Feminisme Adalah Keadilan untuk Semua
Sahabat, kita tiba di bagian terakhir
dari buku We Should All Be
Feminists. Setelah membongkar
stigma, menyingkap ketimpangan
yang dinormalisasi, membedah pola
asuh yang berbeda, menjebol definisi
maskulinitas yang sempit, menantang
argumen biologis, dan mengkritik
obsesi terhadap pernikahan,
Chimamanda Ngozi Adichie kini
sampai pada inti dari seluruh
argumennya. Ia mendefinisikan ulang
apa itu feminisme, dan mengajak kita
semua untuk ikut serta.
7. Feminisme Adalah Keadilan
untuk Semua
Di bagian akhir ini, Adichie kembali
ke definisi yang paling mendasar.
Ia mengutip definisi seorang feminis
dengan sangat jelas:
“A person who believes in the social,
political, and economic equality of
the sexes.”
(Seorang yang percaya pada
kesetaraan sosial, politik, dan
ekonomi antara laki-laki dan
perempuan.)
Definisi ini sangat penting karena ia
meluruskan semua kesalahpahaman
yang telah dibahas di bagian awal
buku ini. Feminis bukanlah orang
yang membenci laki-laki. Feminis
bukanlah orang yang ingin
membalikkan dominasi. Feminis
bukanlah “wanita tidak bahagia yang
tidak bisa mendapatkan suami.”
Feminis adalah siapa pun, laki-laki
atau perempuan, yang memandang
dunia dan berkata bahwa status quo
tidak adil, dan bahwa kita bisa
melakukan yang lebih baik.
Dengan sengaja, Adichie
menggunakan kata “kita” dalam judul
bukunya: We Should All Be Feminists
(Kita Semua Harus Menjadi Feminis).
Kata “kita” ini sangat signifikan.
Ia tidak mengatakan “perempuan
harus menjadi feminis.”
Ia mengatakan “kita semua”,
termasuk laki-laki. Karena masalah
gender bukanlah masalah
perempuan saja. Ia adalah masalah
kemanusiaan. Ketidakadilan yang
menimpa perempuan juga
membelenggu laki-laki. Stereotip
yang merugikan perempuan juga
membatasi laki-laki. Sistem yang
sama yang mengajarkan anak
perempuan untuk mengecilkan diri
juga mengajarkan anak laki-laki
untuk membesar dengan cara yang
merusak.
Adichie membayangkan sebuah dunia
yang berbeda. Sebuah dunia di mana
kita membesarkan anak-anak kita
secara berbeda. Bayangkan anak
perempuan tumbuh tanpa rasa
bersalah atas ambisinya. Mereka
tidak perlu minta maaf karena ingin
menjadi pemimpin. Mereka tidak
perlu mengecilkan suara mereka
agar orang lain merasa nyaman.
Mereka tidak perlu takut bahwa
kesuksesan mereka akan
mengancam laki-laki. Bayangkan
anak laki-laki tumbuh tanpa tekanan
untuk selalu dominan. Mereka boleh
menangis ketika sedih. Mereka boleh
takut ketika menghadapi bahaya.
Mereka boleh lembut tanpa diejek.
Mereka tidak perlu membuktikan
kejantanan mereka melalui
kekerasan atau ketidakpekaan.
Visi ini bukanlah utopia yang mustahil.
Ia adalah sesuatu yang bisa kita
bangun, satu langkah kecil setiap kali.
Setiap kali kita menolak untuk
menertawakan lelucon yang
merendahkan perempuan.
Setiap kali kita mendorong anak
perempuan untuk bermimpi besar.
Setiap kali kita memeluk anak
laki-laki yang menangis dan berkata
bahwa tidak apa-apa untuk merasa
sedih. Setiap kali kita
mempertanyakan tradisi yang sudah
lama tidak diperiksa. Setiap kali kita
memilih untuk melihat manusia
sebagai individu, bukan sebagai kotak
gender yang harus diisi.
Adichie menutup bukunya dengan
keyakinan bahwa dunia yang lebih
adil adalah dunia yang lebih bahagia,
bagi semua orang. Bukan hanya bagi
perempuan. Bukan hanya bagi
laki-laki. Tetapi bagi semua orang
yang ingin hidup sebagai manusia
yang utuh, tanpa dipenjara oleh
ekspektasi-ekspektasi yang tidak
pernah mereka pilih. Feminisme,
pada akhirnya, adalah tentang
kebebasan. Kebebasan untuk menjadi
diri sendiri sepenuhnya.
