Bagaimana Trauma Mengubah Otak: Tiga Sistem yang Bereaksi Berbeda
Untuk memahami apa yang terjadi
pada otak yang mengalami trauma,
penting mengetahui bahwa otak
memiliki tiga bagian utama yang
merespons bahaya dengan cara
berbeda. Pertama, batang otak
(sering disebut sebagai “otak reptil”)
yang bertugas mengatur fungsi dasar
bertahan hidup dan refleks. Kedua,
sistem limbik yang mengelola emosi
dan perilaku sosial; di sinilah respons
fight, flight, atau freeze dipicu. Ketiga,
prefrontal cortex, bagian yang
bertanggung jawab atas pemikiran
rasional, pengambilan keputusan, dan
kemampuan mengelola hidup secara
sadar.
Dalam situasi normal, prefrontal cortex
membantu kita berpikir jernih dan
mengatur tindakan. Namun ketika
bahaya muncul, bagian ini akan
“mati sementara”, dan otak reptil
mengambil alih. Tubuh langsung
masuk ke mode bertahan hidup:
melawan, melarikan diri, atau
membeku. Jika ancaman berhasil
diatasi, kita bisa kabur, berteriak, atau
melawan, maka sistem saraf kembali
ke kondisi normal.
Masalah muncul ketika seseorang tidak
bisa melawan atau melarikan diri.
Dalam kondisi seperti perang,
kecelakaan, atau kekerasan, tubuh tidak
punya pilihan selain membeku.
Ketidakmampuan untuk melakukan
apa pun terhadap apa yang sedang
terjadi inilah yang membuat sebuah
peristiwa menjadi traumatis.
Imobilisasi menjadi akar dari banyak
trauma.
Respons Freeze dan Shutdown:
Saat Tubuh Mematikan Diri
untuk Bertahan
Ketika respons freeze atau shutdown
aktif, sistem saraf parasimpatik
mengambil alih. Detak jantung
melambat, napas menjadi dangkal,
otot kehilangan tonus. Seseorang
bisa merasa kebas, terlepas dari diri
sendiri, bahkan pingsan. Banyak orang
mengalami disosiasi, seolah-olah
mereka menonton kejadian itu dari
luar diri mereka, seperti sedang
menyaksikan sesuatu yang terjadi
pada orang lain.
Sebagian mengalami depersonalisasi,
yaitu kehilangan rasa diri. Mereka
merasa terpisah dari tubuhnya sendiri.
Penelitian pada penyintas trauma
di Belanda menunjukkan bahwa pusat
ketakutan di otak bisa “mati” ketika
mereka mengingat kembali peristiwa
traumatis. Shutdown adalah cara
otak melindungi diri.
Namun, tubuh tidak bisa memilih untuk
hanya mematikan rasa sakit. Jika
seseorang terjebak dalam kondisi freeze
kronis, ia akan merasa kebas dalam
banyak aspek kehidupan: kelelahan
emosional di tempat kerja, hubungan
yang terasa hampa, atau hilangnya
kegembiraan hidup. Karena itu,
kemampuan untuk mengambil
tindakan, baik saat kejadian maupun
dalam proses pemulihan, membantu
memulihkan rasa keutuhan diri.
Sebagian orang terjebak dalam
shutdown, sebagian lain terjebak dalam
mode fight atau flight. Mereka bisa
terus-menerus marah atau ketakutan.
Ini bukan soal kurangnya kemauan,
melainkan sistem saraf yang tersimpan
dalam kondisi siaga permanen.
Trauma yang Tersimpan dalam
Sistem Saraf
Trauma tidak hanya menjadi kenangan
psikologis, tetapi tersimpan dalam
sistem saraf, termasuk otak. Ketika
trauma tidak terselesaikan, bagian
otak bawah tidak pernah benar-benar
menerima pesan bahwa ancaman telah
berlalu. Tubuh terus memproduksi
hormon stres, terutama ketika ada
pemicu yang mengingatkan pada
kejadian tersebut, bahkan
bertahun-tahun atau puluhan tahun
kemudian.
Amygdala akan bereaksi berlebihan
terhadap pemicu kecil. Inilah yang
terjadi pada PTSD. Seorang veteran
perang mungkin tahu secara rasional
bahwa ia sudah berada di rumah dan
perang telah usai. Namun pemicu
kecil bisa mengaktifkan kembali otak
bertahan hidupnya. Semua ini terjadi
di luar kendali bagian otak rasional.
Akibatnya, situasi yang sebenarnya
aman dapat memicu respons
melawan, lari, atau membeku, kadang
sekaligus. Ini dapat muncul dalam
bentuk serangan panik, ledakan
amarah, atau ketakutan yang ekstrem.
Gejala seperti kilas balik, mimpi buruk,
kecemasan berat, dan kebas emosional
mengganggu hubungan, pekerjaan,
dan kehidupan sehari-hari.
Trauma mengubah cara pikiran dan
otak mengelola persepsi. Ia tidak hanya
mengubah apa yang kita pikirkan,
tetapi juga kapasitas kita untuk berpikir.
Cara Pandang yang
Terkontaminasi Trauma
Tes Rorschach digunakan untuk
melihat bagaimana pasien yang
mengalami trauma berpikir berbeda
dibandingkan orang yang tidak
mengalami trauma. Pada tes ini,
seseorang diminta menjelaskan
makna dari gambar noda tinta.
Orang pada umumnya mungkin
melihat kupu-kupu atau kelelawar.
Namun individu yang mengalami
trauma bisa melihat sesuatu yang rusak,
hancur, atau tindakan agresif. Ada pula
yang tidak mampu membayangkan
apa pun. Orang yang mengalami trauma
cenderung memproyeksikan pengalaman
traumatisnya ke lingkungan sekitar.
Komentar biasa bisa terasa seperti
serangan. Sepotong pakaian bisa
memicu rasa malu yang intens.
Bau makanan tertentu dapat
membangkitkan respons ketakutan
ekstrem. Contohnya, seorang mantan
tawanan perang bisa meledak marah
hanya karena melihat nasi putih yang
mengingatkannya pada masa
penahanan.
PTSD merusak rasa aman. Trauma
bukan sekadar masalah kesehatan
mental, melainkan respons seluruh
tubuh. Amygdala terus memicu
respons bertahan hidup meskipun
ancaman telah berlalu.
Amigdala (amygdala) adalah dua
kelompok struktur berbentuk
almond di dalam lobus temporal
otak yang berperan sebagai pusat
pemrosesan emosi utama, terutama
rasa takut, marah, dan cemas
Tubuh yang Terus Mengingat
Karena tubuh terus mengeluarkan
hormon stres dalam jangka panjang,
kondisi siaga konstan ini memengaruhi
memori, perhatian, tidur, suasana hati,
dan kesehatan fisik. Gejala fisik trauma
yang tidak terselesaikan dapat berupa
obesitas, penurunan atau kenaikan berat
badan drastis, anoreksia, nyeri punggung
dan leher kronis, migrain, beberapa jenis
asma, gangguan pencernaan seperti IBS,
kelelahan kronis, fibromyalgia, serta
berbagai penyakit autoimun dan
kardiovaskular.
Stres berkepanjangan juga
meningkatkan risiko depresi,
penyakit jantung, dan kanker. Banyak
penyintas trauma mencari cara untuk
menumpulkan rasa tidak nyaman
melalui makan berlebihan, anoreksia,
kecanduan olahraga atau kerja,
alkohol, atau obat-obatan.
Sebaliknya, ada juga yang mencari
sensasi ekstrem untuk mengalahkan
kecemasan dalam tubuhnya, seperti
seks berisiko, perjudian, bungee
jumping, atau aktivitas berbahaya
lainnya.
Depersonalisasi dan Hilangnya
Rasa Hidup
Pada sebagian orang, trauma
menghasilkan mekanisme pertahanan
yang berlawanan: otak berhenti
meregistrasi sensasi yang menakutkan.
Namun karena tidak bisa
menumpulkan secara selektif, semua
sensasi tubuh ikut terdampak. Inilah
depersonalisasi.
Persepsi sensorik menjadi tumpul.
Beberapa pasien bahkan tidak mampu
merasakan bagian tertentu dari
tubuhnya. Dalam tes sederhana,
misalnya mengidentifikasi benda
dengan mata tertutup, orang dengan
PTSD sering tidak mampu
mengintegrasikan berat, bentuk, dan
tekstur benda tersebut. Otak mereka
tidak mampu menyatukan sinyal
dari tubuh.
Ketika otak dan tubuh tidak dapat
terhubung dan terintegrasi, seseorang
tidak merasa benar-benar hidup.
Ia kehilangan kemampuan merasakan
kenikmatan maupun rasa sakit secara
utuh. Perlahan, rasa tujuan, arah
hidup, bahkan identitas diri ikut
memudar. Dalam kasus berat, seseorang
bahkan tidak mengenali dirinya sendiri
di cermin.
Baik trauma itu muncul sebagai nyeri
dan penyakit kronis maupun sebagai
kebas total, akar masalahnya bisa sama.
Karena itu, masalah fisik tidak akan
sepenuhnya pulih jika trauma masa lalu
tidak dihadapi dengan cara yang
memungkinkan tubuh ikut sembuh
bersama pikiran.
Bab ini menegaskan satu hal penting:
trauma bukan hanya cerita tentang
ingatan yang menyakitkan, melainkan
tentang sistem saraf yang terus hidup
dalam masa lalu. Tubuh benar-benar
menyimpan skor dari apa yang pernah
terjadi.
