buku

Media dan Gelembung Spekulatif

Dalam Irrational Exuberance,
Robert J. Shiller menjelaskan bahwa
di antara sekian banyak faktor yang
memengaruhi perilaku pasar
spekulatif, media memiliki peran
yang sangat besar dan sering
kali diabaikan
.
Media baik televisi, surat kabar,
internet, maupun saluran berita
daring tidak hanya melaporkan apa
yang terjadi di pasar, tetapi juga
membentuk cara orang berpikir,
merasa, dan bertindak
terhadap
peristiwa ekonomi.

Shiller menyoroti bahwa berita
tentang pasar sering kali disajikan
dengan cara yang dramatis, dengan
judul besar dan pengulangan
terus-menerus, menciptakan efek
psikologis yang kuat. Ketika media
terus mengulang suatu narasi
misalnya bahwa harga saham sedang
“naik luar biasa” atau “pasar properti
tak pernah seramai ini” orang mulai
mempercayainya tanpa berpikir kritis.
Inilah titik di mana optimisme
berlebihan mulai mengeras
menjadi gelembung spekulatif
.

Dari Sensasi ke Keyakinan
Massal

Shiller mengingatkan bahwa
fenomena seperti ini bukan hal baru.
Ketika surat kabar mulai menjadi
bagian dari arus utama masyarakat
pada abad ke-19, gelembung
keuangan juga mulai lebih
sering muncul
.
Alasannya sederhana: semakin luas
jangkauan media, semakin cepat
pula persepsi kolektif dapat
terbentuk.

Media sering menggambarkan
dirinya sebagai pihak netral sekadar
menyampaikan berita kepada publik.
Namun, dalam praktiknya,
pemilihan kata, nada
pemberitaan, dan fokus cerita
dapat membentuk moral pasar
.
Ketika media menyoroti kisah
sukses investor yang tiba-tiba kaya
atau menampilkan kisah orang biasa
yang menjadi miliarder lewat properti,
mereka tidak hanya menyebarkan
informasi, tetapi juga menyebarkan
aspirasi dan rasa “tak ingin
tertinggal”
.
Efek domino pun muncul: orang-orang
mulai berinvestasi bukan karena
analisis, tetapi karena takut ketinggalan
momen yang diberitakan.

Kekuasaan Narasi dan Psikologi
Publik

Menurut Shiller, media bukan hanya
penyampai informasi; media adalah
pembangun narasi kolektif
.
Setiap kali terjadi peristiwa besar
di pasar entah kenaikan tajam atau
kejatuhan mendadak akan muncul
kesamaan pola pikir di antara banyak
orang. Media memperkuat pola ini
dengan kecepatan luar biasa,
menyalurkan satu pesan seragam
ke jutaan orang.

Misalnya, ketika pasar saham tampak
terus naik, media cenderung
menyoroti berita yang memperkuat
optimisme.
Sebaliknya, ketika pasar mulai jatuh,
media beralih menonjolkan berita
ketakutan.
Akibatnya, emosi massa
bergerak seirama
, dan volatilitas
pasar meningkat karena tindakan
yang dipicu oleh perasaan, bukan
analisis.

Pasar sebagai Panggung Hiburan

Shiller juga menyoroti bagaimana
media memanfaatkan pasar
sebagai sumber hiburan
.
Pasar saham, misalnya, berubah
setiap hari memberi kesempatan
bagi media untuk menciptakan
headline baru setiap pagi.
Kalimat seperti “Pasar saham
melonjak lagi hari ini!”
atau “Investor
panik menghadapi penurunan tajam!”
adalah contoh klasik bagaimana
fluktuasi biasa dibingkai menjadi
drama harian.

Tidak hanya pasar saham, pasar
properti juga menjadi ladang
narasi media
.
Acara televisi populer seperti HGTV
di Amerika Serikat atau Property
Ladder
di Inggris menggambarkan
pembelian dan renovasi rumah sebagai
ajang kesuksesan pribadi. Penonton
dibuat percaya bahwa membeli dan
memperjualbelikan rumah adalah
cara cepat menuju kekayaan.
Padahal, seperti pasar lainnya, pasar
properti juga penuh risiko dan
mudah terseret euforia
.

Ketika Opini Menjadi Fakta:
Kasus Robbie Batra

Shiller memberi contoh nyata
tentang bagaimana media dapat
memperkuat teori spekulatif
menjadi “kebenaran publik”
.
Ia menyinggung kisah Robbie Batra,
penulis buku The Great Depression
of 1990: Why It’s Got to Happen
and How to Protect Yourself
.
Beberapa hari sebelum kejatuhan
pasar saham tahun 1987, Batra tampil
di salah satu acara berita populer
di Amerika Serikat, memaparkan
teorinya bahwa depresi besar akan
segera terjadi dan masyarakat harus
segera menyelamatkan diri.

Yang menarik, teori Batra tidak
didukung bukti kuat, namun karena
ia muncul di media nasional,
pesannya memperoleh
legitimasi instan
.
Shiller menduga bahwa penyebaran
pesan semacam ini di tengah
suasana pasar yang sudah tegang
mungkin ikut memperburuk
kepanikan dan mempercepat
terjadinya crash
.
Dari sini, kita melihat betapa besar
kekuatan media dalam mempengaruhi
persepsi dan keputusan ekonomi
jutaan orang hanya melalui satu
penayangan.

Efek Gema Informasi

Fenomena ini juga berkaitan dengan
apa yang disebut Shiller sebagai
efek gema (echo effect).
Ketika satu media menyiarkan berita
tertentu, media lain cenderung
mengulangnya agar tidak tertinggal,
menciptakan gelombang narasi yang
tampak seragam di seluruh platform.
Dalam kondisi seperti ini, sulit bagi
masyarakat untuk memilah mana
fakta dan mana opini yang
dibesar-besarkan.

Efek gema ini memperkuat bias
kolektif: jika semua media
mengatakan pasar akan terus naik,
orang merasa aman untuk ikut
membeli.
Sebaliknya, jika semua media
berbicara tentang potensi krisis,
rasa panik menyebar dengan cepat,
dan pasar pun bergejolak.
Dengan kata lain, media berperan
sebagai cermin yang
memperbesar emosi publik
baik rasa serakah maupun rasa takut.

Kesimpulan: Kekuatan Narasi
dan Tanggung Jawab Informasi

Melalui pembahasannya, Robert
Shiller ingin menunjukkan bahwa
pasar tidak hanya digerakkan
oleh angka, tetapi juga oleh cerita
.
Media adalah mesin pencipta cerita
yang luar biasa efektif dan karenanya
memiliki tanggung jawab besar dalam
menjaga kewarasan pasar.
Berita yang sensasional mungkin
meningkatkan jumlah penonton atau
klik, tetapi bisa pula memperkuat
gelembung yang pada akhirnya
menyakiti banyak orang.

Irrational Exuberance mengingatkan
kita bahwa sebelum kita percaya pada
setiap headline yang menggoda,
kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:
apakah ini informasi, atau hanya
bagian dari euforia yang sedang
dipentaskan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *