buku

Mengelilingi Diri dengan Energi yang Lebih Tinggi

Salah satu gagasan penting dalam
Good Vibes, Good Life adalah tentang
energi dan getaran (vibration).
Vex King menjelaskan bahwa energi
itu menular. Kita secara alami tertarik
pada orang-orang yang memiliki
frekuensi yang sama dengan kita.
Inilah yang disebut sebagai hukum
getaran: kita menarik orang sesuai
dengan frekuensi emosi dan energi
yang kita pancarkan.

Karena itu, penting untuk mengelilingi
diri dengan orang-orang yang “bergetar”
lebih tinggi daripada kita. Berada
di sekitar orang-orang yang merasa
lebih baik, yang lebih positif, dan lebih
optimis akan membantu kita ikut
merasakan emosi yang lebih baik.
Ketika kita mulai lebih sering
merasakan emosi positif, kita akan
menarik lebih banyak orang positif
ke dalam hidup. Siklus ini
memperkuat lingkaran energi baik
di sekitar kita dan menciptakan
suasana hidup yang lebih sehat
secara emosional.

Sebaliknya, jika kita terus berada
dalam lingkungan yang penuh
keluhan, drama, dan pesimisme,
kita akan lebih mudah terseret
ke frekuensi yang sama. Maka memilih
lingkungan bukan sekadar soal
pergaulan, tetapi tentang menjaga
kualitas getaran diri.

Mengubah Bahasa Tubuh Saat
Segalanya Tidak Berjalan Baik

Ketika keadaan memburuk, tersenyum
terasa sulit. Namun Vex King mengutip
penelitian tahun 2003 yang
menunjukkan bahwa senyum palsu pun
bisa memengaruhi otak. Saat kita
memaksakan senyum, otak dapat
“tertipu” dan melepaskan hormon
endorfin—hormon yang membuat
kita merasa lebih baik. Artinya,
tubuh bisa memengaruhi pikiran.

Ini bukan tentang berpura-pura
menjadi orang lain demi mencari
perhatian. Penulis membedakan
antara berpura-pura memiliki bakat
atau aset tertentu untuk mendapat
validasi, dengan bertindak seolah kita
lebih percaya diri untuk meningkatkan
kondisi diri sendiri. Jika kita bertindak
dengan postur yang lebih tegak, bahasa
tubuh yang lebih terbuka, dan ekspresi
yang lebih positif, itu bisa menjadi
teknik yang membantu membangun
rasa percaya diri.

Kepercayaan diri yang awalnya
dibayangkan perlahan berubah
menjadi kepercayaan diri yang nyata.
Semakin kita menyesuaikan diri
dengan frekuensi tersebut, semakin
autentik perasaan itu menjadi.
Dengan kata lain, perubahan kecil
pada tubuh dapat menggeser
getaran emosi kita.

Mengambil Jeda untuk Mengisi
Ulang Energi

Istirahat bukan tanda kelemahan.
Mengambil jeda adalah cara untuk
menenangkan dan mengisi ulang
energi. Ketika merasa kewalahan atau
stres, meluangkan waktu sendirian
dapat membantu memulihkan
keseimbangan batin.

Bagi seorang introvert, situasi sosial
justru bisa menguras energi.
Karena itu, mengambil waktu untuk
sendiri menjadi kebutuhan, bukan
kemewahan. Baik introvert maupun
ekstrovert, keduanya bisa
mendapatkan manfaat besar dari
berada di alam.

Di era yang dipenuhi teknologi, sulit
untuk benar-benar lepas dari layar.
Namun berada di alam memiliki
kekuatan untuk memulihkan seluruh
keberadaan kita. Sebuah penelitian
tahun 1991 menunjukkan bahwa
lingkungan alami memiliki efek
pemulihan dengan menghadirkan
emosi positif dan mendorong
kesejahteraan psikologis. Alam
membantu kita kembali ke frekuensi
yang lebih tenang dan seimbang.

Berhenti Bergosip dan Menjauhi
Drama

Gosip adalah membicarakan orang lain
di belakang mereka, biasanya dengan
tujuan merasa lebih baik tentang diri
sendiri. Tindakan ini menurunkan
getaran semua orang yang terlibat.
Akibatnya sering muncul perasaan
terluka dan drama yang tidak perlu.

Gosip sering kali didorong oleh ego
—keinginan untuk merasa penting,
dicintai, atau melindungi diri dari
rasa rendah diri. Namun waktu yang
dihabiskan untuk gosip sebenarnya
adalah energi yang terbuang.
Alih-alih terlibat dalam drama, lebih
baik fokus pada kehidupan sendiri
dan berusaha memperbaikinya.

Waktu adalah sesuatu yang berharga.
Menginvestasikannya pada hal-hal
konstruktif akan meningkatkan
kualitas hidup dan menjaga getaran
tetap tinggi. Menjauh dari gosip
berarti memilih kedamaian dan
pertumbuhan.

