Bukan Biologis, Melainkan Budaya
Sahabat, kita lanjutkan ke bagian
kelima dari bukuĀ We Should All Be
Feminists. Setelah membahas
bagaimana maskulinitas yang sempit
menjebak laki-laki, Adichie kini
melangkah lebih dalam ke akar dari
semua ketimpangan ini.
Ia menantang salah satu argumen
tertua yang digunakan untuk
membenarkan dominasi laki-laki
atas perempuan: argumen bahwa
ketimpangan gender adalah sesuatu
yang alami, sesuatu yang biologis,
sesuatu yang sudah menjadi kodrat.
5. Bukan Biologis, Melainkan
Budaya
Chimamanda Ngozi Adichie dengan
tegas membantah argumen bahwa
ketimpangan gender adalah kodrat
yang tidak bisa diubah.
Ia menyampaikan satu kalimat yang
sangat kuat dan menjadi inti dari
seluruh bagian ini:
“Culture does not make people.
People make culture.”
(Budaya tidak membuat manusia.
Manusia yang membuat budaya.)
Kalimat ini sederhana, tetapi
implikasinya sangat dalam.
Jika budaya adalah ciptaan manusia,
maka budaya bisa diubah oleh
manusia. Jika ketimpangan gender
adalah hasil dari budaya, bukan hasil
dari biologi, maka ketimpangan itu
bukanlah takdir yang harus diterima.
Ia adalah pilihan yang bisa ditolak.
Adichie menunjukkan bahwa selama
berabad-abad, dunia telah
menggunakan perbedaan fisik sebagai
alasan untuk mendominasi.
Argumennya berbunyi seperti ini:
laki-laki secara fisik lebih kuat
daripada perempuan. Oleh karena itu,
laki-laki lebih cocok untuk memimpin,
untuk berkuasa, untuk mengendalikan.
Perempuan, dengan tubuh mereka
yang lebih kecil dan lebih lemah,
harus tunduk dan melayani.
Argumen ini mungkin masuk akal
di zaman kuno, ketika kelangsungan
hidup bergantung pada kekuatan otot,
ketika siapa yang bisa mengangkat
batu paling berat atau berlari paling
cepat adalah siapa yang berkuasa.
Tetapi kita tidak lagi hidup
di zaman itu. Hari ini, kita hidup
di era di mana kualitas seorang
pemimpin bukan lagi kekuatan fisik,
melainkan kecerdasan, empati,
kreativitas, dan kemampuan untuk
berkomunikasi. Tidak ada
hubungannya antara kemampuan
mengangkat beban berat dengan
kemampuan memimpin negara.
Tidak ada korelasi antara ukuran otot
dan kapasitas untuk membuat
kebijakan yang adil.
Adichie kemudian melontarkan sebuah
pertanyaan yang sangat tajam.
Jika laki-laki benar-benar superior
secara biologis untuk memimpin,
jika mereka memang ditakdirkan oleh
alam untuk berkuasa, lalu mengapa
ada begitu banyak laki-laki yang korup
dan tidak kompeten dalam posisi
kekuasaan? Mengapa sejarah dipenuhi
dengan pemimpin laki-laki yang
menghancurkan negara mereka,
menggelapkan uang rakyat, dan
memulai perang yang tidak perlu?
Jika superioritas biologis adalah alasan
untuk mendominasi, maka bukti
di lapangan justru menunjukkan
sebaliknya. Alasan itu gugur dengan
sendirinya.
Pertanyaan ini bukan sekadar sindiran.
Ini adalah pembongkaran logika yang
selama ini dipakai untuk
mempertahankan status quo. Adichie
memaksa kita untuk melihat bahwa
argumen biologis hanyalah kedok.
Ia adalah alasan yang diciptakan
setelah fakta untuk membenarkan
ketidakadilan yang sudah ada.
Bukan biologi yang menciptakan
ketimpangan. Ketimpanganlah yang
menciptakan argumen biologi untuk
membenarkan dirinya sendiri.
Bagian ini sangat penting karena ia
mengalihkan tanggung jawab.
Jika ketimpangan gender adalah
kodrat, maka tidak ada yang bisa kita
lakukan. Kita hanya bisa menerima
dan menyesuaikan diri. Tetapi jika
ketimpangan gender adalah budaya,
maka kitalah yang menciptakannya.
Dan jika kitalah yang
menciptakannya, kitalah yang bisa
mengubahnya. Ini adalah pesan yang
memberdayakan sekaligus menuntut.
Ia memberitahu kita bahwa dunia
yang lebih adil bukanlah mimpi yang
mustahil. Ia adalah sesuatu yang bisa
kita bangun, jika kita memiliki
keberanian untuk menantang budaya
kita sendiri.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Gaes, kita lanjut lagi bedah buku We
Should All Be Feminists. Sejauh ini
Adichie udah nunjukin bukti-bukti
timpang, ngobrolin pola asuh yang
salah, sampe ngebedah maskulinitas
yang ngejebak. Nah, sekarang dia
ngambil langkah lebih berani lagi.
Dia nantang langsung argumen paling
lawas dan paling sering dipake buat
ngebelain dominasi cowok atas cewek.
Argumen yang bilang kalo semua
ketimpangan ini ALAMI. Kodrat.
Takdir biologis yang gak bisa
diganggu gugat.
5. Bukan Biologis, Melainkan
Budaya
Adichie dengan tegas ngebantah
semua omongan yang ngatain
ketimpangan gender itu kodrat.
Dia ngelontarin satu kalimat yang
jadi inti dari seluruh bagian ini.
Kalimatnya sederhana, tapi
implikasinya dalem banget:
“Culture does not make people.
People make culture.”
Budaya tidak membuat manusia.
MANUSIA yang membuat budaya.
Nah, coba lo resapin. Kalo budaya itu
ciptaan manusia, berarti budaya itu
FLEKSIBEL. Dia bisa diubah sama
manusia yang nyiptain dia.
Kalo ketimpangan gender itu ternyata
hasil dari budaya, bukan dari biologi,
itu artinya dia BUKAN takdir yang
harus lo telan mentah-mentah.
Dia adalah PILIHAN. Dan kalo dia
cuma pilihan, lo bisa menolaknya.
Adichie nunjukin gimana selama
berabad-abad, dunia pake alasan
perbedaan fisik buat ngelegalin
dominasi. Argumennya gini:
cowok tuh secara fisik lebih kuat
dari cewek. Makanya, cowok lebih
cocok buat pemimpin, buat berkuasa,
buat ngendaliin. Sementara cewek,
dengan tubuh yang lebih kecil dan
dianggep lemah, ya harus nurut
dan ngelayani.
Argumen ini mungkin masih masuk
akal kalo lo hidup di jaman purba.
Dimana hidup cuma soal otot, siapa
yang bisa ngangkat batu paling berat
atau lari paling kencang, dia yang
menang. Tapi kita gak hidup
di zaman itu lagi, gaes. Hari ini,
kualitas seorang pemimpin itu bukan
lagi soal seberapa gede otot lo.
Pemimpin itu butuh KECERDASAN.
Butuh EMPATI. Butuh KREATIVITAS.
Butuh kemampuan KOMUNIKASI.
Gak ada hubungannya sama sekali
antara bisa angkat beban 50 kilo sama
kemampuan lo ngurus negara. Gak ada
korelasinya ukuran otot lo sama
kapasitas otak lo buat bikin kebijakan
yang adil.
Terus Adichie ngelempar pertanyaan
yang nusuk banget. Beneran tajem.
Coba deh pikirin: kalo emang cowok
secara biologis SUPERIOR buat
memimpin, kalo mereka emang udah
DITAKDIRKAN alam buat berkuasa,
TERUS KENAPA BANYAK BANGET
COWOK KORUP DAN GAK
KOMPETEN DI POSISI KEKUASAAN?
Kenapa sejarah isinya penuh sama
pemimpin cowok yang malah ngancurin
negara sendiri, nguras duit rakyat, dan
bikin perang gak jelas?
Logika superioritas biologis ini langsung
rontok di hadapan bukti. Kalo alasan lo
buat mendominasi adalah kehebatan
bawaan lahir, bukti di lapangan justru
nunjukin kebalikannya. Alasan lo gugur.
Pertanyaan ini bukan sekedar sindiran
pedes. Ini adalah cara Adichie
ngebongkar logika busuk yang selama
ini dipake buat pertahanin status quo.
Dia maksa kita buat ngeliat kalo
argumen biologis itu cuma KEDOK.
Dia adalah alesan yang BARU
DICIPTAIN SETELAH FAKTA, buat
ngebenarin ketidakadilan yang udah
terlanjur ada. Bukan biologi yang
nyiptain ketimpangan.
Tapi KETIMPANGAN yang nyiptain
argumen biologi buat ngebelain
dirinya sendiri.
Bagian ini krusial banget karena
dia mindahin BEBAN TANGGUNG
JAWAB. Kalo ketimpangan gender
itu KODRAT, ya udah, kita gak bisa
ngapa-ngapain. Pasrah aja.
Tapi kalo ketimpangan itu BUDAYA,
berarti KITA yang nyiptain. Dan kalo
KITA yang nyiptain, kitalah yang
bisa ngerubahnya!
Ini pesan yang memberdayakan
sekaligus nuntut lo. Dia ngasih tau
kalo dunia yang lebih adil itu bukan
mimpi kosong yang mustahil.
Dia adalah sesuatu yang bisa kita
BANGUN, kalo kita punya nyali
buat nantang budaya kita sendiri.
