buku

Menguji Fondasi Bisnis: Memahami Inti Dasar Sebelum Melangkah Jauh

Memetakan Dasar-Dasar Bisnis
Seperti Menjual Popcorn

Tom Golisano menekankan bahwa
sebelum sebuah bisnis tumbuh,
pemiliknya harus benar-benar
menguasai dasar yang paling
fundamental: memahami bagaimana
uang bergerak di dalam bisnis.
Ia mengajak pembaca
membayangkannya sesederhana
menjual popcorn sebuah ilustrasi
yang menunjukkan bahwa setiap
keputusan bisnis pada dasarnya
kembali pada satu pertanyaan:
berapa banyak pembeli yang
dibutuhkan agar bisnismu bukan
hanya menutup biaya, tetapi juga
menghasilkan keuntungan?

Dengan sudut pandang ini, setiap
komponen biaya penyewaan tempat,
gaji, bahan baku, hingga biaya kecil
yang sering kita lupakan harus
dihitung. Semua angka itu kemudian
disatukan dalam satu halaman
sederhana. Dari situ terlihat jelas
titik impas: jumlah pembeli
minimum yang harus diraih agar
bisnis tidak merugi. Pendekatan ini,
kata Golisano, membuat pemilik
usaha fokus pada realitas, bukan
pada angan-angan.

Menguasai Laporan Laba Rugi
yang Mencerminkan Kenyataan

Laporan laba rugi bukan dokumen
dekoratif. Menurut Golisano, banyak
bisnis gagal karena laporannya
disusun berdasarkan harapan, bukan
fakta. Pemilik usaha perlu melihat
P&L sebagai alat diagnosis apakah
bisnis sehat atau justru berjalan
ke arah yang salah.

Golisano menekankan pentingnya
menggunakan data nyata, statistik
akurat, dan acuan yang bisa
diverifikasi. Ini berarti tidak boleh
bergantung pada perasaan atau
intuisi semata. Jika analisis finansial
yang jujur menunjukkan bahwa
sebuah ide tidak layak dilanjutkan,
keputusan paling bijak adalah
menghentikannya lebih awal.
Menghindari kerugian lebih penting
daripada mempertahankan ide yang
memang tidak memiliki masa depan.
Kejujuran finansial ini adalah
penyelamat waktu, tenaga, dan modal.

Menyiapkan Diri untuk
Berbicara dengan Investor
dan Pemberi Pinjaman

Jika Anda ingin bisnis tumbuh, cepat
atau lambat Anda akan berbicara
dengan investor atau pemberi
pinjaman. Di sinilah kemampuan
membaca dan memahami angka
menjadi modal utama.

Investor ingin bukti bahwa Anda
mengerti perusahaan Anda:
bagaimana uang masuk, bagaimana
uang keluar, dan bagaimana bisnis
tumbuh dengan cara yang realistis.
Anda harus siap menjelaskan
rencana pertumbuhan jangka
panjang, dasar pengambilan
keputusan, dan alasan mengapa
angka-angka Anda dapat dipercaya.

Golisano juga menyoroti bahwa
pemilik usaha harus terbuka terhadap
kemungkinan memiliki equity
partner
atau rekan pemilik. Ini bukan
kelemahan. Terkadang, keberanian
berbagi kepemilikan justru membuka
jalan agar bisnis berkembang jauh
lebih besar.

Menentukan Struktur Hukum
yang Tepat untuk Perjalanan
Panjang

Pemilihan bentuk usaha bukan
sekadar formalitas. Golisano
menekankan pentingnya memahami
konsekuensi dari memilih usaha
perseorangan, kemitraan, atau
korporasi. Setiap bentuk memiliki
implikasi berbeda terhadap pajak,
perlindungan hukum, dan potensi
ekspansi.

Karena itu, ia menyarankan pemilik
usaha berkonsultasi dengan
profesional: pengacara, akuntan, dan
penasihat pajak. Dengan struktur
hukum yang selaras dengan tujuan
jangka panjang, pemilik bisnis bisa
menghemat uang, menurunkan
pajak, dan menghindari masalah
hukum di masa depan.

