buku

Buku The Big Short Michael Lewis, Latar Belakang Krisis Subprime Mortgage

The Big ShortMichael Lewis
The Big Short
Michael Lewis

Ketika kita melihat ke belakang, krisis keuangan global
2008 sering dianggap sebagai bencana terbesar sejak
Depresi Besar tahun 1930-an. Namun, seperti yang
ditulis Michael Lewis dalam bukunya The Big Short,
krisis itu tidak muncul tiba-tiba. Akar masalahnya
berawal dari pasar perumahan Amerika Serikat,
terutama lewat apa yang dikenal dengan istilah
subprime mortgage. Untuk memahami bagaimana
semuanya bisa runtuh, kita perlu melihat sejarah
singkat pasar perumahan di AS, pertumbuhan
pinjaman berisiko tinggi, serta peran besar bank dan
lembaga keuangan yang memompa gelembung
perumahan hingga akhirnya pecah.

Sejarah Singkat Pasar Perumahan
di Amerika Serikat

Pasar perumahan di AS pada awalnya dianggap sebagai
salah satu sektor paling aman untuk berinvestasi.
Selama puluhan tahun, rumah dilihat sebagai aset
stabil
: nilainya cenderung naik seiring waktu, dan
masyarakat percaya “harga rumah tidak akan pernah
turun drastis.” Pemerintah juga mendorong
kepemilikan rumah melalui kebijakan pajak dan
program kredit murah.

Sejak era pasca Perang Dunia II, kepemilikan rumah
menjadi simbol kelas menengah Amerika. Bank-bank
pada masa itu relatif konservatif: mereka hanya
memberi pinjaman kepada calon pembeli rumah
yang memiliki riwayat kredit baik, pendapatan stabil,
dan uang muka cukup besar. Prinsip ini menjaga
stabilitas pasar.

Namun, memasuki akhir 1980-an dan 1990-an, sesuatu
mulai berubah. Liberalisasi keuangan dan dorongan
untuk memperluas akses kepemilikan rumah membuka
pintu bagi munculnya jenis pinjaman baru yang jauh
lebih berisiko.

Pertumbuhan Pesat Pinjaman Subprime

Pinjaman subprime mortgage adalah kredit
perumahan yang diberikan kepada peminjam dengan
profil risiko tinggi: pendapatan rendah, riwayat kredit
buruk, atau tidak mampu membayar uang muka
besar. Karena dianggap berisiko, bunga yang
dikenakan pun lebih tinggi dibanding pinjaman biasa
(prime mortgage).

Awalnya, volume pinjaman subprime masih kecil.
Namun pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an,
jumlahnya tumbuh pesat. Ada beberapa alasan
mengapa hal ini terjadi:

  1. Permintaan rumah yang terus meningkat.
    Harga rumah naik tajam, membuat banyak
    orang tergiur membeli rumah meski belum
    tentu mampu.
  2. Inovasi finansial. Bank tidak lagi hanya
    menyimpan pinjaman di neraca mereka,
    melainkan “membungkus” pinjaman
    menjadi produk investasi yang disebut
    Mortgage-Backed Securities (MBS).
    Produk ini kemudian dijual ke investor
    di seluruh dunia.
  3. Lemahnya regulasi. Banyak lembaga
    keuangan yang justru didorong untuk
    memperluas kredit demi meningkatkan
    konsumsi masyarakat.

Akibatnya, standar pemberian kredit merosot drastis.
Calon pembeli rumah sering kali bisa mendapat
pinjaman tanpa pemeriksaan ketat, bahkan dengan
skema “NINJA loan” (No Income, No Job, No Assets).
Yang penting, pinjaman bisa disalurkan, lalu segera
dijual ke pasar sekuritisasi.

Pertumbuhan pesat inilah yang kemudian menciptakan
gelembung perumahan harga rumah terus naik
bukan karena nilai fundamental, tetapi karena
permintaan yang didorong oleh kredit murah dan
mudah.

Peran Bank dan Lembaga Keuangan dalam
Memompa Gelembung

Michael Lewis dalam The Big Short menyoroti betapa
besar peran bank dan lembaga keuangan dalam
memperbesar masalah ini. Alih-alih menahan diri,
mereka justru menyuburkan pinjaman berisiko
karena ada keuntungan besar di baliknya.

  • Bank pemberi kredit. Mereka mendapat fee
    dari setiap pinjaman yang disalurkan, tanpa
    peduli apakah peminjam bisa membayar atau
    tidak.
  • Perusahaan sekuritisasi. Pinjaman yang
    terkumpul diubah menjadi MBS atau bahkan
    instrumen yang lebih kompleks seperti
    Collateralized Debt Obligations (CDO).
    Investor global kemudian membelinya
    karena rating agensi kredit sering kali memberi
    label “aman” pada produk yang sebenarnya
    berisiko.
  • Wall Street. Lembaga investasi terbesar melihat
    bisnis ini sebagai mesin uang. Semakin banyak
    pinjaman subprime, semakin besar volume
    produk turunan yang bisa dijual.

Gelembung perumahan pun semakin membesar.
Harga rumah naik cepat, dan orang merasa lebih
kaya hanya karena memiliki rumah. Bahkan,
banyak pemilik rumah mengambil kredit tambahan
dengan menjaminkan rumah mereka yang nilainya
naik. Siklus ini terlihat menguntungkan semua
pihak sampai pada titik ketika peminjam mulai
gagal membayar cicilan.

Kesimpulan

Latar belakang krisis subprime mortgage, seperti yang
diceritakan dalam The Big Short, adalah kombinasi
antara keyakinan buta pada pasar perumahan,
ledakan pinjaman berisiko, dan keserakahan
sistem keuangan
. Bank, lembaga keuangan, hingga
investor global terjebak dalam euforia keuntungan
jangka pendek, tanpa memperhatikan risiko jangka
panjang.

Apa yang awalnya tampak sebagai upaya memperluas
kepemilikan rumah justru berubah menjadi bom
waktu. Gelembung perumahan terus dipompa hingga
akhirnya pecah, memicu krisis finansial terbesar
dalam sejarah modern.

Catatan agar mudah dipahami:

Latar Belakang Krisis Subprime Mortgage:
Kisah Gelembung Perumahan ala The Big Short

Pernah dengar cerita anak kecil yang meniup balon?
Balon itu awalnya kecil, lalu ditiup makin besar,
makin besar, sampai akhirnya meletus. Itulah yang
terjadi di pasar perumahan Amerika Serikat
menjelang tahun 2008. Bedanya, balon itu bukan
balon mainan, tapi balon harga rumah.

Sejarah Singkat Pasar Perumahan di Amerika

Dulu, membeli rumah di Amerika itu mirip seperti
orang tua kita menabung untuk beli sepeda atau motor.
Bank akan meminjamkan uang hanya kalau yakin
si peminjam bisa membayar cicilan. Mereka akan cek
pekerjaan, gaji, dan tabungan. Jadi yang bisa dapat
rumah biasanya orang yang betul-betul siap.

Karena aturan ini ketat, pasar perumahan terasa aman.
Harga rumah naik perlahan, orang bangga bisa punya
rumah, dan bank juga tenang karena pinjaman bisa
dilunasi.

Tumbuhnya Pinjaman “Subprime”

Nah, mulai tahun 1990-an sampai awal 2000-an,
aturan bank mulai longgar. Bayangkan seperti kantin
sekolah yang dulu cuma kasih makanan kalau kamu
bawa uang saku cukup. Tapi tiba-tiba, kantin bilang:
“Nggak apa-apa deh, kamu bisa ambil dulu
makanannya, bayarnya belakangan!”

Itulah subprime mortgage: pinjaman rumah untuk
orang yang sebenarnya kurang mampu membayar.
Mereka tetap diberi pinjaman, tapi dengan bunga
tinggi. Jadi cicilannya makin berat.

Awalnya jumlahnya kecil. Tapi lama-lama semua
orang bisa dapat pinjaman rumah, bahkan yang
tidak punya pekerjaan tetap sekalipun. Ada istilah
NINJA loan: No Income, No Job, No Assets
(tidak ada penghasilan, tidak ada pekerjaan,
tidak punya aset) tapi tetap bisa dapat rumah.

Akhirnya makin banyak orang yang beli rumah karena
merasa gampang sekali dapat pinjaman. Harga rumah
pun naik cepat, seperti balon yang ditiup terus-menerus.

Peran Bank dan Lembaga Keuangan:
Mesin Balon yang Rakus

Sekarang bayangkan ada mesin pompa balon otomatis.
Mesin ini tidak peduli balon akan meletus atau tidak,
yang penting dia terus meniup karena setiap kali
meniup, dia dapat uang jajan. Nah, begitulah bank dan
lembaga keuangan waktu itu.

  • Bank pemberi pinjaman: Mereka senang kasih
    pinjaman, karena dapat komisi langsung. Kalau
    orang gagal bayar? Bukan urusan mereka lagi,
    pinjaman sudah dijual ke pihak lain.
  • Perusahaan sekuritisasi: Mereka mengumpulkan
    pinjaman-pinjaman rumah ini, dibungkus jadi
    produk keuangan baru, lalu dijual ke investor seperti
    orang menjual kue kotakan. Walau di dalam kotak
    ada kue gosong (pinjaman jelek), tetap saja kotaknya
    dipasarkan sebagai kue enak.
  • Investor besar (Wall Street): Mereka rakus
    membeli “kotak kue” ini karena katanya aman.
    Padahal isinya banyak yang busuk.

Dengan cara ini, makin banyak pinjaman subprime
dibuat, makin besar pula balon harga rumah. Semua
orang merasa kaya, padahal sebenarnya sedang
duduk di atas balon yang bisa pecah kapan saja.

Apa yang Terjadi Saat Semua Tidak Bisa
Membayar?

Bayangkan di satu kampung semua orang beli rumah
pakai utang. Awalnya mereka senang karena harga
rumah terus naik, jadi merasa makin kaya. Tapi
tiba-tiba cicilan bulanan naik, gaji tidak cukup, dan
banyak orang tidak bisa bayar lagi.

Seperti domino yang jatuh satu per satu, begitu satu
orang gagal bayar, rumahnya disita bank. Rumah itu
dijual murah. Karena banyak rumah dijual sekaligus,
harga rumah malah anjlok. Orang yang tadinya
punya dua rumah atau lebih juga ikut rugi karena
harga jatuh.

Investor yang membeli “kotak kue” penuh pinjaman
rumah tadi ikut kelabakan. Mereka pikir isinya kue
enak, ternyata gosong semua. Uang miliaran dolar
hilang, bank besar bangkrut, dan ekonomi Amerika
ikut goyah.

Efek Domino ke Seluruh Dunia

Bayangkan kalau listrik padam di satu kota besar, lampu
di rumahmu mungkin ikut mati meski jauh dari pusat
gangguan. Begitu juga dengan krisis subprime. Karena
Amerika punya hubungan dagang dan keuangan dengan
hampir semua negara, efeknya menjalar ke seluruh
dunia.

Perusahaan tutup, banyak orang kehilangan pekerjaan,
dan pasar saham jatuh. Inilah yang dikenal sebagai
Krisis Finansial Global 2008.

Kenapa Bank Bisa Bangkrut di Krisis Subprime?

  1. Bank kasih pinjaman ke orang yang
    tidak mampu

    Bayangkan kamu punya warung dan kasih “utang
    jajan” ke semua anak sekolah, bahkan yang nggak
    bawa uang sama sekali. Awalnya seru karena
    warungmu ramai. Tapi kalau banyak yang tidak
    bisa bayar, lama-lama kamu rugi.

  2. Pinjaman dijual ke investor, tapi akhirnya
    balik lagi ke bank

    Bank pikir aman karena pinjaman tadi dijual ke
    perusahaan lain. Tapi saat peminjam gagal bayar
    massal, nilai produk itu jatuh. Investor marah
    dan balik menuntut bank. Jadi, utang yang
    tadinya “dibuang” justru jadi bumerang.

  3. Harga rumah jatuh, jaminan tidak bernilai
    Pinjaman rumah biasanya pakai rumah sebagai
    jaminan. Kalau peminjam tidak bisa bayar,
    rumah bisa disita dan dijual. Tapi saat harga
    rumah anjlok, rumah sitaan tidak laku mahal.
    Jadi uang bank tetap hilang.

  4. Bank juga ikut main judi di pasar
    Banyak bank besar tidak hanya memberi
    pinjaman, tapi juga beli produk keuangan
    berbasis subprime. Seperti orang jual
    gorengan tapi juga ikut makan gorengan
    gosongnya sendiri. Akhirnya kerugiannya
    dobel.

  5. Kehilangan kepercayaan nasabah
    Begitu orang tahu bank sedang bermasalah,
    banyak nasabah buru-buru tarik uangnya.
    Ini bikin bank makin tidak punya modal untuk
    bertahan. Seperti ember bocor yang ditambah
    air, semakin lama semakin habis.

Singkatnya:
Bank bisa bangkrut karena uang yang dipinjamkan
tidak kembali
, nilai jaminan jatuh, dan mereka
sendiri juga terjebak membeli produk keuangan
busuk
. Saat semua itu terjadi bersamaan, tabungan
mereka tidak cukup menutup kerugian.

Apa yang Terjadi ke Masyarakat?

  1. Awalnya kaget, bukan demo dulu
    Krisis tidak langsung terasa seperti gempa.
    Awalnya masyarakat merasa aman-aman saja.
    Tapi perlahan cicilan rumah naik, gaji tetap,
    dan banyak yang mulai gagal bayar. Saat rumah
    disita, barulah orang sadar masalah besar
    sedang terjadi.

  2. Rumah disita massal
    Bayangkan satu komplek perumahan, dari 10
    rumah tiba-tiba 3–4 rumah dipasangi papan
    “FOR SALE” karena pemiliknya gagal bayar.
    Orang kehilangan tempat tinggal, ada yang
    harus pindah ke rumah kerabat atau sewa
    apartemen kecil.

  3. Kehilangan pekerjaan
    Karena bank rugi dan perusahaan besar
    kekurangan dana, banyak perusahaan
    tutup atau mengurangi pegawai. Orang
    yang tadinya cicil rumah dengan gaji
    pas-pasan jadi tambah sulit.

  4. Tidak langsung demo besar, tapi panik
    Di Amerika, saat itu lebih banyak kebingungan
    dan panik
    dibanding demo di jalan. Orang antre
    di bank untuk tarik tabungan, ada yang jual aset
    buru-buru, pasar saham jatuh. Demo besar baru
    muncul belakangan (sekitar 2011 lewat gerakan
    Occupy Wall Street) setelah orang sadar
    ketidakadilan sistem keuangan.

  5. Efek ke gaya hidup
    Banyak keluarga mengurangi belanja, anak-anak
    kuliah terancam tidak bisa lanjut, bahkan ada
    yang jatuh miskin mendadak. Jadi efeknya lebih
    terasa di kehidupan sehari-hari dibandingkan
    aksi protes massal di awal.

Jadi singkatnya: masyarakat langsung kena
dampak ekonomi
— kehilangan rumah,
pekerjaan, dan tabungan. Demo besar justru muncul
setelahnya, ketika kemarahan menumpuk dan orang
merasa sistem perbankan terlalu rakus.

Demo Setelah Krisis: Kapan dan Bagaimana?

  • 2007–2008 (awal krisis):
    Saat balon perumahan pecah, masyarakat sibuk
    dengan masalah pribadi kehilangan rumah,
    pekerjaan, dan tabungan. Jadi belum ada demo
    besar. Orang lebih banyak panik di bank, antre
    tarik uang, atau bingung cari tempat tinggal baru.

  • 2009 (mulai marah):
    Pemerintah Amerika justru menyelamatkan bank
    besar (bailout) dengan uang pajak rakyat,
    sementara rakyat biasa kehilangan rumah. Banyak
    orang mulai merasa tidak adil. Rasa marah ini
    tumbuh perlahan.

  • 2011 (demo besar meledak):
    Puncaknya muncul gerakan Occupy Wall Street
    di New York. Orang berbondong-bondong duduk
    dan mendirikan tenda di kawasan Wall Street,
    pusat keuangan Amerika. Slogan mereka terkenal:
    “We are the 99%” — artinya 99% rakyat menderita,
    sementara 1% orang super kaya tetap untung.

  • Setelah itu:
    Gerakan ini menyebar ke banyak kota di Amerika
    dan dunia. Jadi demo besar-besaran bukan di saat
    krisis meledak langsung, tapi beberapa tahun
    setelahnya
    , ketika masyarakat sadar sistem
    keuangan tidak adil.

Kesimpulan

Jadi, latar belakang krisis subprime mortgage bisa
digambarkan seperti ini:

  • Orang-orang dipermudah untuk beli rumah
    meskipun tidak mampu.
  • Bank dan lembaga keuangan semakin rakus,
    meniup balon harga rumah lebih besar.
  • Semua senang dalam jangka pendek, tapi lupa
    bahwa balon tidak bisa terus ditiup.

Ketika peminjam mulai tidak bisa bayar cicilan, balon
itu akhirnya BOOM! pecah, memicu krisis besar.

2 thoughts on “Buku The Big Short Michael Lewis, Latar Belakang Krisis Subprime Mortgage

  • fthan

    haloo kakak, terima kasih ya atas tulisan artikelnya. Sangat membantu dan mudah dipahami. Mantap

    Reply
    • rofiatul mukaromah

      wahh…😭terima kasih atas pujiannya kak🥰

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *