HOW TO KICK SOME ASS
Pada titik ini, kamu sebenarnya sudah
hampir menjadi seorang badass. Kamu
sudah belajar mengenali pola pikir
yang membatasi, mulai membangun
kepercayaan diri, dan memahami
bahwa hidup tidak harus dijalani
dengan setengah hati. Tetapi bagian
ini mengajakmu naik satu level.
Bukan lagi sekadar sadar, melainkan
benar-benar bertindak. Bukan hanya
bermimpi, melainkan memutuskan.
Menjadi luar biasa bukan soal
menunggu momen yang tepat. Ini soal
keputusan. Keputusan untuk tidak lagi
hidup mengikuti arus ekspektasi
orang lain. Keputusan untuk berhenti
menunda. Keputusan untuk berhenti
mendengarkan alasan-alasan yang
selama ini terdengar logis, tetapi
sebenarnya hanya cara halus untuk
tetap berada di zona nyaman.
Di sinilah perubahan besar dimulai:
dari keputusan yang tegas.
Memutuskan untuk Mengejar
Tujuan
Langkah pertama untuk “kick some ass”
adalah memutuskan secara sadar
bahwa kamu akan mengejar tujuanmu.
Bukan setengah-setengah. Bukan
“nanti kalau sempat.”
Tetapi benar-benar memilihnya
sebagai prioritas.
Banyak orang sebenarnya tahu apa
yang mereka inginkan. Mereka punya
mimpi, ambisi, atau setidaknya
gambaran hidup yang lebih baik.
Namun yang membedakan mereka
yang berhasil dan yang tidak adalah
keputusan. Ketika kamu memutuskan,
kamu tidak lagi bersikap netral
terhadap hidupmu sendiri. Kamu
berpihak pada dirimu.
Keputusan ini juga berarti kamu
berhenti mencari persetujuan. Kamu
berhenti menunggu validasi. Kamu
tidak lagi bertanya,
“Apakah saya pantas?”
melainkan berkata,
“Saya memilih ini.”
Dan keputusan yang kuat akan
menciptakan energi yang kuat.
Berhenti Mendengarkan Alasan
Alasan sering kali terdengar masuk akal.
“Saya belum siap.”
“Kondisi belum mendukung.”
“Saya tidak punya cukup pengalaman.”
Semua itu terdengar rasional. Tetapi
jika diperhatikan lebih dalam, banyak
alasan hanyalah bentuk ketakutan
yang menyamar.
Untuk naik level, kamu harus berhenti
mendengarkan alasanmu sendiri.
Setiap kali muncul dorongan untuk
menunda, kamu perlu menyadari
bahwa itu adalah pola lama. Pola yang
membuatmu tetap aman, tetapi juga
tetap kecil.
Menghentikan alasan bukan berarti
mengabaikan realitas. Ini berarti tidak
lagi menggunakan realitas sebagai
pembenaran untuk tidak bergerak.
Kamu bisa takut dan tetap melangkah.
Kamu bisa belum sempurna dan tetap
mulai.
Seorang badass bukan orang yang
tanpa rasa takut. Ia hanya tidak
menjadikan rasa takut sebagai
pemimpin hidupnya.
Mengubah Kebiasaan dan
Belajar Bertahan
Keputusan tanpa perubahan kebiasaan
tidak akan menghasilkan apa-apa. Jika
kamu ingin hidup yang berbeda, kamu
perlu kebiasaan yang berbeda.
Mengubah kebiasaan berarti mengubah
rutinitas kecil sehari-hari: cara berpikir,
cara berbicara pada diri sendiri, cara
mengelola waktu, dan cara merespons
kegagalan. Perubahan besar lahir dari
konsistensi kecil yang dilakukan
berulang-ulang.
Di sinilah pentingnya “stay the course.”
Banyak orang bersemangat di awal,
tetapi menyerah ketika hasil tidak
langsung terlihat. Padahal proses
sering kali tidak dramatis. Ia sunyi.
Ia berulang. Ia kadang membosankan.
Tetapi ketekunan adalah pembeda.
Bertahan ketika tidak ada yang bertepuk
tangan. Tetap percaya ketika hasil belum
terlihat. Terus melangkah meskipun
pelan. Itulah cara naik level.
Mengubah Hubungan dengan
Uang
Salah satu area paling krusial untuk
ditingkatkan adalah hubungan dengan
uang. Banyak orang memiliki hubungan
yang negatif dengan uang tanpa mereka
sadari. Mereka menganggap uang
sebagai sumber masalah, sesuatu yang
kotor, atau sesuatu yang sulit didapat.
Jika kamu terus melihat uang dengan
cara negatif, kamu akan tanpa sadar
menjauhkannya. Pikiran tentang
kekurangan akan terus menciptakan
rasa kurang.
Bagian ini mengajakmu mengubah
fokus dari kekurangan menuju
kelimpahan. Melihat uang sebagai
energi yang bisa mengalir. Sebagai alat
untuk berkembang, memberi, dan
menciptakan dampak. Bukan sesuatu
yang harus ditakuti atau disalahkan.
Ketika kamu fokus pada kelimpahan,
kamu menempatkan dirimu dalam
kondisi terbaik untuk
memanifestasikan uang ke dalam
hidupmu. Kamu tidak lagi bertanya,
“Kenapa saya selalu kurang?”
tetapi mulai bertanya,
“Bagaimana saya membuka diri
terhadap lebih banyak?”
Perubahan hubungan ini bukan
hanya soal finansial. Ini soal identitas.
Kamu mulai melihat dirimu sebagai
seseorang yang layak hidup dalam
kelimpahan.
Surrender: Melepaskan Tanpa
Menyerah
Bagian terakhir dari naik level adalah
belajar untuk menyerah dalam arti
yang benar.
Kadang kamu menginginkan sesuatu
begitu kuat. Kamu bekerja tanpa lelah.
Kamu berusaha semaksimal mungkin.
Namun hasilnya tidak kunjung datang,
atau tidak datang secepat yang kamu
harapkan.
Apa yang harus dilakukan?
Surrender.
Surrender bukan berarti berhenti atau
menyerah pada keadaan. Ini bukan
tentang putus asa. Ini tentang percaya.
Percaya bahwa ada energi yang lebih
besar, entah kamu menyebutnya
Tuhan, semesta, atau kekuatan lain,
yang bekerja di balik layar.
Ketika kamu surrender, kamu
melepaskan obsesi terhadap waktu dan
cara. Kamu tetap melakukan bagianmu,
tetapi tidak lagi memaksakan hasil.
Kamu percaya bahwa keinginan
terdalammu akan datang pada
waktunya.
Memang terdengar sedikit
“di luar nalar.” Tetapi ini kembali
pada premis utama buku ini:
satu-satunya cara untuk benar-benar
menjadi badass adalah berhenti
meragukan kebesaranmu sendiri.
Kamu percaya bahwa kamu sudah luar
biasa. Kamu percaya bahwa hidup
mendukungmu. Kamu percaya bahwa
apa yang kamu inginkan juga
menginginkanmu.
Dan dari tempat itulah, kamu
benar-benar naik level.
Menjadi seorang badass bukan tentang
menjadi sempurna. Ini tentang
memutuskan, bertindak, mengubah
kebiasaan, memperbaiki hubungan
dengan uang, dan belajar percaya pada
proses yang lebih besar dari dirimu.
Saat kamu berhenti meragukan dirimu,
kamu berhenti bermain kecil. Dan
ketika kamu berhenti bermain kecil,
hidup mulai merespons dengan cara
yang berbeda.
Karena pada akhirnya, untuk hidup luar
biasa, kamu hanya perlu satu hal:
percaya bahwa kamu memang sudah
luar biasa.
Memutuskan untuk Mengejar
Tujuan
Contoh penerapan:
Seseorang ingin membangun bisnis
online, tetapi selama ini hanya sebatas
wacana. Ia sering berkata,
“Nanti kalau sudah lebih siap,”
atau
“Kalau modalnya sudah cukup.”
Penerapan bab ini berarti ia berhenti
menunggu kondisi sempurna dan
membuat keputusan tegas: dalam
30 hari ke depan ia akan meluncurkan
produknya. Ia menetapkan tanggal,
membuat rencana sederhana, dan
mulai bergerak hari itu juga. Bukan
lagi sekadar ingin, tetapi memilih.
Berhenti Mendengarkan Alasan
Contoh penerapan:
Setiap kali ingin mulai olahraga atau
belajar skill baru, selalu muncul
alasan seperti lelah, sibuk, atau
kurang percaya diri.
Penerapannya adalah mengenali
alasan itu sebagai pola lama. Saat
pikiran berkata,
“Hari ini saja istirahat,”
ia tetap melakukan minimal 20 menit
latihan. Bukan karena mood
mendukung, tetapi karena ia tidak
lagi menjadikan alasan sebagai
pemimpin hidupnya.
Mengubah Kebiasaan dan
Belajar Bertahan
Contoh penerapan:
Seseorang sudah mulai menulis konten
atau membangun brand pribadi, tetapi
setelah dua minggu belum ada hasil,
ia merasa sia-sia.
Penerapan bab ini adalah tetap
konsisten. Ia membuat jadwal rutin,
misalnya unggah tiga kali seminggu
selama enam bulan penuh, tanpa
peduli jumlah respons di awal.
Ia fokus pada proses, bukan validasi.
Ia memilih “stay the course”
meskipun hasil belum terlihat.
Mengubah Hubungan dengan
Uang
Contoh penerapan:
Selama ini ia sering berkata,
“Uang itu susah,” atau merasa bersalah
saat menghasilkan lebih banyak.
Penerapannya adalah mengganti narasi
internalnya. Ia mulai melihat uang
sebagai alat untuk berkembang dan
memberi dampak. Ia belajar mengelola
uang dengan sadar, membuka peluang
baru, dan berhenti mengeluh soal
kekurangan. Fokusnya bergeser dari
ketakutan akan kurang menjadi
keyakinan akan kelimpahan.
Ia menempatkan dirinya sebagai orang
yang layak menerima lebih.
Surrender Tanpa Menyerah
Contoh penerapan:
Seseorang sudah bekerja keras
mengejar promosi jabatan,
tetapi hasilnya belum datang.
Alih-alih frustrasi dan merasa gagal,
ia tetap melakukan yang terbaik sambil
melepaskan obsesi pada hasil.
Ia percaya bahwa jika bukan jalur ini,
akan ada jalur lain yang lebih tepat.
Ia tidak berhenti berusaha, tetapi
berhenti memaksakan.
Ia tetap bergerak, sambil percaya bahwa
keinginan dan tujuannya akan datang
pada waktunya.
Semua penerapan ini berakar pada
satu hal utama: berhenti meragukan
diri sendiri. Ketika seseorang
memutuskan untuk percaya bahwa
dirinya memang sudah “badass”,
tindakannya berubah. Energinya
berubah. Cara ia melihat uang,
kegagalan, dan proses juga berubah.
Dan dari perubahan internal itu,
realitas eksternal mulai mengikuti.
