The Media Mobs (Gerombolan Media)
Sahabat, kita lanjutkan ke Bab 3 dan
Bab 4 dari buku Live Free Or Die.
Setelah membahas kebangkitan
rakyat dan ancaman dari dalam
pemerintahan sendiri, Sean Hannity
kini mengarahkan perhatiannya
ke dua kekuatan lain yang ia anggap
sebagai musuh republik: media arus
utama yang ia sebut telah menjadi
corong propaganda, dan Partai
Demokrat yang ia klaim telah diambil
alih oleh sayap sosialis radikalnya.
Bab 3: The Media Mobs
(Gerombolan Media)
Sean Hannity membuka bab ini
dengan satu tuduhan yang sangat
serius: media liberal Amerika Serikat
sudah tidak lagi menjalankan
fungsinya sebagai pelapor fakta.
Menurutnya, organisasi-organisasi
seperti CNN, MSNBC, The New York
Times, dan The Washington Post telah
berubah menjadi aktivis politik.
Mereka bukan lagi penjaga kebenaran
yang objektif. Mereka adalah corong
bagi Partai Demokrat, dan tujuan
utama mereka bukanlah untuk
memberi tahu publik, melainkan untuk
menghancurkan Donald Trump dan
siapa pun yang mendukungnya.
Hannity tidak menyebut ini sebagai
jurnalisme. Ia menyebutnya sebagai
“Media Mobs” (Gerombolan Media).
Istilah ini sengaja dipilih untuk
menggambarkan apa yang ia lihat
sebagai perilaku massa yang tidak
lagi berpikir secara individu,
melainkan bergerak bersama-sama
untuk menyerang target yang sama.
Media, dalam pandangan Hannity,
tidak lagi bersaing untuk
mendapatkan berita terbaik. Mereka
bekerja sama, berbagi narasi, dan
saling memperkuat cerita yang sama,
bahkan ketika cerita itu kemudian
terbukti salah.
Hannity memberikan beberapa
contoh konkret untuk mendukung
klaimnya. Pertama adalah pelintiran
berita. Ia mengutip berbagai
kejadian di mana media melaporkan
sesuatu tentang Trump yang
kemudian terbukti tidak benar atau
dibesar-besarkan. Salah satu contoh
yang sering ia gunakan adalah
laporan tentang pertemuan Trump
dengan pejabat Rusia. Media, kata
Hannity, langsung melompat
ke kesimpulan bahwa ini adalah
bukti kolusi. Tetapi ketika
penyelidikan Mueller tidak
menemukan bukti konspirasi, media
tidak meminta maaf. Mereka hanya
beralih ke berita berikutnya,
seolah-olah tuduhan serius yang
mereka lontarkan selama
bertahun-tahun tidak pernah terjadi.
Kedua adalah standar ganda. Hannity
menunjukkan bagaimana media
memperlakukan politisi Republik dan
Demokrat dengan cara yang sangat
berbeda. Ketika seorang politisi
Republik melakukan kesalahan kecil,
kesalahan itu langsung menjadi berita
utama selama berminggu-minggu.
Tetapi ketika seorang politisi Demokrat
melakukan kesalahan yang sama, atau
bahkan yang lebih serius, media
cenderung mengabaikannya atau
memberitakannya dengan nada yang
jauh lebih lunak. Hannity bertanya:
di manakah kemarahan media ketika
pemerintahan Obama menyadap
jurnalis? Di manakah investigasi
mendalam tentang urusan bisnis
keluarga Biden di Ukraina?
Bagi Hannity, jawabannya jelas:
standar ganda ini adalah bukti bahwa
media tidak lagi berpura-pura netral.
Ketiga, dan ini yang paling serius,
adalah kolusi redaksi. Hannity
menuduh bahwa ada kerja sama
langsung antara media dan tim
kampanye Hillary Clinton, serta
dengan pejabat Deep State.
Ia menunjuk pada email-email yang
bocor dari WikiLeaks,
yang menunjukkan koordinasi antara
tim kampanye Clinton dan reporter
dari berbagai media besar. Ia juga
menunjuk pada penggunaan
“Steele Dossier”, dokumen yang
didanai oleh tim kampanye Clinton,
yang kemudian digunakan oleh FBI
untuk mendapatkan surat perintah
penyadapan, dan kemudian dijadikan
dasar oleh media untuk melaporkan
tuduhan-tuduhan liar tentang Trump
dan Rusia. Hannity menyebut ini
sebagai lingkaran kolusi yang
sempurna: tim kampanye Demokrat
membayar untuk menciptakan
kebohongan, Deep State menggunakan
kebohongan itu untuk menyadap, dan
media menyebarkan kebohongan itu
kepada publik.
Hannity sangat marah tentang hal ini.
Baginya, ini bukan lagi soal bias
politik. Ini adalah penipuan terhadap
rakyat Amerika, sebuah upaya
terkoordinasi untuk menanamkan
narasi palsu ke dalam pikiran publik
demi menjatuhkan seorang presiden
yang dipilih secara sah.
Ia memperingatkan bahwa jika media
tidak bisa dipercaya untuk
melaporkan fakta, maka fondasi
demokrasi akan runtuh. Bagaimana
rakyat bisa membuat keputusan
yang tepat dalam pemilu jika
informasi yang mereka terima adalah
kebohongan yang direkayasa?
Bab 4: The Rise of the Socialist
Democrats
(Bangkitnya Demokrat Sosialis)
Setelah membongkar apa yang ia lihat
sebagai korupsi di media, Hannity
mengalihkan perhatiannya ke Partai
Demokrat. Bab ini berjudul
“The Rise of the Socialist Democrats”,
dan di sini Hannity berargumen
bahwa Partai Demokrat yang dulu
telah berubah secara fundamental.
Menurutnya, partai ini telah disusupi,
dan sekarang dikendalikan, oleh sayap
kiri radikal yang tidak lagi percaya
pada kapitalisme dan sistem Amerika.
Hannity menyebut nama-nama
spesifik. Bernie Sanders, senator dari
Vermont yang menyebut dirinya
sebagai seorang sosialis demokrat.
Alexandria Ocasio-Cortez, anggota
Kongres muda dari New York yang
menjadi wajah baru dari gerakan
progresif. Merekalah yang disebut
Hannity sebagai pemimpin baru
Partai Demokrat, meskipun secara
teknis mereka bukanlah pimpinan
partai. Hannity berpendapat bahwa
ide-ide mereka, yang dulu dianggap
sebagai pinggiran dan tidak serius,
kini telah menjadi arus utama
di dalam partai tersebut.
Agenda apa yang mereka usung?
Hannity menguraikannya satu
per satu. Pertama adalah Green
New Deal, sebuah proposal ambisius
untuk mengubah seluruh ekonomi
Amerika agar ramah lingkungan.
Bagi Hannity, ini bukanlah kebijakan
lingkungan yang masuk akal.
Ia menyebutnya sebagai loncatan
menuju sosialisme. Biayanya, katanya,
mencapai puluhan triliun dolar.
Ini akan menghancurkan industri
minyak dan gas, menghilangkan jutaan
pekerjaan, dan memberikan kendali
yang belum pernah terjadi sebelumnya
kepada pemerintah atas kehidupan
rakyat.
Kedua adalah jaminan kesehatan
universal yang dijalankan oleh
pemerintah, sering disebut sebagai
“Medicare for All”. Hannity
berpendapat bahwa ini akan
menghancurkan sistem perawatan
kesehatan terbaik di dunia dan
menggantinya dengan birokrasi yang
lamban dan tidak efisien.
Ia memperingatkan bahwa
di negara-negara yang telah mencoba
sistem serupa, seperti Kanada dan
Inggris, rakyat harus menunggu
berbulan-bulan untuk mendapatkan
perawatan yang mereka butuhkan.
Ketiga adalah pendidikan gratis.
Hannity tidak menentang pendidikan.
Tetapi ia menentang gagasan bahwa
pendidikan harus gratis untuk semua
orang, dibayar oleh pajak yang lebih
tinggi. Ia berpendapat bahwa tidak
ada yang benar-benar gratis.
Seseorang harus membayarnya, dan
orang itu adalah para pembayar
pajak yang sudah terbebani.
Keempat adalah pajak tinggi.
Hannity berargumen bahwa untuk
membiayai semua program ini, pajak
harus dinaikkan secara drastis, tidak
hanya untuk orang kaya, tetapi juga
untuk kelas menengah. Ini adalah
kebalikan dari pemotongan pajak
yang dilakukan Trump, yang menurut
Hannity telah memicu pertumbuhan
ekonomi yang luar biasa.
Hannity kemudian melontarkan
peringatan yang paling keras:
Amerika sedang menuju ke arah
Venezuela. Venezuela adalah contoh
favoritnya tentang apa yang terjadi
ketika sosialisme diterapkan. Negara
yang dulu kaya akan minyak kini
hancur, dengan kelangkaan makanan,
hiperinflasi, dan penindasan politik.
Hannity berpendapat bahwa para
pemimpin sosialis Demokrat ingin
membawa Amerika ke jalan yang sama.
Ia bahkan memperingatkan bahwa Joe
Biden, yang seharusnya menjadi
kandidat moderat, telah “dibajak”
oleh kubu kiri ini. Platform Biden,
kata Hannity, telah bergeser jauh
ke kiri dibandingkan dengan posisinya
di masa lalu. Ini adalah bukti bahwa
sayap radikal telah mengambil alih
Partai Demokrat sepenuhnya.
Pertarungan politik bukan lagi antara
kiri dan kanan, melainkan antara
kebebasan dan sosialisme. Dan bagi
Hannity, pilihannya jelas:
hidup bebas di bawah Konstitusi,
atau mati di bawah sistem sosialis
global.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Gaes, kita lanjut ngobrolin buku
Live Free Or Die. Setelah Sean
Hannity ngebahas kebangkitan rakyat
dan ancaman Deep State, sekarang
dia ngarahin meriamnya ke dua target
gede lainnya. Dua kekuatan yang dia
anggep sebagai musuh bebuyutan
republik: media arus utama yang
katanya udah jadi corong propaganda,
dan Partai Demokrat yang dia klaim
udah dibajak sama sayap sosialis
radikalnya.
Bab 3: The Media Mobs,
Gerombolan Media
Hannity buka bab ini dengan tuduhan
yang super serius. Dia bilang, media
liberal Amerika kayak CNN, MSNBC,
The New York Times, dan The
Washington Post udah GAK LAGI
ngejalanin fungsinya sebagai pelapor
fakta. Menurut dia, mereka udah
berubah jadi AKTIVIS POLITIK.
Mereka bukan lagi penjaga kebenaran
yang objektif. Mereka adalah corong
buat Partai Demokrat, dan tujuan
utama mereka cuma satu: ngancurin
Donald Trump dan siapa pun yang
dukung dia.
Hannity gak nyebut ini jurnalisme.
Dia nyebutnya “Media Mobs”,
Gerombolan Media. Istilah ini sengaja
dia pilih buat ngegambarin perilaku
kayak massa yang udah gak mikir
sendiri, tapi bergerak rame-rame
buat nyerang satu target yang sama.
Media, dalam pandangan Hannity,
udah gak bersaing buat dapetin
berita terbaik. Mereka malah
KERJA SAMA. Berbagi narasi,
saling nguatin cerita yang sama,
bahkan ketika cerita itu belakangan
terbukti SALAH.
Hannity ngasih beberapa contoh buat
ngedukung klaimnya.
Pertama, PELINTIRAN BERITA.
Dia ngutip banyak kejadian di mana
media ngelaporin sesuatu soal
Trump yang belakangan terbukti
gak bener atau gede-gedein.
Contoh favoritnya adalah laporan
soal pertemuan Trump sama
pejabat Rusia. Media, kata Hannity,
langsung lompat ke kesimpulan
kalo ini bukti KONSPIRASI.
Tapi pas penyelidikan Mueller kelar
dan GAK nemuin bukti, media gak
ada yang minta maaf. Mereka cuma
pindah ke berita berikutnya, seolah
tuduhan serius yang mereka teriakin
bertahun-tahun gak pernah terjadi.
Gila kan?
Kedua, STANDAR GANDA. Hannity
nunjukin gimana media ngebedain
banget perlakuan ke politisi Republik
dan Demokrat. Politisi Republik
bikin salah dikit, langsung jadi
headline berminggu-minggu.
Tapi pas politisi Demokrat ngelakuin
kesalahan yang sama, atau bahkan
lebih parah, media cenderung
ngabaikan atau ngeliputnya dengan
nada yang lembek banget. Hannity
nanya, di mana kemarahan media
pas pemerintahan Obama nyadap
jurnalis? Di mana investigasi
mendalam soal urusan bisnis
keluarga Biden di Ukraina?
Buat Hannity, jawabannya gamblang:
standar ganda ini bukti kalo media
udah gak pura-pura netral lagi.
Ketiga, dan ini yang paling serem,
KOLUSI REDAKSI. Hannity nuduh
ada kerja sama langsung antara media,
tim kampanye Hillary Clinton, dan
pejabat Deep State. Dia tunjuk
email-email bocoran WikiLeaks yang
nunjukin koordinasi antara tim
Clinton dan reporter media gede.
Dia juga nunjuk pemakaian
“Steele Dossier”, dokumen yang
didanain tim Clinton, yang terus
dipake FBI buat dapetin surat
perintah sadap, dan akhirnya
DIJADIIN DASAR media buat nyebarin
tuduhan liar Trump-Rusia. Hannity
nyebut ini LINGKARAN KOLUSI yang
sempurna. Tim Demokrat bayar buat
nyiptain kebohongan, Deep State pake
kebohongan itu buat nyadap, dan media
nyebarin kebohongan itu ke publik.
Hannity murka berat soal ini. Baginya,
ini bukan lagi sekadar bias politik.
Ini PENIPUAN terhadap rakyat
Amerika. Upaya terkoordinasi buat
nanemin narasi palsu ke otak publik
demi ngejatuhin presiden yang dipilih
secara sah. Dia ngingetin, kalo media
udah gak bisa dipercaya buat
ngelaporin fakta, fondasi demokrasi
bakal runtuh. Gimana rakyat bisa
bikin keputusan tepat dalam pemilu
kalo info yang mereka terima adalah
kebohongan rekayasa?
Bab 4: The Rise of the Socialist
Democrats, Bangkitnya
Demokrat Sosialis
Setelah bongkar borok media,
Hannity ngincer Partai Demokrat.
Bab ini judulnya “The Rise of the
Socialist Democrats”, dan di sini
Hannity ngotot kalo Partai Demokrat
yang dulu udah BERUBAH total.
Menurut dia, partai ini udah disusupi,
dan sekarang DIKENDALIKAN, sama
sayap kiri radikal yang gak percaya
lagi sama kapitalisme dan sistem
Amerika.
Hannity nyebut nama. Bernie Sanders,
senator Vermont yang nyebut dirinya
sosialis demokrat. Alexandria
Ocasio-Cortez, anggota Kongres muda
dari New York yang jadi wajah baru
gerakan progresif. Merekalah yang
disebut Hannity sebagai
PEMIMPIN BARU Partai Demokrat,
walau secara teknis mereka bukan
pimpinan partai.
Hannity berpendapat, ide-ide mereka
yang dulu dianggep gak jelas dan gak
serius, sekarang udah jadi
ARUS UTAMA di dalem partai.
Agenda apa yang mereka bawa?
Hannity beberin satu-satu.
Pertama, GREEN NEW DEAL.
Proposal ambisius buat ubah total
ekonomi Amerika jadi ramah
lingkungan. Buat Hannity, ini bukan
kebijakan lingkungan yang masuk
akal. Dia nyebutnya loncatan
menuju SOSIALISME. Biayanya,
katanya, puluhan triliun dolar.
Ini bakal ngancurin industri migas,
ngehapus jutaan kerjaan, dan ngasih
kendali gede banget ke pemerintah
atas hidup rakyat.
Kedua, JAMINAN KESEHATAN
UNIVERSAL ala pemerintah,
yang sering disebut “Medicare for All”.
Hannity ngotot ini bakal ngancurin
sistem perawatan kesehatan terbaik
di dunia, terus gantiin sama birokrasi
yang lemot dan gak efisien.
Dia peringatin, di negara yang udah
nyoba sistem mirip kayak Kanada
dan Inggris, pasien harus nunggu
BERBULAN-BULAN buat dapet
perawatan yang mereka butuhin.
Ketiga, PENDIDIKAN GRATIS.
Hannity gak nentang pendidikan, ya.
Tapi dia nentang gagasan kalo
pendidikan harus gratis buat semua,
dibayar pake pajak tinggi. Dia bilang,
GAK ADA yang beneran gratis. Pasti
ada yang bayar, dan itu si pembayar
pajak yang udah keberatan beban.
Keempat, PAJAK TINGGI. Hannity
berargumen, buat biayain semua
program gila ini, pajak harus
dinaikin drastis. Gak cuma buat
orang kaya, tapi juga buat kelas
menengah. Ini kebalikan dari
pemotongan pajak ala Trump yang
kata Hannity udah micu
pertumbuhan ekonomi gila-gilaan.
Hannity lanjut ngelontarin
peringatan paling keras:
Amerika lagi menuju ke arah
VENEZUELA. Venezuela adalah
contoh favoritnya tentang apa yang
terjadi kalo sosialisme diterapin.
Negara yang dulu kaya minyak,
sekarang HANCUR. Kelangkaan
makanan, hiperinflasi, penindasan
politik. Hannity yakin para pemimpin
sosialis Demokrat pengen bawa
Amerika ke jalan neraka yang sama.
Dia bahkan ngingetin kalo Joe Biden,
yang katanya kandidat moderat,
udah “DIBAJAK” sama kubu kiri ini.
Platform Biden, kata Hannity, udah
geser jauh ke kiri dibanding
posisinya dulu. Ini bukti kalo sayap
radikal udah NGAMBIL ALIH Partai
Demokrat sepenuhnya. Pertarungan
politik bukan lagi kiri lawan kanan.
Tapi antara KEBEBASAN melawan
SOSIALISME. Dan buat Hannity,
pilihannya jelas banget: hidup bebas
di bawah Konstitusi, atau mati
di bawah sistem sosialis global.