Dan kebebasan itu adalah hak setiap
orang, tanpa kecuali.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Gaes, kita udah sampe di ujung
perjalanan buku keren ini.
Setelah Adichie bongkar stigma,
nunjukin ketimpangan yang udah
dinormalisasi, bedah pola asuh
yang beda banget antara cewek dan
cowok, jebol definisi maskulinitas
yang sempit, tantang argumen
biologis yang udah basi, dan kritik
obsesi nikah yang gak sehat, sekarang
dia sampe ke inti terdalam dari semua
argumennya. Dia definisiin ulang
feminisme dengan gamblang, dan
ngajak kita semua buat gabung.
7. Feminisme Itu Keadilan buat
Semua
Di bagian pamungkas ini, Adichie
balik ke akar, ke definisi yang paling
dasar. Dia kutip pengertian seorang
feminis dengan jelas banget, gaes:
“A person who believes in the social,
political, and economic equality of
the sexes.”
Artinya, seorang yang percaya pada
kesetaraan sosial, politik, dan
ekonomi antara laki-laki dan
perempuan.
Nah, definisi ini KRUSIAL banget.
Dia ngelurusin SEMUA
kesalahpahaman konyol yang udah
kita bahas dari awal. Feminis itu
BUKAN pembenci cowok. Bukan
gerakan yang pengen nuker posisi
biar cewek di atas, cowok di bawah.
Bukan juga “cewek gak bahagia yang
gak laku”, kayak kata jurnalis bego
yang dulu. Feminis adalah siapa aja,
cowok atau cewek, yang ngeliat dunia
dan bilang, “Ini status quo gak adil,
dan kita pasti bisa lebih baik dari ini.”
Dengan sengaja, Adichie pake kata
“Kita” di judul bukunya:
We Should All Be Feminists,
Kita Semua Harus Menjadi Feminis.
Kata “kita” ini powerful abis. Dia gak
bilang “perempuan harus jadi feminis.”
Dia bilang “KITA SEMUA.” Termasuk
laki-laki. Kenapa? Karena masalah
gender ini BUKAN cuma masalah
cewek. Ini masalah kemanusiaan.
Ketidakadilan yang nimpa cewek juga
ngebelenggu cowok. Stereotip yang
ngerugiin cewek juga ngebatasin
cowok. Sistem yang sama yang ngajarin
anak cewek buat mengecilkan diri, juga
ngajarin anak cowok buat membesar
dengan cara yang merusak. Semua
terperangkap.
Adichie ngajak kita ngebayangin dunia
yang BEDA. Bayangin kita ngasuh
anak-anak kita dengan cara yang beda.
Bayangin anak cewek tumbuh TANPA
rasa bersalah atas ambisinya. Mereka
gak perlu minta maaf karena pengen
jadi pemimpin. Gak perlu ngecilin
suara mereka biar orang lain nyaman.
Gak perlu takut kalo sukses mereka
nanti ngancam laki-laki. Bayangin
juga anak cowok tumbuh tanpa
tekanan buat harus selalu dominan.
Mereka BOLEH nangis pas sedih.
BOLEH takut pas hadapi bahaya.
BOLEH lembut tanpa diejek. Mereka
gak perlu buktiin kejantanan lewat
kekerasan atau pura-pura kebal
perasaan.
Visi ini bukan utopia mustahil, gaes.
Bukan angan-angan kosong.
Dia sesuatu yang bisa kita BANGUN,
satu langkah kecil setiap saat.
Setiap kali lo nolak ketawa pas ada
lelucon yang ngerendahin cewek.
Setiap kali lo dorong anak cewek
buat mimpi gede. Setiap kali lo
peluk anak cowok yang lagi nangis
dan lo bilang,
“Gak apa-apa kok ngerasa sedih.”
Setiap kali lo berani nanya tradisi
yang udah lama gak pernah diperiksa.
Setiap kali lo pilih ngeliat manusia
sebagai individu, bukan sebagai kotak
gender yang harus diisi sesuai cetakan.
Adichie nutup bukunya dengan
keyakinan bahwa dunia yang lebih
adil adalah dunia yang
LEBIH BAHAGIA, buat semua orang.
Bukan cuma buat cewek.
Bukan cuma buat cowok. Tapi buat
semua yang pengen hidup sebagai
MANUSIA UTUH. Tanpa dijeblosin
ke penjara ekspektasi yang gak
pernah mereka minta. Feminisme,
ujung-ujungnya, adalah soal
KEBEBASAN. Kebebasan buat jadi
diri lo sendiri, sepenuhnya.
Dan kebebasan itu adalah hak setiap
orang, tanpa kecuali. Titik.
