Masuk Akal lebih penting dari rasional
Masuk Akal Lebih Penting daripada Rasional
(Refleksi dari Buku The Psychology of Money
oleh Morgan Housel)
Dalam dunia keuangan, kita sering mendengar nasihat:
“Bersikaplah rasional.” Maksudnya, ambil keputusan
berdasarkan logika dan angka, bukan emosi.
Terdengar meyakinkan, tapi Morgan Housel dalam
bukunya The Psychology of Money justru
mengingatkan: yang lebih penting dari rasional
adalah masuk akal (reasonable).
Kenapa begitu? Karena kita bukan robot. Kita manusia,
dengan segala emosi, ketakutan, dan impuls. Dan
strategi keuangan yang sempurna sekalipun tidak akan
berguna jika kita tidak bisa menjalaninya dengan
tenang dalam jangka panjang.
Kisah Julius Wagner-Jauregg: Antara “Gila” dan
Masuk Akal
Mari kita mulai dengan kisah dari abad ke-19. Seorang
dokter bernama Julius Wagner-Jauregg
menemukan bahwa demam punya peran penting dalam
melawan infeksi. Ia lalu mencoba metode yang
terdengar “gila”: menyembuhkan penyakit sifilis dengan
cara membuat pasien terkena malaria, agar tubuh
mereka mengalami demam tinggi.
Bagi kita hari ini, terdengar sangat tidak masuk akal.
Tapi di masa itu, strategi ini berhasil, bahkan
membuat Wagner-Jauregg memenangkan hadiah
Nobel.
Sekarang, tentu saja kita tidak lagi menggunakan
cara itu. Kita punya antibiotik seperti penisilin yang
jauh lebih efektif. Tapi ada satu pelajaran penting:
sesuatu bisa dianggap masuk akal pada
zamannya, meskipun mungkin tidak
“rasional” menurut standar ilmu
pengetahuan modern.
Hal yang sama juga berlaku dalam keuangan.
Manusia Bukan Robot:
Kita Menghindari Rasa Sakit
Mari pikirkan tentang demam. Kita tahu secara medis,
demam adalah mekanisme tubuh untuk melawan
infeksi. Tapi meski kita tahu manfaatnya, kita tetap
ingin segera menurunkannya dengan obat. Kenapa?
Karena demam menyakitkan.
Begitu juga dengan keuangan. Teori ekonomi sering
mengajarkan kita strategi “rasional”:
- Maksimalkan return dengan portofolio
berisiko tinggi. - Investasikan semua uang agar tidak
ada yang “menganggur.” - Jangan biarkan emosi memengaruhi
keputusan.
Masalahnya, kita bukan makhluk rasional murni.
Kita punya rasa takut kehilangan, kita cemas melihat
pasar jatuh, kita stres saat harus hidup pas-pasan demi
strategi “sempurna.” Dan kalau strategi keuangan
membuat kita menderita, kecil kemungkinan kita
bisa konsisten menjalaninya.
Strategi Masuk Akal Lebih Bertahan Lama
Banyak orang gagal menabung atau berinvestasi bukan
karena strategi mereka salah, tapi karena mereka
tidak kuat menjalaninya.
Contoh:
- Ada yang memilih investasi saham agresif karena
dianggap paling rasional untuk return jangka
panjang. Tapi begitu pasar jatuh 30%, mereka
panik, jual rugi, lalu trauma tidak mau
berinvestasi lagi. - Ada yang menabung terlalu ketat demi tujuan
tertentu, tapi hidup terasa sengsara. Akhirnya
mereka berhenti total, bahkan berutang untuk
“balas dendam” belanja.
Inilah kenapa Housel menekankan: lebih baik punya
strategi yang masuk akal, sederhana, dan bisa
dijalankan konsisten daripada strategi yang
sempurna di atas kertas tapi tidak realistis dalam
kehidupan nyata.
Yang Bertahan Lebih Penting daripada
Yang Paling Pintar
Pada akhirnya, pemenang dalam dunia keuangan
bukanlah orang yang paling pintar menghitung,
atau yang paling berani mengambil risiko.
Pemenangnya adalah orang yang bisa bertahan
paling lama.
Karena dalam investasi, menabung, maupun
membangun kekayaan, waktu adalah senjata
terbesar. Dan untuk bisa bertahan lama, strategi
keuangan kita harus selaras dengan psikologi kita,
bukan hanya logika matematis.
Apa yang Belum Pernah Terjadi, Bisa Saja
Terjadi
Housel juga mengingatkan satu hal penting: hanya
karena sesuatu belum pernah terjadi, bukan
berarti mustahil terjadi.
Krisis ekonomi, pandemi, bencana, inflasi tinggi semua
pernah dianggap “tidak mungkin” sebelum akhirnya
benar-benar terjadi. Maka strategi keuangan kita harus
cukup masuk akal untuk menghadapi hal-hal tak
terduga, bukan hanya sekadar optimal di kondisi normal.
Penutup
Rasionalitas mungkin bagus untuk teori ekonomi. Tapi
dalam kehidupan nyata, masuk akal lebih penting
daripada rasional.
Sebuah strategi keuangan yang sederhana, realistis, dan
selaras dengan psikologi kita jauh lebih berharga
daripada strategi sempurna yang membuat kita stres.
Karena pada akhirnya, bukan yang paling cerdas yang
menang, tapi yang paling mampu bertahan dalam
jangka panjang.
Kisah Julius Wagner-Jauregg digunakan Morgan
Housel sebagai ilustrasi bahwa:
- Secara rasional (pakai logika ilmiah modern),
menyembuhkan sifilis dengan cara memberi
pasien malaria jelas terdengar gila, berbahaya,
dan tidak masuk akal. - Tapi di konteks zamannya (akhir abad ke-19,
sebelum ada antibiotik), itu adalah solusi yang
masuk akal dan bahkan efektif. Metode ini
bisa diterapkan, pasiennya sembuh, dan membuat
Julius mendapat Nobel.
Nah, Housel mau menunjukkan bahwa dalam
keuangan, hal yang sama berlaku:
- Strategi yang paling rasional di atas kertas belum
tentu bisa dijalankan manusia. Misalnya:
“Investasikan semua uangmu di saham berisiko
tinggi karena return jangka panjang paling besar.
” Itu rasional, tapi begitu pasar jatuh 50%, banyak
orang panik, stres, lalu menyerah. - Yang lebih masuk akal justru strategi sederhana
yang bisa bertahan: misalnya, campur tabungan
dengan investasi, meski secara teori return lebih
kecil. Karena kamu bisa tidur nyenyak, tidak stres,
dan tetap konsisten dalam jangka panjang.
Jadi intinya:
Seperti metode Julius yang tampak tidak rasional
tapi masuk akal di zamannya, strategi keuangan
juga tidak harus sempurna secara teori. Yang
penting bisa dijalankan dengan tenang, konsisten,
dan tahan lama.
Contoh 1: KPR vs. Ngontrak + Investasi
Secara “rasional” banyak orang bilang: jangan ambil
KPR, mending ngontrak lalu uangnya diinvestasikan,
hasil investasinya lebih besar daripada bunga bank.
Tapi buat sebagian orang, itu tidak masuk akal.
Kenapa? Karena tinggal di rumah sendiri memberi rasa
aman, stabil, dan kepastian masa depan. Jadi walaupun
secara hitungan lebih mahal, banyak yang memilih KPR
karena mereka tidak kuat hidup dalam ketidakpastian
jangka panjang.
Contoh 2: Dana Darurat vs. Investasi Penuh
Secara “rasional” uang nganggur di tabungan dianggap
rugi karena tergerus inflasi. Seharusnya semua
dimasukkan ke investasi.
Tapi kenyataannya, punya dana darurat di tabungan
itu masuk akal. Karena ketika ada kebutuhan mendadak
misalnya sakit, kehilangan pekerjaan, atau harus
renovasi rumah uang bisa langsung dipakai tanpa
harus menjual aset investasi dengan kondisi rugi.
Contoh 3: Diversifikasi Investasi
Ada orang yang bilang: kalau sudah yakin dengan satu
saham, taruh semua uang di sana. Warren Buffett saja
begitu. Itu mungkin “rasional” untuk orang jenius
seperti Buffett.
Tapi untuk kebanyakan orang, strategi seperti itu tidak
masuk akal. Diversifikasi lebih realistis karena
menenangkan psikologi investor, membuat mereka bisa
tidur nyenyak, dan tidak panik kalau satu aset jatuh.
Contoh 4: Gaya Hidup Sederhana
Secara “rasional”, seseorang dengan gaji besar
seharusnya bisa menabung banyak.
Tapi kalau egonya tinggi harus beli mobil mewah,
jam tangan branded, nongkrong di tempat mahal
maka tabungan tidak ada.
Sebaliknya, orang dengan gaji lebih kecil tapi egonya
rendah bisa lebih cepat kaya, karena gaya hidup
sederhana masuk akal dan bisa dijalankan konsisten.
Contoh 5: Investasi Saham vs. Crypto
Secara rasional, orang akan bilang: crypto terlalu berisiko,
saham blue chip lebih aman dan terbukti jangka panjang.
Tapi buat sebagian orang, masuk akal untuk menyisihkan
sebagian kecil uang ke crypto.
Kenapa? Karena mereka sadar bahwa potensi imbal hasil
besar hanya mungkin didapat kalau berani coba
instrumen berisiko tinggi. Dan yang penting, mereka tetap
membatasi jumlahnya (misalnya hanya 5–10% portofolio),
sehingga kalau rugi pun hidup mereka tidak hancur.
Sebaliknya, ada orang yang nekat all-in ke crypto hanya
karena FOMO. Itu mungkin terdengar “rasional” buat
mereka (karena peluang cuan besar), tapi sebenarnya
tidak masuk akal secara psikologis karena bikin stres,
was-was tiap hari, bahkan bisa bikin kehilangan segalanya.