Makanan Bergizi dan Getaran
Tubuh

Vex King juga membahas hubungan
antara makanan dan getaran tubuh.
Ia mengutip Andre Simoneton,
seorang ahli elektromagnetisme asal
Prancis, yang menemukan bahwa setiap
makanan memiliki kekuatan getaran
elektromagnetik yang memengaruhi
kesehatan.

Makanan dibagi menjadi empat
kategori berdasarkan tingkat
getarannya. Kategori pertama adalah
makanan dengan getaran tinggi yang
baik untuk kesehatan. Kategori kedua
adalah makanan dengan getaran
rendah yang berdampak buruk bagi
tubuh. Kategori ketiga memiliki
getaran sangat rendah, tidak
sepenuhnya baik atau buruk, tetapi
sebaiknya dihindari karena dapat
menurunkan getaran. Kategori
keempat adalah yang paling buruk
bagi kesehatan, termasuk alkohol yang
memiliki getaran sangat rendah dan
merugikan tubuh.

Makanan dengan Getaran Tinggi
(Baik untuk Kesehatan)

Umumnya berupa makanan segar,
alami, dan minim proses.

Contoh:

  • Buah segar
    (apel, jeruk, mangga, pisang,
    pepaya)

  • Sayuran segar
    (bayam, brokoli, wortel,
    kangkung)

  • Kacang-kacangan mentah atau
    direndam
    (almond, kenari)

  • Biji-bijian utuh
    (chia seed, biji labu, wijen)

  • Air segar yang telah disaring

  • Madu alami
    (bukan olahan berlebihan)

Makanan ini dianggap mendukung
kesehatan fisik dan emosional karena
memiliki “daya getar” yang lebih
tinggi.

Makanan dengan Getaran Rendah
(Berdampak Buruk bagi Tubuh)

Biasanya berupa makanan olahan dan
minim nutrisi.

Contoh:

  • Makanan cepat saji
    (burger, kentang goreng,
    nugget instan)

  • Makanan tinggi gula rafinasi
    (permen, minuman bersoda)

  • Roti putih dan tepung olahan
    berlebihan

  • Makanan tinggi pengawet
    dan pewarna buatan

  • Makanan instan kemasan

Makanan jenis ini dapat membuat
tubuh terasa berat, lesu, dan
memengaruhi kestabilan emosi.

Makanan dengan Getaran Sangat
Rendah (Tidak Sepenuhnya Baik
atau Buruk, Tetapi Sebaiknya
Dihindari)

Kategori ini bukan yang paling
berbahaya, tetapi dianggap dapat
menurunkan kualitas getaran bila
dikonsumsi berlebihan.

Contoh:

  • Makanan yang terlalu lama
    disimpan atau dipanaskan
    berulang kali

  • Sisa makanan yang tidak
    lagi segar

  • Makanan beku olahan

  • Daging olahan tertentu
    (sosis, ham kemasan)

Secara fisik mungkin masih bisa
dikonsumsi, tetapi tidak memberikan
energi optimal bagi tubuh.

Makanan dengan Getaran Paling
Rendah (Buruk bagi Kesehatan)

Kategori ini disebut paling merugikan
bagi tubuh dan getaran energi.

Contoh:

  • Alkohol
    (bir, anggur, minuman keras)

  • Minuman beralkohol tinggi gula

  • Zat yang bersifat adiktif dan
    merusak tubuh

air putih segar yang telah disaring
dianjurkan sebagai sumber cairan
utama karena mendukung
keseimbangan tubuh dan menjaga
kualitas energi. Menjadikan air putih
sebagai minuman utama membantu
tubuh tetap terhidrasi dengan baik
serta menunjang kondisi fisik dan
emosional.

Karena itu, penulis menyarankan agar
air segar yang telah disaring dijadikan
sumber cairan utama sehari-hari. Apa
yang kita konsumsi tidak hanya
memengaruhi tubuh secara fisik, tetapi
juga kondisi emosional dan energi kita.

Mengungkapkan Rasa Syukur
dengan Tulus

Rasa syukur adalah cara sederhana
untuk meningkatkan getaran.
Bersyukur atas apa yang kita miliki
membantu kita merasa lebih bahagia
dan positif. Dengan menghargai
hal-hal baik dalam hidup, kita
berhenti terlalu fokus pada
kekurangan dan masalah.

Menghitung berkah setiap hari dapat
membentuk kebiasaan baru:
kebiasaan merasa cukup dan bahagia.
Kebiasaan ini kemudian menarik lebih
banyak hal positif ke dalam hidup kita.
Namun Vex King menekankan bahwa
rasa syukur tidak boleh sekadar
formalitas. Mengucapkan terima kasih
tanpa benar-benar merasakannya
tidak memiliki dampak yang sama.

Kunci dari rasa syukur adalah
merasakannya secara tulus. Ketika
hati benar-benar merasa berterima
kasih, energi yang dipancarkan pun
berubah. Dari sanalah getaran positif
tumbuh dan memperkuat kehidupan
yang penuh “good vibes”.

Melalui gagasan-gagasan ini, Good
Vibes, Good Life
menekankan bahwa
kualitas hidup sangat dipengaruhi
oleh energi yang kita pelihara,
melalui lingkungan, bahasa tubuh,
istirahat, pilihan perilaku, makanan,
hingga rasa syukur. Semua kembali
pada kesadaran untuk menjaga dan
menaikkan getaran diri agar hidup
dipenuhi energi yang lebih baik.

Berikut contoh

Mengelilingi Diri dengan
Energi yang Lebih Tinggi

Jika selama ini lingkungan pertemanan
dipenuhi keluhan, cibiran, atau
pesimisme, mulailah perlahan mencari
komunitas yang lebih positif. Misalnya,
bergabung dengan kelompok belajar,
komunitas membaca, atau forum
pengembangan diri yang anggotanya
saling mendukung.

Saat berbincang, perhatikan topik yang
dibahas. Pilih untuk lebih sering
berdiskusi tentang solusi, ide, dan
harapan daripada gosip atau keluhan.
Dengan rutin berada di lingkungan
seperti ini, emosi positif menjadi lebih
sering muncul, dan secara alami
lingkaran pertemanan pun berubah
mengikuti frekuensi tersebut.

Mengubah Bahasa Tubuh Saat
Segalanya Tidak Berjalan Baik

Ketika mengalami hari yang buruk,
misalnya gagal dalam sebuah rencana,
cobalah berdiri tegak, tarik napas
dalam, dan tersenyum meski terasa
dipaksakan. Lakukan ini selama
beberapa menit.

Saat berbicara dengan orang lain, jaga
kontak mata dan gunakan nada suara
yang lebih mantap. Walaupun
di dalam hati masih ragu, bahasa
tubuh yang lebih terbuka dapat
membantu otak melepaskan hormon
yang membuat suasana hati membaik.

Jika ingin membangun rasa percaya
diri, bersikaplah seperti orang yang
yakin pada dirinya sendiri: berjalan
lebih tegap, berbicara lebih jelas, dan
mengambil keputusan kecil dengan
tegas. Seiring waktu, kepercayaan diri
yang “dibayangkan” akan berubah
menjadi nyata.

Mengambil Jeda untuk Mengisi
Ulang Energi

Saat merasa kewalahan dengan
pekerjaan atau interaksi sosial,
jadwalkan waktu istirahat yang
benar-benar berkualitas. Misalnya,
berjalan kaki sendirian selama
20–30 menit tanpa membawa
beban pikiran.

Bagi yang merasa lelah setelah terlalu
banyak bertemu orang, ambil waktu
menyendiri tanpa merasa bersalah.
Duduk tenang, membaca buku, atau
sekadar diam tanpa gangguan
teknologi bisa membantu
memulihkan energi.

Sesekali, pergilah ke tempat yang alami
—taman, sawah, pantai, atau
pegunungan. Biarkan diri menikmati
udara segar tanpa layar dan notifikasi.
Alam membantu menenangkan emosi
dan mengembalikan keseimbangan
batin.

Berhenti Bergosip dan
Menjauhi Drama

Ketika berada dalam percakapan yang
mulai membahas keburukan orang
lain, pilih untuk tidak ikut
menambahkan komentar. Alihkan
topik pembicaraan atau cukup diam
tanpa memperkeruh suasana.

Jika muncul keinginan untuk
membicarakan orang lain demi merasa
lebih baik, tanyakan pada diri sendiri:
apakah ini benar-benar perlu?
Alihkan energi itu untuk memperbaiki
diri
—membaca, belajar keterampilan baru,
atau menyelesaikan tugas yang tertunda.

Dengan tidak terlibat dalam drama,
waktu dan energi bisa digunakan untuk
hal yang lebih konstruktif, sehingga
getaran diri tetap terjaga.

Memilih Makanan yang
Mendukung Getaran Positif

Mulailah dengan memperhatikan apa
yang dikonsumsi setiap hari.
Perbanyak makanan segar dan bergizi
sebagai bagian utama pola makan.

Kurangi makanan dengan kualitas
rendah yang membuat tubuh terasa
berat atau lesu. Jika mengonsumsi
alkohol, lakukan secara moderat dan
tidak berlebihan. Jadikan air segar
yang telah disaring sebagai sumber
cairan utama.

Dengan memilih makanan yang lebih
baik, tubuh terasa lebih ringan dan
pikiran lebih jernih, sehingga
emosi pun lebih stabil.

Mengungkapkan Rasa Syukur
dengan Tulus

Setiap malam sebelum tidur, tuliskan
tiga hal yang bisa disyukuri hari itu,
sekecil apa pun. Jangan hanya
menulisnya, tetapi rasakan kembali
momen tersebut dalam hati.

Saat mendapatkan bantuan, ucapkan
terima kasih dengan penuh kesadaran,
bukan sekadar kebiasaan. Luangkan
beberapa detik untuk benar-benar
merasakan apresiasi itu.

Dengan membiasakan diri merasakan
syukur secara tulus, emosi positif
menjadi lebih dominan, dan hidup
perlahan terasa lebih ringan serta
penuh “good vibes.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *