Deindividuation Triggers: Ketika Identitas Pribadi Melebur dan Anda Mengikuti Arus Kelompok
Pernahkah Anda berada dalam
kerumunan yang sedang bersorak
atau berteriak?
Anda mungkin awalnya hanya
menonton. Tetapi kemudian Anda
ikut berteriak. Anda ikut bersorak.
Anda ikut meluapkan emosi.
Padahal, jika Anda sendirian,
Anda mungkin tidak akan
melakukan itu. Inilah yang disebut
Deindividuation. Dan teknik yang
memanfaatkannya disebut
Deindividuation Triggers.
Deindividuation adalah kondisi
di mana seseorang kehilangan
kesadaran sebagai individu. Ia merasa
anonim. Ia merasa tidak ada yang
melihat. Ia merasa tanggung jawabnya
melebur menjadi satu dengan
kelompok. Akibatnya, ia berani
melakukan hal yang biasanya ia tahan.
Baik itu berteriak, menyerang,
menyakiti, atau ikut arus. Pelaku
memanfaatkan ini untuk menciptakan
suasana yang membuat Anda lupa
pada nilai pribadi Anda.
Eksperimen Ilmiah:
Bukti bahwa Anonimitas dalam
Kelompok Meningkatkan
Perilaku Agresif
Eksperimen Philip
Zimbardo (1969):
The Masked Women Experiment
Philip Zimbardo, seorang psikolog
sosial dari Stanford University,
melakukan eksperimen yang sangat
terkenal tentang bagaimana
anonimitas memengaruhi perilaku
agresif. Penelitian ini diterbitkan
dalam jurnal Journal of Personality
and Social Psychology.
Dalam eksperimen ini, Zimbardo
merekrut mahasiswi sebagai
partisipan. Setiap partisipan diminta
memberikan kejutan listrik kepada
seorang perempuan yang berada
di ruangan lain. Kejutan listrik itu
palsu, tetapi partisipan tidak
mengetahuinya. Mereka hanya
diminta menekan tombol untuk
memberikan kejutan.
Partisipan dibagi menjadi beberapa
kelompok.
Kelompok pertama diminta
memakai pakaian biasa. Mereka
memakai nama mereka sendiri.
Wajah mereka terlihat jelas.
Kelompok kedua diminta memakai
pakaian yang membuat mereka
anonim, seperti jubah besar dan
penutup kepala yang menutupi
seluruh wajah. Mereka tidak
memakai nama. Mereka tidak
terlihat sebagai individu.
Hasilnya, partisipan yang memakai
pakaian anonim memberikan
kejutan listrik jauh lebih lama dan
lebih sering daripada partisipan
yang memakai pakaian biasa.
Mereka juga menunjukkan reaksi
yang lebih sedikit terhadap
penderitaan korban. Partisipan yang
anonim merasa bahwa mereka tidak
bertanggung jawab secara pribadi.
Tanggung jawab itu melebur
ke dalam kelompok.
Dialog setelah eksperimen:
Zimbardo: “Mengapa Anda
memberikan kejutan listrik
lebih lama?”
Partisipan anonim: “Saya tidak
merasa itu saya. Saya merasa
itu bagian dari kelompok.”
Zimbardo: “Apakah Anda merasa
bertanggung jawab?”
Partisipan anonim: “Tidak juga.
Tidak ada yang tahu siapa saya.
Jadi tidak ada yang bisa
menyalahkan saya.”
Zimbardo: “Apakah Anda akan
melakukan hal yang sama jika
memakai nama dan waja
h Anda terlihat?”
Partisipan anonim: “Mungkin tidak.
Saya akan merasa malu.”
Zimbardo menyimpulkan bahwa
anonimitas menghilangkan rasa
tanggung jawab pribadi. Ketika
seseorang merasa tidak dikenal,
ia merasa bebas dari penilaian sosial.
Ia berani melakukan hal yang
biasanya ia tahan.
Dalam Deindividuation Triggers,
pelaku menciptakan kondisi anonim.
Pelaku menghilangkan identitas
pribadi korban. Korban melebur
ke dalam kelompok. Korban
mengikuti arus.
Eksperimen Edward Diener,
Scott Fraser, Arthur Beaman,
dan Roger Kelem (1976):
The Trick-or-Treat Experiment
Edward Diener dan timnya dari
University of Washington melakukan
eksperimen yang sangat menarik
tentang bagaimana anonimitas
memengaruhi perilaku mengambil
keuntungan. Penelitian ini
diterbitkan dalam jurnal Journal
of Personality and Social
Psychology.
Dalam eksperimen ini, peneliti
mengamati anak-anak yang sedang
melakukan trick-or-treat pada
malam Halloween. Anak-anak itu
datang ke rumah-rumah untuk
meminta permen. Di pintu masuk
setiap rumah, peneliti menyiapkan
meja dengan dua mangkuk.
Mangkuk pertama berisi permen.
Mangkuk kedua berisi uang logam.
Peneliti juga menyiapkan tulisan:
“Ambil satu permen saja.
Jangan ambil uang.”
Peneliti kemudian mengamati perilaku
anak-anak dalam beberapa kondisi.
Pada kondisi pertama, peneliti
menyambut anak-anak di pintu dan
bertanya nama mereka. Anak-anak
merasa terlihat. Pada kondisi kedua,
peneliti tidak menyambut anak-anak.
Ia menyuruh anak-anak masuk
sendiri ke ruangan dan mengambil
permen. Anak-anak merasa tidak
terlihat. Pada kondisi ketiga, peneliti
menyuruh anak-anak masuk sendiri,
tetapi ada cermin besar di ruangan
itu. Cermin itu membuat anak-anak
melihat diri mereka sendiri.
Hasilnya, anak-anak yang tidak
dilihat dan tidak melihat diri mereka
sendiri mengambil permen lebih
banyak daripada yang seharusnya.
Mereka juga mengambil uang logam.
Anak-anak yang merasa dilihat atau
melihat diri mereka sendiri di cermin
mengambil permen sesuai aturan.
Mereka tidak mengambil uang.
Dialog setelah eksperimen:
Diener: “Mengapa kamu mengambil
lebih dari satu permen?”
Anak: “Karena tidak ada yang lihat.”
Diener: “Apakah kamu akan
mengambil lebih jika ada yang
melihat?”
Anak: “Tidak. Nanti dimarahin.”
Diener: “Apakah kamu merasa
bersalah?”
Anak: “Tidak. Semua orang juga
ambil.”
Diener menyimpulkan bahwa
anonimitas menurunkan kesadaran
diri. Ketika seseorang tidak merasa
dilihat, ia berani melanggar aturan.
Ia mengikuti apa yang dilakukan
orang lain. Dalam Deindividuation
Triggers, pelaku menciptakan kondisi
anonim. Pelaku menghilangkan rasa
tanggung jawab pribadi. Korban
mengikuti arus kelompok.
Eksperimen Leon Festinger,
John Pepitone, dan Theodore
Newcomb (1952):
Deindividuation in Group
Discussion
Leon Festinger, John Pepitone,
dan Theodore Newcomb dari
University of Michigan melakukan
eksperimen tentang bagaimana
deindividuation terjadi dalam
diskusi kelompok. Penelitian ini
diterbitkan dalam jurnal Journal
of Abnormal and Social Psychology.
Dalam eksperimen ini, partisipan
diminta berdiskusi dalam kelompok
tentang topik yang sensitif, seperti
hubungan orang tua dan anak.
Mereka diminta menceritakan
pengalaman pribadi.
Sebagian partisipan diminta tetap
menjaga identitas pribadi. Mereka
menyebut nama, dan setiap
pendapat mereka dicatat.
Sebagian lainnya diminta menjadi
anonim. Mereka tidak menyebut
nama, dan pendapat mereka tidak
dicatat secara pribadi.
Hasilnya, partisipan yang anonim
berbicara lebih banyak.
Mereka juga lebih berani
mengkritik orang tua, lebih berani
mengungkapkan kemarahan, dan
lebih berani melanggar norma
kesopanan yang biasa.
Mereka merasa bahwa mereka
tidak bertanggung jawab secara
pribadi atas apa yang mereka
katakan.
Dialog setelah eksperimen:
Festinger: “Mengapa Anda berbicara
lebih terbuka?”
Partisipan anonim: “Karena tidak ada
yang tahu itu saya. Saya merasa lebih
bebas.”
Festinger: “Apakah Anda merasa
bertanggung jawab atas ucapan
Anda?”
Partisipan anonim: “Tidak.
Itu pendapat kelompok,
bukan pendapat saya pribadi.”
Festinger: “Apakah Anda akan
berbicara seperti itu jika nama
Anda disebut?”
Partisipan anonim: “Tidak. Saya
akan lebih hati-hati.”
Festinger menyimpulkan bahwa
anonimitas dalam kelompok
menghilangkan rasa tanggung
jawab pribadi. Orang merasa bahwa
tindakannya adalah tindakan
kelompok. Ia tidak merasa bersalah.
Ia mengikuti arus kelompok. Dalam
Deindividuation Triggers, pelaku
menciptakan rasa “kita” yang kuat.
Pelaku menghilangkan identitas
pribadi. Korban melebur ke dalam
kelompok.
Mengapa Deindividuation
Triggers Begitu Efektif?
Identitas pribadi adalah rem. Selama
Anda sadar bahwa Anda adalah
individu yang memiliki nama, nilai,
dan tanggung jawab, Anda akan
berpikir dua kali. Tetapi ketika rem
itu dilepas, Anda menjadi ikut arus.
Apalagi jika ada simbol, slogan,
seragam, atau teriakan yang
membuat Anda merasa bagian dari
sesuatu yang besar. Anda lupa
bahwa Anda memiliki pilihan sendiri.
Yang ada hanya rasa satu kelompok.
Dan kelompok itu yang berjalan.
Deindividuation Triggers juga
memanfaatkan difusi tanggung
jawab. Ketika banyak orang hadir,
tanggung jawab tidak lagi terletak
pada satu orang. Setiap orang
merasa bahwa orang lain yang
bertanggung jawab.
Pelaku memanfaatkan ini. Pelaku
menciptakan suasana di mana tidak
ada yang merasa bertanggung
jawab. Korban mengikuti arus
kelompok.
Selain itu, Deindividuation Triggers
memanfaatkan identitas
kelompok. Ketika seseorang
merasa menjadi bagian dari
kelompok, ia mengubah cara
pandangnya. Ia tidak lagi melihat
dirinya sebagai individu.
Ia melihat dirinya sebagai anggota.
Pelaku memanfaatkan ini. Pelaku
menciptakan rasa “kita” yang kuat.
Pelaku menciptakan lawan “mereka”.
Korban melebur ke dalam kelompok.
Tiga Fase Deindividuation
Triggers:
Kisah Rina di Demonstrasi
Untuk memahami cara kerja teknik ini,
kita akan mengikuti kisah Rina.
Ia sedang berada di sebuah
demonstrasi.
Fase 1: Menciptakan Rasa “Kita”
Seorang pemimpin massa bernama
Doni ingin agar demonstran
melakukan tindakan agresif.
Ia tidak bisa memerintah secara
langsung. Ia perlu menciptakan
deindividuation. Ia mulai dengan
membangun rasa “kita”.
Doni berdiri di atas podium.
Ia berbicara dengan lantang
melalui pengeras suara.
Doni: “Kita semua di sini punya
satu tujuan! Kita semua di sini
punya satu suara! Kita adalah satu
tubuh! Kita adalah satu jiwa!”
Massa mulai bersorak. Rina yang
awalnya hanya menonton mulai
ikut bersorak. Ia merasa bahwa ia
adalah bagian dari sesuatu yang
besar. Ia merasa bahwa suaranya
penting.
Doni: “Mereka di luar sana tidak
peduli pada kita! Mereka menindas
kita! Mereka tidak mendengarkan
kita!”
Massa semakin bersorak. Rina mulai
merasa marah. Ia mulai melupakan
alasan awalnya datang. Ia hanya
merasakan kemarahan kelompok.
Fase 2: Menghilangkan Identitas
Pribadi
Doni melanjutkan. Ia memberikan
simbol kepada massa.
Doni: “Pakailah ini! Pakailah topeng
ini! Pakailah pita ini! Kita semua
sama! Kita tidak perlu nama! Kita
tidak perlu wajah! Kita hanya
perlu semangat!”
Rina menerima topeng dan pita.
Ia memakainya. Ia melihat sekeliling.
Semua orang memakai topeng yang
sama. Semua orang memakai pita
yang sama. Rina merasa bahwa ia
tidak lagi terlihat sebagai Rina.
Ia merasa bahwa ia adalah bagian
dari massa. Ia merasa bahwa tidak
ada yang bisa menyalahkannya
secara pribadi.
Doni: “Ingat! Apa yang kita lakukan
hari ini adalah tindakan kita bersama!
Bukan tindakan satu orang!
Kita semua bertanggung jawab!
Tapi tidak ada satu orang pun yang
bisa disalahkan!”
Rina merasa bebas. Ia merasa bahwa
tanggung jawabnya sudah melebur.
Ia merasa bahwa ia bisa melakukan
apa saja.
Fase 3: Memicu Tindakan Agresif
Doni melihat bahwa massa sudah
siap. Ia memberikan pemicu
terakhir.
Doni: “Mereka ada di sana!
Mereka yang menindas kita!
Hajar mereka!”
Massa bergerak. Rina ikut bergerak.
Ia tidak tahu siapa yang ada di sana.
Ia tidak tahu apa masalahnya.
Tetapi ia ikut. Ia melempar.
Ia berteriak. Ia merusak. Ia merasa
bahwa ia adalah bagian dari
kelompok. Ia merasa bahwa
tindakannya adalah tindakan
kelompok. Ia tidak merasa
bersalah.
Setelah demonstrasi berakhir,
Rina pulang. Ia melepas topengnya.
Ia melihat wajahnya di cermin.
Ia mulai sadar. Ia mulai merasa
bersalah. Ia tidak tahu mengapa ia
melakukan itu. Ia tidak tahu
mengapa ia ikut merusak. Ia hanya
mengikuti arus. Ia hanya mengikuti
kelompok. Deindividuation
Triggers berhasil.
Tiga Contoh Nyata dengan
Dialog Orisinal
1. Bullying di Media Sosial
Seorang pengguna media sosial, Doni,
ingin menjatuhkan seorang tokoh
publik. Ia tidak bisa menyerang
secara langsung. Ia menciptakan
deindividuation di antara pengikutnya.
Doni: “Kita semua tahu dia jahat!
Kita semua tahu dia munafik!
Ayo serang akunnya! Ayo hujat dia!
Kita tidak perlu takut! Kita banyak!”
Pengikut Doni mulai menyerang
akun tokoh itu. Mereka berkomentar
kasar. Mereka mengancam. Mereka
menyebarkan fitnah. Mereka merasa
anonim. Mereka merasa tidak
bertanggung jawab. Mereka merasa
bahwa itu adalah tindakan kelompok.
Salah satu pengikut, Sari, ikut
berkomentar. Ia menulis kalimat
yang biasanya tidak ia tulis. Ia merasa
bebas. Ia merasa tidak ada yang tahu
siapa dia. Setelah beberapa hari, Sari
melihat berita bahwa tokoh itu
mengalami depresi berat akibat
serangan daring. Sari merasa
bersalah. Tetapi ia tidak bisa menarik
komentarnya. Ia sudah terlanjur
menjadi bagian dari massa.
2. Kerusuhan di Pertandingan
Sepak Bola
Seorang suporter, Bima, datang
ke pertandingan sepak bola.
Ia awalnya hanya ingin menonton.
Ia duduk di tribun bersama ribuan
suporter lain. Mereka menyanyikan
lagu yang sama. Mereka memakai
atribut yang sama. Mereka berteriak
dengan slogan yang sama.
Di menit ke-80, terjadi kerusuhan.
Suporter dari tim lawan melempar
benda ke arah tribun. Suporter
di tribun Bima mulai membalas.
Bima ikut melempar. Ia tidak tahu
siapa yang ada di sana. Ia tidak tahu
mengapa ia melempar. Tetapi ia
ikut. Ia merasa bahwa ia adalah
bagian dari kelompok. Ia merasa
bahwa tindakannya adalah tindakan
kelompok. Setelah pertandingan,
Bima melihat berita bahwa seorang
anak kecil terluka akibat lemparan
di tribun. Bima merasa bersalah.
Tetapi ia tidak bisa membatalkan
apa yang sudah terjadi.
3. Kekerasan di Lingkungan
Kerja
Seorang karyawan, Sari, menjadi
korban kekerasan verbal
di kantornya. Pelaku, Doni,
menciptakan deindividuation
di antara rekan-rekan kerja.
Ia membuat grup obrolan anonim.
Di grup itu, ia mengajak
rekan-rekan untuk mengkritik Sari.
Doni: “Ayo kita semua sepakat!
Sari itu tidak kompeten! Kita tidak
perlu takut! Ini grup anonim!
Tidak ada yang tahu siapa kita!”
Rekan-rekan mulai mengkritik Sari.
Mereka menulis kalimat kasar.
Mereka menuduh Sari. Mereka
merasa bebas karena anonim.
Salah satu rekan, Bima, ikut menulis.
Ia menulis bahwa Sari malas dan
tidak bisa diandalkan. Padahal Bima
tidak pernah berinteraksi langsung
dengan Sari. Ia hanya mengikuti arus.
Setelah beberapa minggu, Sari
mengalami depresi. Ia mengundurkan
diri. Bima merasa bersalah. Tetapi ia
tidak bisa meminta Sari kembali.
Cara Melindungi Diri dari
Deindividuation Triggers
Jika Anda merasa sedang tenggelam
dalam kerumunan dan mulai
kehilangan identitas pribadi, ada
beberapa langkah yang bisa
dilakukan.
Pertama, sadari bahwa Anda
sedang tenggelam dalam
kerumunan. Ketika Anda mulai
merasa bahwa Anda adalah bagian
dari massa dan mulai mengikuti
arus tanpa berpikir, berhentilah
sejenak. Tanyakan pada diri sendiri:
“Apakah saya masih menjadi diri
saya sendiri?”
Kedua, tarik napas. Beri jeda.
Jangan langsung mengikuti arus.
Jeda ini memberi otak Anda
waktu untuk berpikir.
Ketiga, ingat nama Anda.
Ingat nilai Anda. Katakan pada
diri sendiri:
“Saya adalah (nama Anda).
Saya memiliki nilai-nilai yang saya
pegang.” Ini mengembalikan
identitas pribadi Anda.
Keempat, tanyakan pada diri
sendiri: “Jika saya sendirian,
apakah saya akan melakukan
ini?” Jika jawabannya tidak, Anda
sedang mengikuti arus kelompok.
Berhentilah.
Kelima, berani keluar dari
barisan. Walaupun hanya Anda
sendiri. Walaupun Anda terlihat
aneh. Lebih baik menjadi diri
sendiri daripada menjadi bagian
dari massa yang salah.
Keenam, jangan biarkan
simbol mengubah Anda.
Seragam, topeng, slogan, dan pita
adalah alat deindividuation. Anda
tidak menjadi orang lain hanya
karena memakai topeng.
Anda tetap diri Anda. Anda tetap
bertanggung jawab.
Ketujuh, ingat bahwa
tanggung jawab tidak pernah
hilang. Meskipun Anda anonim,
meskipun Anda bersama kelompok,
Anda tetap bertanggung jawab atas
tindakan Anda. Hukum dan hati
nurani tidak mengenal massa.
Anda tetap individu.
Deindividuation Triggers adalah
teknik yang memanfaatkan
kecenderungan manusia untuk
kehilangan identitas pribadi dalam
kerumunan. Pelaku menciptakan
rasa “kita”. Pelaku menghilangkan
tanggung jawab pribadi. Pelaku
memicu tindakan agresif. Korban
mengikuti arus. Kenali polanya.
Sadari bahwa Anda sedang
tenggelam. Ingat nama Anda.
Ingat nilai Anda. Dan ingatlah
bahwa Anda selalu memiliki
pilihan untuk keluar dari barisan.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Oke, kita lanjut ke teknik berikutnya.
Namanya Deindividuation
Triggers.
Simpelnya, deindividuation adalah
kondisi di mana seseorang
kehilangan kesadaran sebagai
individu. Dia ngerasa anonim.
Dia ngerasa nggak ada yang ngeliat.
Dia ngerasa tanggung jawabnya
melebur jadi satu sama kelompok.
Akibatnya, dia berani ngelakuin
hal yang biasanya dia tahan. Entah
itu berteriak, nyerang, nyakitin,
atau ikut arus. Pelaku manfaatin ini
buat nyiptain suasana yang bikin lo
lupa sama nilai pribadi lo.
Kenapa ini ampuh? Karena identitas
pribadi itu kayak rem. Selama lo
sadar kalau lo individu yang punya
nama, punya nilai,
punya tanggung jawab, lo bakal mikir
dua kali. Tapi begitu rem itu dilepas,
lo jadi ikut arus. Apalagi kalau ada
simbol, slogan, seragam, atau
teriakan yang bikin lo ngerasa
bagian dari sesuatu yang gede.
Lo lupa kalau lo punya pilihan
sendiri. Yang ada cuma rasa satu
kelompok. Dan kelompok itu
yang jalan.
Contoh gampangnya gini. Lo lagi
di kerumunan. Ada yang mulai
teriak, “Hajar!” Semua orang ikut
teriak. Lo ikut teriak. Padahal lo
nggak tau masalahnya apa. Tapi
karena semua orang teriak, lo
ikut. Itu deindividuation.
Di internet juga gitu. Lo pake akun
anonim. Lo komentar kasar.
Lo bully orang. Padahal di dunia
nyata, lo nggak berani ngomong
kayak gitu. Karena lo ngerasa
nggak ada yang tau siapa lo.
Lo ngerasa bebas.
Itu deindividuation.
Di dunia kerja juga bisa. Ada satu
orang yang dijadiin kambing
hitam. Semua orang ikut nyalahin.
Lo ikut nyalahin. Padahal lo nggak
tau duduk perkaranya.
Tapi karena semua orang nyalahin,
lo ikut. Itu deindividuation.
Cara pakainya, bagi pelaku,
gampang.
Pertama, bikin kelompok yang solid.
Kedua, kasih simbol. Bisa seragam,
bisa slogan, bisa warna.
Ketiga, bikin rasa “kita” yang kuat.
Keempat, bikin lawan jadi “mereka”.
Kelima, orang bakal lupa nilai
pribadinya. Dan dia nurut sama
kelompok.
Tapi lo nggak perlu jadi pelaku.
Lo perlu tau cara nahan teknik ini.
Pertama, sadar kalau lo lagi
tenggelam di kerumunan.
Kedua, tarik napas.
Ketiga, inget nama lo. Inget nilai lo.
Keempat, tanya ke diri lo sendiri:
“Kalau gue sendirian, gue lakuin ini
nggak?” Kelima, berani keluar dari
barisan. Walaupun cuma lo sendiri.
Jadi, Deindividuation Triggers
itu ibarat lo lagi pake topeng.
Selama topengnya belum dipake,
lo adalah lo. Tapi begitu topengnya
dipake, lo jadi orang lain. Lo bisa
ketawa, lo bisa nangis, lo bisa
nyerang. Padahal tanpa topeng,
lo nggak akan lakuin itu. Pelaku
tinggal nyiapin topengnya. Lo yang
pake. Dan lo yang lupa siapa lo
sebenernya.
