Psikologi

The Bystander Effect Exploitation: Ketika Kehadiran Banyak Orang Justru Membuat Tidak Ada yang Menolong

Pernahkah Anda berada dalam situasi
darurat, tetapi tidak ada satu pun
orang yang bertindak?
Anda melihat ada orang yang
membutuhkan pertolongan. Anda
melihat ada orang yang diperlakukan
tidak adil. Tetapi Anda juga melihat
puluhan orang lain yang hanya diam.
Mereka menonton.
Mereka menunggu. Mereka tidak
bergerak. Akhirnya Anda pun ikut
diam. Inilah yang disebut
Bystander Effect. Dan teknik
manipulasi yang memanfaatkannya
disebut
The Bystander Effect
Exploitation
.

Bystander effect adalah fenomena
di mana semakin banyak orang yang
ada di sekitar, semakin kecil
kemungkinan ada yang menolong.
Mengapa? Karena tanggung
jawabnya menjadi tersebar.
Setiap orang berpikir,
“Pasti ada yang menolong.”
“Ini bukan tanggung jawab saya.”
“Saya tidak mau ikut campur.”
Pelaku memanfaatkan ini. Pelaku
dapat menyerang, menipu, atau
menyakiti korban di depan banyak
orang, karena pelaku tahu tidak
akan ada yang berani menolong.

Eksperimen Ilmiah:
Bukti bahwa Semakin Banyak
Orang, Semakin Kecil
Kemungkinan Menolong

Eksperimen John Darley dan
Bibb Latané (1968):
The Smoke-Filled Room

John Darley dan Bibb Latané dari
Columbia University melakukan
eksperimen yang sangat terkenal
tentang bagaimana kehadiran
orang lain memengaruhi respons
terhadap situasi darurat. Penelitian
ini diterbitkan dalam jurnal Journal
of Personality and Social Psychology.

Dalam eksperimen ini, partisipan
diminta duduk di sebuah ruangan
dan mengisi kuesioner.
Saat mereka sedang mengisi, asap
mulai masuk ke ruangan melalui
celah di dinding. Asap itu semakin
lama semakin tebal. Dalam waktu
beberapa menit, ruangan itu penuh
asap, sehingga partisipan sulit
melihat dan bernapas.

Partisipan dibagi menjadi
tiga kelompok.
Kelompok pertama mengisi kuesioner
sendirian.
Kelompok kedua mengisi kuesioner
bersama dua partisipan lain yang
sebenarnya adalah aktor.
Kelompok ketiga mengisi kuesioner
bersama dua aktor yang sengaja
dilatih untuk tidak peduli pada asap.
Para aktor itu tetap tenang, terus
mengisi kuesioner, dan tidak
menghiraukan asap.

Hasilnya, partisipan yang sendirian
segera melaporkan asap itu kepada
peneliti. Mereka keluar dari ruangan
untuk mencari bantuan. Partisipan
yang bersama dua aktor netral juga
melaporkan asap itu, meskipun
tidak secepat partisipan yang
sendirian. Tetapi partisipan yang
bersama dua aktor yang tidak
peduli, hampir semuanya diam.
Mereka tidak melaporkan asap itu.
Mereka terus mengisi kuesioner
sambil sesekali melirik aktor yang
tetap tenang. Mereka menyimpulkan
bahwa asap itu bukan masalah karena
orang lain tidak bereaksi.

Dialog setelah eksperimen:

Darley: “Mengapa Anda tidak
melaporkan asap itu?”

Partisipan: “Saya melihat orang lain
tidak panik. Jadi saya pikir tidak
apa-apa.”

Darley: “Apakah Anda merasa
terancam?”

Partisipan: “Iya. Saya sulit bernapas.
Tapi saya tidak mau terlihat
berlebihan.”

Darley: “Jadi Anda mengikuti
reaksi orang lain?”

Partisipan: “Iya. Kalau mereka
diam, saya juga diam.”

Darley dan Latané menyimpulkan
bahwa kehadiran orang lain yang
pasif menciptakan ilusi bahwa
situasi itu tidak darurat.
Orang menggunakan reaksi
orang lain sebagai petunjuk untuk
menilai situasi. Jika orang lain diam,
maka situasi itu dianggap aman.
Dalam The Bystander Effect
Exploitation, pelaku memanfaatkan
ini. Pelaku melakukan tindakan
di depan banyak orang yang pasif.
Korban ragu untuk melawan.
Orang lain juga ragu untuk
menolong. Pelaku lolos.

Eksperimen Bibb Latané dan
John Darley (1968):
The Seizure Experiment

Bibb Latané dan John Darley
melakukan eksperimen lain yang
menunjukkan bagaimana kehadiran
orang lain mengurangi kemungkinan
seseorang menolong. Penelitian ini
diterbitkan dalam jurnal Journal of
Personality and Social Psychology.
Eksperimen ini melibatkan situasi
darurat yang disimulasikan melalui
komunikasi audio.

Dalam eksperimen ini, partisipan
diminta berpartisipasi dalam diskusi
kelompok tentang masalah pribadi
melalui sistem interkom. Mereka
tidak bertemu langsung. Mereka
hanya mendengar suara satu
sama lain melalui headphone.
Partisipan diberi tahu bahwa mereka
akan berdiskusi dengan satu, dua,
atau lima orang lain. Sebenarnya,
semua suara lain itu adalah
rekaman aktor.

Di tengah diskusi, salah satu aktor
berpura-pura mengalami serangan
epilepsi. Ia berbicara dengan suara
panik.

Aktor: “Tolong… saya butuh
bantuan… saya… serangan…
tolong…”

Suara itu kemudian terdiam.
Partisipan dibiarkan mendengar
keheningan itu. Mereka diminta
mencatat respons mereka.

Hasilnya, partisipan yang mengira
mereka berdiskusi dengan satu
orang lain segera mencari bantuan.
Mereka melaporkan serangan itu
kepada peneliti. Partisipan yang
mengira mereka berdiskusi dengan
dua orang lain lebih lambat
melapor. Partisipan yang mengira
mereka berdiskusi dengan lima
orang lain paling lambat melapor.
Bahkan ada yang tidak melapor
sama sekali. Mereka merasa bahwa
pasti ada orang lain yang akan
melapor.

Dialog setelah eksperimen:

Latané: “Mengapa Anda tidak segera
melaporkan serangan itu?”

Partisipan: “Saya pikir orang lain
pasti sudah melapor.”

Latané: “Apakah Anda merasa
bertanggung jawab?”

Partisipan: “Tidak juga. Ada banyak
orang di diskusi itu. Pasti ada yang
lebih cepat.”

Latané: “Jadi Anda menunggu
orang lain bertindak?”

Partisipan: “Iya. Saya tidak mau salah.
Kalau saya melapor duluan, nanti
saya yang dianggap panik.”

Latané dan Darley menyimpulkan
bahwa semakin banyak orang yang
hadir dalam situasi darurat,
semakin kecil kemungkinan
seseorang bertindak.
Tanggung jawab yang tersebar
membuat setiap individu merasa
bahwa tindakannya tidak diperlukan.
Dalam The Bystander Effect
Exploitation, pelaku memanfaatkan
ini. Pelaku menyerang atau menipu
korban di depan banyak orang.
Pelaku tahu bahwa tidak ada yang
akan menolong karena semua
orang menunggu orang lain.

Eksperimen Mark Levine dan
Timnya (2002):
The Bystander Effect in
Real-Life Conflicts

Mark Levine dan timnya dari
University of Lancaster melakukan
penelitian tentang bagaimana
bystander effect bekerja dalam
konflik dunia nyata. Penelitian ini
diterbitkan dalam jurnal
Personality and Social Psychology
Bulletin. Mereka ingin menguji
apakah bystander effect terjadi
dalam situasi konflik fisik.

Dalam eksperimen ini, peneliti
merekam video konflik antara
dua orang di tempat umum.
Satu orang berperan sebagai
penyerang. Satu orang berperan
sebagai korban. Konflik itu terjadi
di depan banyak orang yang tidak
mengetahui bahwa itu simulasi.
Konflik itu bervariasi. Ada konflik
fisik, ada konflik verbal, dan ada
konflik yang melibatkan
hubungan personal.

Hasilnya, peneliti menemukan
bahwa semakin banyak orang
yang hadir, semakin kecil
kemungkinan ada yang menolong.
Orang-orang saling melihat.
Mereka menunggu reaksi satu
sama lain. Jika tidak ada yang
bergerak, mereka juga tidak
bergerak. Peneliti juga menemukan
bahwa orang lebih cenderung
menolong jika korban memiliki
hubungan personal dengan mereka,
misalnya teman atau keluarga.
Jika korban adalah orang asing,
kemungkinan menolong lebih
kecil.

Dialog setelah eksperimen:

Levine: “Mengapa Anda tidak
menolong korban?”

Partisipan: “Saya tidak tahu siapa
yang harus bertindak. Ada banyak
orang di situ.”

Levine: “Apakah Anda merasa
bahwa itu bukan tanggung
jawab Anda?”

Partisipan: “Iya. Saya pikir orang lain
akan menolong. Saya tidak mau ikut
campur.”

Levine: “Apa yang akan membuat
Anda bertindak?”

Partisipan: “Kalau ada yang melihat
saya langsung dan meminta tolong.
Atau kalau korban itu teman saya.”

Levine menyimpulkan bahwa
bystander effect diperkuat oleh
ketidakjelasan tanggung jawab.
Ketika tidak ada yang ditunjuk
secara spesifik, orang enggan
bergerak. Dalam The Bystander
Effect Exploitation,
pelaku memanfaatkan keramaian.
Pelaku menyerang korban yang
tidak dikenal orang lain. Pelaku
tahu bahwa tidak ada yang akan
menolong karena tidak ada yang
merasa bertanggung jawab.

Mengapa The Bystander Effect
Exploitation Begitu Efektif?

Manusia tidak ingin salah. Kita takut
terlihat aneh. Kita takut disalahkan.
Kita takut membuat masalah. Jadi
ketika ada kejadian, kita menunggu.
Kita melihat orang lain. Jika tidak
ada yang bergerak, kita juga tidak
bergerak. Kita merasa aman jika
diam. Padahal diam justru membuat
masalah semakin parah. Pelaku
memanfaatkan ini.

The Bystander Effect Exploitation
juga memanfaatkan
difusi
tanggung jawab
. Ketika banyak
orang hadir, tanggung jawab tidak
lagi terletak pada satu orang.
Setiap orang merasa bahwa
orang lain akan bertindak.
Tidak ada yang merasa wajib
bergerak. Pelaku memanfaatkan ini.
Pelaku memilih waktu dan tempat
di mana banyak orang hadir tetapi
tidak ada yang bertindak.

Selain itu, The Bystander Effect
Exploitation memanfaatkan
ketidakjelasan situasi.
Jika situasi tidak jelas, orang akan
melihat orang lain untuk mencari
petunjuk. Jika orang lain tenang,
mereka menyimpulkan bahwa situasi
itu tidak darurat. Pelaku membuat
situasi terlihat ambigu.
Pelaku membuat orang ragu.
Keraguan itu memberi pelaku waktu
untuk melancarkan aksinya.

Tiga Fase The Bystander Effect
Exploitation:
Kisah Rina di Kereta

Untuk memahami cara kerja teknik
ini, kita akan mengikuti kisah Rina.
Ia sedang berada di dalam kereta
yang penuh penumpang.

Fase 1: Memilih Keramaian

Seorang pencuri bernama Doni masuk
ke dalam kereta yang penuh
penumpang. Ia melihat Rina yang
sedang asyik mendengarkan musik
melalui ponselnya. Rina duduk
di dekat pintu. Ponselnya tergeletak
di atas tas. Rina tidak memperhatikan
sekelilingnya. Doni melihat bahwa
ada banyak penumpang lain
di kereta. Ada yang berdiri, ada yang
duduk, ada yang bermain ponsel.
Doni tahu bahwa keramaian ini bisa
ia manfaatkan.

Doni berdiri di dekat Rina.
Ia berpura-pura melihat peta rute
kereta di dinding. Ia menunggu
momen yang tepat.

Fase 2: Melakukan Aksi
di Depan Umum

Ketika kereta berhenti di stasiun,
beberapa penumpang turun.
Suasana sedikit bergeser. Rina tetap
duduk. Doni melihat bahwa ponsel
Rina berada di posisi yang mudah
dijangkau. Ia dengan cepat
mengambil ponsel itu dan
memasukkannya ke dalam saku
jaketnya.

Rina menyadari ada gerakan
di sampingnya. Ia menoleh.
Ia melihat Doni berdiri
di dekatnya. Ia melihat ponselnya
sudah tidak ada di atas tas. Rina
langsung curiga.

Rina: “Permisi, apakah Anda
melihat ponsel saya?”

Doni: “Ponsel? Saya tidak lihat.”

Rina: “Tadi ada di atas tas saya.
Sekarang hilang.”

Doni: “Mungkin jatuh. Coba cari
di bawah.”

Rina melihat ke bawah. Ia tidak
menemukan ponselnya. Ia mulai
panik. Ia melihat sekeliling.
Ia melihat banyak penumpang
yang menonton. Tetapi tidak ada
yang bergerak. Tidak ada yang
bertanya. Tidak ada yang menolong.

Rina: “Tolong, ponsel saya hilang!
Ada yang lihat?”

Beberapa penumpang melirik.
Beberapa menunduk. Beberapa
pura-pura tidak mendengar. Tidak
ada yang menjawab. Tidak ada yang
bergerak. Semua orang menunggu.
Semua orang berharap orang lain
yang akan bertindak.

Fase 3: Pelaku Lolos

Doni melihat bahwa tidak ada yang
bertindak. Ia merasa aman.
Ia mundur pelan-pelan. Ia bergerak
ke pintu kereta. Ketika kereta
berhenti di stasiun berikutnya,
ia turun dengan tenang. Rina masih
sibuk mencari ponselnya. Ia tidak
melihat Doni turun.

Setelah kereta berjalan lagi,
Rina menyadari bahwa Doni
sudah pergi. Ia menangis.
Ia melapor kepada petugas. Tetapi
ponselnya sudah hilang.
Doni berhasil menggunakan
The Bystander Effect Exploitation.
Ia mencuri di depan banyak orang.
Tidak ada yang menolong. Karena
semua orang menunggu orang lain.

Tiga Contoh Nyata dengan
Dialog Orisinal

1. Bullying di Kantor

Seorang karyawan, Rina, sedang
di-bully oleh rekannya, Doni. Doni
sering mengejek Rina di depan
rekan-rekan yang lain.
Ia menertawakan pakaian Rina,
cara bicara Rina, dan hasil kerja
Rina. Rina merasa tertekan.
Tetapi ia tidak berani melawan
karena tidak ada yang
mendukungnya.

Suatu hari, di ruang makan kantor,
Doni kembali mengejek Rina.

Doni: “Rina, hari ini kamu pakai baju
yang sama lagi ya? Emang nggak
punya baju lain?”

Beberapa rekan tertawa. Ada yang
menunduk. Ada yang pura-pura
sibuk dengan ponsel. Tidak ada
yang membela Rina. Tidak ada
yang menegur Doni. Rina merasa
sendirian. Ia hanya tersenyum
kecut dan pergi. Doni semakin
berani karena ia tahu tidak ada
yang akan melawan.

2. Kecelakaan di Jalan Raya

Seorang pengendara motor, Bima,
mengalami kecelakaan
di persimpangan yang ramai.
Ia terjatuh. Motornya rusak.
Ia tergeletak di jalan. Ada puluhan
orang yang melihat. Ada yang
berhenti. Ada yang memperlambat
kendaraannya. Tetapi tidak ada
yang turun untuk menolong.

Bima: “Tolong… tolong saya…”

Orang-orang saling melihat. Mereka
menunggu. Mereka berharap ada
orang lain yang turun. Akhirnya,
setelah beberapa menit, seorang pria
tua turun dari motornya.
Ia menghampiri Bima. Setelah pria
tua itu bergerak, barulah orang lain
ikut membantu. Bima akhirnya
dilarikan ke rumah sakit. Tetapi jika
pria tua itu tidak bergerak, mungkin
tidak ada yang menolong.

3. Penipuan di Tempat Umum

Seorang penipu, Doni, mendekati
seorang wanita tua, Bu Sari,
di halte bus. Ia berpura-pura
menjadi petugas bus.

Doni: “Bu, bus yang ke arah Ibu
sudah tidak beroperasi. Tapi ada
bus lain yang bisa mengantar.
Saya bisa bantu. Tapi Ibu harus
bayar di depan.”

Bu Sari: “Oh, iya. Berapa, Pak?”

Doni: “Lima ratus ribu saja, Bu.
Ini bus khusus.”

Bu Sari membayar. Doni pergi.
Ada beberapa orang di halte
yang melihat kejadian itu.
Tetapi tidak ada yang menegur.
Tidak ada yang bertanya. Semua
orang menunggu orang lain.
Bu Sari baru sadar bahwa ia ditipu
setelah Doni menghilang.
Orang-orang di halte itu tidak
menolong karena mereka merasa
bukan urusan mereka.

Cara Melindungi Diri dari The
Bystander Effect Exploitation

Jika Anda merasa sedang berada
dalam situasi di mana banyak orang
hanya menonton, ada beberapa
langkah yang bisa dilakukan.

Pertama, sadari bahwa Anda
sedang berada dalam situasi
yang membutuhkan tindakan.

Jangan menunggu orang lain.
Jangan berharap ada yang bergerak
lebih dulu. Semakin lama Anda
menunggu, semakin kecil
kemungkinan ada yang bertindak.

Kedua, langsung bergerak.
Lakukan tindakan kecil. Berteriak.
Menghampiri korban. Menelepon
bantuan. Tindakan kecil Anda bisa
memicu orang lain untuk bergerak.
Sering kali, orang lain hanya
menunggu satu orang yang berani
lebih dulu.

Ketiga, tunjuk satu orang
secara spesifik.
Jangan berteriak,
“Tolong!” kepada semua orang. Itu
tidak jelas. Tunjuk satu orang.
Katakan, “Anda, yang pakai kemeja
biru. Tolong bantu saya.” Dengan
menunjuk satu orang, tanggung
jawab menjadi jelas. Orang itu
merasa terpanggil.

Keempat, jangan takut salah.
Lebih baik bergerak daripada
diam. Jika Anda salah menilai
situasi, setidaknya Anda sudah
berusaha. Jika Anda diam,
Anda tidak akan pernah tahu
apakah Anda bisa menolong.

Kelima, jadilah orang pertama.
Sering kali, orang lain hanya
menunggu seseorang untuk
memulai. Jika Anda bergerak,
mereka akan mengikuti. Anda bisa
menjadi pemicu perubahan.

Keenam, laporkan setelah
kejadian.
Jika Anda tidak bisa
bertindak saat kejadian, laporkan
setelahnya. Berikan keterangan.
Bantu korban. Jangan biarkan
pelaku lolos begitu saja.

Ketujuh, sebarkan kesadaran.
Semakin banyak orang yang tahu
tentang bystander effect, semakin
kecil kemungkinan mereka
terjebak di dalamnya. Bagikan
informasi ini. Ceritakan pengalaman
Anda. Ajak orang lain untuk berani
bertindak.

The Bystander Effect Exploitation
adalah teknik yang memanfaatkan
kecenderungan manusia untuk
menunggu orang lain. Pelaku tidak
perlu menyerang Anda secara
langsung. Pelaku hanya perlu memilih
keramaian. Pelaku menyerang
di depan banyak orang. Korban ragu.
Orang lain juga ragu. Pelaku lolos.
Kenali polanya. Jangan menunggu.
Bergeraklah lebih dulu. Dan ingatlah
bahwa satu orang yang berani
bertindak bisa mengubah segalanya.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Oke, kita lanjut ke teknik berikutnya.
Namanya
The Bystander Effect
Exploitation
.

Simpelnya, bystander effect adalah
fenomena di mana semakin banyak
orang yang ada di sekitar,
semakin kecil kemungkinan ada yang
nolong. Kenapa? Karena tanggung
jawabnya jadi tersebar. Semua orang
mikir, “Ah, pasti ada yang nolong.”
“Bukan gue tanggung jawab gue.”
“Gue nggak mau ikut campur.”
Dan pelaku manfaatin ini. Dia bisa
nyerang, nipu, atau ngejahatin lo
di depan banyak orang, karena dia
tau nggak akan ada yang berani
nolong.

Kenapa ini ampuh? Karena manusia
itu nggak mau salah. Kita takut
keliatan aneh, takut disalahin, takut
bikin masalah. Jadi pas ada kejadian,
kita nunggu dulu. Kita liat orang lain.
Kalau nggak ada yang gerak,
kita juga nggak gerak. Kita ngerasa
aman kalau diem. Padahal diem itu
justru bikin masalah makin parah.

Contoh gampangnya gini. Lo lagi
di jalan. Ada orang jatuh dari motor.
Ada sepuluh orang liat. Tapi nggak
ada yang nolong. Semua nunggu.
Sampai akhirnya ada satu yang gerak.
Baru yang lain ikut. Itu bystander
effect.

Di dunia kerja juga gitu. Ada yang
di-bully di kantor. Semua orang liat.
Tapi nggak ada yang ngomong.
Semua ngerasa bukan urusan mereka.
Akhirnya korban makin tertekan.
Pelaku makin berani. Karena dia tau,
nggak ada yang berani nggak.

Cara pakainya, bagi pelaku, gampang.
Pertama, cari keramaian. Jangan sepi.
Kedua, lakuin aksi di depan
banyak orang.
Ketiga, bikin seolah-olah nggak ada
masalah. Biarin orang ragu.
Keempat, jangan kasih waktu buat
mikir.
Kelima, orang bakal diem. Dan lo
bisa lolos.

Tapi lo nggak perlu jadi pelaku.
Lo perlu tau cara nahan teknik ini.
Pertama, sadar kalau lo lagi di situasi
yang butuh tindakan. Jangan nunggu
orang lain.
Kedua, langsung gerak. Walaupun
kecil.
Ketiga, tunjuk satu orang. Bilang,
“Lo, tolong bantuin.” Itu bikin
tanggung jawab jadi jelas.
Keempat, jangan takut salah. Lebih
baik gerak daripada diem.
Kelima, inget, lo bisa jadi orang
pertama yang bikin orang lain
berani.

Jadi, The Bystander Effect
Exploitation
itu ibarat lo lagi
tenggelam di kolam yang rame.
Ada banyak orang di pinggir.
Tapi nggak ada yang nyebur.
Semua nunggu. Sampai akhirnya
ada satu yang nyebur. Baru yang
lain ikut. Pelaku manfaatin
keraguan itu. Dia tau, lo bakal
diem. Dan dia bisa lolos.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *