buku

Trauma dalam Hubungan

Trauma hampir selalu mengganggu
hubungan. Hal ini masuk akal: jika
seseorang pernah menjadi pelaku
kekerasan dalam perang atau menjadi
korban kekerasan dalam bentuk
pelecehan dan penelantaran, maka
pengalaman itu akan mengubah
cara ia memandang dirinya sendiri dan
orang lain. Trauma membuat
kepercayaan menjadi rapuh, baik
kepercayaan terhadap orang lain
maupun terhadap diri sendiri.

Namun kurangnya kepercayaan bukan
satu-satunya masalah. Trauma tidak
hanya menciptakan jarak emosional;
ia juga mengubah cara otak merespons
interaksi sosial paling sederhana
sekalipun, seperti kontak mata.

Kontak Mata, Otak, dan Respons
yang Berbeda

Buku ini mengangkat penelitian
Dr. Ruth Lanius tentang bagaimana
otak bereaksi terhadap situasi sosial.
Penelitiannya menunjukkan
perbedaan yang sangat mencolok
antara orang yang tidak mengalami
trauma dan mereka yang hidup
dengan PTSD.

Pada individu yang tidak mengalami
trauma, ketika seseorang mencoba
melakukan kontak mata, korteks
prefrontal aktif. Bagian otak ini
berperan dalam pemikiran rasional
dan reflektif. Mereka menjadi
penasaran terhadap orang
di hadapannya. Neuron cermin
membantu menangkap niat lawan
bicara, dan bagian otak yang berpikir
akan mengevaluasi apakah orang
tersebut aman atau tidak. Ada proses
internal yang teratur: mengamati,
mempertimbangkan, lalu merespons.

Sebaliknya, pada penderita PTSD,
korteks prefrontal tidak aktif ketika
terjadi kontak mata. Yang justru
menyala adalah bagian otak
emosional yang disebut periaqueductal
gray—area yang berkaitan dengan
respons bertahan hidup. Alih-alih rasa
ingin tahu, yang muncul adalah mode
bertahan. Alih-alih analisis, yang
muncul adalah kewaspadaan.

Akibatnya, ketika bertemu orang asing,
seseorang dengan PTSD sering
memutus kontak mata. Ia bisa
merasakan rasa malu yang intens.
Ia mungkin percaya bahwa ada sesuatu
yang “rusak” dalam dirinya karena
merasa takut di sekitar orang lain.
Padahal, respons itu adalah sistem
saraf yang bekerja dalam mode
perlindungan.

Trauma Masa Kecil dan Masalah
yang Tersembunyi

Dampak trauma masa kecil sangat luas.
Lebih dari setengah anak yang
mengalami trauma juga mengalami
masalah belajar atau perilaku
di sekolah. Masalah ini sering kali
tidak benar-benar hilang. Mereka
tidak “tumbuh darinya.” Sebaliknya,
mereka belajar menyembunyikannya
—melalui kerahasiaan dan rasa malu.

Rasa malu menjadi pola yang
berlanjut hingga dewasa. Dalam
kehidupan kerja, hal ini dapat muncul
dalam bentuk sering absen, kesulitan
mempertahankan pekerjaan, dan
masalah keuangan. Semua ini pada
akhirnya menghambat keberhasilan
profesional dan kemampuan
membangun relasi pribadi yang sehat.

Dengan kata lain, trauma tidak
berhenti di masa lalu. Ia terus
memengaruhi relasi, pekerjaan,
dan rasa harga diri seseorang.

Sebelum Penyembuhan:
Pentingnya Pencegahan

Sebelum membahas penyembuhan, ada
satu pernyataan penting: sebagian
besar trauma sebenarnya bisa dicegah.

Menurut van der Kolk, pelecehan dan
penelantaran anak adalah penyebab
gangguan mental yang paling dapat
dicegah. Ia juga merupakan penyebab
paling umum penyalahgunaan
narkoba dan alkohol, serta kontributor
signifikan terhadap berbagai penyebab
utama kematian seperti diabetes,
penyakit jantung, kanker, stroke, dan
bunuh diri.

Artinya, trauma masa kecil bukan
hanya isu psikologis. Ia adalah isu
kesehatan masyarakat yang luas.

Studi ACEs: Realitas yang
Mengguncang

ACEs adalah singkatan dari Adverse
Childhood Experiences
—pengalaman
buruk di masa kecil. Ini mencakup
menyaksikan atau mengalami
pelecehan, penelantaran, kekerasan
dalam rumah tangga, kehilangan
orang tua karena kematian,
perceraian, atau penahanan.

Yang dimaksud dengan “penahanan”
dalam konteks ACEs
(Adverse Childhood Experiences) adalah
orang tua yang dipenjara atau
ditahan oleh aparat hukum

(parental incarceration).

Jadi maksud kalimat itu adalah:
seorang anak kehilangan kehadiran
orang tua bukan hanya karena
kematian atau perceraian, tetapi juga
karena orang tua tersebut masuk
penjara
atau menjalani hukuman
tahanan.

Mengapa ini termasuk pengalaman
traumatis?

Karena bagi anak, situasinya berarti:

  • Kehilangan figur utama pengasuh
    secara mendadak

  • Rasa malu sosial atau stigma

  • Ketidakstabilan ekonomi keluarga

  • Perubahan tempat tinggal atau
    pengasuh

  • Perasaan bingung, marah, atau
    merasa ditinggalkan

Semua itu bisa meninggalkan dampak
jangka panjang pada kesehatan mental
dan fisik, sebagaimana dijelaskan
dalam studi ACEs.

Jadi “penahanan” di sini bukan berarti
sekadar ditahan sebentar, melainkan
dipenjara sebagai bagian dari
proses hukum
, yang berdampak
pada kehidupan anak.

Studi ACEs menemukan dua hal besar.

Pertama, 64% orang mengalami
setidaknya satu ACE dalam hidup
mereka. Dan 16%, satu dari enam
orang, mengalami empat atau
lebih ACEs.

Kedua, ACEs memiliki dampak besar
terhadap kesehatan fisik dan mental
sepanjang hidup. Anak-anak yang
mengalami empat hingga enam
peristiwa traumatis memiliki
kemungkinan hingga lima kali lebih
besar mengalami depresi kronis.
Upaya bunuh diri meningkat secara
drastis. Risiko alkoholisme menjadi
tujuh kali lebih tinggi. Penggunaan
narkoba suntik meningkat ribuan kali
lipat. Korban pelecehan anak memiliki
kemungkinan enam kali lebih besar
mengalami pemerkosaan di masa
dewasa.

Daftarnya terus berlanjut. ACEs juga
secara signifikan meningkatkan risiko
penyakit fisik seperti penyakit jantung,
kanker, stroke, obesitas, diabetes, dan
gangguan autoimun.

Trauma masa kecil bukan hanya luka
emosional. Ia menanamkan jejak
biologis yang dapat muncul dalam
bentuk penyakit fisik bertahun-tahun
kemudian.

Gejala Fisik yang Berakar pada
Masa Lalu

Banyak orang dewasa hidup dengan
gejala fisik yang akarnya berasal dari
trauma masa kecil. Mereka mungkin
tumbuh di dunia yang penuh pemicu.
Tubuh mereka terus berada dalam
keadaan siaga.

Dokter mungkin mengobati gejala fisik
tersebut. Obat mungkin membantu
mengurangi keluhan. Namun gejalanya
sering tidak sepenuhnya hilang, karena
akar masalahnya tidak disentuh. Tubuh
menyimpan jejak pengalaman yang
belum terselesaikan.

Di sinilah judul buku ini menjadi nyata:
tubuh menyimpan skor. Tubuh
mengingat apa yang pikiran coba
lupakan.

Menghapus Trauma Melalui
Dukungan dan Pendidikan

Sebagian besar trauma bisa dicegah.
Mengurangi pelecehan anak dalam
segala bentuknya adalah langkah
paling besar yang dapat diambil untuk
mencegah gangguan mental,
kecanduan, dan berbagai penyakit
kronis.

Menghilangkan pelecehan anak bukan
hanya soal hukum, tetapi juga soal
pelatihan dan dukungan bagi orang tua.
Keluarga yang aman dan suportif
adalah fondasi kesehatan mental dan
fisik jangka panjang.

Trauma bukan sekadar masalah
individu; ia adalah masalah sosial dan
ekonomi. Dengan mencegah trauma
sejak awal, kita juga mencegah berbagai
konsekuensi kesehatan dan sosial
di masa depan.

Menjadi Trauma-Informed
sebagai Langkah Awal

Menjadi sadar akan dampak trauma
adalah langkah pertama menuju
perubahan. Memahami bagaimana
pengalaman masa kecil membentuk
otak, tubuh, dan relasi membantu kita
melihat perilaku dengan lensa yang
berbeda.

Membesarkan anak dalam keluarga
yang aman dan suportif adalah bentuk
pencegahan paling kuat. Dengan
menjadi trauma-informed, memahami
bahwa banyak perilaku bermasalah
adalah respons terhadap luka yang
belum sembuh, kita berkontribusi
pada dunia yang lebih sehat.

Sebelum penyembuhan dimulai,
pencegahan adalah kekuatan terbesar
yang kita miliki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *