Dalam Misbehaving, Richard
H. Thaler menyoroti salah satu
fondasi terpenting dalam teori
keuangan modern: Efficient Market
Hypothesis (EMH). Hipotesis ini
menyatakan bahwa harga saham
di pasar selalu mencerminkan nilai
wajarnya, yaitu nilai sekarang dari
dividen masa depan yang diharapkan.
Jika asumsi ini benar, maka pasar
dianggap rasional, informasi langsung
tercermin dalam harga, dan peluang
untuk secara konsisten mengalahkan
pasar hampir tidak ada.
Namun, Thaler menunjukkan bahwa
keyakinan ini tidak berdiri tanpa celah.
Ia mengajak pembaca untuk melihat
kembali apakah pasar benar-benar
berperilaku seperti yang diasumsikan
oleh teori tersebut, atau justru
menunjukkan pola-pola yang sulit
dijelaskan oleh rasionalitas murni.
Harga Saham dan Dividen:
Hubungan yang Tidak Stabil
Salah satu pilar utama EMH adalah
hubungan erat antara harga saham
dan dividen masa depan.
Jika investor rasional dan informasi
tersebar merata, maka fluktuasi
harga seharusnya mencerminkan
perubahan yang masuk akal pada
prospek dividen. Akan tetapi,
temuan empiris menunjukkan
sesuatu yang berbeda.
Dalam catatan penting tahun 1981,
Robert Shiller menemukan bahwa
harga saham perusahaan yang
membayar dividen berfluktuasi
jauh lebih besar dibandingkan
perubahan dividen itu sendiri.
Dengan kata lain, harga bergerak
terlalu liar jika dibandingkan dengan
dasar fundamentalnya. Jika dividen
relatif stabil, tetapi harga saham naik
turun secara ekstrem, maka muncul
pertanyaan besar: apa sebenarnya
yang sedang dicerminkan oleh harga
pasar?
Temuan ini secara langsung
mengguncang klaim bahwa pasar
selalu efisien. Jika harga benar-benar
mencerminkan nilai intrinsik,
variasinya seharusnya sejalan
dengan perubahan nilai tersebut,
bukan melampauinya.
Temuan Shiller dan Retaknya
Efficient Market Hypothesis
Penelitian Shiller menjadi titik balik
penting dalam perdebatan tentang
efisiensi pasar. Ia tidak sekadar
menunjukkan anomali kecil,
melainkan memperlihatkan bahwa
pergerakan harga saham sering kali
tidak proporsional terhadap
informasi fundamental yang tersedia.
Bagi Thaler, temuan ini sangat
signifikan karena membuka ruang
bagi penjelasan alternatif. Jika harga
tidak sepenuhnya ditentukan oleh
perhitungan rasional atas dividen
masa depan, maka ada faktor lain
yang memengaruhi perilaku investor.
Dengan demikian, EMH tidak lagi
dapat diterima sebagai deskripsi
akurat tentang bagaimana pasar
benar-benar bekerja, melainkan
hanya sebagai model ideal.
Closed-End Funds: Diskon
yang Sulit Dijelaskan
Selain pasar saham secara umum,
Thaler juga menyoroti fenomena
closed-end funds sebagai tantangan
nyata bagi EMH. Closed-end funds
memiliki nilai aset bersih (net asset
value/NAV) yang jelas dan dapat
dihitung. Secara teori, harga pasar
dana ini seharusnya sangat dekat
dengan nilai aset bersihnya.
Faktanya, closed-end funds
sering kali diperdagangkan dengan
harga diskon terhadap NAV. Artinya,
investor dapat membeli sekumpulan
aset dengan harga lebih murah
daripada nilai pasar aset tersebut.
Dalam kerangka EMH, kondisi ini
sulit dijelaskan dan seharusnya
cepat terkoreksi oleh mekanisme
arbitrase.
Namun, diskon ini sering bertahan
lama. Fenomena tersebut
menunjukkan bahwa harga pasar
tidak selalu bergerak menuju nilai
fundamental secara cepat dan
mulus, seperti yang diasumsikan
oleh teori pasar efisien.
EMH sebagai Panduan
Normatif, Bukan Cermin
Realitas
Thaler tidak serta-merta menolak
Efficient Market Hypothesis
sepenuhnya. Ia menempatkan EMH
sebagai panduan normatif, yaitu
gambaran tentang bagaimana pasar
seharusnya bekerja jika seluruh
pelaku benar-benar rasional dan
bebas dari bias.
Masalahnya muncul ketika EMH
digunakan sebagai alat prediksi
perilaku pasar yang nyata. Dalam
praktiknya, pasar diisi oleh
manusia dengan keterbatasan
kognitif, emosi, dan kecenderungan
psikologis tertentu. Akibatnya,
harga sering kali menyimpang dari
nilai fundamental untuk jangka
waktu yang lama.
Dalam konteks ini, EMH lebih cocok
dipahami sebagai standar ideal,
bukan sebagai deskripsi akurat atas
apa yang benar-benar terjadi
di pasar keuangan.
Membuka Perdebatan Baru
tentang Efisiensi Pasar
Penelitian Shiller dan fenomena
seperti closed-end funds memicu
perdebatan luas tentang sejauh
mana pasar dapat dianggap efisien.
Thaler menekankan bahwa
temuan-temuan ini tidak hanya
meruntuhkan kepercayaan lama,
tetapi juga memaksa para ekonom
untuk mencari perspektif baru.
Perdebatan ini menjadi pintu masuk
bagi pendekatan yang lebih realistis
terhadap pasar, di mana perilaku
investor dan dinamika psikologis
tidak lagi diabaikan. Dengan
demikian, pasar tidak dipandang
sebagai mesin rasional yang
sempurna, melainkan sebagai sistem
kompleks yang sering kali
menyimpang dari logika teoritis.
Mengganggu Keyakinan
Tradisional dan Mengubah
Cara Pandang
Bagian Rethinking the Efficient
Market Hypothesis dalam
Misbehaving menunjukkan
bagaimana satu rangkaian temuan
empiris mampu mengguncang
fondasi teori keuangan arus utama.
Dengan mempertanyakan hubungan
antara harga dan dividen, serta
menyoroti anomali seperti diskon
closed-end funds, Thaler
memperlihatkan keterbatasan EMH
dalam menjelaskan perilaku pasar
yang sesungguhnya.
Alih-alih menerima pasar sebagai
sepenuhnya efisien, pembaca diajak
untuk memahami bahwa realitas
pasar jauh lebih rumit. Inilah titik
awal perubahan cara pandang
dalam ilmu keuangan, dari
keyakinan pada rasionalitas
sempurna menuju pemahaman
yang lebih kaya tentang bagaimana
pasar benar-benar berperilaku.
Menggugat Keyakinan Lama
tentang Pasar Efisien
Bayangkan pasar saham itu seperti
pasar sayur. Teori Efficient
Market Hypothesis (EMH)
beranggapan bahwa harga cabai,
tomat, atau beras di pasar selalu
pas dengan kualitas dan jumlah
barangnya. Jika kualitas naik, harga
naik sedikit. Jika kualitas turun,
harga turun sedikit. Tidak ada
harga yang “ngaco”.
Menurut EMH, pasar saham juga
begitu. Harga saham dianggap
selalu mencerminkan nilai
wajarnya, yang dalam konteks
saham diukur dari uang yang
akan dibagikan di masa depan
(dividen). Kalau semua orang
rasional dan informasinya merata,
harga seharusnya tenang, logis,
dan sulit ditebak.
Masalahnya, kenyataan tidak
sesederhana itu.
Harga Saham dan Dividen:
Seperti Harga Rumah yang
Naik Turun Padahal Sewanya
Tetap
Coba bayangkan sebuah rumah
kontrakan. Uang sewa yang diterima
pemilik rumah relatif stabil setiap
tahun. Secara logika, harga rumah
juga seharusnya bergerak
pelan-pelan mengikuti sewa tersebut.
Namun yang sering terjadi justru
begini:
Robert Shiller menemukan hal
serupa di pasar saham. Dividen
perusahaan ibarat uang sewa
tidak banyak berubah. Tapi harga
sahamnya ibarat harga rumah
bergerak liar.
Kalau dasar penghasilannya sama,
kenapa harganya bisa jungkir balik?
Ini seperti melihat orang menawar
rumah dengan emosi, bukan
dengan hitungan.
Temuan Shiller: Harga Terlalu
Ribut untuk Alasan yang
Terlalu Kecil
Shiller pada dasarnya berkata:
“Kalau harga benar-benar rasional,
seharusnya ia tidak bereaksi
berlebihan.”
Analoginya seperti volume radio.
Informasi fundamental itu
volumenya kecil, tapi harga saham
bereaksi seperti tombol volume
diputar maksimal. Terlalu keras
untuk pesan yang sebenarnya
biasa saja.
Bagi Thaler, ini tanda bahwa pasar
tidak hanya digerakkan oleh logika,
tapi juga oleh perasaan,
ekspektasi, dan kepanikan.
Closed-End Funds: Seperti Paket
Sembako yang Dijual Lebih
Murah dari Isinya
Bayangkan ada paket sembako berisi:
Kalau total harga di warung adalah
Rp1.000.000, secara logika paket
itu juga dijual mendekati angka
tersebut.
Namun yang terjadi di closed-end
funds mirip dengan:
Isi paket Rp1.000.000
Tapi dijual Rp900.000
Dan anehnya, kondisi ini bisa
bertahan lama.
Kalau pasar benar-benar efisien,
harusnya orang langsung menyerbu
paket murah itu sampai harganya
naik. Tapi kenyataannya, banyak
orang tetap ragu, takut, atau
ikut-ikutan orang lain. Harga pun
tetap “salah” cukup lama.
EMH: Ideal di Buku, Ribet
di Dunia Nyata
Thaler tidak mengatakan EMH
sepenuhnya salah. Ia lebih seperti
aturan lalu lintas di buku
ujian: semua pengemudi rasional,
taat, dan tenang.
Masalahnya, jalanan nyata diisi oleh:
Pengemudi emosional
Orang terburu-buru
Orang ikut-ikutan
Orang panik
Pasar juga begitu. Diisi manusia,
bukan mesin hitung.
Membuka Cara Pandang Baru
tentang Pasar
Temuan Shiller dan contoh
closed-end funds ibarat retakan
di dinding teori lama. Dari
retakan kecil ini, terlihat bahwa:
Harga tidak selalu
mencerminkan nilai
Kesalahan bisa bertahan
lama
Psikologi manusia punya
peran besar
Inilah pintu masuk bagi keuangan
perilaku (behavioral finance), yang
tidak lagi berpura-pura bahwa
semua investor selalu tenang
dan rasional.
Kesimpulan
Jika EMH berkata:
“Pasar selalu tahu harga
yang benar.”
Thaler dan Shiller menunjukkan:
“Pasar sering bereaksi seperti
manusia emosional, berisik, dan
kadang berlebihan.”
Bukan berarti pasar selalu salah,
tapi tidak selalu masuk akal.
Memahami ini membantu kita
melihat pasar bukan sebagai mesin
sempurna, melainkan sebagai
kerumunan manusia dengan segala
kelebihan dan kelemahannya.
Berikut contoh-contoh kasus
1. Jika Pasar Benar-Benar
Efisien: Gambaran Ideal EMH
Bayangkan sebuah perusahaan fiktif,
PT Stabil Dividen.
Dividen tahunan saat ini:
Rp1.000 per saham
Investor memperkirakan
dividen ini stabil untuk
waktu lama
Tingkat imbal hasil wajar
(discount rate):
10% per tahun
Menurut logika EMH sederhana,
nilai sahamnya kira-kira:
Harga wajar ≈ Rp1.000 / 10%
= Rp10.000 per saham
Jika tahun depan tidak ada
perubahan besar pada dividen atau
risiko, maka harga saham
seharusnya tidak jauh dari
Rp10.000. Fluktuasi kecil masih
masuk akal, tetapi perubahan besar
seharusnya hanya terjadi jika
dividen atau prospeknya
benar-benar berubah.
2. Harga Saham Bergerak
Terlalu Liar Dibanding Dividen
Sekarang lihat apa yang sering
terjadi di dunia nyata.
Masih dengan PT Stabil Dividen:
Namun di pasar:
Januari: harga saham
Rp10.000
Juni: harga naik ke
Rp18.000
Desember: harga turun ke
Rp9.000
Padahal dividen tidak berubah
sama sekali.
Jika harga benar-benar
mencerminkan nilai dividen
masa depan, pertanyaannya:
Inilah yang ditunjukkan Shiller:
harga saham jauh lebih
bergejolak daripada
fundamentalnya.
3. Ilustrasi Temuan Shiller
dalam Angka Sederhana
Bayangkan selama 10 tahun:
Rata-rata dividen naik pelan
dari Rp1.000 ke
Rp1.200 (naik 20%)
Secara logika, nilai saham
seharusnya naik kira-kira
di kisaran yang sama
Tetapi kenyataannya:
Dividen hanya berubah Rp200,
tetapi harga berubah Rp20.000.
Selisih inilah yang membuat
Shiller bertanya:
Jika dividen yang mendasari
nilai relatif stabil, apa yang
menyebabkan harga bergerak
sedrastis itu?
4. Closed-End Funds: Diskon
yang Menggoda tapi Bertahan
Lama
Sekarang contoh yang lebih “aneh”
lagi: closed-end fund.
Misalnya ada Dana Nusantara
Fund:
Maka:
Secara logika EMH:
Harga pasar ≈ Rp10.000
Namun di pasar:
Artinya:
Jika pasar benar-benar efisien:
Faktanya:
5. Mengapa Diskon Itu Tidak
Hilang?
Dalam teori EMH, kondisi ini
hampir tidak masuk akal.
Namun dalam praktik:
Investor ritel:
Investor besar:
Arbitrase tidak semudah
teori
Ada biaya, risiko, dan
keterbatasan likuiditas
Akibatnya:
Harga tetap menyimpang dari
nilai aset bersihnya, meski
nilainya jelas dan transparan.
Ini bukan kesalahan kecil, tapi
tantangan serius bagi asumsi
pasar efisien.
6. EMH sebagai Standar Ideal,
Bukan Kenyataan
Dari dua contoh di atas:
Harga saham:
Dividen stabil
Harga naik-turun ekstrem
Closed-end fund:
Nilai aset jelas
Harga tetap diskon lama
Keduanya menunjukkan hal yang
sama:
Pasar tidak selalu langsung dan
sempurna mencerminkan nilai
fundamental.
EMH mungkin menggambarkan
bagaimana pasar seharusnya
bekerja,
tetapi bukan bagaimana pasar
selalu bekerja.
7. Kesimpulan Kasus Nyata
Dengan contoh angka sederhana ini,
bisa melihat bahwa kritik Thaler
bukan sekadar teori abstrak.
Jika harga benar-benar
rasional, perubahan dividen
kecil tidak akan diikuti gejolak
harga besar
Jika arbitrase bekerja
sempurna, diskon closed-end
fund tidak akan bertahan lama
Karena kenyataannya tidak
demikian, maka:
Pasar lebih masuk akal dipahami
sebagai arena manusia nyata
dengan emosi, bias, dan
keterbatasan bukan mesin
rasional tanpa cela.
Inilah inti gugatan Thaler terhadap
keyakinan lama tentang pasar
efisien.