Buku The Body Keeps The Score Bessel Van Der Kolk, Memahami Trauma Tanpa Harus Tenggelam di Dalamnya

Bessel Van Der Kolk
Banyak orang merasa gentar ketika
pertama kali melihat buku The Body
Keeps The Score. Bukunya tebal,
isinya berat, dan memuat banyak
contoh nyata tentang trauma yang bisa
terasa memicu. Reaksi itu wajar.
Namun justru di situlah kekuatan
buku ini: ia menjadi semacam
“panduan modern” untuk memahami
bagaimana trauma bekerja,
bukan hanya di pikiran, tetapi juga
di otak, tubuh, dan hubungan manusia.
Tidak heran buku ini bertahan lama
di daftar New York Times bestseller.
Trauma ternyata bukan isu yang jauh
dari kehidupan kita. Hampir semua
orang, dalam kadar tertentu, pernah
bersentuhan dengannya. Dr. Bessel
van der Kolk merangkum puluhan
tahun penelitiannya untuk menjelaskan
satu hal mendasar: trauma bukan
sekadar peristiwa, melainkan jejak
yang tertinggal.
Tulisan ini merangkum esensi gagasan
awal buku tersebut,
tanpa bagian-bagian yang terlalu
memicu dan berfokus pada bagaimana
trauma didefinisikan serta bagaimana
ia terus hidup dalam diri penyintas.
Apa Itu Trauma?
Sebagian besar dari kita akan
mendefinisikan trauma sebagai
peristiwa yang sangat mengganggu
atau menyakitkan. Misalnya kecelakaan,
peperangan, kekerasan, atau kehilangan
besar. Namun definisi ini belum lengkap.
Trauma bukan hanya tentang apa yang
terjadi. Trauma adalah tentang
bagaimana seseorang merespons
apa yang terjadi.
Dua orang bisa mengalami peristiwa
yang sama. Yang satu mampu
memprosesnya secara adaptif dan
perlahan kembali ke keseimbangan.
Yang lain justru terjebak dalam
respons yang membuat otak dan tubuh
terus menghidupkan kembali kejadian
itu seolah-olah masih berlangsung.
Di sinilah perbedaan antara respons
adaptif dan respons traumatis.
Respons adaptif memungkinkan sistem
saraf kembali tenang setelah bahaya
berlalu. Respons traumatis membuat
sistem saraf tetap menyala, seperti
alarm yang tidak pernah dimatikan.
Trauma Bukan Masa Lalu,
Tetapi Jejak yang Tertinggal
Salah satu gagasan paling penting
dalam buku ini adalah bahwa trauma
bukan sekadar peristiwa yang terjadi
di masa lalu. Trauma adalah jejak yang
tertinggal di pikiran, otak, dan tubuh.
Jejak ini memengaruhi cara seseorang
bertahan hidup di masa kini.
Artinya, walaupun peristiwanya sudah
selesai, tubuh dan otak bisa tetap
bereaksi seolah-olah ancaman itu
masih ada. Waktu bergerak maju,
tetapi sistem saraf tetap tertahan
di masa lalu.
Inilah sebabnya banyak penyintas
trauma tidak benar-benar “hidup
di masa kini”. Energi mereka habis
untuk menekan kekacauan batin yang
muncul ketika ada pemicu (trigger).
Ketika pemicu muncul, tubuh bereaksi
lebih cepat daripada pikiran rasional.
Trauma, dengan kata lain, adalah
pengalaman yang belum selesai
di dalam sistem saraf.
Ketika Otak Terjebak dalam
Mode Bertahan Hidup
Ciri utama trauma adalah keterjebakan
dalam respons bertahan hidup. Sistem
saraf menjadi sangat sensitif terhadap
tanda-tanda bahaya. Hal kecil bisa
terasa seperti ancaman besar.
Contoh nyata yang menggambarkan
hal ini terjadi pada seorang veteran
perang yang tinggal di lingkungan
perumahan biasa. Menjelang
perayaan 4 Juli, ia menulis di grup
komunitas meminta agar tetangga
tidak menyalakan kembang api
beberapa hari sebelum dan sesudah
hari perayaan.
Alasannya sederhana namun
menyentuh: setiap kali kembang api
meledak tiba-tiba, ia langsung
menjatuhkan diri ke lantai.
Di kepalanya, ia kembali melihat
pohon-pohon kurma di gurun.
Ia merasa seperti berada kembali
di Irak, menunggu mortir menghantam.
Secara objektif, ia berada di lingkungan
aman. Namun tubuhnya tidak tahu itu.
Tubuhnya masih hidup dalam zona
perang.
Ia bahkan berencana pergi
ke pegunungan demi menghindari suara
ledakan. Permintaannya kepada
keluarga dan seluruh lingkungan
menunjukkan satu hal penting:
traumanya tidak hanya memengaruhi
dirinya, tetapi juga orang-orang
di sekitarnya.
Ini bukan tentang benar atau salah.
Ini tentang bagaimana trauma dapat
membuat seseorang terjebak dalam
respons bertahan hidup yang terus
aktif.
Trauma Hidup di Otak
Dalam kondisi traumatis, otak belajar
bahwa dunia tidak aman. Sistem alarm
di otak menjadi sangat sensitif. Ia lebih
cepat mendeteksi ancaman, bahkan
ketika ancaman itu tidak benar-benar
ada.
Akibatnya, pemicu kecil dapat
langsung mengaktifkan kembali
sensasi, gambaran visual, dan emosi
yang sama seperti saat kejadian asli
berlangsung.
Otak tidak membedakan dengan jelas
antara “dulu” dan “sekarang” ketika
respons traumatis aktif. Itulah
sebabnya penyintas sering
mengatakan mereka merasa seperti
“kembali ke sana”.
Trauma Hidup di Tubuh
Trauma bukan hanya cerita yang
tersimpan dalam ingatan.
Ia tersimpan dalam sensasi tubuh.
Reaksi seperti jantung berdebar
kencang, napas pendek, ketegangan
otot, dorongan untuk lari atau
bersembunyi, semua itu bisa muncul
otomatis tanpa keputusan sadar.
Tubuh mengingat.
Bahkan ketika seseorang secara logis
tahu bahwa ia aman, tubuhnya bisa
tetap bereaksi seolah-olah ancaman
masih berlangsung. Inilah makna
mendalam dari judul buku ini: tubuh
menyimpan skor. Ia mencatat
pengalaman yang belum terselesaikan.
Trauma dan Dampaknya pada
Hubungan
Karena trauma membuat seseorang
fokus pada menekan kekacauan batin,
hubungan dengan orang lain pun
terdampak.
Energi yang seharusnya digunakan
untuk hadir, terhubung, dan
menikmati momen sering kali tersedot
untuk bertahan dari gelombang
memori dan sensasi yang muncul
tiba-tiba.
Dalam contoh veteran tadi, terlihat
bagaimana traumanya memengaruhi
keluarga dan tetangga. Ia meminta
orang lain menyesuaikan diri demi
mengurangi pemicunya. Sekali lagi,
ini bukan tentang menyalahkan. Ini
tentang memahami bahwa trauma
jarang berdiri sendiri. Ia menyentuh
jaringan relasi di sekitarnya.
Trauma bisa membuat seseorang
menarik diri, mudah marah, sulit
percaya, atau terlalu waspada. Semua
itu adalah strategi bertahan hidup
yang pernah berguna, tetapi kini
terus aktif bahkan ketika tidak lagi
dibutuhkan.
Tiga Tempat Trauma Bertahan
Dari pembahasan awal ini, kita bisa
melihat bahwa trauma hidup di tiga
ranah utama:
Di otak, sebagai sistem alarm yang
terus siaga.
Di tubuh, sebagai sensasi dan
respons fisik yang otomatis.
Di hubungan, sebagai pola
interaksi yang dipengaruhi oleh
rasa tidak aman yang mendalam.
Memahami tiga ranah ini adalah
langkah pertama untuk melihat
trauma bukan sebagai kelemahan
moral, melainkan sebagai respons
biologis terhadap ancaman yang
pernah nyata.
Penutup: Menggeser Cara
Pandang tentang Trauma
Pendekatan dalam buku ini mengajak
kita berhenti melihat trauma hanya
sebagai cerita menyedihkan dari masa
lalu. Trauma adalah kondisi sistem
saraf yang belum kembali
ke keseimbangan.
Ia bukan sekadar ingatan, melainkan
pengalaman yang terus hidup dalam
pikiran, tubuh, dan relasi.
Dengan memahami definisi ini, kita
mulai melihat bahwa penyembuhan
tidak cukup hanya dengan
“melupakan” atau “berpikir positif”.
Karena yang terluka bukan hanya
pikiran sadar, melainkan seluruh
sistem tubuh.
Dan dari sinilah perjalanan memahami
trauma benar-benar dimulai.
