Menghindari Perangkap Surrogation
Ketika Ukuran Pengganti
Mengambil Alih Tujuan Asli
Salah satu peringatan paling penting
dalam When More Is Not Better
adalah bahaya surrogation: kondisi
ketika sebuah perusahaan mengganti
tujuan asli dengan ukuran pengganti
(proxy), lalu tanpa sadar mulai
mengejar angka tersebut seolah-olah
itu adalah tujuannya.
Martin menekankan bahwa proxy
seharusnya hanya alat bantu, bukan
arah baru. Namun dalam praktiknya,
angka-angka ini sering menjadi
kompas palsu. Fokus berlebihan
pada pengurangan biaya, peningkatan
output, atau percepatan proses
perlahan membuat perusahaan
melupakan alasan mereka ada:
memberikan nilai bagi pelanggan dan
memastikan sistem bisnis tetap sehat
dalam jangka panjang.
Di sinilah perangkap surrogation
bekerja diam, halus, dan sering baru
disadari setelah kerusakan besar
terjadi.
Ketika Efisiensi Diburu
Berlebihan
Salah satu bentuk surrogation paling
umum muncul ketika perusahaan
mengejar efisiensi biaya tenaga kerja.
Secara teori, pengurangan biaya
memang meningkatkan profitabilitas.
Namun pengejaran ini sering
membuat perusahaan kehilangan
gambaran besar.
Martin menunjukkan bahwa fokus
sempit pada biaya tenaga kerja dapat
menimbulkan konsekuensi negatif:
layanan pelanggan menurun
kualitas interaksi melemah
moral karyawan merosot
pengalaman pelanggan
memburukreputasi rusak dan akhirnya
profitabilitas ikut turun
Dengan kata lain, perusahaan dapat
mencapai target angka, tetapi
menghancurkan sistem yang
membuat angka itu mungkin
tercapai di awal.
Efisiensi yang dikejar tanpa konteks
membuat sistem rapuh, bukan lebih
kuat.
Menggunakan Banyak Ukuran
untuk Menjaga Tujuan Tetap
Jelas
Untuk menghindari surrogation,
Martin menyarankan penggunaan
multiple measures. Satu ukuran
tidak akan pernah cukup
merepresentasikan kualitas,
kesehatan sistem, atau tujuan
organisasi.
Beberapa alasan mengapa banyak
ukuran lebih aman:
setiap ukuran mengimbangi
bias ukuran lainperusahaan dipaksa melihat
gambaran lebih luasmanajer lebih berhati-hati
mengambil keputusan ekstrem
demi satu angkatujuan asli tetap berada
di depan, bukan tergeser
oleh angka pengganti
Dengan menggunakan beberapa
indikator, organisasi menjaga
keseimbangan: efektivitas tetap
penting, tetapi kesehatan sistem
tidak dikorbankan.
Membangun Friksi yang
Disengaja
Salah satu ide paling menarik dalam
buku ini adalah konsep desirable
friction—friksi yang sengaja
ditambahkan untuk menjaga sistem
tetap manusiawi dan lestari.
Efisiensi sering diglorifikasi, tetapi
Martin menegaskan bahwa tidak
semua friksi buruk. Terkadang,
sedikit perlambatan justru
membantu:
memastikan kualitas interaksi
memberi ruang bagi intuisi
karyawanmenjaga hubungan dengan
pelanggan tetap personalmengingatkan perusahaan
bahwa mereka bekerja dalam
ekosistem, bukan mesin
Friksi yang dirancang dengan baik
berfungsi seperti penyangga:
mencegah perusahaan mengambil
jalan pintas dan mengingatkan bahwa
tujuan tidak selalu bisa direduksi
menjadi angka.
Pelajaran dari Southwest
Airlines
Southwest Airlines menjadi contoh
sukses perusahaan yang menghindari
surrogation. Alih-alih menyerahkan
tujuan besar pada satu ukuran,
mereka menggunakan serangkaian
metrik yang saling mengimbangi.
Beberapa prinsip mereka:
mengutamakan kepuasan
pelangganmenjaga kepuasan dan
kesejahteraan pekerjatetap profitabel tanpa
mengorbankan nilai inti
Mereka tidak menekan biaya tenaga
kerja demi “efisiensi semu”. Mereka
justru memahami bahwa kebahagiaan
pekerja memberikan nilai jangka
panjang yang tidak bisa diukur oleh
satu angka saja.
Metrik mereka memang tampak
kontradiktif namun justru itu yang
membuat perusahaan tetap stabil.
Dengan menjaga banyak tujuan
sekaligus, mereka tidak terjerumus
pada fokus sempit yang merusak.
Semangat “Semua Orang
Bertanggung Jawab” ala
Four Seasons
Four Seasons memberikan contoh
lain bagaimana sebuah perusahaan
dapat menyeimbangkan efisiensi
dan kesehatan sistem.
Mereka tidak menggunakan
pendekatan silo: layanan pelanggan
bukan hanya tugas divisi tertentu,
tetapi menjadi tanggung jawab
semua karyawan. Dengan cara ini,
tujuan asli menciptakan pengalaman
luar biasa bagi tamu tidak pernah
tergeser oleh ukuran pengganti
seperti waktu respons, biaya tenaga
kerja, atau tingkat hunian.
Pendekatan ini menciptakan
perusahaan yang:
tetap unggul
melayani dengan kualitas
tinggimenjaga profitabilitas tanpa
mengorbankan pengalaman
manusia
Four Seasons menunjukkan bahwa
jika tujuan inti terus dijaga bersama,
surrogation sulit terjadi.
Menjaga Sistem Agar Tetap
Hidup
Inti dari semua catatan ini adalah
kesadaran bahwa perusahaan
bukanlah mesin yang bisa
dimaksimalkan dengan satu tombol
“efisiensi”. Mereka adalah sistem
hidup yang terdiri dari manusia,
interaksi, nilai, dan hubungan.
Surrogation terjadi ketika perusahaan
lupa bahwa angka hanyalah
representasi kasar dari tujuan asli.
Dengan belajar dari contoh Southwest
dan Four Seasons dua perusahaan
yang memahami nilai keseimbangan
kita dapat melihat bahwa
keberlanjutan jangka panjang hanya
mungkin tercapai ketika organisasi
berani menolak obsesi sempit pada
angka tunggal dan kembali
memprioritaskan sistem secara utuh.
Ketika Angka Menggantikan
Tujuan Asli
Bayangkan kamu sedang diet. Tujuan
sebenarnya: lebih sehat.
Tapi kamu memakai berat badan
sebagai ukuran keberhasilan.
Lama-lama kamu tidak lagi fokus
pada kesehatan kamu cuma ingin
angka di timbangan turun.
Akhirnya kamu makan sangat sedikit,
tubuh lemas, dan mudah sakit.
Angkanya tercapai, tapi tujuan
besarnya hilang.
Itulah yang disebut surrogation:
angka yang awalnya hanya alat bantu,
tiba-tiba mengambil alih tujuan
sebenarnya.
Efisiensi yang Dikejar Berlebihan:
Seperti Rumah yang Terlalu
Dipadatkan
Bayangkan kamu ingin rumahmu
kelihatan rapi.
Kamu mulai membuang banyak
barang supaya rumah tidak
“terlihat penuh”.
Tapi lama-lama kamu membuang:
piring yang kamu butuhkan,
alat masak,
hingga jaket kesayangan.
Rumah memang jadi “efisien dan
kosong”, tapi kamu mulai kerepotan:
tamu datang tidak ada piring, masak
susah, keluar malam kedinginan.
Banyak perusahaan juga begitu:
mengejar pengurangan biaya tenaga
kerja demi angka “lebih efisien”.
Angka tercapai tapi layanan jadi buruk,
karyawan stres, pelanggan kabur,
reputasi rusak.
Seperti rumah rapi tapi tidak layak
dihuni.
Kenapa Perlu Banyak Ukuran?
Ibarat Memantau Anak Sekolah
Kalau orang tua menilai anaknya
hanya dari nilai matematika,
mereka bisa salah besar.
Anak mungkin pintar matematika,
tapi stres, kurang tidur, dan
kehilangan kreativitas.
Makanya orang tua biasanya
melihat banyak hal:
nilai pelajaran lain,
sikap,
kesehatan,
keaktifan,
dan kebahagiaan anak.
Begitu juga perusahaan.
Satu angka saja tidak cukup untuk
tahu apakah bisnis benar-benar
sehat.
Banyak ukuran membuat arah tetap
jelas dan tidak mudah melenceng.
Friksi yang Disengaja: Rem
Tangan di Jalan Turunan
Bayangkan kamu turun dari jalan
yang curam. Mobilmu pasti butuh
rem.
Kalau terlalu lancar tanpa hambatan,
kamu akan meluncur terlalu cepat
dan bahaya.
Friksi yang disengaja adalah rem
kecil yang membuat kamu tetap
aman:
mengurangi kecepatan,
memberi waktu berpikir,
menghindari keputusan buru-buru.
Dalam bisnis, tidak semua
“pelambatan” itu buruk.
Kadang butuh sedikit proses
tambahan supaya kualitas tetap
terjaga dan hubungan dengan
pelanggan tetap manusiawi.
Belajar dari Southwest Airlines:
Seperti Keluarga yang Menjaga
Banyak Prioritas
Bayangkan sebuah keluarga yang
mengatur keuangan.
Mereka tidak hanya fokus pada
“hemat sebesar-besarnya”.
Mereka juga memastikan:
anak tetap sehat,
rumah tetap nyaman,
hubungan keluarga tetap hangat,
tabungan tetap ada.
Kadang terlihat kontradiktif.
Tapi keseimbangan ini membuat
keluarga stabil dalam jangka panjang.
Southwest Airlines juga begitu.
Mereka tidak fokus pada satu angka
saja misalnya biaya tenaga kerja.
Mereka melihat seluruh gambaran:
kebahagiaan karyawan, kepuasan
pelanggan, dan kesehatan perusahaan.
Hasilnya: kokoh dan jarang terjebak
pada keputusan ekstrem.
Four Seasons: Rumah yang
Semua Penghuninya Ikut
Menjaga Kebersihan
Anggap rumahmu selalu rapi bukan
karena ada satu orang yang bertugas,
tapi semua penghuni ikut peduli.
Ada yang mengangkat sepatu,
ada yang menyapu,
ada yang membereskan meja.
Karena semua merasa bertanggung
jawab, rumah tetap bersih tanpa
harus mengejar angka
“berapa menit bersih-bersih per hari”.
Four Seasons melakukan hal yang
sama.
Mereka tidak menyerahkan kualitas
layanan hanya pada satu divisi.
Semua karyawan terlibat, sehingga
tujuan asli pengalaman tamu yang
luar biasa selalu diingat dan tidak
tergeser oleh sekadar angka
operasional.
Pada Akhirnya: Perusahaan Itu
Seperti Kebun, Bukan Mesin
Mesin bisa kamu paksa bekerja
secepat mungkin.
Tapi kebun tidak bisa diperlakukan
seperti itu.
Kalau kamu hanya fokus pada
jumlah buah yang dipanen, kamu bisa:
memupuk berlebihan,
menebang terlalu banyak ranting,
atau menyiram terlalu sedikit.
Mungkin panen meningkat sesaat
tapi tanah rusak, pohon sakit, dan
jangka panjangnya gagal.
Itulah yang terjadi saat perusahaan
terjebak surrogation.
Mereka lupa bahwa bisnis bukan
mesin yang bisa dimaksimalkan
dengan satu tombol.
Bisnis adalah kebun yang hidup
perlu keseimbangan, waktu,
perhatian, dan beberapa ukuran
sekaligus agar tetap sehat.
Berikut contoh-contoh kasus
Contoh Kasus 1: Efisiensi yang
Malah Menghancurkan
Pengalaman Pelanggan
Sebuah perusahaan ritel besar
menetapkan proxy baru:
“Biaya tenaga kerja harus
turun 15% dalam 6 bulan.”
Tujuan aslinya seharusnya:
meningkatkan profit tanpa
mengorbankan pengalaman
pelanggan.
Apa yang dilakukan manajemen?
Mengurangi jam kerja pegawai
toko
Dari 20 pegawai → hanya
14 pegawai.Total gaji yang awalnya
Rp 200.000.000/bulan
berhasil ditekan menjadi
Rp 170.000.000/bulan.
Perusahaan berhasil mencapai
target penghematan 15%.
Secara angka, terlihat sukses.
Tapi apa yang terjadi
di lapangan?
Waktu antrean bertambah
dari rata-rata 3 menit
→ 12 menitPelanggan yang komplain
naik dari 40 kasus/bulan
→ 140 kasus/bulan1.200 pelanggan setia pindah
belanja ke pesaingPerkiraan “kerugian pelanggan”
(CLV yang hilang):
1.200 pelanggan
× Rp 3.000.000/tahun
= Rp 3,6 miliar per tahun
Hasil akhirnya?
Walau hemat Rp 30 juta per bulan,
perusahaan kehilangan potensi
pendapatan miliaran rupiah.
Inilah surrogation: angka “biaya
tenaga kerja turun” menang,
sementara tujuan besar “pelanggan
puas dan loyal” kalah.
Contoh Kasus 2: Ketika Proxy
Merusak Moral dan Kinerja K
aryawan
Sebuah call center diberi target baru:
“Setiap agen harus merespons
panggilan dalam waktu
< 45 detik.”
Tujuan aslinya:
memberikan solusi yang tepat
dan membuat pelanggan
merasa dihargai.
Yang terjadi di lapangan
Agar memenuhi proxy, agen:
buru-buru menutup panggilan,
tidak mendengarkan keluhan
pelanggan sampai tuntas,sering mengalihkan panggilan
ke divisi lain.
Dalam 3 bulan, angkanya memang
bagus:
Waktu respons rata-rata
turun dari 1 menit → 40 detik.
Tetapi:
Penyelesaian masalah pada
panggilan pertama
(First Call Resolution)
turun dari 82% → 57%Keluhan pelanggan naik 78%
12 karyawan resign lebih
cepat karena stres
Jika biaya rekrut + training
setiap agen = Rp 8.000.000
Maka total biaya kehilangan
karyawan:
12 × Rp 8.000.000
= Rp 96 juta
Jadi, angka “40 detik” tercapai,
tapi sistem rusak.
Contoh Kasus 3: Multiple
Measures Menyelamatkan
Usaha Restoran
Sebuah restoran awalnya memakai
satu ukuran tunggal:
“Kecepatan penyajian harus
di bawah 7 menit.”
Ini menyebabkan:
Koki bekerja terburu-buru
Pesanan sering meleset
Pelanggan mulai mengeluh soal
rasa dan ketidaktepatan
Restoran menyadari bahaya
surrogation lalu mengganti sistemnya
dengan multiple measures:
Tiga indikator baru:
Kecepatan penyajian: target
8–10 menit
(wajar, tidak memaksa)Tingkat akurasi pesanan:
harus > 95%Rating rasa dari pelanggan:
minimal 4,7/5
Hasil setelah 1 bulan:
Kecepatan penyajian naik
sedikit dari 7 menit → 9 menitTapi akurasi naik dari
85% → 98%Rating rasa naik dari 4,2 → 4,8
Pendapatan naik 18%
(dari Rp 280 juta → Rp 330 juta)
Di sini terlihat:
sedikit “friksi” (waktu penyajian
agak lebih lama) justru
menyelamatkan kualitas dan
bisnis.
Contoh Kasus 4: Desirable
Friction yang Disengaja
Mengurangi Refund Palsu
Sebuah e-commerce sering
mengalami kerugian karena refund
abal-abal, sekitar
Rp 450 juta per bulan.
Lalu mereka menambahkan
desirable friction:
Jika ingin refund, pelanggan
wajib melakukan upload video
unboxing barang, durasi
minimal 30 detik.Mereka juga harus mengisi
formulir 3 pertanyaan agar tim
bisa menilai apakah masalah
nyata atau tidak.
Yang terjadi:
Waktu pengajuan refund
memang sedikit lebih lama
(bertambah 5–7 menit).Tetapi refund palsu turun dari
2.500 kasus → hanya 400
kasus per bulan.Kerugian turun dari
Rp 450 juta → Rp 70 juta.
Pengguna jujur tetap bisa refund.
Pengguna nakal langsung malas.
Sistem menjadi lebih sehat tanpa
membebani pelanggan loyal.
Contoh Kasus 5: Southwest
Airlines
Southwest tidak menggunakan
satu proxy seperti:
“Turunkan biaya tenaga kerja 10%.”
Sebaliknya, mereka menjaga
3 indikator besar:
Kepuasan pekerja:
harus > 85%Kepuasan pelanggan:
harus > 80%Profitabilitas:
margin minimal 10%
Misalnya dalam satu tahun:
Gaji karyawan naik 6%
→ biaya meningkat
Rp 1,2 triliunTetapi produktivitas naik 11%
Keterlambatan pesawat
turun 9%Kepuasan penumpang naik
dari 81% → 88%
Akibatnya:
Pendapatan naik 14%
Margin tetap sehat 12%
Southwest “mengorbankan” angka
efisiensi jangka pendek,
tetapi memenangkan stabilitas
jangka panjang.
