Jangan Membuat Asumsi
Mengapa Membuat Asumsi Bisa
Berbahaya
Sebagai manusia, kita cenderung
membuat asumsi tentang segala hal:
apa yang orang lain pikirkan,
lakukan, atau rasakan. Masalah
muncul ketika asumsi ini kita
anggap sebagai kebenaran mutlak.
Don Miguel Ruiz menekankan
bahwa “semua kesedihan dan drama
dalam hidupmu berakar pada
membuat asumsi dan mengambil
sesuatu secara pribadi.”
Jika Anda sering berada dalam
pikiran negatif atau lingkungan yang
penuh tekanan, asumsi yang muncul
biasanya juga bersifat negatif.
Sebaliknya, semakin kita mencintai
diri sendiri dan orang lain, asumsi
yang kita buat akan cenderung
positif, dan itu menempatkan kita
pada posisi yang lebih kuat dalam
menghadapi situasi.
Contoh Kehidupan Sehari-hari:
Hubungan yang Rumit
Bayangkan Anda sedang
berhubungan dengan pasangan.
Beberapa jam telah berlalu tanpa
balasan dari mereka. Anda bisa
membuat asumsi positif: mungkin
baterai ponselnya habis, dia sedang
sibuk dengan pekerjaan, atau tengah
fokus pada sesuatu yang penting.
Namun, jika Anda lebih cenderung
berpikir negatif, pikiran Anda
mungkin langsung berkata:
“Dia pasti sedang melakukan
sesuatu di belakangku” atau
“Dia dengan wanita lain.” Dari sini,
asumsi negatif bisa membuat Anda
mulai mencari bukti untuk
memvalidasi kecurigaan Anda
—misalnya menelusuri media
sosialnya.
Padahal, semua drama ini bisa
dihindari hanya dengan memilih
untuk membuat asumsi positif.
Asumsi negatif menimbulkan rasa
menyalahkan dan kebencian, yang
merupakan bentuk “racun
emosional.” Sebaliknya, asumsi
positif membantu Anda melihat
situasi dengan lebih jelas dan
tetap berdaya.
Jangan Mengira Anda Tahu Apa
yang Orang Lain Inginkan
Masalah lain dalam hubungan adalah
kita sering mengira tahu apa yang
pasangan kita inginkan.
Kita berusaha keras membuat mereka
bahagia, padahal apa yang kita
lakukan mungkin bukan yang mereka
butuhkan atau inginkan.
Asumsi semacam ini mirip dengan
mencoba menemukan harta karun
di tengah hutan tanpa peta, Anda
hanya berjalan tanpa arah,
berharap beruntung. Akibatnya,
waktu dan energi terbuang, dan
hubungan bisa rusak.
Ruiz menekankan pentingnya
menetapkan ekspektasi yang
jelas dan tidak pernah menganggap
kita tahu segalanya tentang apa
yang diinginkan orang lain. Dengan
komunikasi terbuka, setidaknya
ekspektasi bisa selaras hingga 95%.
Cinta Sejati Adalah Menerima
Orang Apa Adanya
Salah satu kutipan penting dari
buku ini:
“Cinta sejati adalah menerima
orang lain apa adanya tanpa
berusaha mengubah mereka.
Jika kita mencoba mengubahnya,
itu berarti kita tidak benar-benar
menyukainya.”
Banyak orang mencoba menjadi
“penyelamat” bagi pasangannya,
berusaha mengubah orang lain
agar sesuai dengan ideal mereka.
Namun, ini hanyalah perjuangan
yang sia-sia. Lebih bijak mencari
seseorang yang sudah sesuai
dengan yang kita inginkan dan
bisa kita terima tanpa perlu diubah.
Cinta sejati muncul ketika kita bisa
menerima orang lain sepenuhnya,
tanpa agenda tersembunyi untuk
mengubah mereka. Ini adalah jalan
yang lebih mudah dan lebih sehat
dalam hubungan.
Jika Tidak Mengerti, Tanyakan
Ruiz juga menekankan pentingnya
bertanya jika kita tidak memahami
sesuatu:
“Jika Anda tidak mengerti, milikilah
keberanian untuk bertanya sampai
sejelas mungkin. Bahkan setelah itu,
jangan pernah menganggap Anda
tahu segalanya.”
Dengan bertanya, kita mengurangi
ketidakpastian dan menghindari
asumsi yang bisa menimbulkan
masalah. Prinsip ini selaras dengan
konsep Stephen Covey dalam The
7 Habits of Highly Effective People:
“Seek first to understand, then
to be understood.”
Orang yang egois jarang mau
bertanya karena mereka terlalu sibuk
ingin didengar. Padahal, bertanya
membawa kita lebih dekat pada
kebenaran, sementara asumsi hanya
meninggalkan kita dalam
ketidakpastian.
Kesimpulan: Kekuatan untuk
Tidak Membuat Asumsi
Pikiran negatif menghasilkan
asumsi negatif yang
menimbulkan rasa
menyalahkan dan kebencian.Drama hidup sering berakar
pada mengambil sesuatu
secara pribadi dan membuat
asumsi.Jangan pernah mengira tahu
apa yang pasangan atau
orang lain inginkan.Cinta sejati adalah
menemukan orang yang
tidak perlu kita ubah.Selalu tanyakan jika tidak
mengerti, jangan
mengandalkan asumsi.
Dengan menerapkan prinsip-prinsip
ini, kita dapat mengurangi drama,
memperkuat hubungan, dan
menjalani hidup dengan lebih jelas,
penuh kasih, dan bebas dari
“racun emosional.”
