The Door in the Face Technique: Trik Psikologi di Balik Rasa Lega yang Menjebak Anda
The Door in the Face Technique atau
Teknik Pintu di Wajah adalah taktik
manipulasi di mana seseorang dengan
sengaja mengajukan permintaan
besar yang sangat sulit Anda terima.
Tujuannya bukan agar Anda
menyetujui permintaan itu, melainkan
agar Anda menolaknya. Begitu Anda
menolak, ia segera mengajukan
permintaan kedua yang lebih kecil.
Permintaan kedua inilah yang
sebenarnya ia inginkan sejak awal.
Anda kemudian akan merasa bahwa
permintaan kedua jauh lebih masuk
akal, lalu menyetujuinya. Tanpa
disadari, Anda telah dikendalikan
oleh rasa bersalah Anda sendiri.
Teknik ini bekerja dengan
memanfaatkan kecenderungan alami
manusia untuk membalas budi.
Ketika seseorang tampak “mengalah”
atau “menurunkan tuntutannya”,
kita merasa terdorong untuk
membalasnya dengan memberi
sesuatu sebagai kompensasi. Padahal,
pengorbanan itu sepenuhnya rekayasa.
Eksperimen Robert Cialdini
yang Membuktikan Teknik Ini
Robert Cialdini, seorang psikolog
sosial ternama, melakukan
serangkaian eksperimen untuk
menguji kekuatan teknik ini.
Dalam salah satu eksperimennya,
tim peneliti mendatangi mahasiswa
secara acak di kampus dan
mengajukan permintaan besar.
Peneliti: “Permisi, kami dari program
pembinaan remaja.
Kami membutuhkan relawan yang
bersedia menjadi konselor bagi remaja
bermasalah. Komitmennya dua tahun,
setiap minggu Anda harus
mendampingi mereka selama empat
jam. Apakah Anda bersedia?”
Hampir semua mahasiswa langsung
menolak. Tidak ada yang bersedia
mengorbankan waktu sebanyak
itu secara gratis.
Setelah ditolak, peneliti tidak langsung
pergi. Mereka segera mengajukan
permintaan kedua yang jauh lebih
kecil.
Peneliti: “Baiklah, kami mengerti.
Kalau begitu, apakah Anda bersedia
menemani mereka jalan-jalan
ke kebun binatang selama dua jam?
Ini hanya satu kali saja.”
Hasilnya, 50 persen mahasiswa
setuju. Padahal pada kelompok
mahasiswa lain yang hanya ditawari
permintaan kedua saja tanpa
permintaan besar di awal, hanya
17 persen yang setuju. Ini berarti
teknik pintu di wajah meningkatkan
tingkat kepatuhan hampir tiga kali
lipat.
Yang menarik, para mahasiswa yang
setuju tidak merasa dimanipulasi.
Mereka justru merasa bahwa mereka
telah bernegosiasi dengan baik.
Mereka mengira peneliti sudah
“turun harga” dari dua tahun
menjadi dua jam, dan mereka merasa
puas karena berhasil meringankan
beban permintaan. Mereka tidak
sadar bahwa sejak awal peneliti hanya
mengincar yang dua jam.
Mengapa Teknik Ini Bekerja?
Teknik ini bekerja dengan
memanfaatkan tiga mekanisme
psikologis sekaligus.
Pertama, rasa bersalah.
Begitu Anda menolak permintaan
seseorang, Anda langsung merasa
tidak enak. Anda merasa egois,
tidak membantu, atau tidak peduli.
Rasa bersalah ini menciptakan
ketidaknyamanan psikologis yang
ingin segera Anda hilangkan.
Kedua, norma timbal balik. Ketika
orang yang sama kemudian
mengajukan permintaan yang
lebih kecil, otak Anda
menafsirkannya sebagai bentuk
konsesi. Anda melihat bahwa dia
sudah mundur dari posisi awalnya.
Sebagai respons alami,
Anda merasa perlu membalas
konsesi itu dengan memberi
konsesi pula. Caranya adalah
dengan menyetujui permintaan
keduanya.
Ketiga, ilusi kontras. Otak Anda
tidak mengevaluasi permintaan
kedua secara objektif.
Anda membandingkannya dengan
permintaan pertama yang sangat
besar. Dua jam terasa sangat ringan
jika dibandingkan dengan dua
tahun. Perbandingan ini membuat
permintaan kedua tampak jauh
lebih masuk akal daripada
sebenarnya.
Tiga Fase The Door in the
Face Technique
Fase 1: Membuat Anda
Menolak (The Setup)
Ini adalah fase pembuka. Pelaku
mengajukan permintaan yang sengaja
dibuat berlebihan, tidak masuk akal,
atau sangat memberatkan. Dia tidak
peduli apakah Anda tertawa, marah,
atau terkejut. Yang dia inginkan
hanyalah satu kata dari Anda:
“Tidak.”
Penolakan Anda adalah kunci dari
seluruh teknik ini. Tanpa penolakan
di awal, fase selanjutnya tidak akan
berjalan. Pelaku akan dengan
sengaja memancing penolakan itu.
Bayangkan Anda sedang duduk
di meja kerja Anda pada Jumat
sore. Seorang rekan kerja
mendekati Anda dengan
ekspresi panik.
Rekan: “Hei, gue lagi dalam masalah
besar nih. Lo bisa bantuin gue ngerjain
laporan ini? Ini harus selesai besok
pagi. Masalahnya datanya ada
200 halaman dan belum ada yang
diolah sama sekali. Gue udah coba
sendiri tapi nggak sanggup.
Lo bisa bantuin full kan?”
Anda langsung terkejut. Besok pagi?
200 halaman? Di akhir pekan?
Anda: “Gila lo. Nggak mungkin.
Gue ada rencana besok. Lagian segitu
banyak mana bisa selesai semalam.”
Pada titik ini, Anda sudah menolak.
Anda sudah masuk ke dalam
perangkap.
Fase 2: Pura-Pura Mundur
(The Retreat)
Begitu Anda menolak, pelaku segera
mengganti strategi. Ia memasang
ekspresi kecewa tetapi seolah-olah
sangat pengertian. Ia membuat
Anda merasa bahwa ia sudah
berkorban dengan menurunkan
tuntutannya.
Kembali ke rekan kerja Anda tadi.
Setelah Anda menolak, ia menghela
napas panjang. Raut wajahnya
menunjukkan kekecewaan, tetapi ia
berbicara dengan nada yang dibuat
seolah sangat memaklumi.
Rekan: “Iya, gue ngerti kok.
Gue tahu itu keterlaluan.
Nggak mungkin selesai.
Tapi gimana ya… lo setidaknya bisa
bantuin gue nggak, cuma buat bikin
ringkasan datanya aja? Paling cuma
10 halaman. Cuma butuh dua jam
kok. Tanpa lo, gue bener-bener
mati kutu nih.”
Sekarang otak Anda mulai
membandingkan. 200 halaman penuh
versus 10 halaman ringkasan. Dua jam
versus semalaman. Perbandingannya
sangat timpang. Permintaan kedua
terasa sangat ringan dibandingkan
permintaan pertama. Anda mulai
berpikir bahwa menolak lagi akan
membuat Anda terlihat kejam.
Dia sudah mengalah banyak,
masa Anda tidak mengalah
sedikit pun?
Fase 3: Anda Setuju dan
Merasa Baik (The Victory)
Ini adalah fase penutup.
Anda menyetujui permintaan kedua,
dan anehnya, Anda merasa lega.
Anda merasa telah berhasil
bernegosiasi. Anda merasa telah
membantu tanpa harus berkorban
terlalu banyak. Padahal sejak awal,
rekan Anda hanya membutuhkan
bantuan membuat ringkasan.
Dia tidak pernah berharap Anda
mengerjakan 200 halaman.
Dia hanya menciptakan skenario
agar “bikin ringkasan 10 halaman”
terlihat seperti kompromi besar
yang harus Anda terima.
Anda: “Ya udah deh. Gue bantu
bikin ringkasannya aja.
Tapi cuma dua jam ya.”
Rekan: “Makasih banyak!
Lo penyelamat gue!”
Anda pergi dengan perasaan bahwa
Anda sudah berbuat baik. Padahal,
tanpa permintaan 200 halaman
di awal, Anda mungkin akan tetap
menolak membuat ringkasan karena
Anda sudah ada rencana di akhir
pekan.
Contoh Nyata dengan
Dialog Orisinal
1. Negosiasi Harga
di Toko Elektronik
Anda sedang mencari laptop baru.
Anda masuk ke sebuah toko dan
menemukan model yang Anda
inginkan dengan banderol harga
15 juta rupiah. Anda mendekati
pemilik toko.
Anda: “Mas, laptop ini 15 juta ya?
Bisa kurang nggak?”
Pemilik toko tahu persis bahwa harga
pasaran laptop itu adalah 12 juta.
Tapi ia tidak akan langsung
menyebut 12 juta. Sebaliknya,
ia membuka dengan harga yang
lebih tinggi dari harga banderol.
Pemilik: “Wah, itu barangnya lagi laku
banget Mas. Harga normalnya 16 juta.
Ini udah diskon jadi 15 juta.”
Anda mengernyitkan dahi.
16 juta terlalu mahal.
Anda: “16 juta? Saya cari di online
aja dulu deh kalau segitu.”
Pemilik toko melihat Anda mulai
menjauh. Ia segera memasang
muka seolah baru saja berpikir
keras.
Pemilik: “Tunggu dulu, Mas. Gini aja.
Karena Mas serius, saya kasih harga
spesial. 12,5 juta. Itu udah di bawah
harga modal saya sebenarnya.
Tapi gapapa, buat Mas aja.”
Sekarang Anda membandingkan.
16 juta versus 12,5 juta. Anda merasa
sudah menawar dengan hebat.
Anda mendapat potongan 3,5 juta.
Anda tidak sadar bahwa harga
12,5 juta itu masih 500 ribu di atas
harga yang sebenarnya ingin ia jual.
Ia sengaja menyebut 16 juta di awal
agar 12,5 juta terasa seperti
kemenangan besar bagi Anda.
Anda: “Oke deh, saya ambil.”
Anda meninggalkan toko dengan
perasaan senang. Pemilik toko
juga senang karena ia menjual
di atas harga targetnya.
2. Anak dan Uang Saku
Tambahan
Seorang remaja, sebut saja Dito,
ingin meminta uang tambahan
kepada ibunya untuk membeli
sepatu baru. Ia tahu bahwa ibunya
akan menolak jika ia langsung
meminta uang dalam jumlah besar.
Maka ia menyusun strategi.
Suatu sore, Dito mendekati ibunya
yang sedang menonton televisi.
Dito: “Bu, boleh minta sesuatu nggak?
Aku pengen beli laptop baru.
Harganya 15 juta.”
Ibunya langsung menoleh dengan
kaget.
Ibu: “15 juta? Kamu kira uang tumbuh
di pohon? Nggak bisa. Laptopmu
yang sekarang masih bagus.”
Dito sudah menduga jawaban ini.
Ia memasang wajah kecewa, lalu
duduk diam sejenak.
Setelah beberapa saat, ia berbicara
lagi dengan nada yang lebih pelan.
Dito: “Iya deh, Bu. Aku ngerti kok.
Tapi… kalau sepatu aja boleh nggak?
Yang kemarin udah robek. Harganya
cuma 400 ribu. Jauh banget kan
sama 15 juta.”
Ibu melihat permintaan kedua ini.
400 ribu dibandingkan dengan
15 juta. Perbandingannya sangat
jauh. Ia merasa anaknya sudah
sangat mengerti dan tidak
memaksakan keinginan.
Ia pun mengangguk.
Ibu: “Ya udah, buat sepatu aja.
Besok kita beli.”
Dito tersenyum. Sejak awal ia hanya
menginginkan sepatu baru seharga
400 ribu. Laptop 15 juta hanyalah
pintu yang ia banting agar sepatu
400 ribu terdengar seperti konsesi
besar.
3. Proposal Proyek di Kantor
Seorang manajer, sebut saja Bu Rina,
ingin timnya lembur di akhir pekan
untuk mengejar deadline. Ia tahu
bahwa jika ia langsung meminta
timnya lembur, akan banyak yang
menolak. Maka ia menggunakan
Door in the Face Technique.
Pada rapat Jumat pagi, Bu Rina
berdiri di depan timnya yang
berjumlah delapan orang.
Bu Rina: “Tim, kita ada masalah
besar. Deadline proyek dimajukan.
Saya perlu seluruh tim bekerja
setiap hari Sabtu dan Minggu
selama sebulan ke depan.
Kita harus kejar target.”
Ruangan langsung riuh.
Semua orang mengeluh.
Karyawan 1: “Bu, sebulan penuh akhir
pekan? Nggak bisa Bu. Kita punya
keluarga.”
Karyawan 2: “Iya Bu, ini keterlaluan.”
Bu Rina membiarkan keluhan itu
berlangsung selama beberapa menit.
Ia memasang wajah serius, lalu
menghela napas panjang.
Bu Rina: “Baik. Saya dengar
keberatan kalian. Saya tahu ini
berat. Bagaimana kalau kita
kompromi? Bukan sebulan
penuh. Hanya akhir pekan ini saja.
Sabtu dan Minggu ini aja. Dua hari.
Setelah itu kita evaluasi lagi. Saya
sendiri juga akan di sini bersama
kalian.”
Sekarang tim mulai berpikir.
Sebulan penuh versus dua hari.
Perbandingannya sangat timpang.
Dua hari terasa sangat ringan.
Satu per satu mulai mengangguk.
Karyawan 1: “Ya udah Bu, kalau
cuma dua hari sih masih bisa.”
Karyawan 2: “Oke deh, akhir pekan
ini aja ya Bu.”
Bu Rina tersenyum. Sejak awal ia
hanya membutuhkan timnya lembur
satu akhir pekan. Ia sengaja
melempar “sebulan penuh” sebagai
permintaan awal agar “satu akhir
pekan” terdengar seperti kompromi
yang masuk akal.
Cara Melawan The Door in the
Face Technique
Pertama, kenali polanya. Setiap kali
Anda menerima permintaan yang
sangat besar dan tidak masuk akal
di awal percakapan, segera waspada.
Tanyakan pada diri sendiri:
“Apakah permintaan ini sengaja
dibuat besar agar permintaan
berikutnya terasa ringan?”
Jika jawabannya ya, Anda sedang
menghadapi Door in the Face
Technique.
Kedua, latih diri untuk menolak
dua-duanya. Anda tidak memiliki
utang budi hanya karena seseorang
menurunkan permintaannya.
Ingatlah bahwa permintaan pertama
yang besar itu adalah jebakan. Anda
tidak perlu membalas “konsesi”
yang sepenuhnya direkayasa.
Misalnya, kembali ke kasus rekan
kerja yang meminta bantuan
laporan 200 halaman. Setelah ia
menurunkan ke 10 halaman,
Anda bisa menjawab:
Anda: “Gue ngerti lo lagi kesulitan.
Tapi gue tetap nggak bisa bantu
kali ini. Gue ada komitmen lain
di akhir pekan. Lo bisa minta
tolong ke yang lain.”
Anda tidak perlu menjelaskan panjang
lebar. Anda tidak perlu merasa bersalah.
Ketiga, evaluasi permintaan kedua
secara independen.
Jangan bandingkan dengan
permintaan pertama. Tanyakan pada
diri sendiri: “Kalau orang ini dari
awal meminta ini saja, tanpa ada
permintaan gila sebelumnya, apakah
saya akan setuju?” Jika jawabannya
tidak, tolak.
Keempat, balikkan tekniknya.
Ini adalah cara yang cukup ampuh
untuk menggagalkan manipulasi.
Begitu pelaku mengajukan
permintaan kedua, Anda
berpura-pura lebih tertarik pada
permintaan pertama.
Rekan: “Ya udah deh, kalau
200 halaman nggak bisa,
lo bantu bikin ringkasan
10 halaman aja.”
Anda: “Hmm, tapi sebenarnya yang
200 halaman tadi menantang juga ya.
Lo serius butuh bantuan?
Sini gue lihat dulu datanya.”
Pelaku akan panik karena ia tidak
benar-benar ingin Anda mengerjakan
200 halaman. Ia akan berusaha
mengalihkan kembali ke 10 halaman.
Di titik ini, Anda sudah berhasil
membalikkan kendali.
Menggunakan Teknik Ini
Secara Positif
Seperti banyak teknik psikologi
lainnya, Door in the Face juga bisa
digunakan untuk tujuan yang baik.
Misalnya, Anda ingin anak Anda yang
berusia 10 tahun mulai belajar
membersihkan kamarnya sendiri.
Alih-alih langsung menyuruhnya
membersihkan seluruh kamar,
Anda bisa memulai dengan
permintaan besar.
Anda: “Raka, mulai hari ini kamu
harus bersihin seluruh rumah ya.
Sapu, pel, bersihin jendela,
semuanya.”
Raka: “Hah? Seluruh rumah?
