Runtuhnya Perampokan Satu Miliar Dolar
Tahun 2012 menjadi puncak
keberanian Jho Low.
Setelah sukses dengan skema
sebelumnya, ia kembali merancang
transaksi besar, kali ini melibatkan
International Petroleum
Investment Company (IPIC)
sebuah sovereign wealth fund yang
dikelola Abu Dhabi.
Jho Low melihat peluang emas:
dana negara, jaringan internasional,
dan sistem yang bisa dimanipulasi
dari balik layar.
Transfer 1,75 Miliar Dolar
Pada 21 Mei 2012, 1MDB mengirim
1,75 miliar dolar ke sebuah
organisasi yang diklaim sebagai
perusahaan akuisisi pembangkit
listrik Asia.
Namun dalam hitungan hari,
576 juta dolar dari transaksi itu
justru mendarat di rekening bank
yang terhubung dengan IPIC.
Seperti pola sebelumnya, transfer
ini dicatat sebagai pembayaran
pinjaman, padahal pinjaman itu
tidak pernah benar-benar ada.
Dan sekali lagi, uang tersebut
akhirnya berada dalam kendali
Jho Low.
Uang yang Menggerakkan
Tiga Dunia
Aliran dana baru ini menjadi
bahan bakar bagi tiga hal besar:
Membiayai film The
Wolf of Wall StreetMembeli loyalitas
pemilih di MalaysiaMempertahankan gaya
hidup mewah Jho Low
Satu transaksi palsu kini berdampak
pada politik, hiburan, dan kekayaan
pribadi dalam skala global.
Bayangan dari Masa Lalu:
Xavier Justo
Namun dari balik keberhasilan itu,
muncul ancaman lama.
Xavier Justo, mantan direktur
PetroSaudi perusahaan cangkang
yang berperan penting dalam
penipuan 1MDB menuntut
2 juta dolar sebagai bayaran
atas keterlibatannya di masa lalu.
Ia memberi ultimatum:
Jika tidak dibayar, ia akan
membuka semua bukti.
Jho Low mengabaikannya.
Keputusan itu kelak menjadi
kesalahan fatal.
Malaysia Mulai Gelisah
Di dalam negeri, rumor korupsi
mulai menyebar.
Nama perdana menteri Najib
Razak terseret, dengan tuduhan
bahwa 1MDB berfungsi seperti
celengan pribadi kekuasaan.
Demonstrasi pecah.
Rakyat menuntut reformasi.
Namun tanpa bukti dokumen,
Najib masih tak tersentuh.
Jho Low tetap merasa aman.
Untuk sementara.
Dokumen yang Dijual
ke Dunia
Tahun 2014, Xavier Justo mendekati
jurnalis investigasi Inggris Clare
Rewcastle-Brown.
Ia menawarkan dokumen internal
yang membuktikan skema 1MDB
dengan harga 2 juta dolar.
Clare tidak punya dana itu.
Ia lalu meminta bantuan Tong Kooi
Ong, pemilik majalah bisnis terlaris
Malaysia The Edge.
Dana terkumpul.
Dokumen berpindah tangan.
Pengungkapan Abad Ini
Februari 2015, Clare
Rewcastle-Brown mempublikasikan
laporan besar:
Perampokan abad ini akhirnya
terbuka.
Tak lama kemudian, The New
York Times mengungkap bahwa
Jho Low berperan sebagai agen
tidak resmi Najib, bahkan membeli
berbagai properti mewah atas
nama sang perdana menteri.
Dunia kini melihat pola utuh yang
selama ini tersembunyi.
Awal Akhir Kekaisaran
Jho Low
Skema yang selama ini berdiri
di atas jaringan rahasia, bank
internasional, dan relasi politik,
akhirnya mulai runtuh.
Bukti telah keluar.
Media global bergerak.
Pemerintah asing ikut menyelidiki.
Dan karier Jho Low sebagai arsitek
penipuan global mulai roboh
di hadapan dunia.
Penutup: Ketika Rahasia Tak
Bisa Lagi Disimpan
Selama bertahun-tahun, Jho Low
bergerak di ruang gelap sistem
keuangan internasional.
Namun satu kesalahan kecil
mengabaikan orang yang merasa
dikhianati membuka pintu
kehancuran.
Perampokan itu tidak lagi
tersembunyi.
Ia kini menjadi skandal keuangan
terbesar abad ini.
Dan cerita Jho Low mendekati titik
yang tak bisa ia kendalikan lagi.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Bayangkan Ada Bendahara
Desa Super Kaya
Bayangkan ada seorang pemuda
bernama Jho Low. Dia bukan
pejabat resmi, tapi sangat pintar
berteman dengan orang penting.
Suatu hari, ia ikut mengatur kas
desa raksasa bernama 1MDB,
yang isinya uang rakyat satu
negara.
Jho Low melihat peluang:
“Kalau aku bisa mengatur jalur
uangnya, aku bisa mengalihkan
sebagian ke kantongku, tanpa
orang sadar.”
Trik Kirim Uang
ke ‘Rekening Palsu’
Suatu hari, bendahara desa
mengirim uang 1,75 miliar
dolar dengan alasan:
“Kita mau beli pembangkit
listrik untuk desa.”
Tapi ternyata, dari uang itu,
576 juta dolar malah masuk
ke rekening lain yang katanya
milik rekan bisnis luar negeri.
Padahal rekan bisnis itu hanya
papan nama kosong.
Akhirnya, uang itu dikendalikan
Jho Low.
Seperti:
Desa kirim uang untuk beli sapi.
Tapi uangnya masuk ke rekening
kandang kosong.
Kunci kandangnya dipegang
Jho Low.
Uangnya Dipakai Buat Apa?
Uang itu kemudian dipakai
untuk tiga hal:
Bikin film Hollywood
mahal
(Seperti orang kampung
tiba-tiba jadi produser
film bioskop)Bagi-bagi uang ke warga
supaya pilih pemimpin
tertentu
(Seperti nyogok saat
pemilihan kepala desa)Hidup mewah pribadi
(Rumah besar, pesta,
mobil mahal)
Satu kebohongan → efeknya
sampai politik, hiburan, dan
gaya hidup.
Muncul Orang Lama yang
Marah
Ada mantan rekan lama bernama
Xavier Justo.
Dulu dia ikut bantu bikin
perusahaan palsu itu.
Sekarang dia datang:
“Bayar aku 2 juta dolar.
Kalau tidak, aku bongkar
semua rahasiamu.”
Jho Low merasa:
“Ah, dia cuma menggertak.”
Dia tidak bayar.
Itu kesalahan besar.
Warga Desa Mulai Curiga
Di dalam negeri, warga mulai
heran:
“Kenapa kas desa berkurang,
tapi jalan tetap rusak?”
Nama pemimpin desa
(Najib Razak) ikut terseret.
Orang demo. Tapi belum ada
bukti kertas.
Jho Low masih merasa aman.
Dokumen Rahasia Dijual
Xavier Justo akhirnya mendatangi
seorang wartawan bernama Clare
Rewcastle-Brown.
Dia bilang:
“Aku punya semua dokumen bukti.
Tapi harganya 2 juta dolar.”
Clare tidak punya uang.
Ia minta bantuan Tong Kooi Ong,
pemilik majalah bisnis The Edge.
Uang terkumpul.
Dokumen bocor ke dunia.
Rahasia Terbuka
Wartawan menulis:
“Kas desa dijarah.”
Media internasional ikut menyorot.
Dunia akhirnya melihat seluruh
pola penipuan.
Seperti:
Selama ini maling mencuri
lewat pintu belakang.
Tiba-tiba ada CCTV rekam semua.
Awal Kejatuhan
Bank asing mulai menyelidiki.
Pemerintah luar negeri ikut
mengejar.
Jho Low yang dulu bergerak
di balik layar kini jadi buronan.
Kerajaan kebohongan runtuh.
Penutup
Jho Low bisa menipu sistem besar,
bank besar, dan pejabat besar.
Tapi ia lupa satu hal:
Orang yang pernah dia manfaatkan
bisa menjadi orang yang
menjatuhkannya.
Dan sejak dokumen bocor,
rahasia tak bisa ditutup lagi.
