Mengatasi Alasan “Ya, Tapi…”
Setelah memahami konsep Faktor
Latte dan pentingnya menabung
otomatis, David Bach melanjutkan
dengan satu topik menarik yang
sering kali menjadi penghalang
utama dalam perjalanan menuju
kebebasan finansial: alasan
“Ya, tapi…”
Menurut Bach, “Ya, tapi…” adalah
bentuk rasionalisasi yang sering
kita gunakan untuk membenarkan
kebiasaan lama dan menolak
mengambil tindakan baru. Ia
menyebutnya dengan istilah
Yeah-But Syndrome sebuah
kebiasaan berpikir yang terdengar
logis, padahal sebenarnya hanya
alasan untuk tetap diam di tempat.
Bach menjelaskan bahwa sindrom
“Ya, tapi…” bisa muncul dalam
banyak bentuk. Misalnya:
“Ya, tapi saya tidak boros,
jadi tidak ada yang bisa
saya hemat.”“Ya, tapi dengan inflasi seperti
ini, satu juta dolar nanti tidak
akan berarti apa-apa.”“Ya, tapi saya tidak mungkin
dapat hasil investasi 10%
seperti yang dia bilang.”“Ya, tapi saya tidak punya
cukup uang untuk mulai
investasi.”“Ya, tapi saya juga tidak tahu
harus investasi di mana.”
Semua kalimat di atas terdengar
masuk akal, namun sebenarnya
adalah bentuk penundaan halus.
Bach menegaskan bahwa cara
berpikir seperti ini justru membuat
banyak orang gagal membangun
kekayaan bukan karena mereka
tidak mampu, tetapi karena mereka
terlalu sibuk mencari pembenaran
untuk tidak memulai.
Ia kemudian menjawab satu
per satu alasan tersebut.
Untuk yang berkata “saya tidak
boros”, Bach mengingatkan agar
melakukan latihan sederhana:
catat semua pengeluaran selama
beberapa hari. Hampir semua orang
yang melakukan ini akhirnya
menemukan kebocoran kecil yang
sebelumnya tidak disadari.
Bagi yang berkata “inflasi membuat
uang nanti tak berarti”, ia menjawab
bahwa satu juta dolar di masa depan
tetap jauh lebih berharga
dibandingkan tidak memiliki apa pun.
Kekayaan tetap memberi pilihan dan
kebebasan yang tidak bisa diberikan
oleh “nol tabungan.”
Untuk yang ragu bisa mendapat
hasil investasi tinggi, Bach
menenangkan bahwa bahkan
pengembalian 5% per tahun sudah
jauh lebih baik dibandingkan
tidak berinvestasi sama sekali. Dan
bagi yang berpikir “saya tidak
punya cukup uang untuk mulai,” ia
menunjukkan bahwa kini investasi
bisa dimulai dengan jumlah sekecil
satu dolar per hari melalui program
investasi otomatis.
Bach juga menambahkan, bagi yang
benar-benar belum siap untuk
berinvestasi, ada pilihan lain:
gunakan uang itu untuk membayar
cicilan utang atau hipotek lebih cepat.
Karena setiap kali kamu melunasi
utang dengan bunga 7%, itu sama
saja dengan mendapat “keuntungan”
investasi sebesar 7%. Bahkan, bagi
sebagian orang, mengalokasikan
uang kecil itu untuk memulai usaha
sampingan bisa menjadi bentuk
investasi terbaik karena potensi
hasilnya bisa jauh lebih besar.
Namun, inti pesan Bach tetap sama:
berhentilah menggunakan
“ya, tapi…” sebagai alasan
untuk tidak bertindak. Karena
setiap “ya, tapi…” yang kamu
ucapkan, sebenarnya sedang
menunda masa depan finansial
yang lebih baik.
David Bach ingin pembaca
menyadari bahwa tidak ada waktu
yang sempurna untuk memulai.
Tidak perlu menunggu gaji naik,
situasi membaik, atau dunia
menjadi stabil. Yang kamu butuhkan
hanyalah keputusan kecil untuk
mulai hari ini, dengan uang
apa pun yang kamu miliki sekarang.
Seperti yang ia tekankan dalam
buku ini:
“Setiap alasan yang kamu buat
hari ini akan menjadi penyesalan
di masa depan. Tapi setiap langkah
kecil yang kamu ambil hari ini akan
menjadi fondasi kebebasan
finansialmu nanti.”
Jadi, sebelum mengatakan
“ya, tapi…” lagi, berhenti sejenak
dan tanyakan pada diri sendiri:
Apakah ini alasan atau hanya
ketakutan yang menyamar sebagai
logika? Karena mungkin,
satu-satunya hal yang
menghalangimu menjadi “automatic
millionaire” bukanlah uang
tapi kebiasaan berkata “ya, tapi…”
seperti ini:
“Ya, tapi gajiku kecil, mana bisa
menabung?”
“Ya, tapi harga-harga sekarang
naik terus.”
“Ya, tapi investasi itu berisiko.”
“Ya, tapi aku nggak punya waktu
buat mikirin keuangan.”
Nah, kalau kamu pernah
mengucapkan kalimat seperti itu,
berarti kamu termasuk yang
disebut David Bach sebagai
“Yeah-Butters” orang yang
selalu punya alasan “ya, tapi…”
setiap kali membahas keuangan.
Mari kita ambil contoh nyata.
Bayangkan seorang pegawai
bernama Rudi. Setiap kali
temannya menyarankan untuk
menabung atau investasi, Rudi
langsung menjawab,
“Ya, tapi hidup di kota mahal,
nggak mungkin bisa nyisihin uang.”
Suatu hari, Rudi mencoba mencatat
pengeluarannya selama seminggu.
Ternyata, dalam tujuh hari ia
menghabiskan:
Rp20.000 per hari untuk kopi
= Rp600.000 sebulanRp25.000 untuk makan siang
online setiap hari
= Rp750.000 sebulanRp15.000 untuk rokok sehari
= Rp450.000 sebulan
Total: Rp1,8 juta per bulan.
Padahal, tanpa disadari, jumlah itu
cukup untuk mulai berinvestasi
rutin, membayar cicilan lebih cepat,
atau bahkan membuka usaha kecil.
Di sinilah letak “ya, tapi…” yang
dimaksud Bach alasan yang terdengar
logis, tapi sebenarnya hanya menunda
tindakan nyata.
David Bach menulis bahwa “ya, tapi…”
adalah musuh utama kebebasan
finansial. Karena setiap kali kita
berkata “ya, tapi,” kita sedang
menolak kesempatan untuk berubah.
Misalnya:
“Ya, tapi satu juta dolar nanti
nggak ada artinya karena
inflasi.”
Padahal, satu juta dolar
di masa depan tetap jauh
lebih baik daripada
tidak punya apa-apa.“Ya, tapi saya nggak tahu
di mana harus investasi.”
Zaman sekarang, investasi
bisa dimulai bahkan dengan
Rp10.000 melalui aplikasi
resmi yang diawasi OJK.“Ya, tapi hasilnya kecil.”
Bach menjelaskan, walau
hanya 5% setahun, itu tetap
lebih baik daripada uang
yang tidak tumbuh
sama sekali.
Ia bahkan memberi contoh lain: kalau
kamu belum siap berinvestasi,
gunakan uang kecil itu untuk
membayar utang lebih cepat. Misalnya
kamu punya cicilan motor dengan
bunga 7% setiap kali kamu membayar
lebih cepat, itu sama saja seperti
“menghasilkan” 7% keuntungan.
Atau, uang itu bisa dipakai untuk
mulai bisnis kecil-kecilan seperti
jualan online, yang hasilnya bisa
jauh lebih besar dalam jangka panjang.
Intinya, The Automatic Millionaire
ingin menampar lembut para
“ya, tapi…” di luar sana. Karena
kebanyakan orang sebenarnya
bukan tidak mampu mereka hanya
terlalu sibuk mencari pembenaran.
Coba pikirkan:
Orang yang berkata “ya, tapi
saya tidak punya waktu”
tetap sempat scroll media
sosial berjam-jam.Orang yang berkata “ya, tapi
saya tidak punya uang”
tetap beli minuman
kekinian tiap sore.Orang yang berkata “ya, tapi
investasi itu sulit”
belum pernah benar-benar
mencoba mencari tahu.
David Bach ingin kita berhenti
menyabotase diri sendiri dengan
alasan-alasan itu. Karena perubahan
finansial tidak dimulai dari
penghasilan besar, tapi dari
keberanian kecil untuk memulai
sekarang.
Seperti kata Bach, “Setiap kali kamu
berkata ‘ya, tapi’, kamu sedang
menunda masa depan yang lebih
baik.”
Jadi, mulai hari ini, ubahlah kalimat
itu menjadi, “
Ya, tapi… kenapa tidak aku coba dulu?”
Itu bisa jadi langkah pertama menuju
kebebasan finansialmu sendiri.
