buku

Mengapa Sistem Kepercayaan pada Akhirnya Bermasalah

Sistem Kepercayaan pada
Akhirnya Bermasalah

Coba bayangkan Anda ingin membuat
aliran kepercayaan baru. Gampang
saja, tinggal ikuti langkah-langkah ini:

Pertama, tawarkan jenis harapan
tertentu ke kelompok orang yang
sedang putus asa. Misalnya, janjikan
kehidupan yang lebih baik bagi
orang-orang yang tidak puas dengan
hidup mereka sekarang.

Kedua, cari cara agar semua kritik
menjadi tidak valid. Contohnya,
katakan pada pengikut bahwa
siapapun yang tidak percaya pada
ajaran Anda sebenarnya adalah
musuh yang ingin menghancurkan
kebaikan.

Ketiga, buat ritual-ritual yang harus
diikuti, sambil janjikan bahwa
kebahagiaan atau kesengsaraan
sedang dalam perjalanan.

Keempat, suruh mereka mendukung
Anda, memberikan kontribusi, atau
melakukan apapun yang Anda
inginkan dari mereka.

Kedengarannya sinis? Mungkin.
Tapi tidak sulit untuk melihat
bahwa agama, termasuk sistem
kepercayaan ideologis seperti
kapitalisme atau komunisme, pada
akhirnya selalu dikorupsi oleh
individu-individu di belakang layar
yang terlalu manusiawi.

Bisa jadi itu karena mengejar uang,
kekuasaan, gengsi, atau kelemahan
manusia lainnya. Tapi yang pasti:
korupsi itu tidak terelakkan.
 Bahkan jika sebuah aliran dimulai
dengan niat terbaik sekalipun.

Contoh Sehari-hari

Tidak perlu jauh-jauh ke agama formal.
Lihat saja komunitas pengembangan
diri atau motivator di media sosial.
Awalnya tulus ingin berbagi ilmu,
begitu sudah punya banyak pengikut,
mulai menjual produk mahal,
membuat program eksklusif, dan
pengikut yang kritik dibilang
“belum siap menerima ilmu tingkat
tinggi.”

Atau lihat partai politik yang awalnya
berjuang untuk rakyat kecil. Begitu
memenangkan kursi, kekuasaan dan
proyek jadi prioritas, sementara
janji-janji kepada rakyat mulai
dilupakan.

Friedrich Nietzsche:
Sistem Kepercayaan Punya
Cacat Bawaan

Filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche,
punya pandangan yang tajam soal ini.
Menurut dia, cacat fatal dalam
setiap sistem kepercayaan adalah
bahwa sistem itu dijalankan oleh
manusia biasa yang bisa salah.

Manusia-manusia ini pada akhirnya
akan menemukan cara untuk
mengkorupsi sistem atau
mempertentangkannya dengan sistem
kepercayaan lain.

Dan harapan? Tidak berbeda.

Paradoks Harapan:
Untuk Mendefinisikan
“Baik”, Harus Ada “Buruk”

Sama seperti sistem kepercayaan lainnya,
agar harapan bisa dianggap “baik”,
pasti ada sesuatu yang dianggap “buruk”.

Coba pikirkan: orang yang penuh
harapan pada dasarnya berkata,
“Saya tidak puas dengan keadaan
sekarang, dan saya berharap
keadaan berubah.”

Jadi, meskipun rasanya harapan itu
memberi makna lebih pada hidup,
sebenarnya harapan hanya
menciptakan lebih banyak
ketidakbahagiaan dan konflik. Atau
seperti kata penulisnya:
everything is fucked because
of hope.
(Semuanya kacau karena harapan.)

Contoh Sehari-hari

Seseorang berharap memiliki pekerjaan
yang lebih baik dari yang sekarang.
Akibatnya? Ia jadi tidak pernah puas
dengan pekerjaan yang ada. Setiap hari
kerja terasa berat karena terus
membandingkan dengan
“pekerjaan impian” yang belum tentu
datang. Padahal jika ia tidak memiliki
harapan yang muluk, mungkin ia bisa
melihat bahwa pekerjaannya sekarang
sebenarnya cukup baik, rekan kerjanya
mendukung, dan gajinya cukup untuk
kebutuhan.

Atau contoh lain: orang tua berharap
anaknya masuk universitas ternama.
Ketika anaknya tidak diterima,
orang tua menjadi kecewa, stres, dan
tanpa sadar membuat anak merasa
gagal. Padahal mungkin anaknya punya
bakat lain yang justru bisa
dikembangkan di tempat yang
menerimanya.

Nietzsche: “Berhenti Lari dari
Kematian dan Ketidakberartian”

Nah, di sinilah Nietzsche meminta kita
untuk melihat melampaui konsep
“Baik dan Jahat” yang selalu
didengung-dengungkan oleh sistem
kepercayaan manapun.

Dia ingin kita menerima hidup
dan mati apa adanya.
 Dengan
segala kekurangannya. Dengan
semua ketidakpastiannya.

Maksudnya? Kita berhenti
menghindari kebenaran yang tidak
nyaman tentang kematian dan
ketidakberartian kita di alam semesta
ini. Karena sekali kita bisa menerima
itu, kita bisa fokus pada keajaiban
dari semua yang ada di depan
kita sekarang.
 Bukan sibuk
mengkhawatirkan harapan akan
masa depan.

Nietzsche bahkan memiliki nama
untuk pendekatan “merangkul
kekosongan” ini. Dia menyebutnya:
Amor Fati.

Amor Fati: Cintai Nasibmu

Amor Fati secara harfiah berarti
“mencintai nasib sendiri.” Bukan dalam
arti pasrah atau menyerah, tapi
menerima bahwa apapun yang terjadi,
baik atau buruk adalah bagian dari
perjalanan yang layak untuk dijalani.

Ini tentang berkata: “Ya, hidup ini
kadang menyebalkan. Tapi ya beginilah
adanya. Daripada sibuk berharap
menjadi orang lain atau hidup di situasi
lain, lebih baik saya nikmati dan hadapi
apa yang ada di depan saya sekarang.”

Contoh Sehari-hari Amor Fati

Seseorang terjebak macet dalam
perjalanan pulang. Harapan?
“Semoga cepat lancar.” Tapi jika tidak
lancar, ia bete, kesal, bahkan bisa
marah-marah.
Amor Fati? “Ya sudah, ini bagian dari
perjalanan. Mungkin ini kesempatan
untuk mendengarkan podcast atau
menghubungi keluarga.”
Ia tidak berharap situasinya berbeda,
ia menerima dan mencari nilai dari
situasi yang ada.

Seorang karyawan tidak mendapatkan
promosi yang diharapkan. Harapan
membuatnya sedih, kecewa, dan
mungkin iri pada rekan yang
dipromosikan.
Amor Fati? “Baik, ini yang terjadi
sekarang. Mungkin jalannya memang
bukan di sini. Saya evaluasi diri dan
cari jalan lain.” Bukan berarti berhenti
berusaha, tapi berhenti menyiksa
diri dengan “andai saja.”

Immanuel Kant: Cara Hidup yang
Melengkapi Amor Fati

Nah, kalau Nietzsche memberi kita
“apa” yang harus dilakukan (menerima
hidup apa adanya), filsuf abad ke-18,
Immanuel Kant, memberi kita
“bagaimana” cara melakukannya.

Mungkin Anda tidak mengenal Kant,
tapi Anda pasti mengenal beberapa hal
yang ia inspirasi. Dalam tulisannya,
Kant membayangkan masa depan
di mana perdamaian dunia bis
a tercapai di bawah pemerintahan
global. Ini kemudian menjadi inspirasi
bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Ia juga salah satu pendukung awal
gagasan bahwa setiap manusia
memiliki martabat yang layak dihormati.
Bahkan, ia juga pendukung awal
hak-hak hewan.

Tapi yang paling penting, Kant memiliki
formula sederhana untuk kemanusiaan.
Dan menariknya, formula ini juga
menyarankan kita untuk meninggalkan
pola pikir yang terlalu berorientasi pada
harapan akan imbalan.

Bunyinya begini:

“Bertindaklah sedemikian rupa
sehingga engkau memperlakukan
kemanusiaan, baik pada dirimu sendiri
maupun pada orang lain, selalu
sebagai tujuan, dan jangan pernah
hanya sebagai alat semata.”

Apa Maksudnya “Jangan Pernah
Hanya sebagai Alat”?

Maksudnya, Anda jangan berperilaku
dengan cara yang transaksional.

  • Jangan membantu teman dengan
    harapan suatu saat ia akan
    membalas bantuan Anda.

  • Jangan memutuskan untuk tidak
    berbohong karena takut
    reputasi Anda rusak.

  • Jangan bersikap ramah kepada
    rekan kerja karena Anda ingin
    mendapatkan sesuatu darinya.

Sebaliknya:

  • Bantulah teman karena
    menolong adalah hal
    yang benar untuk
    dilakukan.
     Titik.

  • Jangan berbohong karena
    kejujuran adalah nilai yang
    Anda pegang.
     Titik. Bukan
    karena takut ketahuan.

  • Bersikaplah ramah karena
    menghormati orang lain
    adalah prinsip hidup
    Anda.
     Titik.

Ya, Kant pada dasarnya berkata:
“Jadilah manusia yang berprinsip,
bukan yang selalu menghitung
untung rugi.”

Kenapa Ini Cocok dengan
Amor Fati?

Karena pendekatan ini meminta orang
untuk tidak melakukan sesuatu hanya
dengan harapan bahwa perilaku mereka
akan mengarah ke hasil tertentu. Setiap
tindakan harus menjadi tujuan itu
sendiri
, dilakukan tanpa ekspektasi
akan mendapatkan imbalan di masa
depan.