Nggak mau! Itu kerjaan pembantu!”
Anda: “Ya udah, kalau gitu kamar
kamu sendiri aja. Itu jauh lebih
kecil kan.”
Raka akan membandingkan seluruh
rumah dengan satu kamar. Ia akan
merasa bahwa membersihkan satu
kamar adalah kemenangan hasil
negosiasi. Ia akan melakukannya
dengan perasaan bahwa ia sudah
berhasil menurunkan tuntutan Anda.
Padahal sejak awal Anda hanya ingin
ia membersihkan kamarnya sendiri.
Teknik ini juga bisa digunakan untuk
kebaikan dalam kampanye kesehatan.
Petugas kesehatan bisa memulai
dengan ajakan yang sulit:
“Mari ikut senam pagi setiap hari
selama dua jam.” Setelah ditolak,
mereka menawarkan alternatif:
“Kalau begitu, cukup 30 menit jalan
kaki setiap pagi.” Kemungkinan
besar lebih banyak orang akan setuju
dengan jalan kaki 30 menit, dan itu
sudah memberikan manfaat
kesehatan yang signifikan.
Yang membedakan penggunaan
positif dan manipulatif adalah niat
dan transparansi. Jika Anda
menggunakan teknik ini untuk
membantu orang lain mencapai
sesuatu yang memang baik bagi
mereka, itu etis. Jika Anda
menggunakannya untuk mengeruk
keuntungan pribadi dengan
mengorbankan orang lain,
itu manipulasi.
The Door in the Face Technique
mengajarkan satu hal penting:
jangan biarkan rasa bersalah atau ilusi
konsesi mengendalikan keputusan
Anda. Setiap kali merasa lega karena
permintaan dikecilkan, berhentilah
sejenak dan evaluasi dengan logika.
Anda selalu berhak menolak, tanpa
perlu merasa tidak enak.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Oke, lanjut. Lo tau nggak sih,
ada satu trik psikologi yang bikin lo
ngerasa menang dan lega, padahal
sebenernya lo baru aja dimainin.
Namanya The Door in the Face
Technique.
Dalam konteks dark psychology,
The Door in the Face Technique
atau Teknik Pintu di Wajah
adalah taktik manipulasi di mana
seseorang sengaja mengajukan
permintaan gede yang mustahil lo
terima dulu di awal, dengan tujuan
biar lo nolak. Begitu lo nolak, dia
langsung ngajuin permintaan kedua
yang lebih kecil. Dan permintaan
kedua ini sebenernya tujuan aslinya
dari awal. Lo bakal ngerasa,
“Oh yang ini sih masih masuk akal,”
lalu lo setuju. Tanpa sadar lo udah
kompromi, padahal tanpa
permintaan pertama tadi, bisa
jadi lo juga bakal nolak yang kedua.
Ini jurus yang udah level black belt
(sabuk hitam) karena ngandelin
rasa bersalah lo sendiri buat
menjebak lo. Pelaku nggak perlu
maksa, cukup bikin lo nolak sekali,
dan lo yang bakal ngerasa nggak
enak sendiri.
Coba lo bayangin. Ada penelitian
klasik dari Robert Cialdini, psikolog
legendaris. Dia suruh timnya turun
ke jalan, dekatin orang asing, terus
ngajuin permintaan gila:
“Permisi, bersediakah Anda menjadi
relawan di pusat rehabilitasi remaja?
Kami butuh komitmen 2 tahun,
seminggu 4 jam.”
Hampir semua orang langsung nolak.
Siapa juga yang mau ngabisin waktu
2 tahun cuma buat jadi relawan gratis?
Nah, setelah ditolak,
peneliti langsung ngajuin permintaan
kedua yang lebih kecil:
“Kalau begitu, apakah Anda bersedia
menemani sekelompok remaja
rehabilitasi jalan-jalan ke kebun
binatang selama 2 jam?
Cuma sekali aja.” Hasilnya?
50% orang langsung setuju.
Padahal di grup lain yang cuma
ditawarin jalan-jalan ke kebun
binatang tanpa permintaan gila
sebelumnya, cuma 17% yang setuju.
Gilanya, para responden ini ngerasa
mereka yang menang.
Mereka ngerasa udah bikin si peneliti
“turun harga” dari 2 tahun jadi cuma
2 jam. Padahal mah penelitinya dari
awal cuma ngincer yang 2 jam.
Ini dia kuncinya. Otak kita tuh nggak
suka ngerasa jahat. Begitu lo nolak
permintaan seseorang, lo langsung
ngerasa nggak enak, ngerasa egois,
ngerasa utang budi. Dan begitu
orang yang sama ngasih tawaran
yang lebih kecil, otak lo nangkep ini
sebagai “konsesi”. Lo ngerasa dia
udah mundur, jadi lo harus maju
sebagai balas budi. Padahal dia
nggak mundur, dia cuma
pura-pura. Semua udah disetting.
Cara kerjanya gampang banget,
dan lo pasti udah sering kena tanpa
sadar. Pertama, pelaku ngajuin
permintaan gila yang dia tahu pasti
lo tolak. Bisa minta duit gede, minta
waktu lama, minta tenaga maksimal.
Dia pengen lo nolak. Penolakan
lo itu yang dia incer. Begitu lo nolak,
lo masuk perangkap. Kedua, dia
langsung pasang muka kecewa, tapi
“baik hati” ngasih alternatif yang
lebih kecil. Dan lo, yang masih
ngerasa bersalah karena udah nolak,
langsung ngeliat alternatif ini sebagai
sesuatu yang masuk akal.
Lo bandingin bukan sama
“normalnya”, tapi sama permintaan
gila tadi. Ketiga, lo setuju. Lo ngerasa
lega, ngerasa baik, ngerasa udah
bantu. Padahal lo cuma dimainin.
Di dunia dark psychology, The Door
in the Face Technique ini punya
tiga fase utama:
1. Bikin Lo Nolak Dulu (The Setup)
Ini fase pancingan. Pelaku sengaja
ngajuin hal yang keterlaluan,
absurd, dan nggak mungkin lo iyakan.
Dia nggak peduli lo bakal ketawa,
marah, atau melongo. Yang penting
lo nolak. Contohnya, temen lo
tiba-tiba nanya, “Bro, gue boleh
pinjam motor lo seminggu?
Gue mau road trip.”
Lo langsung kaget, “Gila lo, motor
gue dipake seminggu? Nggak bisa.”
Udah, lo kena setup.
Dia sebenernya nggak butuh motor
lo seminggu. Dia cuma perlu lo
nolak.
2. Pasang Muka Kompromi
(The Retreat)
Begitu lo nolak, pelaku langsung ganti
strategi. Dia pasang muka kecewa tapi
pengertian. Dia bikin lo ngerasa dia
udah berkorban dengan nurunin
permintaannya. Contohnya,
“Ya udah deh, gue ngerti. Gue tau itu
keterlaluan. Tapi gimana kalau besok
lo anterin gue ke terminal aja?
Cuma setengah jam kok.”
Nah, di sini otak lo mulai
ngebandingin. Dipinjem seminggu
vs anter setengah jam.
Jauh banget kan bedanya?
Lo langsung ngerasa, “Ah, anter
doang sih gampang. Daripada gue
nolak terus, nggak enak.”
3. Lo Setuju, Lo Ngerasa Baik
(The Victory)
Ini fase penutup. Lo setuju sama
permintaan kedua, dan lo ngerasa
lega. Lo ngerasa udah bantu,
lo ngerasa baik, lo ngerasa diajak
kompromi. Padahal dari awal temen
lo cuma butuh anter ke terminal.
Dia nggak pernah butuh motor lo
seminggu. Dia cuma bikin skenario
supaya “anter ke terminal” keliatan
kayak konsesi besar.
Contoh di dunia nyata?
Banyak banget.
Negosiasi & Sales. Lo lagi cari
barang di marketplace. Harganya
1 juta. Lo chat penjual,
“Bang, 500 ribu boleh?” Penjual
langsung balas, “Waduh, belum bisa
kak. 950 ribu.” Lo ngerasa udah
nawar dan dapet diskon 50 ribu.
Padahal dari awal penjual emang
mau jual di harga 950 ribu.
Dia sengaja pasang harga 1 juta
biar pas lo nawar, dia bisa
“nurunin” ke harga aslinya.
Lo seneng, dia seneng, tapi lo
yang kena Door in the Face.
Lingkungan Kerja. Bos lo tiba-tiba
manggil, “Saya mau lo handle
3 proyek sekaligus bulan ini. Deadline
minggu depan.” Lo syok, “Gila, nggak
mungkin Pak. Ini terlalu banyak.”
Bos lo pasang muka berpikir,
“Hmm, oke. Gimana kalau 1 proyek
aja? Tapi harus selesai minggu
depan ya.” Lo langsung ngerasa lega,
“Oh oke Pak, yang 1 aja.” Padahal
dari awal bos lo cuma mau lo handle
1 proyek. Dia sengaja ngelempar
angka 3 biar 1 keliatan kayak
kompromi.
Keseharian. Temen lo ngajak,
“Bro, besok temenin gue pindahan
kos. Dari jam 6 pagi.” Lo langsung
males, “Jam 6 pagi? Gila lo.”
Dia langsung nyaut, “Ya udah siang
aja, jam 10. Itung-itung lo cuma
bantu yang berat-berat.”
Lo bandingin jam 6 pagi vs jam
10 siang. Jauh banget. Lo setuju.
Padahal dari awal dia cuma pengen
lo dateng jam 10. Tapi dia tahu
kalau dia langsung minta jam 10,
lo mungkin masih nego ke jam
1 siang. Jadi dia buka dengan jam
6 pagi biar jam 10 keliatan masuk
akal.
Lembaga Amal & Donasi.
Pernah ditelepon orang dari lembaga
amal? Mereka biasanya buka dengan,
“Selamat siang, kami menghubungi
untuk meminta donasi sebesar
1 juta rupiah.” Lo langsung gelagapan,
“Wah, berat Pak.” Mereka langsung
follow up, “Baik, kami mengerti.
Bagaimana kalau 50 ribu saja?
Setara dengan makan siang
Bapak/Ibu.” Lo yang tadinya nggak
ada niat donasi, tiba-tiba mikir,
“Ah, 50 ribu doang. Nggak sebanding
sama 1 juta.” Lo setuju. Padahal
50 ribu itu tetap keluar dari kantong lo.
Nah, gimana cara ngelawan trik ini?
Pertama, lo harus sadar. Setiap kali
ada yang ngajuin permintaan gila
di awal, langsung curiga. Tanya
ke diri sendiri: “Apa jangan-jangan
ini cuma setup biar permintaan
keduanya keliatan masuk akal?”
Kedua, lo berhak buat nolak
dua-duanya. Lo nggak punya utang
budi cuma karena dia nurunin
permintaannya. Dia yang ngajuin
hal gila duluan, bukan lo. Jadi lo
nggak perlu ngerasa bersalah.
Ketiga, evaluasi permintaan
kedua secara independen.
Jangan bandingin sama permintaan
pertama. Tanya ke diri sendiri,
“Kalau dia dari awal minta ini aja,
tanpa permintaan gila tadi, gue bakal
setuju nggak?” Kalau jawabannya
nggak, tolak. Keempat, balikkan
teknik ini ke mereka. Begitu dia
ngajuin permintaan kedua, lo
bilang, “Oh, tapi yang pertama tadi
masih lebih menarik lho. Lo serius
nggak tadi yang 2 tahun?” Ini bikin
dia panik dan kehilangan kendali.
Jadi inget, The Door in the Face
Technique ini ibarat ilusi optik
buat otak. Lo ngerasa dapet diskon,
padahal lo cuma disodorin harga
asli. Lo ngerasa menang negosiasi,
padahal lo cuma disetirin ke tujuan
dari awal. Pake ini buat kebaikan
juga bisa, misalnya lo pengen anak
lo belajar 30 menit sehari. Lo buka
dengan, “Hari ini belajar 3 jam ya.”
Dia nolak. Lo turunin, “Ya udah,
30 menit.” Dia setuju, dan dia ngerasa
dia yang menang. Itu parenting hack
yang positif. Tapi kalau ada yang pake
ini ke lo dan lo ngerasa “kok gue jadi
setuju ya padahal tadi nggak niat”,
ingat aja: lo selalu bisa nolak
dua-duanya. Tanpa rasa bersalah.
Nah, udah kebayang kan gimana satu
penolakan bisa jadi jerat?
Tapi ada satu trik lagi yang lebih
nyebelin, di mana otak lo dipaksa
terus mikirin sesuatu yang belum
selesai, bahkan sampe lo susah tidur.
Namanya The Zeigarnik Effect.
Siap-siap aja, karena lo bakal ngerti
kenapa sinetron dan series Netflix
bikin lo ketagihan. Stay tuned!
