarang berbicara dengan anaknya, dan
hampir tidak pernah terlibat dalam
kehidupan sehari-hari.
Bagi anak itu, situasi tersebut terasa
biasa saja. Ia tidak memiliki
perbandingan lain.
Namun suatu hari ia melihat keluarga
temannya. Di keluarga tersebut, kedua
orang tua hadir dalam kehidupan
anak-anak mereka. Mereka makan
bersama, berbicara tentang kegiatan
sekolah, membantu pekerjaan rumah,
dan mendengarkan cerita anak-anaknya.
Saat melihat hal itu, anak tersebut mulai
menyadari sesuatu: keluarganya dulu
tidak seperti itu. Ada bagian penting
dari hubungan keluarga yang ia tidak
pernah rasakan.
Kesadaran seperti ini sering menjadi
titik awal seseorang mulai memahami
masa lalunya dengan cara yang berbeda.
Kebiasaan Menutupi Masalah
dalam Keluarga
Dalam banyak keluarga yang tidak
sehat, ada satu pola yang sering
muncul: menutup-nutupi masalah.
Alih-alih membicarakan masalah
secara terbuka, anggota keluarga sering
memilih untuk berpura-pura bahwa
semuanya baik-baik saja.
Mereka menyangkal kenyataan,
menyimpan rahasia, atau merasa malu
untuk mengakui apa yang sebenarnya
terjadi.
Contohnya bisa sangat sederhana.
Ada keluarga di mana ayah sering
marah dan berteriak. Namun ketika ada
tamu datang, semua orang bersikap
seolah rumah tersebut sangat damai.
Jika anak mencoba membicarakan
masalah itu, ia mungkin diberi
jawaban seperti:
“Tidak usah dibicarakan.”
“Ini urusan keluarga.”
“Jangan mempermalukan keluarga.”
Lama-kelamaan anak belajar bahwa
membicarakan masalah adalah
sesuatu yang tidak boleh dilakukan.
Akibatnya, banyak orang tumbuh
tanpa pernah benar-benar membahas
pengalaman sulit dalam keluarganya.
Mereka memilih diam.
Padahal diam tidak selalu menyelesaikan
masalah. Sering kali diam hanya
membuat luka emosional semakin dalam.
Cara Kita Berperilaku di Keluarga
Membentuk Cara Kita Hidup
di Dunia
Nedra Glover Tawwab menjelaskan
bahwa cara seseorang berinteraksi
di dalam keluarga biasanya menjadi
dasar bagaimana ia berinteraksi
dengan dunia luar.
Jika seseorang tumbuh di lingkungan
keluarga yang penuh kritik, ia mungkin
tumbuh menjadi orang yang sangat
sensitif terhadap penilaian orang lain.
Jika seseorang tumbuh di keluarga
yang sering menyembunyikan masalah,
ia mungkin kesulitan berbicara jujur
tentang perasaannya.
Contoh sehari-hari bisa terlihat dalam
hubungan pertemanan atau pekerjaan.
Misalnya ada seseorang yang sejak kecil
tidak pernah diajarkan untuk
mengungkapkan perasaannya.
Setiap kali ia sedih atau marah,
ia diminta untuk diam.
Ketika dewasa, orang tersebut mungkin
kesulitan mengatakan hal-hal
sederhana seperti:
“Saya tidak nyaman dengan hal itu.”
“Saya butuh bantuan.”
“Saya merasa terluka oleh
perkataan itu.”
Sebaliknya, ia memilih memendam
semuanya.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini
dapat membuat hubungan dengan
orang lain menjadi rumit.
Trauma Masa Kecil Memiliki
Banyak Bentuk
Ketika mendengar kata trauma
masa kecil, banyak orang langsung
membayangkan kejadian ekstrem
seperti kekerasan fisik.
Namun dalam kenyataannya, trauma
masa kecil memiliki banyak bentuk.
Trauma bisa berasal dari berbagai
pengalaman hidup.
Ada anak yang harus berpindah-pindah
tempat tinggal selama bertahun-tahun
sehingga tidak pernah merasakan
stabilitas.
Ada anak yang mengalami perlakuan
kasar dari orang tua atau kerabat.
Ada juga anak yang mengalami
pengabaian emosional, orang tua
memang ada secara fisik, tetapi tidak
pernah benar-benar hadir secara
emosional.
Banyak anak tidak berani
menceritakan pengalaman ini.
Mereka takut tidak dipercaya.
Takut disalahkan.
Atau takut memperburuk situasi keluarga.
Akhirnya pengalaman tersebut
disimpan jauh di dalam pikiran mereka.
Namun emosi yang dipendam tidak
benar-benar hilang. Suatu saat, emosi
itu bisa muncul kembali dalam bentuk
masalah dalam hubungan ketika
mereka sudah dewasa.
Tanda-Tanda Luka Masa Kecil
yang Terbawa Hingga Dewasa
Pengalaman masa kecil yang
menyakitkan sering kali memengaruhi
perilaku seseorang di masa dewasa.
Beberapa tanda yang mungkin
muncul antara lain:
Frustrasi yang terus menerus
Seseorang merasa mudah marah atau
kesal tanpa benar-benar memahami
penyebabnya.
Contohnya, hal kecil seperti pesan yang
tidak segera dibalas bisa memicu emosi
yang sangat besar.
Self-sabotage
Seseorang tanpa sadar merusak
kesempatan baik dalam hidupnya.
Misalnya, ketika mendapatkan
peluang pekerjaan bagus, ia justru
menunda atau membuat kesalahan
yang merugikan dirinya sendiri.
Sulit mempercayai orang lain
Pengalaman dikhianati atau diabaikan
di masa kecil bisa membuat seseorang
selalu curiga terhadap orang lain.
Bahkan ketika seseorang bersikap baik,
ia tetap merasa waspada.
Menghindari konflik
Beberapa orang memilih menghindari
percakapan penting karena takut
terjadi pertengkaran.
Akibatnya, banyak masalah tidak
pernah benar-benar diselesaikan.
Kesulitan mengungkapkan
kebutuhan
Ada orang yang tidak terbiasa
mengatakan apa yang mereka
butuhkan dalam hubungan.
Misalnya, mereka ingin perhatian dari
pasangan tetapi tidak pernah
mengatakannya secara langsung.
Menekan perasaan
Sebagian orang terbiasa
menyembunyikan emosi mereka.
Mereka terlihat tenang di luar,
tetapi sebenarnya menyimpan
banyak perasaan yang tidak pernah
diungkapkan.
Semua pola ini sering kali berasal dari
pengalaman yang belum sepenuhnya
dipahami atau diproses.
Mengenali Pola Negatif Melalui
Refleksi Diri
Langkah penting dalam proses
penyembuhan adalah melakukan
refleksi diri.
Dengan memahami pola pikiran dan
perilaku kita sendiri, kita bisa mulai
melihat hubungan antara masa lalu
dan kehidupan saat ini.
Salah satu cara yang disarankan adalah
dengan menulis jurnal.
Menulis membantu seseorang mengatur
pikirannya dan melihat pengalaman
hidup dengan lebih jelas.
Beberapa pertanyaan yang bisa ditulis
dalam jurnal antara lain:
Bagaimana rasanya masa kecil
saya?Emosi apa yang muncul ketika
saya memikirkan orang tua saya?Pernahkah saya merasa
dikhianati, tidak berharga,
atau diabaikan?
Menjawab pertanyaan-pertanyaan
ini tidak selalu mudah.
Kadang-kadang seseorang baru
menyadari bahwa ada pengalaman lama
yang masih memengaruhi hidupnya
hingga sekarang.
Namun kesadaran tersebut justru
menjadi pintu untuk perubahan.
Menghilangkan Pola Perilaku
yang Merusak
Perilaku yang merusak sering kali
bekerja seperti rumput liar.
Akarnya bisa sangat dalam dan tidak
terlihat di permukaan.
Namun bukan berarti rumput liar
tersebut tidak bisa dicabut.
Dengan mengenali pola perilaku yang
tidak sehat, seseorang mulai memiliki
kesempatan untuk mengubahnya.
Misalnya seseorang menyadari bahwa
ia selalu menghindari percakapan
penting karena takut konflik.
Setelah menyadarinya, ia bisa mulai
berlatih berbicara lebih terbuka
meskipun awalnya terasa sulit.
Perubahan kecil seperti ini, jika
dilakukan secara konsisten, dapat
menciptakan hubungan yang lebih sehat.
Ketika Bantuan Profesional
Dibutuhkan
Dalam beberapa situasi, refleksi diri
saja tidak cukup.
Ada pengalaman masa lalu yang terlalu
menyakitkan untuk dihadapi sendirian.
Jika seseorang merasa mengalami
tekanan mental yang sangat berat,
kesedihan yang berkepanjangan, atau
pikiran yang terus membawa ke arah
depresi, mencari bantuan profesional
bisa menjadi langkah yang penting.
Seorang psikoterapis dapat membantu
seseorang memahami emosinya
dengan lebih jelas serta membangun
pola hubungan yang lebih sehat.
Menurut sebuah artikel di Peru Law
pada Januari 2023, data menunjukkan
bahwa satu dari tiga perempuan
dan satu dari empat laki-laki
melaporkan pernah mengalami
kekerasan dari pasangan mereka.
Angka ini menunjukkan bahwa masalah
hubungan yang tidak sehat sebenarnya
sangat umum terjadi.
Karena itu, menyadari pola yang tidak
sehat dan mencari bantuan bukanlah
tanda kelemahan. Justru itu adalah
langkah penting untuk menciptakan
kehidupan yang lebih sehat dan
hubungan yang lebih damai.