Jika Anda berbuat baik karena itu
memang baik, Anda tidak perlu kecewa
kalau orang tidak membalas kebaikan
Anda. Jika Anda bekerja keras karena
itu memang yang seharusnya Anda
lakukan, Anda tidak perlu frustrasi
kalau promosi belum datang.

Kant: Cara Menjadi Dewasa

Kant juga menjelaskan bagaimana
caranya menjadi dewasa. Dan ini
menarik karena relevan dengan
kehidupan kita sehari-hari.

Tahap Anak-Anak:
Kita semua tentang kesenangan sesaat.
Kita melakukan sesuatu karena rasanya
enak atau menyenangkan. Anak makan
permen karena manis. Anak menangis
kalau tidak mendapatkan mainan.
Sederhana: berorientasi pada
kenikmatan.

Tahap Remaja:
Kita mulai mengembangkan prinsip.
Mulai ada suara dalam hati yang
berkata “ini benar” dan “ini salah.”
Tapi prinsip ini masih bergumul
dengan keinginan untuk
bersenang-senang. Remaja tahu
seharusnya belajar, tapi godaan
bermain game masih besar. Motivasi
masih campur aduk antara prinsip
dan kesenangan.

Tahap Dewasa:
Prinsip harus menjadi motivator
utama perilaku kita.

  • Remaja berpikir: ”
    Saya tidak akan mencuri karena
    nanti saya bisa ditangkap dan
    dipermalukan.”

  • Dewasa berpikir:
    “Saya tidak mencuri karena mencuri
    itu salah, terlepas dari apapun
    konsekuensinya.”

  • Remaja berpikir:
    “Saya harus membantu dia agar
    nanti dia juga membantu saya.”

  • Dewasa berpikir:
    “Saya membantu dia karena
    melihat kemanusiaan dalam
    dirinya yang layak dibantu,
    tanpa perlu mengharapkan
    imbalan.”

Orang dewasa juga menerima bahwa
meskipun sesuatu itu sulit, tidak
nyaman, atau bahkan menyakitkan,
tetap harus dilakukan jika itu
memang hal yang benar.

Contoh Sehari-hari Menjadi
Dewasa Versi Kant

Seorang karyawan diminta membantu
proyek tambahan di luar jam kerja.
Ia sudah lelah dan ingin pulang. Tapi
proyek itu penting untuk tim dan
rekan-rekannya membutuhkan
bantuan.

Pola pikir remaja: Mungkin membantu
kalau ada insentif tambahan, atau
membantu tapi sambil mengeluh dan
setengah hati.

Pola pikir dewasa: Ia membantu karena
melihat bahwa kontribusinya berarti
bagi tim. Bukan karena berharap dapat
bonus atau pujian, tapi karena itu
memang tanggung jawabnya sebagai
anggota tim yang baik.

Seorang anak dewasa mengunjungi
orang tuanya yang sudah lanjut usia.
Perjalanan jauh, orang tua kadang
rewel, dan tidak ada “keuntungan”
materi yang didapat.

Pola pikir remaja: Mungkin malas
datang, atau datang karena takut
disebut anak durhaka, atau karena
berharap dapat warisan.

Pola pikir dewasa: Ia datang karena
menghormati orang tuanya, karena itu
adalah hal yang benar dilakukan sebagai
anak. Bukan karena ingin dipuji atau
mengharapkan sesuatu. Kunjungan itu
sendiri adalah tujuannya.

Jadi, Harapan Itu Salah?

Tidak juga. Yang coba dikritik oleh
Manson (melalui Nietzsche dan Kant)
adalah harapan yang membuat kita
terobsesi pada masa depan
sampai lupa menjalani masa kini.

Harapan yang membuat kita terus
merasa kurang dan tidak puas.
Harapan yang membuat semua
tindakan kita jadi transaksional dan
penuh perhitungan untung rugi.

Solusinya?

  1. Terima hidup apa adanya
    (Amor Fati).
     Ya, kadang tidak
    sesuai harapan. Kadang sakit.
    Kadang kecewa. Tapi itulah hidup.
    Jalani prosesnya dengan
    kesadaran penuh.

  2. Bertindaklah berdasarkan
    prinsip, bukan berdasarkan
    perhitungan imbalan.

    Lakukan kebaikan karena itu
    baik. Kerja keras karena itu
    benar. Jaga kejujuran karena itu
    prinsip. Bukan karena berharap
    sesuatu di masa depan.

Pada akhirnya, mungkin kita perlu
bergeser dari “hidup untuk mengejar
harapan” ke “hidup untuk menjalani
saat ini dengan penuh kesadaran dan
prinsip.” Dari “saya berharap suatu
hari nanti” ke “saya menerima hari ini
dan menjalaninya dengan
sebaik-baiknya.”

Karena seperti kata Nietzsche, ketika
kita berhenti lari dari kenyataan dan
berhenti menjadikan harapan sebagai
satu-satunya pegangan, kita jadi bisa
melihat keajaiban yang selama ini ada
di depan mata, tanpa perlu berharap
menjadi sesuatu yang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *