Buku 23 Things They Don’t Tell You About Capitalism Ha-Joon Chang, Tidak Ada yang Namanya Pasar Bebas
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Gaes, kali ini kita ngomongin buku
yang bakal bikin lo mikir ulang tentang
sistem yang selama ini kita anggap
wajar. Judulnya 23 Things They Don’t
Tell You About Capitalism karya
Ha-Joon Chang. Ini bukan buku yang
membela sosialisme, tapi juga bukan
yang muja-muja kapitalisme. Chang
di sini kayak lagi ngebongkar “mitos”
yang diajarin di sekolah bisnis dan
diomongin politisi. Siap-siap, ya,
karena empat mitos pertama ini
bakal langsung nancep.
Mitos 1: Nggak Ada yang
Namanya Pasar Bebas,
Itu Cuma Dongeng!
Ha-Joon Chang buka buku ini dengan
pernyataan yang mungkin bikin lo
kaget: nggak ada yang namanya
pasar bebas. Setiap pasar, dari
tukang sayur di depan gang lo sampe
bursa saham Wall Street, semuanya
punya aturan dan batasan. Pasar itu
bukan kayak gravitasi yang kerja
sendiri kalau nggak diganggu. Pasar
adalah konstruksi politik yang
sengaja dirancang manusia
lewat negara.
Chang ngajak lo buat ngebayangin
transaksi paling simpel: anak kecil
beli cokelat di warung. Kelihatannya
murni antara dua orang bebas.
Tapi di baliknya, ada puluhan
aturan yang bikin transaksi itu bisa
terjadi. Ada aturan hak kepemilikan
yang netapin warung itu punya
si penjual. Ada aturan label makanan
yang ngelarang dia jual cokelat
beracun. Ada aturan timbangan.
Ada hukum kontrak. Semua ini
dibuat dan ditegakin negara.
Tanpa itu, nggak bakal ada yang
berani transaksi karena nggak
ada kepercayaan.
Nah, pas ada yang teriak
“bebaskan pasar”, yang sebenernya dia
bilang adalah “ubah aturannya” .
Pertanyaannya bukan pasar mau
diatur atau nggak, tapi siapa yang
diuntungin sama aturan itu?
Upah minimum ngelindungin
pekerja, tapi ngebatasin kebebasan
majikan. Paten nguntungin penemu,
tapi ngebatasin orang lain buat niru.
Regulasi lingkungan ngebatasin
pabrik buang limbah, tapi
ngelindungin kesehatan warga.
Setiap aturan adalah pilihan politik.
Nggak ada yang netral.
Contoh gampangnya: Dua temen
lo, Raka dan Sari, debat soal upah
minimum. Raka bilang, “Pemerintah
nggak boleh ikut campur, biarin
pasar yang nentuin upah.”
Sari nyeletuk, “Tapi kalau nggak
ada aturan, majikan bisa bayar
seenaknya dong?” Raka ngeles,
“Ya itu risiko kerja, nggak suka
cari kerja lain.”
Chang bakal nimpuk Raka pake data:
lo pikir lo milih pasar bebas, padahal
lo milih aturan yang nguntungin
majikan. Dalam “pasar bebas” tanpa
upah minimum, majikan bebas bayar
serendah mungkin, dan pekerja yang
kelaparan itu nggak beneran bebas
milih. Mereka dipaksa nerima. Pasar
bebas yang lo bayangin nggak pernah
ada. Yang ada cuma aturan, dan debat
sebenarnya adalah aturan mana yang
lebih adil.
Mitos 2: Perusahaan Itu Bukan
Cuma Punya Pemegang Saham,
Bos!
Mitos kedua yang dibantai Chang
adalah gagasan kalau pemegang
saham adalah satu-satunya
pihak yang berhak atas untung
perusahaan. Ini doktrin yang
diajarin di mana-mana: perusahaan
milik pemegang saham, tugas
manajemen ya maksimalin nilai
buat mereka. Pekerja, pemasok,
konsumen, masyarakat? Cuma alat.
Chang nyebut ini kebohongan
sejarah. Dia nunjukin, perusahaan
modern tuh seringkali didirikan
duluan sama pekerja dan pengusaha,
baru kemudian nyari modal.
Pemegang saham itu pendatang!
Lebih penting lagi, pemegang
saham bukan satu-satunya yang
nanggung risiko. Kalau perusahaan
bangkrut, pekerja kehilangan kerjaan,
penghasilan, dan pensiun. Pemasok
kehilangan kontrak. Konsumen
kehilangan produk. Masyarakat
nanggung biaya pengangguran dan
lingkungan.
Chang ngusulin alternatif:
model pemangku kepentingan
(stakeholder model). Perusahaan
dijalanin buat semua pihak yang
nyumbang dan nanggung risiko.
Pekerja punya suara, pemasok
diperlakuin sebagai mitra, konsumen
dilindungin, masyarakat dihormatin.
Chang bahkan nunjukin ini bukan
cuma idealisme. Pekerja yang
ngerasa dihargai dan punya suara itu
lebih termotivasi, loyal, dan inovatif.
Pemasok yang adil ngasih kualitas
lebih baik. Ini bisa ngedorong
produktivitas jangka panjang.
Contoh praktis: Bayangin dua
perusahaan sepatu. ProfitMax
cuma mikirin keuntungan pemegang
saham. Gaji pekerja ditekan, pemasok
dipaksa turunin harga, pas lagi sepi
langsung PHK tanpa pesangon layak.
Pemegang saham senang.
StakeWell pake model pemangku
kepentingan. Pekerja digaji adil, ada
perwakilan di dewan direksi,
pemasok diajak kemitraan jangka
panjang. Pas sepi, alih-alih PHK,
jam kerja dikurangi sementara sambil
cari solusi bareng. Jangka pendek,
ProfitMax mungkin untung gede.
Tapi jangka panjang, StakeWell punya
pekerja loyal, pemasok berkualitas,
dan merek dipercaya. Chang bakal
nanya: yang mana yang beneran
lebih produktif?
Mitos 3: Kalau Lo Berprasangka
Buruk, Ya Hasilnya Bakal
Buruk Juga
Mitos ketiga ini soal sifat manusia.
Ekonomi neoliberal nganggep
manusia itu selalu egois dan
oportunis. Makhluk yang cuma
peduli diri sendiri dan bakal nipu
kalau ada kesempatan. Dari asumsi
ini, dibangunlah sistem
pengawasan dan kontrak super ketat.
Chang balikin logikanya: asumsi ini
bukan cerminan sifat manusia,
tapi ramalan yang mewujudkan
dirinya sendiri. Pas lo rancang
sistem yang nganggep semua orang
bakal nipu, lo justru ngedorong orang
buat nipu. Sistem itu matiin motivasi
intrinsik: kejujuran, solidaritas,
rasa tanggung jawab, kebanggaan
kerja. Kalau lo selalu diawasin,
dicurigai, dan cuma hasil akhir yang
dihargai, lo bakal mikir: ngapain
capek-capek jujur?
Chang ngasih contoh dari dunia kerja.
Banyak perusahaan pake pengawasan
ketat: jam kerja dicatat per menit, klik
di monitor diawasin, target detail.
Asumsinya, kalau nggak diawasin,
pekerja bakal males. Tapi riset
nunjukin, pengawasan berlebihan
justru nurunin produktivitas. Pekerja
ngerasa nggak dipercaya, inisiatif
mati. Sebaliknya, perusahaan yang
ngasih kepercayaan dan otonomi
malah dapet pekerja yang lebih kreatif
dan loyal. Chang nggak naif, dia tahu
ada yang bakal nyalahgunain. Tapi dia
nunjukin, kalau lo rancang seluruh
sistem berdasarkan minoritas yang
curang, lo ngorbanin mayoritas yang
jujur. Hasilnya, sistem itu sendiri
yang nyiptain lebih banyak kecurangan.
Contoh praktis: Kantor lo tiba-tiba
bikin aturan: tiap karyawan harus ngisi
form rinci tiap jam, dicek manajer
mingguan. Niatnya biar nggak main
hape. Sebulan kemudian, yang tadinya
suka bantuin temen jadi males karena
waktunya “nggak tercatat”. Ide kreatif
mati karena nggak ada metriknya.
Pas klien nelpon urgent, lo malah
bilang, “Maaf, kuota saya minggu ini
penuh, kita jadwal minggu depan ya.”
Produktivitas di atas kertas mungkin
naik, tapi inovasi dan kerja tim hancur.
Chang bakal bilang: sistem ini nyiptain
manusia egois yang lo takutin. Dengan
ngasumsikan yang terburuk, lo dapet
yang terburuk.
Mitos 4: Orang Itu Nggak Males
atau Serakah dari Sononya,
Itu Dibentuk!
Mitos keempat ini ngebongkar
keyakinan kalau kemalasan dan
keserakahan itu sifat bawaan.
Ekonomi neoliberal sering
ngegambarin manusia maunya kerja
sesedikit mungkin dan konsumsi
sebanyak mungkin. Dari sini lahir
kebijakan kayak potong tunjangan
biar “maksa orang kerja” atau bonus
gede buat eksekutif.
Chang nunjukin, ini bertentangan
sama bukti sejarah.
Tingkat kemalasan atau keserakahan
itu tergantung konteks sosial,
budaya, dan institusi.
Banyak masyarakat tradisional yang
begitu kebutuhan pokok terpenuhi,
mereka milih istirahat atau
kumpul-kumpul. Mereka bukan
males, tapi nggak ngeliat alasan
buat kerja lebih. Nimbun kekayaan
tanpa batas bukan naluri universal,
tapi produk sistem yang
muja-muja itu.
Chang juga nunjukin, sistem
kapitalisme modern ini secara aktif
nyiptain dan nguatin perilaku
serakah. Iklan terus-terusan bisikin
lo nggak cukup. Bonus dirancang biar
orang ngejar lebih. Pajak rendah buat
orang kaya dan potong layanan publik
bikin orang nimbun kekayaan karena
nggak bisa ngandelin jaring pengaman.
Sistem ini nggak nyerminin sifat
manusia, tapi ngebentuknya.
Chang nggak ngajak balik ke jaman
purba. Tapi dia minta kita berenti
pake argumen “memang begitulah
sifat manusia” buat ngebenarin
ketidakadilan. Sifat manusia itu
lentur, dibentuk lingkungan. Kalau
kita mau masyarakat lebih adil, kita
harus rancang institusi yang
ngedorong solidaritas, bukan
keserakahan.
Contoh praktis: Eksekutif bank
dapet bonus 50 M, pas dikritik dia
bilang, “Ini wajar, tanpa insentif
gede siapa yang mau kerja keras?
Namanya juga sifat manusia.”
Chang bakal balik nanya: apa nenek
moyang lo yang nanam padi juga
minta bonus dulu sebelum nanam?
Ilmuwan penemu vaksin polio kerja
keras siang malem demi bonus atau
demi nyelametin jutaan nyawa?
Motivasi manusia itu jauh lebih
kaya dari sekadar duit. Kita yang
nyiptain eksekutif serakah karena
kita rancang sistem yang ngasih
hadiah fantastis buat keserakahan.
Terus kita bilang,
“Tuh, bukti manusia serakah.”
Ini logika melingkar.
Bayangin dua negara. Negara A ngasih
tunjangan pengangguran yang layak,
pelatihan gratis. Negara B motong
tunjangan biar “orang nggak males.”
Di A, pencari kerja bisa nyari yang
cocok, karir stabil. Di B, mereka
ambil kerjaan pertama yang ada
karena takut kelaparan,
keluar-masuk kerja, karir nggak
stabil. Negara A bukannya nyiptain
kemalasan, tapi efisiensi nyocokin
pekerja. Negara B malah bikin pasar
kerja kacau dengan dalih
“sifat manusia”.
Gimana, gaes? Empat bab pertama ini
langsung jadi fondasi yang kuat banget.
Chang nunjukin pasar nggak pernah
bebas, perusahaan bukan cuma buat
pemegang saham, asumsi buruk
malah ngasilin yang buruk, dan sifat
manusia itu dibentuk, bukan takdir.
Dengan ngebongkar empat mitos ini,
dia buka jalan buat mikirin ulang
seluruh sistem kapitalisme yang kita
anggap wajar. 🔥