Memeriksa Kelayakan Jika Ingin
Membeli Bisnis yang Sudah
Berjalan

Membeli bisnis yang sudah ada bisa
terlihat menggiurkan, tetapi Golisano
mengingatkan bahwa tidak semua
yang tampak menguntungkan
benar-benar sehat. Sebelum membeli,
pemilik usaha harus memahami
seluruh keuangannya: laporan laba
rugi, arus kas, hutang, biaya
operasional, dan performa penjualan.

Hal paling penting: cari tahu alasan
bisnis tersebut dijual. Apakah karena
pemiliknya ingin pensiun? Atau ada
masalah tersembunyi? Melibatkan
ahli keuangan, akuntan forensik,
atau penasihat bisnis sangatlah bijak.
Mereka dapat mengidentifikasi risiko
yang tidak terlihat oleh mata awam.

Membeli bisnis tanpa evaluasi
menyeluruh bisa berubah dari
peluang emas menjadi beban
besar.

Menguasai Industri dan
Membangun Relasi yang
Bernilai

Apa pun jalur kewirausahaan yang
dipilih membangun bisnis dari nol
atau membeli yang sudah berjalan
pemahaman mendalam tentang
industri adalah keharusan. Golisano
menegaskan pentingnya membangun
hubungan dengan pelaku industri
lain. Jaringan ini menjadi sumber
informasi, saran praktis, dan
terkadang menjadi penentu peluang
baru.

Optimisme perlu ada, tetapi
optimisme yang realistis dan
didukung analisis matang. Dengan
perpaduan wawasan industri, data
kuat, dan eksekusi disiplin, peluang
sukses akan semakin besar.

Mengelola dan Menata
Keuangan dengan Lebih
Serius

Pada akhirnya, semua kembali ke satu
hal: kemampuan mengelola uang
secara cerdas. Keuangan yang tertata
bukan hanya mencerminkan bisnis
yang sehat, tetapi juga fondasi agar
usaha bertahan puluhan tahun.

Golisano mendorong para pengusaha
untuk selalu kembali ke dasar: hitung
dengan jujur, evaluasi dengan data,
koreksi langkah bila perlu, dan selalu
siap menghadapi kenyataan finansial
apa pun bentuknya. Itulah cara terbaik
untuk memastikan perjalanan bisnis
tetap terarah dan berkelanjutan.

1. Bisnis Itu Seperti Jualan
Popcorn di Gerobak

Bayangkan kamu punya gerobak
popcorn. Sebelum jualan, kamu
harus tahu dulu: berapa bungkus
popcorn yang harus laku
supaya modal balik?

Kalau sewa tempat Rp50.000, beli
bahan Rp30.000, dan perlu bayar
pegawai Rp20.000, kamu harus
hitung: berapa penjualan yang
menutup semua itu?

Itu sama seperti bisnis apa pun.
Semua biaya yang besar sampai
yang kecil harus dicatat seperti
menuliskan belanjaan di kertas
sebelum ke pasar. Setelah itu baru
kelihatan: berapa pembeli
minimum yang harus datang
supaya kamu tidak rugi.

Jika angka ini jelas, kamu tidak
akan terjebak mimpi kosong. Kamu
tahu persis apakah gerobak
popcornmu benar-benar bisa jalan.

2. Laporan Laba Rugi Itu
Seperti Timbangan Badan

Banyak orang diet gagal bukan
karena makanannya, tapi karena
tidak pernah nimbang.
Di bisnis pun sama: laporan laba
rugi itu “timbangan” yang memberi
tahu apakah bisnismu makin sehat
atau justru membengkak tanpa
sadar.

Kalau laporan dibuat berdasarkan
“kayaknya untung” atau “feeling sih
bagus”, itu seperti diet tanpa pernah
cek timbangan ujungnya bingung
kenapa tidak kurus-kurus.
Golisano mengingatkan: angka
tidak bohong.
Kalau dari laporan
terlihat ide bisnis itu tidak masuk
akal, hentikan sebelum makin
banyak biaya tak perlu keluar. Ini
bukan pesimis, tapi realistis.

3. Bicara dengan Investor Itu
Kayak Ngelamar Kerja

Saat melamar kerja, kamu ditanya:
pengalaman apa, keahlian apa,
kenapa layak diterima?
Investor pun begitu. Mereka ingin
tahu: kamu paham nggak cara
kerja bisnismu? Uangnya
mengalir dari mana ke mana?
Kenapa prospeknya bagus?

Kalau kamu tidak bisa menjelaskan
angka, itu seperti pelamar kerja yang
tidak bisa menjelaskan isi CV-nya
sendiri.
Karena itu, pemilik usaha harus siap
bicara gamblang dan jujur. Bahkan
kadang perlu punya rekan pemilik
(equity partner), seperti punya teman
kerja yang membantu agar karier
makin cepat naik.

4. Memilih Bentuk Usaha Itu
Seperti Memilih Helm

Helm ada yang murah, ada yang SNI,
ada yang full-face.
Memilih struktur hukum bisnis pun
sama: tiap pilihan punya tingkat
perlindungan berbeda.

Usaha perseorangan itu seperti helm
biasa cukup untuk jarak dekat tapi
tidak aman kalau kecelakaan besar.
Korporasi itu seperti helm full-face
lebih terlindungi, tapi biayanya lebih
mahal dan ada aturannya.

Makanya Golisano bilang:
konsultasikan dengan ahli. Sama
seperti tanya orang bengkel sebelum
beli helm yang tepat.

5. Membeli Bisnis Itu Seperti
Beli Rumah Bekas

Rumah bekas bisa terlihat bagus dari
luar, tapi kamu tidak tahu apakah
pipa bocor, listrik rusak, atau fondasi
retak.
Membeli bisnis pun begitu. Kamu
harus cek laporan keuangannya,
hutangnya, arus kasnya, sampai
alasan sebenarnya kenapa bisnis
itu dijual.

Kalau pemilik bilang “capek, mau
istirahat”, bisa benar… tapi bisa
juga ada masalah tersembunyi.
Makanya perlu “teknisi” akuntan,
analis keuangan, atau penasihat
profesional untuk memastikan kamu
tidak membeli rumah yang kelihatan
bagus padahal penuh masalah.

6. Menguasai Industri Itu
Seperti Jadi Pendatang
di Kampung Baru

Kalau kamu pindah ke kampung baru,
kamu perlu kenal tetangga, tahu
aturan sekitar, tahu toko mana yang
murah, dan siapa yang bisa bantu
kalau ada masalah.

Dalam bisnis pun sama: kamu harus
paham industrinya dan punya
jaringan.

Orang-orang inilah yang nanti
memberi info peluang, peringatan
risiko, sampai saran-saran yang tidak
kamu temukan di Google.

Optimisme boleh, tapi harus optimisme
yang “melek situasi”, bukan yang
sekadar menutup mata.

7. Mengelola Keuangan Itu
Seperti Menata Dompet Sendiri

Hidup akan berantakan kalau kamu
tidak tahu berapa uang masuk dan
uang keluar dari dompet.
Bisnis juga begitu: tanpa pengelolaan
uang yang rapi, usaha mudah goyah
ketika masalah datang.

Golisano menekankan: selalu kembali
ke dasar hitung dengan jujur,
cek ulang dengan data, dan
siap mengoreksi arah.

Itu prinsip yang membuat bisnis
bertahan lama, bukan sekadar
di awal jalan.

Memetakan Dasar-Dasar Bisnis
Seperti Menjual Popcorn

Tom Golisano mengajak pembaca
memahami bisnis seperti menjual
popcorn sesederhana menghitung:
berapa banyak pembeli yang
dibutuhkan untuk menutup biaya
dan mulai untung?

Contoh Kasus: Kios Popcorn
Mini

Biaya Tetap per Bulan:

  • Sewa kios: Rp2.000.000

  • Listrik: Rp400.000

  • Gaji penjaga: Rp1.500.000

  • Lain-lain: Rp300.000
    Total Biaya Tetap:
    Rp4.200.000

Biaya Variabel per Porsi:

  • Jagung, mentega, bumbu, cup:
    Rp3.000

  • Harga jual per porsi:
    Rp8.000
    Laba kotor per porsi:
    Rp5.000

Menghitung Titik Impas
(Break-Even Point)

Titik impas
= Biaya Tetap / Laba Kotor per Porsi
= Rp4.200.000 / Rp5.000
= 840 porsi per bulan

Artinya, jika kios tidak bisa menjual
minimal 840 porsi, bisnis akan
rugi.
Jika bisa menjual 1.500 porsi, maka:
Laba
= (1.500 × Rp5.000) – Rp4.200.000
= Rp3.300.000

Angka inilah yang harus dipahami
sebelum berani memperbesar usaha.

Menguasai Laporan Laba Rugi
yang Mencerminkan Kenyataan

Menurut Golisano, laporan laba rugi
harus berdasarkan fakta, bukan
harapan.

Contoh Kasus: Toko Kopi
Optimis Berlebihan

Seorang pemilik toko kopi
memperkirakan omset bulan
pertama: Rp50 juta.
Namun laporan nyata
menunjukkan: Rp31,5 juta.

Data Nyata Bulan Pertama:

  • Penjualan: Rp31.500.000

  • HPP bahan baku: Rp12.000.000

  • Biaya tetap
    (gaji, sewa, listrik, sistem POS):
    Rp18.000.000

Laba/Rugi:
31.500.000 – 12.000.000 – 18.000.000
= Rugi Rp– – – – – – – – –2.500.000

Jika hanya mengandalkan
“rasa ramai”, pemilik bisa salah
menilai bahwa bisnisnya maju.
Dengan angka ini, keputusan
rasional mungkin:

  • Mengurangi jam operasional
    sepi

  • Menambah item margin tinggi

  • Menghentikan menu yang
    merugikan

Kejujuran angka menyelamatkan
modal.

Menyiapkan Diri untuk
Berbicara dengan Investor
dan Pemberi Pinjaman

Investor ingin tahu bahwa Anda
memahami model bisnis Anda.

Contoh Kasus: Presentasi
ke Investor

Seorang pemilik brand minuman
ingin ekspansi. Ia menunjukkan:

  • Penjualan rata-rata per outlet:
    Rp2.400.000 per hari

  • Laba kotor: 55%

  • Biaya operasional per outlet:
    Rp20.000.000 per bulan

  • Laba bersih per outlet:
    (Rp2.400.000 × 30 × 55%)
    – Rp20.000.000
    = Rp19.600.000

Investor mau lanjut karena:

  • Angka jelas, bisa diverifikasi

  • Logika pertumbuhan realistis

  • Pemilik memahami titik impas
    & unit economics

Sebaliknya, investor akan mundur
jika data hanya berupa
“perkiraan optimis”.

Menentukan Struktur Hukum
yang Tepat untuk Perjalanan
Panjang

Golisano menekankan bahwa
struktur hukum memengaruhi
perlindungan dan pajak.

Contoh Kasus: Pilihan Bentuk
Usaha

Dua rekan membangun usaha
katering.

Pilihan 1 – Perseorangan

  • Pajak lebih sederhana

  • Tapi jika ada masalah makanan
    basi → tuntutan hukum bisa
    mengenai harta pribadi pemilik.

Pilihan 2 – PT

  • Modal disetor: Rp50 juta

  • Jika terjadi tuntutan, yang
    bertanggung jawab hanya
    perusahaan, bukan rumah
    pribadi.

Dengan PT, mereka menghindari
risiko kehilangan aset pribadi.
Konsultasi profesional memberi
arah yang benar.

Memeriksa Kelayakan Jika
Ingin Membeli Bisnis yang
Sudah Berjalan

Jangan pernah membeli bisnis tanpa
“membedah isi perutnya”.

Contoh Kasus: Membeli Toko
Roti yang Tampaknya Ramai

Penjual menawarkan harga:
Rp250 juta
Katanya omset perbulan:
Rp60 juta

Setelah buyer due diligence:

Data Nyata:

  • Omset stabil: Rp40 juta

  • HPP: Rp22 juta

  • Biaya gaji: Rp12 juta

  • Sewa: Rp6 juta
    Laba per bulan:
    40 – 22 – 12 – 6
    = Rp0 (impas)

Dengan laba nol, pembeli butuh
lebih dari 20 tahun untuk balik
modal.
Ini tanda bahwa bisnis tidak
layak dibeli
, bahkan jika terlihat
ramai.

Pengecekan ini menyelamatkan
pembeli dari kerugian besar.

Menguasai Industri dan
Membangun Relasi yang
Bernilai

Dalam industri apa pun, relasi
memberi insight yang tidak bisa
ditemukan lewat Google.

Contoh Kasus: Produsen
Makanan Beku

Seorang pengusaha makanan beku
bergabung dengan asosiasi industri.

Dari relasi, ia mendapat:

  • Info harga bahan baku tepung
    turun, karena panen surplus

  • Rekomendasi supplier yang
    lebih murah

  • Peluang masuk freezer
    minimarket lokal

Akibatnya:

  • HPP turun dari Rp8.000
    menjadi Rp6.300 per pack

  • Laba per pack naik dari
    Rp2.000 menjadi Rp3.700
    Jika terjual 3.000 pack
    per bulan → tambahan laba:
    3.000 × 1.700
    = Rp5.100.000

Relasi = keuntungan nyata.

Mengelola dan Menata
Keuangan dengan Lebih Serius

Segala keputusan bermuara pada
disiplin keuangan.

Contoh Kasus: Bisnis Fashion
yang Semrawut

Pemilik butik punya penjualan besar
(Rp90 juta/bulan) tetapi selalu
kehabisan uang.

Setelah membuat laporan keuangan:

  • HPP: Rp45 juta

  • Biaya operasional: Rp42 juta

  • Pengeluaran pribadi terselip:
    Rp8 juta

Total pengeluaran = 45 + 42 + 8
= Rp95 juta
Padahal omzet hanya Rp90 juta
Rugi Rp5 juta

Masalahnya bukan kurang
penjualan, tetapi tidak memisahkan
uang pribadi vs uang bisnis.

Setelah disiplin:

  • Pengeluaran pribadi dipisah

  • Stok berlebih dikurangi

  • Biaya operasional dihemat
    Rp7 juta

Usaha menjadi laba Rp12 juta/bulan.

Ini bukti bahwa “menghitung ulang”
bisa menyelamatkan usaha yang
hampir tumbang.

Contoh Kasus: Perjalanan
“Popcorn Corner” dari Ide,
Evaluasi, Hingga Siap Dibeli
Investor

1. Menguji Fondasi Bisnis:
Menghitung Inti Dasarnya

Sebelum membuka kios,
Dito ingin tahu:
Berapa pembeli per bulan yang
harus datang agar bisnis untung?

Biaya Tetap Bulanan

  • Sewa kios: Rp5.000.000

  • Listrik & air: Rp700.000

  • Gaji karyawan: Rp3.000.000

  • Perlengkapan & kebersihan:
    Rp300.000
    Total biaya tetap:
    Rp9.000.000

Biaya Variabel per Cup Popcorn

  • Bahan baku: Rp4.000

  • Cup & kemasan: Rp1.000
    Total biaya variabel: Rp5.000

Dito menjual popcorn dengan harga
Rp12.000 per cup.

Margin per cup:
Rp12.000 – Rp5.000 = Rp7.000

Titik Impas

Break-even = 9.000.000 / 7.000
1.285 cup per bulan

Berarti Dito harus menjual sekitar
43 cup per hari agar tidak rugi.
Jika ia hanya menjual 30 cup
per hari, ia pasti merugi.
Titik impas ini ia catat pada satu
halaman sederhana dasar fondasi
bisnisnya.

2. Menguasai Laporan Laba
Rugi yang Berdasarkan Data
Nyata

Bulan pertama, Dito mencatat
semua transaksi. Hasilnya:

Penjualan Nyata
(30 cup per hari)

30 cup × 30 hari × Rp12.000
= Rp10.800.000

HPP (Biaya Variabel)

30 cup × 30 hari × Rp5.000
= Rp4.500.000

Laba Kotor

10.800.000 – 4.500.000
= Rp6.300.000

Biaya Tetap

Rp9.000.000

Laba / Rugi

6.300.000 – 9.000.000
= Rugi Rp2.700.000

Dito sadar:
Perasaannya bilang bisnis “ramai”,
tetapi angka mengungkap kenyataan.
Ini membuatnya mengubah strategi
menambah varian rasa, memberi
promo bundling, dan aktif di TikTok
Food.

3. Menyiapkan Diri untuk
Bertemu Investor

Setelah bulan keempat, penjualan
stabil di 60 cup per hari.

60 × 30 × 12.000
= Rp21.600.000 omzet

Biaya variabel:
60 × 30 × 5.000 = Rp9.000.000

Laba kotor:
21.600.000 – 9.000.000
= Rp12.600.000

Biaya tetap: Rp9.000.000
Laba bersih: Rp3.600.000

Dito menunjukkan laporan ini
pada calon investor:

  • Laba bersih jelas

  • Ada tren stabil 4 bulan naik

  • Persentase margin bisa
    diverifikasi

  • Titik impas diketahui

  • Ada rencana pertumbuhan
    (buka 3 kios dalam setahun)

Investor tertarik karena Dito
mengerti angka bisnisnya,
bukan sekadar berjualan.

Investor menawarkan modal dengan
syarat memiliki 20% kepemilikan.
Dito setuju karena tahu kemitraan
bisa mempercepat ekspansi.

4. Menentukan Struktur
Hukum yang Tepat

Dengan investasi baru, Dito diminta
untuk mengubah usahanya dari
usaha perseorangan menjadi PT.

Keuntungan:

  • Melindungi aset pribadi
    (jika ada masalah hukum)

  • Lebih dipercaya investor
    dan bank

  • Lebih mudah mengelola
    pajak dan membuka cabang

Dito berkonsultasi dengan akuntan
dan pengacara untuk memastikan
struktur pajak dan kepemilikan
sesuai rencana jangka panjang.

5. Melakukan Due Diligence
Saat Ingin Membeli Toko
Popcorn Lama

Investor mengusulkan membeli
1 kios popcorn lama di mall lain.
Pemilik lama mengklaim omzet
Rp25 juta/bulan.

Setelah dicek:

Data Nyata Kios Lama

  • Omzet: Rp17 juta

  • HPP: Rp9,5 juta

  • Biaya operasional: Rp6 juta

  • Laba bersih: Rp1,5 juta

Harga yang diminta: Rp150 juta

Jika Dito membeli, ia butuh
100 bulan (8 tahun) untuk
balik modal.
Setelah dianalisis, Dito memutuskan
tidak membeli.

Keputusan rasional ini
menyelamatkannya dari beban
tak perlu persis pesan Golisano.

6. Menguasai Industri dan
Membangun Relasi

Dito mulai aktif dalam komunitas
UMKM makanan.

Dari relasi bisnis:

  • Ia mendapat supplier jagung
    yang lebih murah → HPP
    turun dari Rp5.000 menjadi
    Rp4.200

  • Ia mendapat peluang masuk
    area event kampus

  • Ia menemukan konsultan
    desain booth yang menaikkan
    penjualan 10–15%

Efek langsung:
Margin naik dari Rp7.000 menjadi
Rp7.800 per cup.

Jika menjual 60 cup per hari:
60 × 30 × 7.800
= Rp14.040.000 laba kotor
Naik sekitar Rp1.440.000 dari
bulan sebelumnya.

Relasi terbukti menghasilkan
keuntungan nyata.

7. Mengelola dan Menata
Keuangan dengan Serius

Setelah memiliki dua kios,
Dito mulai kewalahan arus kas.
Masalah ditemukan:

  • Campur uang pribadi & bisnis

  • Tidak ada akun terpisah

  • Terlalu sering membeli stok
    berlebihan

Setelah membuat sistem:

  • Rekening bisnis dipisah

  • Pembelian bahan baku
    dibatasi sesuai penjualan
    rata-rata

  • Laporan keuangan dibuat
    mingguan

  • Dana darurat bisnis disiapkan
    sebesar 3 bulan biaya tetap
    → 3 × 9.000.000
    = Rp27.000.000

Hasilnya:

  • Arus kas stabil

  • Tidak ada lagi “kehabisan
    uang di tengah bulan”

  • Investor semakin percaya

  • Bisnis siap membuka cabang
    ketiga

Semua perubahan ini terjadi karena
Dito kembali pada fondasi:
menghitung dengan jujur dan
mengambil keputusan
berdasarkan data
.

Kesimpulan: Satu Kasus,
Semua Prinsip Golisano
Terjawab

Dito memulai dari:

  • Menghitung titik impas

  • Membuat laporan laba rugi
    realistis

  • Memahami angka sebelum
    berbicara dengan investor

  • Menentukan struktur hukum
    yang tepat

  • Melakukan due diligence
    sebelum membeli bisnis

  • Membangun relasi untuk
    memperkuat pondasi industri

  • Mengatur keuangan dengan
    disiplin

Dan semuanya membentuk satu
perjalanan bisnis yang solid, terarah,
dan tahan jangka panjang selaras
dengan pesan Built, Not Born.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *