Mengapa Pria Lebih Tertarik pada Wanita yang Tegas dan Percaya Diri?
Setelah membahas tentang bagaimana
berhenti menjadi “Keset Kaki” dan
mulai bersikap seperti “Hadiah”,
buku Why Men Love Bitches karya
Sherry Argov melanjutkan
pembahasannya ke sebuah pertanyaan
yang lebih dalam. Pertanyaan ini
sering muncul di benak banyak
perempuan baik hati yang bingung
dengan dunia percintaan.
Pertanyaan itu adalah: Kenapa
banyak pria justru tampak
tertarik pada wanita yang tegas,
mandiri, dan percaya diri?
Wanita yang seperti ini, dalam
bahasa sehari-hari, seringkali
mendapatkan label negatif. Namun,
buku ini membuka rahasia di balik
fenomena tersebut.
Sekali lagi, penting untuk diingat
bahwa pembahasan ini sama sekali
bukan tentang bagaimana menjadi
jahat, kejam, atau tidak peduli pada
perasaan orang lain. Ini tentang
bagaimana membangun kekuatan
dari dalam diri sendiri.
Memecahkan Kode:
Bukan Tentang Kejahatan,
Melainkan Kekuatan Diri
Bagian buku ini ditujukan khusus
bagi para “Gadis Baik Hati” yang
mungkin selama ini merasa sudah
melakukan segala hal dengan benar,
tetapi tetap merasa ada yang kurang
dalam hubungan mereka. Mungkin
Anda sudah berusaha menjadi
penurut, selalu ada, dan tidak pernah
menuntut, tapi hasilnya tidak seperti
yang diharapkan.
Sherry Argov memberikan pencerahan
di sini. Bab ini mencoba memecahkan
kode tentang apa yang sebenarnya
membuat pria tertarik. Jawabannya
bukan terletak pada sikap jahat,
melainkan pada tiga kualitas utama:
Kuat: Mampu berdiri di atas
kaki sendiri secara emosional.Mandiri: Memiliki kehidupan
yang tidak bergantung
sepenuhnya pada pasangan.Percaya Diri: Yakin pada nilai
dan pendapat diri sendiri.
Pendekatan ini adalah titik balik bagi
siapa pun yang selama ini merasa
harus “bermain aman” atau
“terlalu baik” dalam berkencan.
Pesan utamanya jelas: Ketika Anda
memiliki rasa diri yang kuat, Anda
justru menjadi lebih menarik.
Rahasia Daya Tarik:
Miliki Kehidupan dan Pendapat
Sendiri
Inti dari bab ini adalah gagasan bahwa
pria seringkali lebih tertarik pada
wanita yang memiliki dunianya
sendiri. Ini berarti Anda punya
kehidupan, punya kegiatan yang
disukai, punya minat, dan punya opini
pribadi. Diri Anda tidak seratus persen
ditentukan oleh hubungan dengan
pasangan.
Mengapa hal ini penting?
Mari kita lihat contoh sederhana:
Misalkan Anda sangat suka melukis.
Setiap akhir pekan, Anda punya
waktu khusus untuk menuangkan ide
di atas kanvas. Lalu, Anda mulai
menjalin hubungan dengan seseorang.
Karena ingin selalu bersama atau
takut dianggap tidak perhatian, Anda
mulai meninggalkan kegiatan
melukis itu.
Apa yang terjadi? Di mata pasangan
Anda, Anda mungkin terlihat “baik”
dan “selalu ada”. Tetapi tanpa
disadari, ada dua hal yang berkurang
dari diri Anda:
Anda menjadi kurang menarik.
Kehidupan Anda menjadi sangat
mudah ditebak karena isinya
hanya dia.Anda kehilangan bagian dari jati
diri yang membuat Anda unik.
Buku ini menyarankan hal sebaliknya:
Pertahankan hobi dan minat
Anda. Dengan tetap memiliki kegiatan
sendiri, Anda mempertahankan misteri
dan kemandirian Anda. Orang yang
melihat Anda memiliki gairah hidup
di luar dirinya akan merasa Anda
adalah sosok yang menarik dan
bernilai.
Berani Punya Suara Sendiri
Poin penting lainnya di bab ini adalah
tentang mengatakan “Tidak” dan
mengutarakan pendapat yang
berbeda.
Ini adalah bagian yang sering
disalahpahami. Mengungkapkan
ketidaksetujuan bukan berarti
mencari masalah atau mengajak
bertengkar. Maksudnya adalah Anda
tidak perlu selalu menyetujui semua
hal hanya demi menjaga kedamaian
semu.
Jika Anda tidak suka tempat makan
yang dia pilih, sampaikan dengan
sopan.
Jika pendapat Anda tentang suatu
hal berbeda, utarakan dengan
tenang.
Sikap ini menunjukkan rasa percaya
diri untuk menetapkan batasan
dan kekuatan untuk
mempertahankan batasan
tersebut. Ini menciptakan dinamika
hubungan yang lebih sehat. Pasangan
akan melihat Anda sebagai orang
yang setara, bukan sekadar orang
yang ikut-ikutan saja. Anda adalah
partner yang punya suara, bukan
bayang-bayang yang selalu
mengikuti ke mana pun dia pergi.
Menjadi Diri Sendiri yang
Sebenarnya
Ringkasnya, bab kedua dari buku ini
membongkar cerita lama tentang
“Gadis Baik Hati” yang harus selalu
mengalah. Buku ini mengajukan
pemikiran baru: Menjadi
“wanita tegas” (dalam pengertian
yang positif seperti yang sudah
dijelaskan tadi) justru bisa menjadi
magnet untuk mendapatkan
cinta yang tulus dan rasa
hormat yang sejati.
Kuncinya adalah jujur pada diri
sendiri. Anda tidak perlu
berpura-pura menjadi orang lain.
Anda tidak perlu menyensor bagian
dari diri Anda hanya agar disukai.
Dengan menjalani hidup yang penuh,
memiliki minat sendiri, dan berani
menyuarakan pikiran, Anda
memancarkan aura percaya diri.
Dan justru dengan menjadi versi diri
Anda yang asli dan tidak tersaring
itulah, Anda akan menarik seseorang
yang benar-benar menghargai Anda
apa adanya.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Pernah Gak Sih Lo Ngerasa
“Kok Gue Baik Banget Tapi Dia
Malah Cuek?” Ini Jawabannya!
Balik lagi sama gue di pembahasan
buku Why Men Love Bitches.
Sebelumnya kita udah sepakat ya
kalau jadi doormat atau keset kaki
itu cuma bikin kita capek sendiri.
Sekarang, mari kita masuk ke bab
yang lebih bikin penasaran.
Lo pasti pernah kan ngerasain hal
absurd ini: Lo baik, lo perhatian,
lo selalu available, tapi si doi malah
kayak… gitu-gitu aja. Bahkan kadang
dia lebih excited ngomongin temen
ceweknya yang cuek atau cewek
kantornya yang galak.
Terus lo mikir, “Lah, gue kurang
baik apa sih? Kurang tulus apa?
Kok dia malah lirik yang
modelan cuek bebek gitu?”
Nah, di bagian ini, Sherry Argov
akhirnya buka suara. Dia jelasin
kode rahasia yang selama ini bikin
para good girl kayak kita-kita
ngerasa dikerjain semesta.
Bukan Jahat, Cuma Gak Mau
Diinjek
Buat lo yang ngerasa udah jadi
good girl sejati tapi kok malah
sering dizona-in atau kurang
dihargain, this part is for you.
Buku ini ngasih tau satu fakta penting:
Cowok tuh sebenarnya gak
tertarik sama cewek jahat.
Mereka tertarik sama cewek
yang PUNYA TULANG
PUNGGUNG.
Bedanya apa? Cewek yang punya
“tulang punggung” di sini tuh
maksudnya:
Kuat: Gak gampang melting atau
breakdown cuma karena doi gak
bales chat sejam.
Gak gampang melting atau
breakdown cuma karena doi gak
bales chat sejam. Maksudnya,
ya wajar kalau lo ada rasa khawatir.
Tapi bedanya, lo gak langsung
kirim pesan 10 baris berisi
pertanyaan “Kok diemin sih?
Aku salah ya?” Itu yang bikin lo
keliatan rapuh. Cewek kuat paham
bahwa hidup dia punya ritme
sendiri.Mandiri: Punya duit, punya
temen, punya kegiatan. Lo gak
nungguin dia buat bisa “hidup”.
Ini penting banget. Lo punya
duit buat beli kopi sendiri, lo
punya temen-temen asik yang
bisa diajak ketawa tanpa harus
nunggu dia. Lo punya hidup yang
utuh. Dia cuma tambahan yang
menyenangkan, bukan sumber
utama kebahagiaan lo. Kalau lo
mandiri, lo gak akan punya
ekspektasi “dia harus jadi
penghiburku”. Lo udah bahagia
duluan, dia tinggal nimbrung.Percaya Diri: Lo tau lo worth
it, jadi lo gak perlu validasi
24/7 dari dia.
Lo sadar betul bahwa lo tuh
worth it. Lo gak butuh dia buat
nge-validasi kalau sepatu
lo keren atau rambut lo bagus.
Lo tau itu dari sananya udah
keren. Rasa percaya diri ini yang
memancar dan bikin orang lain
penasaran, “Kok dia setenang itu
ya? Emangnya siapa dia?”
Ini bukan soal ngajak berantem atau
ngomong ketus. Ini soal self-composure.
Lo kayak benteng yang kokoh,
bukan rumah kardus yang roboh
kena angin dikit.
Rahasia Magnetnya: Lo Punya
Dunia Sendiri (Dan Dia Gak
Selalu Jadi Pemeran Utama)
Nah, ini dia mindset pamungkas yang
pengen gue highlight. Kadang, cowok
tuh lebih ngiler sama cewek yang
hidupnya gak berputar di poros
dia.
Gue kasih contoh simpel yang ada
di catatan buku ini ya. Coba cek,
ini relate banget gak sih?
Misal: Lo tuh hobi banget ngelukis.
Setiap Sabtu pagi, lo udah ritual
bikin kopi, nyalain musik, terus
corat-coret kanvas sampe tangannya
belepotan cat. Itu me-time lo yang
suci.
Terus tiba-tiba lo pacaran. Si doi
ngajak ketemuan setiap Sabtu pagi.
Karena lo takut dibilang
“gak perhatian” atau lo takut dia
marah, akhirnya lo tinggalin tuh kuas
dan cat lo. Lo lebih milih nemenin dia
yang cuma rebahan doang sambil
main HP.
Apa yang terjadi?
Lo jadi MEMBOSANKAN.
Bukan karena lo gak asik, tapi
karena lo kehilangan “duniamu”
sendiri. Di mata dia, lo jadi cewek
yang gampang ditebak. Hidup lo
isinya cuma dia-dia-dia.
Saran buku ini:
JANGAN TINGGALIN HOBI LO.
Tetep ngelukis. Tetep pergi yoga.
Tetep hangout sama geng lo.
Justru di situlah letak mystery dan
nilai jual lo. Lo tuh sosok yang
enriching, punya gairah hidup sendiri.
Dan percaya deh, cowok itu nalurinya
suka sama cewek yang punya passion
di luar dirinya. Itu nunjukin lo
mandiri, bukan benalu yang cuma
nempel.
Berani Bilang “Gak Sreg” Itu
Bukan Dosa
Satu lagi nih yang sering banget kita
skip karena takut bikin suasana gak
enak. Yaitu mengutarakan
pendapat yang BEDA.
Kita sering mikir,
“Udahlah nurut aja, daripada ribut.”
Diajak makan seafood padahal lo
alergi? “Iya deh.”
Diajak nonton film horor padahal
lo penakut? “Oke deh.”
Stop doing that.
Buku ini ngajarin, berani punya
suara yang berbeda itu bukan berarti
lo nyari masalah. Itu artinya lo
menghargai kenyamanan diri
sendiri.
Kalo lo gak suka tempat makannya,
bilang. “Eh, di situ rame banget.
Gimana kalo di tempat A aja yang
lebih adem?”
Kalo lo gak setuju sama opininya,
sampaikan dengan santai. “Wah kalo
itu sih menurut gue begini lho…”
Dengan lo berani bersuara, secara gak
langsung lo udah menaikkan standar
interaksi kalian. Lo gak jadi yes-man
yang ngebosenin. Lo jadi partner
diskusi yang menarik. Dia jadi tau
batasan lo di mana dan dia jadi lebih
hati-hati memperlakukan lo. Karena
dia sadar, lo ini manusia punya
preferensi, bukan robot yang tinggal
dipencet “Yes”.
Intinya: Jadi Lo Yang Asli,
Bukan Versi Lo Yang Disensor
Jadi gini kesimpulan bab ini: Lo gak
perlu jadi jahat atau galak buat bikin
dia klepek-klepek. Lo cukup berhenti
jadi people pleaser yang mengecilkan
diri sendiri.
Dengan lo punya kehidupan yang
penuh warna sendiri, dengan lo
berani ngomong apa yang lo suka
dan gak suka, tanpa sadar lo udah
ngeluarin aura premium itu.
Dan coba tebak? Justru dengan lo jadi
diri lo yang seutuhnya (tanpa sensor
karena takut ditinggalin), lo malah
akan narik orang yang tepat. Orang
yang respect sama lo bukan karena lo
selalu nurut, tapi karena lo punya
value.
