buku

Tubuh Menyimpan Trauma: Mengapa Penyembuhan Harus Melibatkan Tubuh

Dalam The Body Keeps The Score,
Bessel van der Kolk menegaskan satu
gagasan kunci: trauma tidak hanya
tersimpan dalam pikiran, tetapi juga
“terjebak” di dalam tubuh. Emosi yang
tidak terselesaikan dapat muncul
kembali dalam bentuk penyakit,
kebiasaan buruk, perilaku reaktif,
serangan panik, ledakan marah,
penyalahgunaan zat, mati rasa
emosional, perilaku merusak diri, atau
kepasifan. Karena itu, penyembuhan
tidak bisa hanya mengandalkan
percakapan dan analisis kognitif
—tubuh harus dilibatkan.

Ada dua tanda utama bahwa trauma
mulai sembuh. Pertama, seseorang
tidak lagi bergantung pada strategi
coping berbasis trauma. Ia merasa
cukup aman sehingga tidak lagi
dikuasai oleh perilaku protektif yang
ekstrem atau kompulsif. Kedua, ia
mampu mengintegrasikan ingatan dan
sensasi tubuhnya. Kenangan bisa
muncul tanpa membuatnya terlempar
keluar dari masa kini; sensasi tubuh
dapat dirasakan tanpa kehilangan
kendali. Ia dapat mengingat masa lalu
sambil tetap hadir dan tenang
di tubuhnya saat ini.

Tiga Jalur Penyembuhan: Obat,
Top-Down, dan Bottom-Up

Van der Kolk menjelaskan tiga
pendekatan utama untuk
membalikkan dampak trauma.

Pertama, pengobatan (medikasi).
Obat dapat membantu meredakan
gejala PTSD agar seseorang cukup
tenang untuk memproses pengalaman
traumatisnya. Beberapa obat seperti
SSRI, ketamin, dan bahkan terapi
berbasis psikedelik tertentu dapat
meningkatkan neuroplastisitas
—kemampuan otak untuk beradaptasi,
belajar, dan bertumbuh. Namun, obat
bukan penyembuh trauma. Ia hanyalah
alat untuk menurunkan intensitas emosi
sehingga proses penyembuhan bisa
dilakukan secara bertahap.

Tujuan akhirnya adalah membuat
tubuh merasa aman di masa kini,
sehingga otak dapat meninjau kembali
masa lalu dan menyelesaikan respons
“fight or flight” yang dulu tidak sempat
terjadi. Dengan demikian, siklus sistem
saraf dapat selesai dan kembali pada
keadaan tenang.

Contoh 1: SSRI untuk
Menurunkan Intensitas Gejala

Seseorang dengan PTSD mengalami
serangan panik setiap kali mendengar
suara keras. Jantung berdebar, tangan
berkeringat, dan tubuh langsung
masuk mode “fight or flight”. Karena
gejalanya terlalu intens, ia tidak
mampu mengikuti terapi bicara
—setiap mencoba menceritakan
kejadian traumatis, ia langsung
kewalahan.

Psikiater meresepkan SSRI untuk
membantu menstabilkan suasana
hati dan menurunkan reaktivitas
emosional. Setelah beberapa minggu,
frekuensi dan intensitas panik
berkurang. Ia masih ingat peristiwa
traumatisnya, tetapi tubuhnya tidak
lagi bereaksi seolah-olah bahaya itu
sedang terjadi sekarang.

Dalam kondisi yang lebih tenang ini,
ia mulai mengikuti terapi secara
bertahap. Tubuhnya cukup aman
untuk meninjau masa lalu tanpa
langsung “meledak” secara emosional.
Di sini, obat berfungsi sebagai
penurun volume, bukan
penghapus trauma.

Contoh 2: Ketamin untuk
Membuka Ruang
Neuroplastisitas

Seseorang mengalami trauma berat
dan depresi yang tidak membaik
dengan terapi biasa. Ia merasa
“terkunci” dalam pola pikiran dan
emosi yang sama. Respons takut
dan putus asa terus berulang.

Dalam pengawasan medis ketat, ia
menjalani terapi berbasis ketamin.
Efeknya membantu otak menjadi
lebih plastis, lebih fleksibel dalam
membentuk koneksi baru. Setelah
sesi tersebut, ia melaporkan bahwa
kenangan traumatis terasa tidak
terlalu menghancurkan seperti
sebelumnya.

Pada fase ini, terapis memanfaatkan
momen keterbukaan tersebut untuk
membantu pasien memproses
pengalaman masa lalu. Tubuh tidak
lagi sepenuhnya terjebak dalam
respons lama. Sekali lagi, obat bukan
penyembuh, tetapi membuka
jendela kesempatan
untuk kerja
terapeutik yang lebih dalam.

Contoh 3: Membantu
Menyelesaikan Siklus
“Fight or Flight”

Seorang penyintas kecelakaan selalu
merasa tegang. Otot bahu kaku, perut
tidak nyaman, dan ia sulit tidur.
Tubuhnya terus berada dalam mode
siaga, seolah-olah ancaman masih
ada.

Medikasi diberikan untuk membantu
menurunkan hiperaktivasi sistem
saraf. Ketika tubuh mulai merasa
lebih stabil dan tidur membaik,
ia dapat mengikuti terapi yang
membantu mengakses kembali
memori kecelakaan tersebut.

Dalam sesi terapi, ia belajar merasakan
kembali sensasi tubuh sambil tetap
sadar bahwa ia aman di ruang terapi.
Perlahan, tubuhnya menyelesaikan
respons yang dulu terhenti
—energi “fight or flight” yang tertahan
dilepaskan secara bertahap. Setelah
siklus itu selesai, sistem saraf kembali
ke keadaan tenang.

Intinya dalam Penerapan

  1. Obat digunakan untuk
    menciptakan rasa aman
    sementara.

  2. Rasa aman
    memungkinkan pemrosesan
    trauma secara bertahap.

  3. Pemrosesan membantu
    tubuh menyelesaikan
    respons stres yang dulu
    terhenti.

  4. Tujuan akhirnya adalah
    regulasi alami tanpa
    ketergantungan pada
    coping berbasis trauma.

Jadi, penerapannya bukan “minum
obat lalu sembuh”, melainkan:
obat → tubuh lebih tenang → terapi bisa
berjalan → trauma diproses → sistem
saraf kembali stabil.

Kedua, pendekatan top-down.
Ini mencakup terapi bicara, penalaran,
serta membangun koneksi dengan orang
lain. Melalui percakapan dan pemahaman
kognitif, seseorang mencoba menata
kembali pengalaman traumatisnya.

Contoh 1: Terapi Bicara untuk
Korban Kecelakaan

Seseorang mengalami kecelakaan
mobil dan sejak itu selalu panik setiap
naik kendaraan. Dalam terapi bicara,
terapis membantunya menceritakan
kembali kejadian
secara perlahan
dan terstruktur.

Terapis mungkin bertanya:

  • “Apa yang paling Anda takutkan
    saat itu?”

  • “Apa yang Anda yakini tentang
    diri Anda setelah kejadian itu?”

Melalui percakapan ini, pasien mulai
menyadari bahwa keyakinannya
seperti “Saya tidak aman di mana pun”
atau “Saya pasti akan mati kalau naik
mobil”
adalah generalisasi dari satu
peristiwa ekstrem. Dengan penalaran
dan diskusi rasional, ia belajar
membedakan antara bahaya saat
itu
dan keamanan saat ini.

Di sini, proses berpikir membantu
menenangkan respons emosional.

Contoh 2: Cognitive Behavioral
Therapy (CBT)

Misalnya seseorang yang mengalami
perundungan di masa kecil kini selalu
merasa orang lain akan
merendahkannya. Dalam CBT,
ia diminta:

  1. Mengidentifikasi pikiran
    otomatis:
    “Mereka pasti menertawakan saya.”

  2. Menguji bukti pikiran tersebut:
    “Apa buktinya? Apakah ada
    kemungkinan penjelasan lain?”

  3. Membentuk pikiran alternatif
    yang lebih realistis.

Dengan latihan berulang, pola pikir
lama yang lahir dari trauma mulai
dilemahkan. Otak belajar bahwa
tidak semua situasi sosial adalah
ancaman.

Contoh 3: Menulis Narasi Pribadi

Pasien diminta menulis kisah hidupnya,
termasuk peristiwa traumatis, lalu
membacanya bersama terapis.
Tujuannya adalah:

  • Mengubah pengalaman yang
    tadinya terpecah-pecah
    menjadi cerita yang runtut.

  • Memberi makna pada kejadian
    tersebut.

  • Memindahkan memori dari
    respons emosional mentah
    menjadi memori naratif yang
    terorganisir.

Dengan kata lain, pengalaman yang
dulu terasa kacau mulai memiliki
struktur dan konteks.

Contoh 4: Membangun Koneksi
Relasional

Pendekatan top-down juga mencakup
membangun relasi yang aman.
Misalnya:

  • Bergabung dalam kelompok
    dukungan.

  • Berbicara secara terbuka dengan
    pasangan atau sahabat tentang
    ketakutan yang selama ini
    dipendam.

  • Belajar mengungkapkan
    kebutuhan secara verbal.

Melalui hubungan yang responsif dan
penuh empati, otak belajar ulang
bahwa kedekatan tidak selalu
berbahaya. Percakapan yang aman
membantu sistem saraf memahami
bahwa masa kini berbeda dari masa
lalu.

Intinya dalam Praktik

Pendekatan top-down bekerja
dengan cara:

  • Menggunakan bahasa untuk
    memberi bentuk pada
    pengalaman.

  • Menggunakan logika untuk
    mengoreksi keyakinan yang
    lahir dari trauma.

  • Menggunakan hubungan sosial
    untuk membangun rasa aman
    baru.

Ia tidak langsung menyentuh sensasi
tubuh seperti pendekatan bottom-up,
tetapi membantu bagian rasional
otak
mengambil kembali kendali
sehingga emosi ekstrem bisa
dipahami, bukan hanya dirasakan.

Pendekatan ini sering menjadi pintu
masuk, terutama ketika seseorang
sudah cukup stabil untuk berbicara
tentang apa yang terjadi.

Ketiga, pendekatan bottom-up.
Ini berfokus pada menenangkan
sensasi fisik tubuh dan memberikan
pengalaman visceral yang aman,
pengalaman tubuh yang secara
langsung bertentangan dengan emosi
trauma. Karena emosi seperti takut
dan marah dirasakan di jantung, dada,
perut, dan otot, maka penyelesaiannya
juga perlu terjadi di tubuh, bukan
hanya di pikiran.

Berikut contoh
pendekatan bottom-up yaitu
menenangkan tubuh dan memberi
pengalaman fisik yang aman untuk
“melawan” jejak emosi trauma.

1. Latihan Pernapasan untuk
Menenangkan Sistem Saraf

Situasi: Seseorang mudah panik.
Setiap kali ada suara keras,
dadanya sesak dan jantung
berdebar cepat.

Penerapan bottom-up:
Alih-alih langsung membahas
kenangan traumanya, terapis melatih
pernapasan perlahan: tarik napas
4 detik, tahan 4 detik, buang 6–8 detik.
Dilakukan berulang sampai detak
jantung melambat.

Apa yang terjadi?
Tubuh diberi pengalaman fisik bahwa
“aku aman sekarang.” Sistem saraf
keluar dari mode fight or flight. Ketika
tubuh tenang, barulah pikiran bisa
bekerja lebih jernih.

2. Grounding melalui Sensasi Fisik

Situasi: Korban kecelakaan sering
merasa seperti “keluar dari tubuh”
(disosiasi) saat mengingat kejadian.

Penerapan bottom-up:
Terapis mengajaknya:

  • Menyadari kaki yang menyentuh
    lantai

  • Merasakan tekanan kursi
    di punggung

  • Menggenggam benda dingin
    atau bertekstur

Apa yang terjadi?
Sensasi fisik ini menambatkan orang
tersebut ke masa kini. Tubuh belajar
bahwa ia berada di ruang yang aman,
bukan lagi di lokasi kecelakaan.

3. Yoga Trauma-Informed

Situasi: Seseorang menyimpan
kemarahan kronis. Otot bahu dan
rahangnya selalu tegang.

Penerapan bottom-up:
Melakukan gerakan yoga sederhana
dengan fokus pada napas dan
kesadaran tubuh. Bukan untuk
“olahraga”, tetapi untuk
memperhatikan:

  • Bagaimana rasanya otot
    mengendur

  • Bagaimana dada terasa lebih
    terbuka

Apa yang terjadi?
Tubuh mengalami relaksasi yang
berlawanan dengan ketegangan trauma.
Ini menciptakan pengalaman visceral
baru: “tegang bisa berubah menjadi
rileks.”

4. EMDR (Gerakan Bilateral)

Situasi: Setiap mengingat kejadian
traumatis, tubuh langsung gemetar.

Penerapan bottom-up:
Sambil mengingat secara terkontrol,
pasien mengikuti gerakan mata
kiri-kanan atau mengetuk tangan
bergantian.

Apa yang terjadi?
Gerakan bilateral membantu otak
memproses memori tanpa
membanjiri tubuh dengan emosi
ekstrem. Tubuh tidak lagi terkunci
dalam respons lama.

5. Aktivitas Ritmis Kelompok

Situasi: Seseorang merasa terisolasi
dan selalu waspada di sekitar
orang lain.

Penerapan bottom-up:
Ikut kegiatan seperti menari
berkelompok, drumming,
atau paduan suara.

Apa yang terjadi?
Ritme yang sinkron membantu sistem
saraf merasa selaras dengan orang lain.
Tubuh merasakan kebersamaan dan
keamanan, bukan ancaman.

Inti dari Bottom-Up

Pendekatan ini bekerja dari tubuh
ke pikiran
, bukan sebaliknya.
Bukan dimulai dari
“ceritakan traumamu,” tetapi dari:

  • “Apa yang kamu rasakan
    di dada?”

  • “Bagaimana napasmu
    sekarang?”

  • “Bisakah kita membuat tubuh
    merasa sedikit lebih aman?”

Karena trauma membuat tubuh
percaya bahwa bahaya masih ada,
maka penyembuhan terjadi ketika
tubuh mengalami secara nyata bahwa
saat ini ia aman. Setelah itu, pikiran
bisa mulai mengintegrasikan
pengalaman masa lalu tanpa kembali
tenggelam di dalamnya.

Sebagian besar orang membutuhkan
kombinasi dari ketiga pendekatan ini.
Van der Kolk tidak mengunggulkan
satu metode tertentu.
Ia mengibaratkannya seperti sabuk
perkakas: semakin banyak alat yang
tersedia, semakin siap kita
menghadapi berbagai situasi trauma
yang berbeda.

Mengenali Sensasi Tubuh:
Langkah Awal Integrasi

Dalam praktiknya, Van der Kolk
membantu pasien mengenali dan
menamai sensasi tubuh mereka.
Apa rasanya marah secara fisik?
Apakah otot menegang?
Apakah ada sensasi bergetar?
Bagaimana rasa takut muncul
di perut atau dada?
Sebaliknya,
bagaimana rasa nyaman dan
relaks terasa di tubuh?

Latihan ini merupakan bentuk
mindfulness. Dengan merasakan,
menamai, dan mengidentifikasi apa
yang terjadi di dalam tubuh,
seseorang memperkuat medial
prefrontal cortex—bagian otak yang
membantu regulasi emosi. Ini adalah
langkah pertama untuk
menghubungkan kembali pikiran
dan tubuh yang terpisah akibat trauma.

Pelajaran dari Para Penyintas
9/11: Tubuh Bicara Lebih Keras
dari Kata-Kata

Setelah tragedi 11 September 2001
di New York, para ahli
merekomendasikan terapi analitik dan
CBT sebagai standar emas. Namun,
hampir tidak ada penyintas yang
datang untuk sesi tersebut.

Survei terhadap 225 orang yang
selamat dari Menara Kembar
menunjukkan bahwa yang paling
membantu justru: akupunktur,
pijat, yoga, dan EMDR. Bagi petugas
penyelamat, pijat berada di urutan
teratas.

Selain itu, menulis bebas, seni, musik,
dan tari juga dirasakan membantu.
Di banyak budaya non-Barat, terapi
memang mencakup gerakan tubuh,
pernapasan, dan meditasi
—seperti tai chi, qigong, drumming
ritmis, bela diri, dan yoga.

Temuan ini menegaskan bahwa tubuh
membutuhkan ruang untuk bergerak
dan merasakan, bukan sekadar
menganalisis.

Yoga: Mengintegrasikan Rasa
Aman dan Ingatan Tubuh

Penyembuhan terjadi ketika rasa aman
saat ini diintegrasikan dengan ingatan
tubuh dari masa lalu. Yoga membantu
individu kembali terhubung dengan
tubuhnya. Melalui pernapasan yang
lebih baik, gejala marah, depresi, dan
cemas dapat berkurang.

Namun bagi penyintas trauma, pose
yoga awalnya bisa terasa menakutkan
atau intens. Karena itu, praktik harus
dimulai secara perlahan dengan
instruktur yang memahami
trauma-informed care.

Dalam yoga, seseorang belajar
memperhatikan napas dan sensasi
tubuh sambil tetap tenang dalam
ketidaknyamanan fisik. Ketika tubuh
bisa tetap rileks dan bernapas dalam
tekanan ringan, barulah terapi bicara
dapat dilakukan tanpa memicu
pembekuan (freeze).

Ritme Komunal dan Teater:
Menemukan Suara Melalui
Kelompok

Trauma sering kali melibatkan
disosiasi, terputus dari diri sendiri
dan orang lain. Untuk mengatasinya,
dibutuhkan attunement dan
mirroring: kemampuan terhubung
dan diselaraskan dengan orang lain.

Aktivitas ritmis kelompok seperti
menabuh drum, menari, dan
bernyanyi membantu menyinkronkan
gelombang otak dan meregulasi sistem
saraf. Ada rasa persatuan dan
keamanan yang muncul ketika semua
orang bergerak dalam ritme yang sama.

Teater juga menjadi alat yang efektif.
Dengan memainkan peran, penyintas
dapat merasakan emosi secara
mendalam tetapi tetap dalam kerangka
yang terkendali. Ada “jarak aman”
karena emosi diekspresikan melalui
karakter. Program seni, drama, musik,
dan olahraga di sekolah sangat penting
agar anak-anak yang mengalami
trauma tetap terhubung dengan tubuh
dan komunitasnya.

EMDR: Memproses Ulang
Ingatan Traumatis

EMDR (Eye Movement Desensitization
and Reprocessing) membantu otak
memproses ulang ingatan traumatis
agar tidak lagi memicu emosi ekstrem.

Pendekatan ini terinspirasi dari fase
REM saat tidur, ketika mata bergerak
cepat dan otak memproses memori
tanpa intensitas emosi yang berlebihan.
Pada PTSD, proses ini sering terganggu
karena memori muncul sebagai mimpi
buruk dan membangunkan penderita.

Dalam sesi EMDR, pasien mengingat
pengalaman menyakitkan sambil
melakukan gerakan bilateral, seperti
mengikuti cahaya yang bergerak atau
mengetuk tangan secara bergantian.
Penelitian menunjukkan EMDR efektif
menurunkan skor PTSD dan depresi,
bahkan lebih efektif daripada plasebo
atau Prozac dalam beberapa studi.
Sekitar 60% pasien sembuh, meskipun
mereka dengan trauma masa kecil
berulang cenderung lebih sulit
merespons.

Neurofeedback: Melatih Otak
untuk Tenang

Neurofeedback menggunakan elektroda
untuk membaca gelombang otak dan
memberikan umpan balik visual atau
suara saat pola gelombang menjadi
lebih sehat. Dengan sistem reward
kecil, otak dilatih untuk menghasilkan
pola yang lebih tenang.

Pada pasien PTSD, sirkuit otak sering
terkunci dalam pola takut, malu, dan
marah. Dengan latihan berulang,
mereka belajar keluar dari mode fight
or flight.

Kisah Lisa menunjukkan bagaimana
setelah enam bulan neurofeedback, ia
berhenti mengalami disosiasi, mulai
merasa memiliki diri kembali, dan
mampu menjalani terapi bicara
dengan efektif. Ia menggambarkan
bahwa ia tidak lagi “disandera” oleh
perasaannya.

Internal Family Systems:
Memimpin Bagian-Bagian Diri

IFS memandang kepribadian sebagai
kumpulan “bagian” internal. Pada
penyintas trauma, bagian-bagian ini
bekerja keras melindungi bagian
yang terluka.

Dalam terapi, “self” yang sadar dan
penuh welas asih belajar memimpin
bagian-bagian tersebut, seperti
dirigen orkestra yang menyatukan
berbagai instrumen menjadi harmoni.
Pendekatan ini menumbuhkan
self-compassion dan telah terbukti
efektif dalam penelitian PTSD.

Penyembuhan sebagai Partisipasi
Aktif dan Relasional

Van der Kolk menekankan bahwa pasien
harus menjadi partisipan aktif dalam
proses penyembuhan. Menjadi penerima
pasif obat dapat memperkuat
keterasingan dari diri sendiri dan
komunitas.

Penyembuhan adalah proses, bukan
peristiwa tunggal. Dibutuhkan
eksperimen, pembelajaran, dan
keterlibatan komunitas. Hubungan
yang penuh cinta dan attuned,
baik keluarga, kelompok dukungan,
komunitas iman, maupun terapis,
memberikan rasa aman yang
memungkinkan trauma diproses.

Ketika ancaman muncul, manusia
secara naluriah mencari orang lain.
Dalam pelukan relasi yang aman,
tubuh dapat kembali pada rasa tenang.
Bahkan, hubungan yang penuh kasih
dapat mencegah peristiwa traumatis
berkembang menjadi trauma jangka
panjang.

Pada akhirnya, tugas terapis adalah
membantu seseorang mengakui,
mengalami, dan menanggung realitas
hidup. Namun penyembuhan sejati
terjadi ketika tubuh, pikiran, dan
hubungan sosial bergerak bersama
menuju rasa aman yang baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *