Sahabat, kita tiba di bagian akhir dari
buku 23 Things They Don’t Tell
You About Capitalism. Di Bagian 4
ini, Ha-Joon Chang menantang
keyakinan-keyakinan kita tentang era
digital, stabilitas keuangan,
perencanaan ekonomi, pendidikan,
dan pada akhirnya, peran pasar itu
sendiri. Sembilan bab terakhir ini
adalah puncak dari seluruh argumen
buku ini.
15. Mesin Cuci Telah Mengubah
Dunia Lebih Besar daripada
Internet
Ha-Joon Chang membuka bagian ini
dengan sebuah provokasi yang
mungkin membuat para pecinta
teknologi tersedak: mesin cuci
telah mengubah dunia lebih
besar daripada internet.
Pernyataan ini bukan hiperbola
kosong. Chang mengajak kita untuk
melihat perubahan dari perspektif
yang jarang dipakai: pembebasan
waktu kerja rumah tangga dan
partisipasi perempuan dalam
ekonomi.
Sebelum mesin cuci, menyedot debu,
dan air ledeng menjadi barang umum,
pekerjaan rumah tangga adalah
pekerjaan penuh waktu yang
melelahkan secara fisik. Mencuci
pakaian untuk satu keluarga bisa
memakan waktu seharian penuh:
merebus air, mengucek, membilas,
memeras, dan menjemur.
Perempuan, yang secara historis
dibebani pekerjaan ini, tidak
memiliki waktu untuk bekerja di luar
rumah, mengejar pendidikan, atau
berpartisipasi dalam kehidupan
publik. Inovasi-inovasi sederhana
seperti mesin cuci, penyedot debu,
kompor gas, dan air ledeng
membebaskan mereka secara
fundamental. Tanpa revolusi
teknologi rumah tangga ini,
partisipasi perempuan dalam
angkatan kerja, kemandirian
finansial mereka, dan transformasi
sosial yang mengikutinya tidak
akan mungkin terjadi.
Chang tidak meremehkan internet.
Ia mengakui bahwa internet telah
mengubah cara kita berkomunikasi,
mengakses informasi, dan berbisnis.
Tetapi ia menunjukkan bahwa
internet belum secara fundamental
mengubah struktur produksi seperti
yang dilakukan oleh revolusi
industri. Revolusi industri
menggantikan tenaga manusia dan
hewan dengan mesin, menciptakan
lonjakan produktivitas yang belum
pernah terjadi sebelumnya.
Internet, sejauh ini, lebih banyak
mengubah cara kita mengkonsumsi
dan berkomunikasi daripada cara
kita memproduksi barang-barang
dasar. Listrik, mesin pembakaran
internal, dan pipa air telah
mengubah kehidupan material
manusia secara lebih mendalam
daripada kemampuan untuk
mengirim email atau menonton
video kucing.
Contoh dalam praktik:
Bayangkan dua penemuan:
mesin cuci dan media sosial.
Seorang ibu rumah tangga
bernama Sarah hidup di tahun
1920-an. Setiap hari Senin, ia
menghabiskan delapan jam
untuk mencuci pakaian dengan
tangan. Ia tidak punya waktu
untuk hal lain. Lalu mesin cuci
listrik masuk ke rumahnya.
Tiba-tiba, ia memiliki delapan
jam ekstra setiap minggu.
Ia menggunakannya untuk
membaca, belajar keterampilan
baru, dan akhirnya membuka
usaha kecil sendiri. Hidupnya
berubah total.
Sekarang bayangkan Sarah
modern yang sudah memiliki
mesin cuci, tetapi menghabiskan
delapan jam seminggu untuk
berselancar di media sosial.
Apakah hidupnya berubah secara
fundamental? Mungkin ia lebih
terhibur, mungkin ia lebih
terhubung dengan teman-teman
lamanya. Tetapi struktur
hariannya, kemampuan
ekonominya, tidak berubah
secara mendasar. Chang akan
berkata: bandingkan dampak
mesin cuci yang membebaskan
waktu delapan jam per minggu
dari kerja fisik yang melelahkan,
dengan dampak media sosial
yang mengisi waktu delapan jam
itu dengan hiburan. Mana yang
lebih revolusioner?
16. Internet Tidak Membuat
Dunia Menjadi Rata
Mitos populer lainnya yang dibongkar
Chang adalah gagasan bahwa
internet meratakan peluang.
Dalam narasi ini, seorang petani
di desa terpencil di Afrika bisa
menjual kerajinannya ke seluruh
dunia melalui platform digital, dan
seorang anak miskin di India bisa
belajar coding dari video gratis dan
menjadi miliarder. Internet, konon,
menghapus hierarki lama dan
menciptakan lapangan bermain
yang setara.
Chang menyebut narasi ini sebagai
ilusi yang berbahaya. Alih-alih
meratakan peluang, internet
sering kali memperlebar jurang
antara negara maju dan
berkembang, serta antara si kaya
dan si miskin. Ada beberapa alasan
untuk ini.
Pertama, akses internet tidak
terdistribusi merata. Di banyak bagian
dunia, koneksi internet masih lambat,
mahal, atau tidak ada sama sekali.
Ketika seorang pengusaha di Silicon
Valley mengunduh data sebesar gigabit
dalam hitungan detik, seorang
pesaingnya di pedesaan Nigeria masih
berjuang dengan koneksi 2G yang
terputus-putus. Keduanya tidak
bermain di lapangan yang sama.
Kedua, infrastruktur fisik tetap
penting. Kamu bisa memesan barang
secara online, tetapi barang itu harus
dikirim melalui jalan, pelabuhan, dan
gudang. Negara-negara maju memiliki
infrastruktur logistik yang efisien;
negara berkembang sering kali tidak.
Internet tidak bisa menggantikan
jalan raya yang mulus atau pelabuhan
yang dalam.
Ketiga, kapasitas menggunakan
teknologi juga tidak merata.
Mengakses informasi adalah satu hal;
mampu mengolah, menganalisis, dan
memanfaatkannya adalah hal lain.
Perusahaan multinasional memiliki
tim analis data, insinyur, dan ahli
strategi. Petani di desa mungkin
memiliki ponsel pintar, tetapi ia tidak
memiliki tim untuk menganalisis tren
pasar global. Internet memberinya
akses ke informasi, tetapi tidak
memberinya kapasitas untuk
bersaing dengan raksasa.
Keempat, internet justru menciptakan
monopoli baru. Perusahaan seperti
Google, Amazon, dan Facebook
mendominasi pasar global bukan
karena mereka lebih rajin, tetapi
karena efek jaringan: semakin banyak
orang yang menggunakan platform
mereka, semakin berharga platform
itu, dan semakin sulit bagi pendatang
baru untuk bersaing. Internet tidak
meratakan hierarki; ia menciptakan
raja-raja baru yang jauh lebih kaya
dan lebih berkuasa daripada
perusahaan mana pun dalam sejarah.
Contoh dalam praktik:
Bayangkan dua pengrajin sepatu
kulit. Marco tinggal di Milan,
Italia. Ia memiliki koneksi
internet super cepat, sebuah
studio dengan peralatan fotografi
profesional, dan seorang
keponakan yang ahli dalam
pemasaran digital. Ia memotret
sepatunya dengan pencahayaan
sempurna, mengunggahnya
ke situs web yang dirancang
dengan indah, dan menjualnya
ke seluruh dunia. Ongkos kirimnya
murah karena Italia memiliki
infrastruktur pos yang efisien.
Kwame tinggal di Accra, Ghana.
Ia juga membuat sepatu kulit
yang indah. Tetapi koneksi
internetnya lambat dan sering
mati. Ia memotret sepatunya
dengan ponsel murah. Ia tidak
memiliki situs web, hanya akun
media sosial. Ketika ada
pelanggan dari Eropa yang
tertarik, ongkos kirim dari
Ghana ke Eropa lebih mahal
daripada harga sepatunya
sendiri. Pelanggan itu
membatalkan pesanan.
Chang akan berkata: internet
tidak meratakan lapangan
antara Marco dan Kwame.
Marco memiliki akses,
infrastruktur, keterampilan,
dan biaya logistik yang
menguntungkan. Kwame
memiliki bakat yang sama,
tetapi internet tidak bisa
mengatasi ketimpangan
struktural yang mengelilinginya.
17. Stabilitas Makroekonomi yang
Lebih Besar Belum Membuat
Perekonomian Dunia Lebih
Stabil
Bab ini membongkar keyakinan
yang menjadi mantra para pembuat
kebijakan selama beberapa dekade:
bahwa fokus pada inflasi rendah
dan anggaran berimbang adalah
kunci stabilitas ekonomi.
Doktrin ini, yang sering disebut
sebagai “Great Moderation”,
menyatakan bahwa kita telah belajar
mengelola ekonomi dengan lebih baik,
dan krisis besar sudah menjadi
masa lalu.
Chang menunjukkan betapa naifnya
keyakinan ini. Fokus sempit pada
inflasi rendah dan anggaran
berimbang justru menciptakan
kerentanan baru.
Selama bertahun-tahun, bank sentral
di seluruh dunia berhasil menjaga
inflasi tetap rendah. Harga-harga
stabil. Para ekonom memuji diri
mereka sendiri. Tetapi di bawah
permukaan yang tenang,
gelembung-gelembung raksasa sedang
terbentuk. Harga aset, seperti rumah
dan saham, melonjak tanpa terdeteksi
oleh indikator inflasi konvensional
yang hanya mengukur harga barang
konsumsi. Kredit mengalir deras
ke sektor-sektor spekulatif. Lembaga
keuangan menciptakan
instrumen-instrumen yang semakin
rumit dan semakin tidak transparan.
Krisis 2008 adalah bukti telak. Inflasi
rendah. Anggaran di banyak negara
tampak terkendali. Tetapi sistem
keuangan global runtuh. Stabilitas
harga tidak menjamin stabilitas
sistem secara keseluruhan. Fokus
sempit pada inflasi telah membutakan
para pembuat kebijakan terhadap
bahaya yang mengintai di sektor
keuangan, di pasar properti, dan
di neraca bank-bank bayangan.
Chang berargumen bahwa kita
membutuhkan definisi stabilitas
yang lebih luas. Stabilitas bukan
hanya tentang inflasi rendah.
Ia juga tentang mencegah
gelembung aset, mengendalikan
spekulasi keuangan, menjaga
distribusi pendapatan yang tidak
timpang, dan memastikan bahwa
pertumbuhan ekonomi
berkelanjutan secara lingkungan.
Fokus tunggal pada inflasi seperti
seorang pilot yang hanya melihat
satu instrumen di kokpit dan
mengabaikan semua instrumen
lainnya.
Contoh dalam praktik:
Bayangkan seorang dokter yang
hanya memeriksa suhu tubuh
pasiennya. Suhu tubuh normal,
jadi dokter itu menyatakan
pasiennya sehat dan
memulangkannya. Tetapi pasien
itu sebenarnya memiliki tumor
ganas yang tidak terdeteksi
karena dokter tidak memeriksa
tekanan darah, tidak melakukan
tes darah, dan tidak menanyakan
gejala lainnya. Beberapa bulan
kemudian, pasien itu meninggal.
Dokter itu bersikeras bahwa suhu
tubuhnya normal, jadi pasti ada
penyebab lain.
Chang akan berkata: inilah yang
dilakukan oleh para pembuat
kebijakan yang hanya fokus pada
inflasi. Mereka menyatakan
ekonomi sehat karena inflasi
rendah, sementara gelembung
properti, utang rumah tangga
yang meledak, dan spekulasi
keuangan tumbuh seperti tumor.
Ketika krisis meledak, mereka
mengangkat tangan dan berkata
bahwa tidak ada yang bisa
meramalkannya.
18. Kita Butuh Lebih Banyak,
Bukan Lebih Sedikit,
Regulasi Keuangan
Bab ini adalah kelanjutan logis dari
bab sebelumnya. Jika fokus sempit
pada inflasi telah gagal mencegah
krisis, lalu apa yang harus dilakukan?
Jawaban Chang tegas:
kita membutuhkan lebih
banyak, bukan lebih sedikit,
regulasi keuangan.
Selama beberapa dekade, argumen
dominan adalah bahwa pasar
keuangan bisa mengatur dirinya
sendiri. Bank, perusahaan investasi,
dan dana lindung nilai, konon,
memiliki insentif untuk mengelola
risiko mereka sendiri dengan
hati-hati, karena mereka yang akan
rugi jika gagal. Regulasi pemerintah
dianggap sebagai campur tangan
yang tidak perlu dan kontraproduktif.
Chang menyebut argumen ini sebagai
bencana intelektual. Pasar keuangan
yang terlalu bebas cenderung
menghasilkan spekulasi destruktif,
bukan investasi produktif. Mengapa?
Karena insentif di pasar keuangan
sangat berbeda dari insentif di sektor
riil. Seorang pemilik pabrik yang
ingin membangun pabrik baru harus
merencanakan bertahun-tahun
ke depan, merekrut pekerja, dan
membeli mesin. Ia memiliki insentif
untuk berhati-hati karena
kesalahannya akan menghancurkan
investasinya sendiri. Tetapi seorang
pedagang derivatif bisa mendapatkan
bonus besar dalam satu tahun dari
taruhan berisiko yang akan meledak
dua tahun kemudian. Ketika ledakan
itu terjadi, ia sudah pindah
ke perusahaan lain dengan kantong
penuh uang.
Chang juga menunjukkan bahwa
kompleksitas keuangan modern
menuntut aturan yang lebih ketat,
bukan deregulasi.
Instrumen-instrumen seperti credit
default swaps dan collateralized debt
obligations dirancang dengan sangat
rumit sehingga bahkan para bankir
yang menjualnya sering kali tidak
sepenuhnya memahami risikonya.
Dalam lingkungan seperti ini,
transparansi dan pengawasan ketat
adalah satu-satunya cara untuk
mencegah bencana.
Contoh dalam praktik:
Bayangkan sebuah jalan raya
yang sangat sibuk dan kompleks,
dengan banyak persimpangan,
jembatan, dan kendaraan yang
melaju kencang. Pemerintah
memutuskan untuk menghapus
semua rambu lalu lintas, lampu
merah, dan batas kecepatan.
Argumennya: pengemudi
memiliki insentif untuk
berhati-hati karena mereka
akan mati jika menabrak.
Biarkan mereka mengatur
diri sendiri.
Apa yang akan terjadi? Beberapa
pengemudi memang akan
berhati-hati. Tetapi yang lain
akan mengebut, menyalip
di tikungan, dan mengambil
risiko yang membahayakan
semua orang. Dalam waktu
singkat, jalan raya itu akan
penuh dengan mayat. Tidak
ada yang akan menyebut ini
sebagai “kebebasan.” Semua
orang akan menyebut ini
sebagai kegilaan.
Chang akan berkata: inilah yang
terjadi di pasar keuangan yang
dideregulasi. Para spekulan
mengebut dengan mobil sport
mereka, mengambil risiko yang
akan meledak bertahun-tahun
kemudian, dan ketika tabrakan
terjadi, mereka sudah tidak
berada di tempat kejadian.
Rakyat biasalah yang
membersihkan puing-puingnya.
19. Perencanaan Ekonomi Masih
Sangat Relevan
Bab ini menyerang salah satu stigma
paling kuat dalam ekonomi modern:
bahwa perencanaan ekonomi
identik dengan komunisme yang
gagal. Runtuhnya Uni Soviet, konon,
adalah bukti bahwa perencanaan
terpusat tidak mungkin berhasil, dan
bahwa hanya pasar bebas yang bisa
mengalokasikan sumber daya secara
efisien.
Chang menunjukkan bahwa stigma ini
adalah kebohongan sejarah. Negara
selalu merencanakan. Anggaran
pemerintah adalah rencana. Investasi
infrastruktur adalah rencana.
Pendanaan riset adalah rencana.
Pertanyaannya bukanlah apakah kita
akan merencanakan atau tidak,
melainkan seberapa baik dan untuk
tujuan apa kita merencanakan.
Chang membedakan antara
perencanaan komando ala Soviet,
yang mencoba mengontrol setiap
detail produksi, dan perencanaan
indikatif yang digunakan oleh
negara-negara kapitalis paling
sukses. Perencanaan indikatif tidak
memaksa perusahaan untuk
mengikuti target pemerintah.
Ia bekerja dengan menetapkan visi
jangka panjang, menyediakan
insentif, mengkoordinasikan
investasi, dan menciptakan kepastian
bagi sektor swasta. Jepang,
Korea Selatan, Prancis, dan bahkan
Amerika Serikat telah menggunakan
bentuk-bentuk perencanaan indikatif
untuk mengarahkan perubahan
struktural.
Chang berargumen bahwa
perencanaan menjadi semakin penting,
bukan semakin tidak relevan, di abad
ke-21. Tantangan-tantangan seperti
perubahan iklim, transisi energi, dan
penuaan penduduk membutuhkan
koordinasi jangka panjang yang tidak
bisa disediakan oleh pasar sendirian.
Pasar sangat baik dalam merespons
sinyal harga jangka pendek, tetapi
sangat buruk dalam merencanakan
tiga puluh tahun ke depan. Jika kita
ingin mencapai net zero emission
pada tahun 2050, kita tidak bisa
hanya menunggu pasar untuk
menyelesaikannya. Kita membutuhkan
perencanaan yang disengaja, investasi
publik yang besar, dan koordinasi
kebijakan yang luas.
Contoh dalam praktik:
Bayangkan sebuah keluarga yang
tidak pernah merencanakan
apa pun. Mereka tidak membuat
anggaran bulanan, tidak
menabung untuk pendidikan
anak, tidak memikirkan
pensiun. Mereka hanya bereaksi
terhadap apa yang terjadi hari
ini: jika ada uang, dibelanjakan;
jika tidak ada, berutang. Apakah
keluarga ini akan sejahtera
dalam jangka panjang?
Hampir pasti tidak.
Sekarang bayangkan
keluarga lain yang membuat
perencanaan. Mereka duduk
bersama setiap bulan, membahas
pemasukan dan pengeluaran,
menyisihkan tabungan, dan
merencanakan investasi untuk
masa depan. Mereka tetap
fleksibel; jika ada keadaan
darurat, rencana diubah.
Tetapi mereka memiliki arah.
Chang akan berkata: negara
yang tidak merencanakan
adalah seperti keluarga pertama.
Ia hanya bereaksi, berhutang,
dan berharap yang terbaik.
Negara yang merencanakan
adalah seperti keluarga kedua.
Ia mungkin tidak mencapai
semua targetnya, tetapi
ia memiliki arah. Perencanaan
bukanlah musuh kebebasan;
ia adalah alat untuk mencapai
tujuan bersama.
20. Pendidikan yang Lebih Tinggi
Tidak Otomatis Membuat Negara
Lebih Makmur
Mitos berikutnya yang dibongkar
Chang adalah keyakinan bahwa
pendidikan tinggi adalah kunci
otomatis menuju kemakmuran.
Para politisi di seluruh dunia suka
mengulang-ulang mantra ini:
investasi dalam pendidikan akan
menciptakan tenaga kerja terampil,
tenaga kerja terampil akan menarik
investasi, dan investasi akan
membawa pertumbuhan.
Chang menunjukkan bahwa
hubungan antara gelar
pendidikan dan pertumbuhan
ekonomi tidak sekuat yang
diduga. Masalahnya bukan pada
pendidikan itu sendiri; pendidikan
jelas penting. Masalahnya adalah
bahwa gelar tidak otomatis
menciptakan kemakmuran jika tidak
ada permintaan terhadap keahlian
tersebut di sektor riil.
Banyak negara yang telah mengalami
apa yang disebut “brain waste” atau
pengangguran terdidik.
Mereka mencetak ribuan insinyur,
ekonom, dan ilmuwan, tetapi
ekonomi mereka tidak menciptakan
pekerjaan yang membutuhkan
keterampilan itu. Akibatnya,
para lulusan bekerja sebagai sopir
taksi, pelayan toko, atau menganggur.
Mereka telah menghabiskan
bertahun-tahun dan banyak uang
untuk pendidikan yang tidak
menghasilkan peningkatan
produktivitas karena tidak ada pabrik
canggih, laboratorium riset, atau
perusahaan teknologi yang bisa
menyerap mereka.
Chang berargumen bahwa yang
menentukan adalah jenis
pendidikan, permintaan
terhadap keahlian di sektor
riil, dan ekosistem inovasi.
Negara yang hanya mencetak
gelar tanpa membangun industri
yang bisa mempekerjakan para
lulusannya seperti petani yang
membeli banyak traktor tetapi
tidak memiliki ladang untuk
ditanami. Pendidikan harus
berjalan seiring dengan kebijakan
industri, penciptaan lapangan
kerja berkualitas, dan investasi
dalam riset dan pengembangan.
Contoh dalam praktik:
Bandingkan dua negara.
Negara A memiliki tingkat
kelulusan universitas yang
sangat tinggi. Puluhan ribu
insinyur lulus setiap tahun.
Tetapi sektor manufakturnya
kecil dan lesu. Tidak ada
perusahaan yang merekrut
insinyur-insinyur itu.
Sebagian besar lulusan
akhirnya bekerja di luar
bidang mereka, dan
keterampilan mereka
tidak terpakai.
Negara B memiliki tingkat
kelulusan universitas yang lebih
rendah, tetapi mereka dengan
sengaja membangun industri
elektronik dan otomotif. Mereka
mendirikan politeknik yang
melatih teknisi untuk
industri-industri itu. Mereka
memberi insentif bagi
perusahaan untuk mendirikan
pusat riset. Para lulusan
langsung diserap oleh industri,
dan produktivitas mereka
mendorong pertumbuhan.
Chang akan berkata:
Negara A percaya pada mitos
bahwa pendidikan saja sudah
cukup. Negara B memahami
bahwa pendidikan hanyalah
satu bagian dari ekosistem.
Tanpa permintaan dari sektor
riil, gelar hanyalah kertas.
21. Tingkat Upah Tinggi Lebih
Ditentukan oleh Sistem
daripada Produktivitas
Individu
Bab ini kembali ke tema yang sudah
disinggung sebelumnya, tetapi
dengan fokus yang lebih tajam:
upah tinggi bukanlah hasil
semata-mata dari produktivitas
individu.
Narasi standar mengatakan bahwa
jika kamu bekerja keras,
meningkatkan keterampilanmu, dan
menjadi lebih produktif, upahmu
akan naik. Ini adalah narasi yang
memberdayakan, tetapi juga
menyesatkan.
Chang menunjukkan bahwa
produktivitas seorang pekerja sangat
dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar
kendalinya: organisasi perusahaan
tempat ia bekerja, infrastruktur
negara, teknologi yang tersedia, dan
sistem pendidikan yang melatihnya.
Seorang pekerja yang sama akan
memiliki produktivitas yang sangat
berbeda jika ia bekerja di pabrik
dengan mesin canggih versus pabrik
dengan mesin usang, atau di negara
dengan jalan raya yang mulus versus
negara dengan jalan berlubang.
Lebih penting lagi, Chang
menunjukkan bahwa negosiasi
kolektif, upah minimum, dan
negara kesejahteraan sering kali
menjadi faktor yang mendorong
upah tinggi, bukan semata-mata
pencapaian pribadi.
Di negara-negara Skandinavia,
upah tinggi tidak hanya berasal dari
pekerja yang sangat terampil. Upah
tinggi juga berasal dari serikat pekerja
yang kuat yang menegosiasikan upah
secara kolektif, upah minimum yang
tinggi, dan kebijakan pemerintah
yang secara aktif mendorong
pemerataan. Pekerja pembersih
di Denmark dibayar jauh lebih
tinggi daripada pekerja pembersih
di Amerika Serikat, bukan karena
mereka membersihkan dengan
lebih produktif, melainkan karena
sistem di sekitar mereka berbeda.
Contoh dalam praktik:
Bayangkan dua pekerja
pembersih lantai. Maria bekerja
di sebuah perusahaan
di Kopenhagen. John bekerja
di sebuah perusahaan di Miami.
Mereka melakukan pekerjaan
yang persis sama: mengepel
lantai, membersihkan toilet,
mengosongkan tempat sampah.
Apakah Maria lebih produktif
daripada John? Apakah ia
mengepel lebih cepat? Apakah
ia membersihkan toilet dengan
lebih bersih? Mungkin, tetapi
perbedaannya tidak signifikan.
Namun, Maria dibayar tiga kali
lipat lebih tinggi daripada John.
Mengapa? Karena di Denmark,
serikat pekerja pembersih telah
menegosiasikan kontrak yang
menetapkan upah minimum
yang tinggi. Karena pajak yang
tinggi mendanai layanan publik
sehingga Maria tidak perlu
mengeluarkan uang untuk
kesehatan dan pendidikan.
Karena norma sosial di Denmark
tidak mentoleransi ketimpangan
yang ekstrem.
Chang akan berkata:
jangan tertipu oleh narasi bahwa
upahmu adalah cerminan murni
dari produktivitas pribadimu.
Sistem di sekitarmu, perjuangan
kolektif para pekerja sebelummu,
dan kebijakan yang dipilih oleh
masyarakatmu, semuanya
memainkan peran yang jauh lebih
besar daripada yang disadari.
22. Tidak Ada Negara yang
Mencapai Kemakmuran dengan
Sepenuhnya Menganut Pasar
Bebas
Bab ini adalah rangkuman dari seluruh
pelajaran sejarah yang telah dipaparkan
di bab-bab sebelumnya.
Chang menyatakannya dengan tegas:
setiap kisah sukses ekonomi, dari
Inggris abad ke-18 hingga
Tiongkok kontemporer,
melibatkan intervensi negara
yang kuat, proteksi, subsidi, dan
perencanaan. Mitos laissez-faire
murni tidak punya dasar historis.
Inggris, yang sering dianggap sebagai
pelopor kapitalisme pasar bebas,
membangun industri tekstilnya
di balik tembok proteksi tinggi dan
dengan bantuan aktif dari negara.
Amerika Serikat, yang sekarang
berkhotbah tentang perdagangan
bebas, adalah negara paling
proteksionis di dunia sepanjang abad
ke-19. Jepang, Korea Selatan, dan
Taiwan menggunakan kebijakan
industri yang terarah, subsidi, dan
perlindungan pasar untuk
membangun perusahaan-perusahaan
global. Tiongkok menggabungkan
kepemilikan negara, investasi asing
yang diatur ketat, dan perencanaan
untuk mencapai pertumbuhan paling
spektakuler dalam sejarah manusia.
Chang tidak mengatakan bahwa
semua intervensi negara berhasil.
Banyak intervensi yang gagal, korup,
atau kontraproduktif. Tetapi ia
menunjukkan bahwa tidak ada negara
yang berhasil hanya dengan membuka
pasarnya dan menunggu. Negara yang
berhasil adalah negara yang secara
aktif membentuk ekonominya,
melindungi industrinya saat masih
lemah, dan secara strategis berintegrasi
ke dalam ekonomi global sesuai dengan
kecepatannya sendiri.
Contoh dalam praktik:
Bayangkan seorang pelatih sepak
bola yang percaya bahwa cara
terbaik untuk membangun tim
adalah dengan membiarkan
semua pemain berlari bebas
di lapangan tanpa strategi,
tanpa formasi, dan tanpa
latihan terstruktur.
“Biarkan bakat alami yang
menentukan,” katanya. Tim itu
akan hancur oleh tim yang
dilatih dengan formasi yang
jelas, strategi yang disusun
dengan hati-hati, dan latihan
yang disiplin.
Chang akan berkata:
negara yang menganut pasar
bebas murni adalah seperti tim
sepak bola tanpa pelatih.
Negara yang berhasil adalah
negara yang melatih
ekonominya: melindungi
pemain mudanya, menyusun
strategi, dan tahu kapan harus
bertahan dan kapan harus
menyerang. Pasar adalah
pemain yang hebat, tetapi
tanpa pelatih, ia tidak akan
memenangkan pertandingan.
23. Pasar Perlu Dibatasi
Bab terakhir ini adalah kesimpulan
dari seluruh buku. Chang tidak
menyerukan penghapusan
kapitalisme. Ia menyerukan
sesuatu yang lebih radikal dalam
konteks zaman kita: pasar harus
dibatasi dan diarahkan oleh
nilai-nilai serta keputusan
demokratis.
Chang mengakui bahwa pasar adalah
alat yang sangat baik untuk
mengalokasikan sumber daya dalam
kondisi tertentu. Pasar memberi kita
makanan yang beragam, pakaian
yang terjangkau, dan inovasi yang
memudahkan hidup. Tetapi pasar
sangat buruk dalam beberapa hal yang
sangat penting. Pasar sangat buruk
dalam menentukan harga masa depan,
seperti yang terlihat di pasar keuangan
yang terus-menerus menciptakan
gelembung dan krisis. Pasar sangat
buruk dalam menjamin keadilan,
karena ia hanya mengenali “kemauan
membayar,” bukan kebutuhan atau
hak. Dan pasar sangat buruk dalam
menyediakan stabilitas, karena ia
secara inheren tidak stabil dan
cenderung menciptakan siklus boom
dan bust.
Menyerahkan seluruh ranah
kehidupan pada logika pasar adalah
resep kegagalan. Pasar tidak boleh
menentukan siapa yang layak hidup
dan siapa yang layak mati.
Pasar tidak boleh menentukan
apakah seorang anak mendapatkan
pendidikan atau tidak. Pasar tidak
boleh menentukan apakah sebuah
planet layak dihuni untuk generasi
mendatang. Keputusan-keputusan
ini harus dibuat secara demokratis,
oleh warga negara yang setara,
bukan oleh daya beli yang timpang.
Chang menutup bukunya dengan satu
ajakan: kita perlu mengembalikan
kendali atas ekonomi ke tangan
manusia. Pasar adalah pelayan yang
baik, tetapi tuan yang buruk.
Sudah terlalu lama kita membiarkan
pasar menjadi tuan. Sudah waktunya
kita menempatkannya kembali
ke tempatnya.
Contoh dalam praktik:
Bayangkan sebuah pesta besar
yang diselenggarakan oleh
seorang tuan rumah yang bijak.
Ia menyewa katering, musisi,
dan dekorator. Semua pelayan
ini bekerja dengan baik, dan
pesta berjalan meriah. Tetapi
kemudian para pelayan mulai
mengambil alih. Katering
memutuskan bahwa hanya
tamu yang bisa membayar yang
boleh makan.
Musisi memutuskan untuk
hanya memainkan lagu yang
mereka sukai, bukan yang
diminta tamu. Dekorator mulai
menagih biaya masuk di pintu.
Pesta itu berubah menjadi
bencana.
Chang akan berkata:
pasar adalah pelayan-pelayan
itu. Mereka berguna, tetapi
mereka harus diarahkan oleh
tuan rumah, yaitu masyarakat
yang demokratis. Ketika kita
membiarkan pasar menjadi
tuan rumah, pesta itu berubah
menjadi bencana bagi sebagian
besar tamu. Sudah waktunya
kita, sebagai warga negara,
mengambil kembali peran
sebagai tuan rumah.
Sahabat, selesailah perjalanan kita
menyusuri dua puluh tiga bab dari
23 Things They Don’t Tell You
About Capitalism.
Ha-Joon Chang tidak menawarkan
resep sederhana, tetapi ia
memberikan sesuatu yang lebih
berharga: keberanian untuk
mempertanyakan apa yang selama
ini kita anggap wajar. Pasar bebas
tidak pernah benar-benar bebas.
Perusahaan tidak seharusnya
dijalankan hanya untuk pemilik.
Manusia tidak malas atau serakah
secara alami. Negara kaya tidak
kaya hanya karena lebih pintar.
Internet tidak meratakan dunia.
Mesin cuci lebih revolusioner dari
yang kita kira. Dan yang terpenting,
pasar adalah alat, bukan tuan.
Keputusan tentang bagaimana kita
hidup bersama harus dibuat secara
demokratis, bukan diserahkan
pada logika keuntungan.