Mengapa Anda Tidak Harus Membeli Saham Individual
Dalam dunia investasi, banyak orang
berpikir bahwa jalan menuju kekayaan
ada pada kemampuan memilih saham
yang tepat. Membeli saham
perusahaan terkenal, menebak kapan
harga akan naik, atau mengikuti
rekomendasi dari influencer keuangan
di media sosial seolah menjadi
strategi yang menjanjikan. Namun,
dalam bab “Why You Shouldn’t Buy
Individual Stocks”, dijelaskan alasan
kuat mengapa hal itu justru bukan
langkah yang bijak bahkan bisa
berbahaya bagi keuangan Anda.
Nick Maggiulli menjelaskan dua
alasan besar mengapa membeli
saham individual sebaiknya
dihindari: alasan finansial dan
alasan eksistensial. Mari kita
bahas satu per satu.
1. Alasan Finansial:
Kemungkinan Anda Kalah
dari Pasar
Pertama-tama, dari sisi finansial,
data menunjukkan bahwa bahkan
investor profesional pun
kesulitan mengalahkan pasar.
Padahal mereka bekerja penuh
waktu, dibantu analis, dan memiliki
akses ke data riset yang canggih.
Penelitian menunjukkan bahwa
sekitar 75% manajer investasi
profesional gagal mengalahkan
indeks acuan seperti S&P 500
dalam periode lima tahun. Artinya,
dari setiap 100 orang yang mencoba
memilih saham terbaik, hanya
sekitar 25 orang yang hasil
investasinya lebih baik dari indeks.
Dan itu pun belum tentu konsisten
di tahun-tahun berikutnya.
Kalau para ahli saja gagal, bagaimana
dengan investor biasa yang tidak
memiliki alat, waktu, dan tim riset
yang sama? Peluangnya tentu jauh
lebih kecil.
Lebih mengejutkan lagi, riset berjudul
“Do Stocks Outperform Treasury Bills?”
menemukan bahwa hanya 4% dari
seluruh saham di pasar Amerika
Serikat (periode 1926–2016) yang
bertanggung jawab atas seluruh
keunggulan pasar saham dibandingkan
obligasi pemerintah.
Dengan kata lain, 96% saham
lainnya justru tidak lebih baik
bahkan banyak yang merugikan
investor.
Jadi, kemungkinan Anda membeli
saham yang termasuk “4% pemenang”
sangatlah kecil. Dan kemungkinan
lebih besar, Anda justru membeli
saham yang akan tertinggal atau
bahkan bangkrut.
Sebagai contoh, lihat sejarah Dow
Jones Industrial Average indeks
yang berisi perusahaan-perusahaan
besar AS.
Pada Maret 1920, daftar itu berisi
20 perusahaan terkenal pada
zamannya. Namun hari ini,
tidak satu pun dari perusahaan
itu yang masih bertahan dalam
daftar.
Itu artinya, bahkan perusahaan
besar sekalipun tidak selalu abadi.
Jadi, membeli saham individual
seperti mencoba menebak siapa
yang akan jadi juara dalam
50 tahun ke depan penuh risiko
dan kemungkinan besar salah.
2. Alasan Eksistensial: Stres
dan Ilusi Keberuntungan
Alasan kedua lebih bersifat psikologis,
atau disebut eksistensial.
Pertanyaannya sederhana:
Bagaimana Anda tahu kalau And
a benar-benar pandai memilih
saham?
Apakah satu keputusan yang sukses
misalnya saham yang Anda beli
tiba-tiba naik 100% berarti Anda
punya kemampuan khusus?
Kemungkinan besar tidak. Karena
dalam dunia investasi, hasil
jangka pendek sering kali
hanyalah keberuntungan.
Bisa jadi saham itu naik karena
viral di media sosial, bukan
karena analisis Anda benar.
Namun sayangnya, banyak orang
mengira “beruntung” berarti
“pintar”.
Dan ketika keberuntungan itu tak
terulang lagi, rasa percaya diri
berubah menjadi stres. Investor
mulai mempertanyakan
kemampuannya sendiri:
“Apakah saya masih hebat, atau
cuma beruntung waktu itu?”
Inilah dilema yang dialami bahkan
oleh investor profesional. Studi
menunjukkan bahwa bahkan
manajer dana berpengalaman
sering gagal mengalahkan
indeks pasar dalam tiga tahun
berturut-turut.
Mereka pun mulai ragu apakah
strategi mereka masih relevan,
atau sudah kehilangan sentuhan?
Bayangkan jika Anda harus terus
menganalisis grafik harga,
memantau laporan keuangan,
membaca berita ekonomi, dan
memikirkan apakah Anda harus
menjual atau membeli lagi itu
bukan investasi yang tenang, tapi
pekerjaan penuh waktu yang p
enuh tekanan.
Lebih buruk lagi, satu kesalahan
bisa sangat mahal.
Satu saham bisa turun 30%, 50%,
bahkan 90% hanya karena kabar
buruk atau krisis global.
Dan jika seluruh uang Anda hanya
tertanam di sana, kerugiannya bisa
menghancurkan tabungan yang
Anda bangun bertahun-tahun.
3. Lalu, Apa Alternatifnya?
Bukan berarti Anda tidak boleh
berinvestasi di pasar saham sama
sekali. Justru sebaliknya Anda tetap
perlu berinvestasi, tetapi bukan
dengan memilih saham satu
per satu.
Solusi terbaik adalah berinvestasi
di reksa dana indeks atau ETF
(Exchange-Traded Fund).
Produk ini memungkinkan Anda
membeli “sepotong kecil” dari
ratusan atau bahkan ribuan
perusahaan sekaligus.
Contohnya, dengan S&P 500
Index Fund, Anda otomatis
menjadi pemilik sebagian dari
500 perusahaan terbesar di Amerika
Serikat mulai dari Apple hingga
Coca-Cola.
Jika satu perusahaan rugi, masih ada
ratusan perusahaan lain yang
menopang nilainya.
Risiko tersebar luas, dan hasilnya
lebih stabil.
Selain itu, biaya pengelolaannya jauh
lebih murah dibandingkan reksa dana
aktif, dan Anda tidak perlu pusing
memantau pasar setiap hari.
Inilah makna dari filosofi Just Keep
Buying terus membeli secara
konsisten dalam jangka panjang,
tanpa berusaha menebak pasar.
Bukan kecepatan Anda memilih yang
menentukan hasil, melainkan
kedisiplinan Anda untuk terus
berinvestasi.
4. Lebih Baik Pasti Berkembang
daripada Spekulasi
Memilih saham individual memang
terdengar menarik seperti permainan
yang bisa memberi kemenangan besar.
Tapi kenyataannya, permainan itu
lebih sering membuat orang rugi.
Pasar saham ibarat samudra luas yang
tak bisa Anda kendalikan. Namun
Anda bisa memilih kapal yang stabil:
index fund dan ETF.
Mereka mungkin tidak bergerak
secepat kapal kecil yang nekat, tapi
pasti membawa Anda sampai tujuan
dengan aman.
Jadi, daripada mencoba menjadi
peramal saham, lebih baik menjadi
investor yang konsisten.
Karena dalam jangka panjang,
yang menang bukan mereka
yang paling pintar memilih
saham, tapi mereka yang
paling sabar untuk terus
membeli.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Bayangkan Anda berada di sebuah
pasar besar yang menjual berbagai
macam buah.
Ada ratusan pedagang yang
menawarkan dagangan mereka:
apel, jeruk, mangga, pisang, dan
banyak lagi.
Semua terlihat segar dan
menggiurkan.
Namun, masalahnya tidak ada yang
tahu buah mana yang akan tetap
bagus minggu depan dan mana
yang akan membusuk duluan.
Sekarang bayangkan Anda diminta
memilih satu buah yang harus
Anda simpan selama bertahun-tahun.
Anda tentu bisa menebak-nebak,
melihat warna kulitnya, atau
mencium aromanya. Tapi tidak
ada jaminan.
Bisa jadi apel yang tampak sempurna
hari ini justru cepat busuk, sementara
jeruk di sebelahnya malah tahan lama.
Itulah gambaran memilih saham
individual.
1. Anda Hanya Bisa Menebak,
Bukan Menjamin
Saham individual seperti buah-buahan
di pasar.
Semua tampak menarik, dan setiap
orang punya alasan sendiri kenapa
memilih yang satu daripada yang lain.
Namun pada akhirnya, tidak ada yang
tahu pasti mana yang akan tetap
“segar” dalam jangka panjang.
Bahkan para profesional yang
bekerja penuh waktu di dunia
investasi dengan data lengkap, tim
analis, dan perangkat riset mahal
ternyata sering salah memilih.
Penelitian menunjukkan bahwa tiga
dari empat manajer investasi
tidak mampu mengalahkan
kinerja pasar secara keseluruhan.
Kalau mereka yang sudah
berpengalaman saja gagal menebak
dengan akurat, bagaimana dengan
kita, orang biasa yang hanya
membaca berita atau menonton
video YouTube?
Peluangnya sangat kecil, bahkan
nyaris seperti menebak undian.
2. Hanya Sedikit Saham yang
Benar-benar Menguntungkan
Masih di pasar buah tadi, bayangkan
hanya 4% dari semua buah yang
ternyata benar-benar manis dan
tahan lama.
Sementara 96% sisanya cepat
busuk atau rasanya biasa saja.
Begitulah pasar saham bekerja.
Penelitian panjang selama puluhan
tahun menemukan bahwa hanya
4% saham yang benar-benar
menyumbang keuntungan
besar bagi pasar saham.
Sisanya sebagian besar tidak
memberikan hasil yang sepadan,
bahkan bisa membuat investor rugi.
Jadi, jika Anda memilih saham
secara acak, kemungkinan besar
Anda akan mendapatkan buah yang
“busuk lebih cepat” daripada yang
Anda harapkan.
3. Bahkan Buah Terkenal
Bisa Layu
Masih ingat perusahaan-perusahaan
besar masa lalu seperti Kodak atau
Nokia?
Dulu mereka seperti “apel terbaik”
di pasar semua orang menginginkannya.
Namun waktu berubah, dan
teknologi berkembang.
Kini, banyak dari perusahaan itu
tidak lagi sekuat dulu.
Di pasar nyata pun sama:
Buah paling mahal hari ini belum
tentu tetap segar besok.
Perubahan cuaca, transportasi, atau
cara penyimpanan bisa mengubah
segalanya.
Dengan kata lain, tidak ada
saham yang abadi.
Sekuat apa pun perusahaannya,
selalu ada risiko ia kehilangan
daya saing.
4. Menebak Pasar Itu Melelahkan
Mencoba memilih saham individual
ibarat Anda datang ke pasar setiap
hari,
mencium satu per satu buah,
menimbang, memeriksa kulitnya,
lalu menyesal kalau buah yang
kemarin Anda lewati ternyata hari ini
dijual dengan harga lebih tinggi.
Itu melelahkan, bukan?
Begitu pula dengan investor yang
terus memantau harga saham.
Satu berita negatif saja bisa
membuat jantung berdebar.
Satu keputusan salah bisa menghapus
hasil kerja keras bertahun-tahun.
Investasi seharusnya membuat hidup
tenang bukan membuat Anda stres
setiap kali harga berubah.
5. Ada Cara yang Lebih Aman:
Beli Keranjang Buahnya
Sekaligus
Daripada menebak buah mana
yang terbaik, bagaimana kalau
Anda membeli satu keranjang
yang berisi semua jenis buah?
Ada apel, jeruk, mangga, dan
pisang di dalamnya.
Kalau ada satu buah yang rusak,
masih ada banyak buah lain yang
tetap segar.
Inilah analogi dari reksa dana
indeks atau ETF
(Exchange-Traded Fund).
Anda tidak perlu memilih satu
saham tertentu.
Anda cukup membeli “keranjang”
yang berisi ratusan atau bahkan
ribuan saham dari berbagai
perusahaan.
Jadi, kalau satu perusahaan gagal,
nilai investasi Anda tidak langsung
jatuh karena yang lain masih
menutupi.
Misalnya, S&P 500 Index Fund
berisi 500 perusahaan besar
di Amerika Serikat.
Dengan membeli satu produk ini,
Anda otomatis ikut memiliki
“sepotong kecil” dari semua
perusahaan besar itu
tanpa harus menebak siapa
pemenangnya.
6. Fokus pada Konsistensi,
Bukan Keberuntungan
Investasi bukan tentang siapa yang
paling jago menebak.
Melainkan tentang siapa yang
paling sabar dan konsisten
menanam.
Daripada menghabiskan waktu
menebak buah mana yang paling
manis,
lebih baik terus membeli keranjang
buah setiap bulan.
Kadang isinya lebih segar, kadang
sedikit layu, tapi dalam jangka
panjang, Anda selalu punya cukup
stok untuk makan sehat setiap hari.
Itulah filosofi dari Just Keep Buying
bukan memilih yang terbaik
sekali waktu, tapi terus
membeli secara konsisten,
tanpa berhenti.
Dengan cara itu, Anda tidak perlu
menjadi peramal saham, cukup
menjadi penanam yang tekun.
Dan pada akhirnya, hasilnya
akan tetap manis.
