Memulai Investasi Saham Setelah Memahami Dasar-Dasarnya
Dalam buku A Beginner’s Guide to
the Stock Market, Matthew
R. Kratter menjelaskan bahwa
setelah memahami fundamental
pasar saham, langkah berikutnya
adalah mengambil keputusan
nyata: membeli saham pertama.
Banyak orang sudah sampai pada
tahap ini mereka sudah memutuskan
ingin berinvestasi dan bahkan
memiliki beberapa saham incaran
namun masih bingung dengan proses
teknis untuk benar-benar membeli
saham tersebut. Bagian ini
membahas langkah-langkah praktis
yang perlu dilalui sebelum dan
sesudah membeli saham pertama.
Memilih Perusahaan Sekuritas
sebagai Pintu Masuk Pasar
Saham
Sebelum bisa membeli saham,
investor harus membuka akun
di perusahaan sekuritas atau
brokerage firm. Perusahaan
sekuritas inilah yang menjadi
perantara antara investor dan pasar
saham. Secara umum, terdapat dua
jenis utama perusahaan sekuritas
yang bisa dipilih: sekuritas online
dan sekuritas tradisional.
Sekuritas online adalah penyedia
layanan keuangan yang
memungkinkan investor membeli
dan menjual saham melalui
platform perdagangan berbasis
internet. Jenis ini biasanya
menawarkan biaya dan komisi yang
lebih rendah dibandingkan
sekuritas tradisional. Sebagian besar
sekuritas online bersifat
self-directed, artinya investor
bertanggung jawab penuh atas
keputusan investasinya dan
mengelola portofolionya sendiri.
Meskipun demikian, banyak
sekuritas online juga menyediakan
materi edukasi, layanan pelanggan,
dan bahkan saran investasi dengan
biaya tambahan.
Sebaliknya, sekuritas tradisional
merupakan perusahaan full-service
yang menyediakan berbagai
layanan investasi dan produk
keuangan, termasuk pengelolaan
kekayaan, perencanaan keuangan,
dan perencanaan pensiun.
Perusahaan ini umumnya memiliki
kantor fisik sehingga investor dapat
bertemu langsung dengan penasihat
keuangan atau broker. Namun,
layanan tambahan ini biasanya
disertai dengan biaya dan komisi
yang lebih tinggi.
Secara keseluruhan, sekuritas online
lebih cocok bagi investor yang
menginginkan biaya rendah dan
pendekatan mandiri, sementara
sekuritas tradisional lebih sesuai bagi
mereka yang menginginkan
pendampingan investasi secara
personal dan layanan keuangan
yang lengkap.
Mengisi Dana ke Akun Investasi
Setelah memilih perusahaan
sekuritas, langkah berikutnya
adalah mendanai akun investasi.
Tanpa dana di dalam akun, transaksi
pembelian saham tidak dapat
dilakukan. Proses pendanaan ini
dapat dilakukan melalui berbagai
metode, tergantung kebijakan
masing-masing sekuritas.
Beberapa metode yang umum
digunakan antara lain transfer bank,
wire transfer, pengiriman cek, atau
metode lain yang disediakan oleh
perusahaan sekuritas. Investor
perlu memahami dengan jelas
biaya yang mungkin timbul dalam
proses ini serta berapa lama waktu
yang dibutuhkan hingga dana
benar-benar tersedia dan siap
digunakan untuk transaksi.
Menentukan Saham yang
Akan Dibeli
Langkah berikutnya adalah memilih
saham yang akan dibeli, terutama
bagi investor yang belum memiliki
keputusan final. Pada tahap ini,
riset dan analisis menjadi sangat
penting. Investor perlu menilai
perusahaan yang sahamnya akan
dibeli berdasarkan kondisi
keuangan dan prospeknya.
Secara umum, saham yang layak
dipertimbangkan adalah saham
dari perusahaan yang stabil secara
finansial, memiliki pertumbuhan
laba yang kuat, mempunyai
keunggulan kompetitif, dan idealnya
memiliki riwayat pembayaran
dividen. Penilaian ini dilakukan
melalui analisis fundamental, yaitu
dengan mempelajari laporan
keuangan perusahaan serta
metrik-metrik penting untuk
menilai kesehatan keuangan dan
potensi pertumbuhannya di masa
depan.
Melakukan Pembelian Saham
Setelah menentukan saham yang
ingin dibeli, investor masuk
ke tahap eksekusi, yaitu melakukan
pemesanan saham. Transaksi ini
dapat dilakukan melalui situs web
atau aplikasi mobile milik
perusahaan sekuritas.
Dalam proses ini, investor harus
menentukan jumlah saham yang
ingin dibeli serta harga yang bersedia
dibayarkan. Investor dapat memilih
market order, yaitu membeli saham
pada harga pasar saat ini, atau limit
order, yaitu membeli saham hanya
jika harga mencapai tingkat tertentu
yang telah ditentukan sebelumnya.
Memantau Investasi yang
Sudah Dibeli
Setelah saham berhasil dibeli, proses
investasi tidak berhenti begitu saja.
Investor perlu terus memantau
kinerja investasinya. Hal ini
mencakup memperhatikan kinerja
keuangan perusahaan serta berita
atau peristiwa yang dapat
memengaruhi harga saham.
Penting untuk diingat bahwa investasi
saham selalu melibatkan risiko.
Pergerakan harga saham dapat naik
dan turun seiring dengan kondisi
pasar. Oleh karena itu, investor perlu
siap menghadapi fluktuasi tersebut
sebagai bagian dari proses investasi.
Diversifikasi untuk Mengelola
Risiko
Untuk mengurangi risiko, investor
dianjurkan melakukan diversifikasi.
Diversifikasi dapat dilakukan
dengan membeli berbagai saham
dari perusahaan yang berbeda atau
dengan berinvestasi melalui reksa
dana dan exchange traded funds
(ETF) yang memberikan eksposur
ke berbagai saham sekaligus.
Dengan cara ini, risiko tidak hanya
bergantung pada kinerja satu saham
atau satu perusahaan saja.
Menjaga Strategi Investasi
Jangka Panjang
Selain langkah-langkah teknis,
memiliki strategi investasi jangka
panjang dan konsisten
menjalankannya merupakan hal
yang sangat penting. Investor
sebaiknya tidak terjebak dalam
fluktuasi pasar jangka pendek atau
mencoba menebak waktu terbaik
untuk masuk dan keluar pasar.
Fokus utama adalah tujuan jangka
panjang dan disiplin dalam
menjalankan strategi yang telah
ditetapkan. Dengan pendekatan
ini, investor dapat membuat
keputusan yang lebih rasional dan
tidak mudah terpengaruh oleh
gejolak pasar sementara.
Berinvestasi saham dapat menjadi
pengalaman yang menarik dan
berpotensi memberikan hasil yang
memuaskan. Dengan memahami
proses pembelian saham, mulai
dari memilih perusahaan sekuritas,
mendanai akun, memilih saham,
hingga memantau investasi,
investor dapat mengambil
keputusan yang lebih terinformasi.
Dengan riset yang memadai,
pertimbangan yang matang, serta
disiplin jangka panjang, investasi
saham dapat menjadi sarana
untuk mencapai tujuan keuangan.
Memulai Investasi Saham:
Seperti Belanja Besar Setelah
Belajar Dasarnya
Bayangkan kamu mau mulai belanja
bulanan di supermarket besar.
Kamu sudah paham mana
kebutuhan pokok, mana barang
yang sering diskon, dan mana yang
kualitasnya bagus. Artinya, kamu
sudah paham dasar-dasarnya.
Nah, langkah berikutnya bukan
cuma paham teori, tapi
benar-benar ambil barang dan
bayar di kasir. Di dunia saham,
inilah momen membeli saham
pertama.
Banyak orang sebenarnya sudah
siap belanja, bahkan sudah tahu
mau beli apa, tapi masih bingung:
“Masuk ke mana dulu?”
“Bayarnya lewat apa?”
“Klik yang mana?”
Memilih Perusahaan Sekuritas:
Seperti Memilih Tempat
Belanja
Perusahaan sekuritas itu ibarat
tempat kamu belanja.
Sekuritas Online
= Minimarket Self-Service
Ini seperti belanja di minimarket:
Kamu ambil barang sendiri
Bayar sendiri di kasir
Biaya lebih murah
Cepat dan praktis
Cocok untuk orang yang mau belajar
mandiri dan tidak ingin biaya mahal.
Sekuritas Tradisional = Toko
dengan Pramuniaga
Ini seperti belanja di toko besar
dengan pramuniaga:
Ada yang menemani
Bisa tanya rekomendasi
Dibantu mengatur belanjaan
Tapi, ya wajar, biayanya lebih
mahal karena ada layanan
tambahan.
Mengisi Dana ke Akun:
Seperti Isi Saldo Dompet
Sebelum belanja, dompet
harus ada isinya.
Di saham juga sama: akun
investasi harus diisi dana dulu.
Mengisi dana ini seperti:
Transfer uang ke e-wallet
Isi saldo kartu
Setor uang ke rekening
Kalau saldonya belum masuk,
ya belum bisa belanja apa-apa.
Menentukan Saham: Seperti
Memilih Produk Berkualitas
Memilih saham itu mirip memilih
barang:
Jangan cuma lihat kemasan
Lihat kualitas dan reputasinya
Apakah produknya laku?
Apakah perusahaannya sehat?
Saham yang bagus seperti merek yang:
Sudah lama dipercaya
Penjualannya stabil
Tidak sering bermasalah
Kadang rutin kasih “bonus”
(dividen)
Ini yang disebut orang sebagai
menilai fundamental
perusahaan.
Membeli Saham:
Seperti Cara Bayar di Kasir
Saat bayar, biasanya ada
dua pilihan:
Market Order = Ambil Harga
Sekarang
Seperti bilang ke kasir:
“Saya beli sekarang, berapa pun
harganya.”
Cepat dan praktis.
Limit Order = Nawar Harga
Seperti bilang:
“Saya mau beli kalau harganya
turun segini.”
Kalau harganya belum sesuai,
transaksi belum terjadi.
Memantau Investasi:
Seperti Mengecek Barang
di Rumah
Setelah belanja,
kamu sesekali cek:
Apakah barangnya awet?
Masih sering dipakai?
Atau mulai rusak?
Saham juga begitu:
Dilihat kinerjanya
Diperhatikan kabarnya
Tidak panik kalau harga
naik-turun sementara
Naik-turun harga itu normal,
seperti harga kebutuhan yang
kadang mahal, kadang murah.
Diversifikasi: Jangan Taruh
Semua di Satu Kantong
Bayangkan semua uang belanja
kamu habis untuk satu jenis
barang. Kalau barang itu rusak,
habislah semuanya.
Diversifikasi itu seperti:
Belanja banyak jenis barang
Beli di beberapa toko
Tidak bergantung pada satu
produk saja
Kalau satu bermasalah, yang lain
masih menopang.
Strategi Jangka Panjang:
Seperti Merawat Kebun
Investasi saham bukan seperti
jual-beli cepat di pasar pagi.
Lebih mirip menanam pohon:
Tidak panen besok
Disiram rutin
Dibiarkan tumbuh
Kalau tiap hari dicabut cuma karena
belum berbuah, ya tidak akan
pernah panen.
Saham Itu Bukan Menakutkan,
Cuma Belum Terbiasa
Investasi saham sebenarnya tidak
serumit kelihatannya.
Kalau dibayangkan, ini hanya soal:
Masuk ke toko yang tepat
Isi dompet
Pilih barang berkualitas
Belanja dengan tenang
Simpan dan rawat untuk
jangka panjang
Dengan cara berpikir seperti ini,
saham tidak lagi terasa
menakutkan, tapi menjadi
aktivitas keuangan yang
masuk akal dan terstruktur.
Contoh Kasus: Budi Membeli
Saham Pertamanya
1. Memulai Investasi Saham
Setelah Memahami
Dasar-Dasarnya
Budi, 30 tahun, sudah membaca
beberapa buku dan artikel tentang
saham. Ia memahami konsep
dasar seperti apa itu saham, risiko
dan return, serta pentingnya
investasi jangka panjang. Setelah
merasa cukup paham, Budi
memutuskan untuk benar-benar
mulai berinvestasi saham, bukan
sekadar belajar teori.
Budi menetapkan tujuan awal yang
sederhana: mencoba membeli
saham pertama dengan dana
terbatas, sambil belajar langsung
dari pengalaman.
2. Memilih Perusahaan
Sekuritas sebagai Pintu
Masuk Pasar Saham
Budi membandingkan dua pilihan:
Sekuritas online dengan
biaya transaksi rendahSekuritas tradisional
dengan pendampingan broker,
tetapi biaya lebih mahal
Karena modalnya masih kecil dan
ingin belajar mandiri, Budi
memilih sekuritas online.
Biaya transaksi di sekuritas
tersebut:
Beli saham: 0,15%
Jual saham: 0,25%
3. Mengisi Dana ke Akun
Investasi
Budi membuka rekening efek dan
mentransfer dana awal sebesar:
Rp5.000.000
Dana ini masuk ke akun dalam
1 hari kerja dan siap digunakan
untuk membeli saham. Budi sengaja
tidak langsung menaruh uang besar
agar risikonya tetap terkendali.
4. Menentukan Saham yang
Akan Dibeli
Setelah riset sederhana, Budi
memilih saham perusahaan fiktif
PT Maju Jaya Tbk dengan
pertimbangan:
Perusahaan sudah untung
selama beberapa tahunBisnisnya mudah dipahami
Laba relatif stabil
Harga saham tidak
terlalu mahal
Harga saham saat ini:
Rp2.000 per lembar
Di Bursa Efek Indonesia, saham
dibeli dalam 1 lot = 100 lembar.
Artinya:
1 lot = 100 × Rp2.000
= Rp200.000
5. Melakukan Pembelian Saham
Budi ingin membeli 20 lot saham
PT Maju Jaya Tbk.
Perhitungannya:
Nilai pembelian:
20 lot × Rp200.000
= Rp4.000.000Biaya beli (0,15%):
0,15% × Rp4.000.000
= Rp6.000
Total dana yang terpakai:
Rp4.006.000
Sisa saldo di akun investasi:
Rp994.000
Budi menggunakan limit order,
memasang harga Rp2.000, dan
transaksi berhasil.
6. Memantau Investasi yang
Sudah Dibeli
Setelah membeli saham, Budi tidak
mengecek harga setiap jam.
Ia hanya:
Mengecek laporan
keuangan per kuartalMembaca berita penting
tentang perusahaanMemantau harga sesekali
Beberapa bulan kemudian, harga
saham naik menjadi
Rp2.400 per lembar.
Nilai investasinya sekarang:
20 lot × 100 × Rp2.400
= Rp4.800.000
Secara kertas (belum dijual),
Budi sudah untung:
Rp800.000 sebelum pajak
dan biaya jual.
7. Diversifikasi untuk
Mengelola Risiko
Budi sadar bahwa menaruh semua
dana di satu saham berisiko. Dari
sisa saldo dan tabungan bulan
berikutnya, ia mulai:
Membeli saham di sektor
berbedaMenyisihkan dana untuk
reksa dana indeks
Dengan begitu, jika satu saham
turun, seluruh portofolionya
tidak ikut jatuh drastis.
8. Menjaga Strategi Investasi
Jangka Panjang
Budi tidak langsung menjual saham
hanya karena harga naik. Ia kembali
ke tujuan awalnya: investasi
jangka panjang.
Ia memilih untuk:
Menabung saham secara
bertahap setiap bulanTidak panik saat harga
turun sementaraFokus pada kualitas bisnis,
bukan rumor pasar
Budi memahami bahwa naik-turun
harga adalah bagian normal dari
perjalanan investasi.
Penutup Contoh Kasus
Dari contoh ini, pembaca bisa
melihat bahwa membeli saham
pertama:
Tidak harus dengan modal
besarProsesnya bertahap dan
logisMelibatkan keputusan nyata,
bukan sekadar teori
Dengan dana Rp5 juta, Budi sudah
bisa belajar langsung tentang cara
membuka akun, membeli saham,
menghadapi fluktuasi harga, dan
membangun kebiasaan investasi yang
disiplin. Contoh ini menunjukkan
bahwa langkah kecil yang konsisten
jauh lebih penting daripada
menunggu kondisi “sempurna” yang
sering kali tidak pernah datang.
