Memilih Derita yang Layak Diperjuangkan
Dalam The Subtle Art of Not Giving
a F*ck, Mark Manson mengingatkan
bahwa hidup tidak pernah bebas dari
masalah. Tidak ada versi kehidupan
yang sepenuhnya nyaman, tanpa
tekanan, tanpa konflik, atau tanpa
rasa lelah. Gagasan “Choosing
Struggle” menekankan bahwa
pertanyaannya bukan bagaimana
menghindari kesulitan, melainkan
kesulitan mana yang ingin kita pilih.
Sering kali kita membayangkan hidup
ideal sebagai hidup tanpa beban.
Padahal, beban itu selalu ada. Ketika
satu masalah selesai, masalah lain
muncul. Maka inti dari memilih
perjuangan adalah menerima
kenyataan bahwa bagian sulit dari
hidup tidak bisa dihapus
hanya bisa dipilih.
Tidak Ada Hidup Tanpa Masalah
Banyak orang terjebak dalam ilusi
bahwa kebahagiaan berarti bebas dari
problem. Mereka berpikir, “Kalau
nanti sudah sukses, semuanya akan
mudah.” Namun kenyataannya, setiap
tahap kehidupan memiliki tantangan
masing-masing. Tidak ada kondisi
yang sepenuhnya steril dari kesulitan.
Karena itu, mencari hidup tanpa
masalah adalah usaha yang mustahil.
Yang bisa dilakukan hanyalah memilih
jenis masalah yang ingin kita hadapi.
Setiap pilihan membawa konsekuensi.
Setiap impian membawa harga. Tidak
ada pencapaian tanpa perjuangan
yang menyertainya.
Analogi Memilih Hewan Peliharaan
Bayangkan memilih hewan peliharaan.
Apa pun pilihannya
—anjing, kucing, atau bahkan kadal,
semuanya membutuhkan perawatan.
Anjing harus diajak jalan dan dilatih.
Kucing perlu kotak pasir yang
dibersihkan. Kadal pun memerlukan
perhatian khusus pada suhu dan
makanan.
Tidak ada hewan peliharaan yang
sepenuhnya bebas repot. Yang ada
hanyalah jenis kerepotan yang berbeda.
Maka keputusan bukan soal mencari
peliharaan tanpa tanggung jawab,
tetapi memilih tanggung jawab yang
sanggup dan rela kita jalani.
Begitu pula dengan hidup. Kita tidak
memilih antara hidup mudah dan
hidup sulit. Kita memilih jenis
kesulitan yang ingin kita tanggung.
Segala Sesuatu yang Berharga
Itu Sulit
Setiap hal yang bernilai datang
bersama tuntutan. Ingin menjadi
musisi hebat berarti harus berlatih
terus-menerus, bahkan ketika tidak
ada motivasi. Ingin memiliki
hubungan yang kuat berarti harus
siap menghadapi perbedaan pendapat
dan masa-masa sulit.
Ingin berkembang dalam bidang
apa pun berarti siap menghadapi
kegagalan, kritik, dan rasa tidak
nyaman.
Kesulitan bukan tanda bahwa sesuatu
salah. Justru sering kali itu tanda
bahwa sesuatu itu berarti. Tantangan
adalah bagian alami dari proses
menuju hal yang kita anggap penting.
Memilih perjuangan berarti berkata,
“Ini memang berat, tapi saya bersedia
menjalaninya karena tujuan ini
penting bagi saya.”
Pertanyaan yang Mengubah
Cara Pandang
Gagasan ini menggeser fokus dari
“Apa yang saya inginkan?”
menjadi
“Kesulitan apa yang sanggup saya
hadapi?”
Banyak orang menginginkan hasil
akhir: ingin sukses, ingin hubungan
harmonis, ingin diakui, ingin mahir
dalam suatu bidang. Namun mereka
tidak selalu siap dengan proses sulit
yang menyertainya. Padahal, hasil dan
perjuangan adalah satu paket yang
tidak terpisahkan.
Pertanyaan kuncinya menjadi sangat
sederhana: perjuangan seperti apa
yang rela saya tanggung?
Jika jawabannya jelas, maka arah
hidup pun menjadi lebih tegas.
Bukan Menghindari yang Sulit,
Tapi Memilih yang Bermakna
“Choosing Struggle” bukan ajakan
untuk mencari penderitaan, dan juga
bukan ajakan untuk lari dari hal-hal
sulit. Ini adalah ajakan untuk sadar
bahwa kesulitan tidak bisa dihindari,
sehingga kita perlu memilih kesulitan
yang sejalan dengan nilai dan
keinginan kita.
Alih-alih berkata,
“Saya ingin hidup tanpa masalah,”
kita belajar berkata,
“Masalah ini memang ada, dan saya
memilihnya karena ia membawa
saya ke sesuatu yang saya inginkan.”
Dalam perspektif ini, rasa lelah,
konflik, dan kegagalan tidak lagi
sekadar beban. Mereka menjadi
bagian dari jalan yang kita pilih
secara sadar. Dan ketika kesulitan
itu terasa berat, kita tetap bisa
bertahan karena tahu: ini adalah
perjuangan yang memang kita
putuskan untuk dijalani.
Kasus 1: Pegawai Stabil vs
Membangun Usaha Sendiri
Raka bekerja di perusahaan dengan
gaji tetap dan jam kerja jelas.
Hidupnya cukup nyaman, tetapi ia
merasa pekerjaannya monoton dan
tidak berkembang. Di sisi lain, ia ingin
membangun usaha pendidikan online,
sesuatu yang benar-benar ia minati.
Namun ia tahu konsekuensinya:
penghasilan tidak stabil, tekanan
finansial, jam kerja lebih panjang,
risiko gagal, dan komentar orang
sekitar.
Jika ia tetap menjadi pegawai, ia akan
menghadapi “derita” berupa kebosanan,
rasa tidak berkembang, dan mungkin
penyesalan di masa depan.
Jika ia memilih membangun usaha,
ia menghadapi “derita” berupa
ketidakpastian dan tekanan.
Pada akhirnya, Raka sadar bahwa bukan
soal mana yang lebih mudah.
Ia bertanya pada dirinya:
“Kesulitan mana yang rela saya
tanggung?”
Ia memilih membangun usaha, bukan
karena itu mudah, tetapi karena
perjuangan itu terasa lebih bermakna
baginya.
Kasus 2: Hubungan yang
Ditinggalkan atau Diperjuangkan
Dina dan pasangannya sering berbeda
pendapat. Perbedaan karakter
membuat mereka kerap berdebat.
Dina mulai berpikir,
“Mungkin hubungan ini tidak cocok.”
Namun ia menyadari sesuatu: semua
hubungan akan memiliki konflik.
Jika ia meninggalkan hubungan ini,
bukan berarti hubungan berikutnya
bebas masalah. Ia hanya akan
menghadapi jenis konflik yang berbeda.
Pilihan Dina bukan antara
“hubungan tanpa konflik”
atau
“hubungan penuh konflik.”
Pilihannya adalah:
Konflik yang ia hadapi sekarang,
dengan orang yang ia nilai
punya komitmen dan visi sejalan.Atau konflik lain di masa depan
dengan orang yang berbeda.
Dina akhirnya memilih untuk berjuang
memperbaiki komunikasi. Ia menerima
bahwa hubungan sehat bukan bebas
masalah, tetapi tentang masalah yang
layak diperjuangkan bersama.
Kasus 3: Ingin Sehat Tapi Tidak
Mau Tidak Nyaman
Arif ingin memiliki tubuh yang sehat
dan bugar. Ia sering berkata ingin hidup
lebih sehat. Tetapi ia tidak suka bangun
pagi untuk olahraga, tidak suka
membatasi makanan, dan tidak nyaman
saat tubuhnya pegal setelah latihan.
Ia akhirnya menyadari satu hal penting:
Tubuh tidak sehat juga memiliki “derita”
—mudah lelah, rentan sakit, kurang
percaya diri, biaya kesehatan meningkat.
Jadi pilihannya bukan antara nyaman
dan tidak nyaman.
Pilihannya adalah:
Tidak nyaman saat olahraga dan
disiplin makan.Atau tidak nyaman karena
kesehatan yang menurun.
Arif memilih disiplin berolahraga.
Ia menerima rasa pegal dan lelah
sebagai bagian dari perjuangan
yang ia anggap layak.
Kasus 4: Mahir dalam Bidang
Tertentu
Seorang mahasiswa ingin menjadi
pembicara publik yang percaya diri.
Ia kagum melihat orang berbicara
lancar di depan umum. Namun
setiap kali ia harus presentasi,
ia gugup, berkeringat, dan takut
salah.
Ia punya dua pilihan:
Menghindari presentasi dan
tetap merasa aman, tetapi
selamanya takut berbicara.Atau menghadapi rasa malu,
latihan terus-menerus, mungkin
tampil buruk beberapa kali,
demi berkembang.
Ia sadar bahwa rasa malu itu tidak bisa
dihapus. Yang bisa ia lakukan hanyalah
memilih apakah rasa malu itu akan ia
hadapi sekarang demi berkembang,
atau ia simpan dan rasakan setiap kali
kesempatan datang.
Ia memilih latihan. Ia memilih derita
berupa rasa gugup dan kegagalan awal,
karena itu adalah harga dari
kemampuan yang ia inginkan.
Inti dari Semua Kasus
Setiap orang selalu membawa beban.
Tidak ada kehidupan tanpa tekanan.
Yang membedakan hanyalah:
Apakah beban itu kita pilih secara
sadar, atau kita jalani tanpa kesadaran?
Memilih derita yang layak
diperjuangkan berarti menerima
bahwa:
Sukses punya stresnya sendiri.
Cinta punya konfliknya sendiri.
Kesehatan punya disiplin yang
tidak nyaman.Pertumbuhan selalu
mengandung kegagalan.
Pertanyaannya bukan:
“Bagaimana caranya agar hidup
tidak sulit?”
Tetapi:
“Kesulitan seperti apa yang rela
saya tanggung karena sejalan
dengan nilai dan tujuan hidup
saya?”
Dan di situlah kebebasan yang
sebenarnya muncul bukan ketika hidup
bebas masalah, tetapi ketika kita sadar
bahwa kita memilih perjuangan itu
dengan sengaja.
